Bab 5


Genggaman Tristan erat pada senapan berlaras panjangnya. Operasi pengepungan berjalan sempurna. Pengepungan ini ialah keberhasilan besar yang dicapainya setelah setahun menjadi komandan Pasukan Pemberantas Reyes. Peristiwa siang tadi memang memalukan dan Tristan sebagai komandan menanggung seluruh cemoohan yang dilontarkan rakyat.

Apa yang telah Anastasia Stokes lakukan, harus Tristan akui, sangatlah cermat. Wanita itu membangun sebuah ketakutan tersendiri dalam diri rakyat Reibeart sehingga rasa percaya rakyat pada pemerintah menciut. Sebuah taktik perlahan meruntuhkan pemerintahan dengan memprovokasi rakyatnya. Sebuah taktik begitu pintar yang tak pelak lagi muncul dari benak brilian wanita pirang itu.

Kendati demikian, mustahil Tristan membiarkan dirinya larut dalam permainan Anastasia terlampau lama. Ia segera mengerahkan pasukannya mengamankan daerah di sekitar Gemma. Seluruhnya. Desa kecil, rawa-rawa, hutan—apapun itu. Senja datang membayang langit dengan Dornan berwajah kusam serta hitam membawa informasi yang pasukannya peroleh.

Mereka berhasil menemukan markas GPR jauh di dalam Hutan York. Dari laporan mereka, markas GPR luas dan berpenghuni banyak sehingga diperlukan seluruh Pasukan Pemberantas Reyes untuk mengepung markas tersebut. Mengingat selama ini Tristan tak pernah berhasil menemukan markas GPR, ia tidak membuang waktu dengan percuma. Penuh efisiensi juga tekad, ia kemudian mengumpulkan seluruh pasukan di Pusat Komando.

"Persiapkan diri kalian," umum Tristan, "tengah malam kita akan mengepung markas GPR."

Mereka mengendap dalam hutan. Membunuh seluruh penjaga keliling sehingga kedatangan mereka tak diperingatkan. Kemudian, membagi pasukan menjadi dua; satu mengepung markas dan membunuh siapapun yang memaksa keluar, sedangkan yang lainnya menggeledah markas, menangkap para pemberontak. Tristan mempercayai Dornan untuk mengetuai pasukan pengepung, sementara Tristan mengawasi tentaranya menggeledah markas.

Para tetinggi GPR mereka bekuk, mengikat tangan mereka dengan borgol. Sedangkan anggota pemberontak yang lain diseret paksa ke tengah wilayah markas mereka di mana sebuah lapang hijau terbentang. Sorot kejam Tristan menyapu mereka satu per satu. Wajah-wajah geram penuh amarah serta benci. Muka sedih dan pasrah dan penyesalan. Segala emosi bercampur satu.

Tristan menyunggingkan senyum miringnya kala Cain Abernathy diseret paksa, borgol pada pergelangan tangannya dan moncong pistol di atas pelipisnya. Pria itu melototinya dengan keji. Suaranya mendesis di antara geligi, "Schiffer."

"Abernathy." Tristan sedikit membungkuk.

Alih-alih merasa terhormat, Cain justru terhina dengan bungkukannya dan meraung-raung. "Jangan kau pikir Reyes selesai sampai di sini saja. Tunggu hingga kami mencincang sang putri dan kukirim lidahnya padamu, Schiffer."

Thalia, sadar Tristan. Rahangnya mengeras, giginya gemertak, kepalan tangannya mengeras dan ia mampu merasakan senapannya berbunyi nyaris patah. Di dalam benaknya berkelebat begitu banyak pikiran. Suara-suara yang menghantuinya. Cain Abernathy memiliki informasi mengenai Thalia dan GPR berniat membunuh putri itu.

Wanita yang pernah dicintainya.

Langkah Tristan mengambil alih pikirannya dengan buas maju. Wajahnya menggelap, sekujur tubuhnya meraungkan Zahl merah sepekat darah. Ia dikuasai oleh marah, oleh murka, tidak terkendali. Ia melangkah bagai badai besar pada musim panas. Mengamuk dahsyat. Salah satu tangannya menarik kerah Cain. Bagi pria sebesar Tristan—dengan amarahnya—tidak mustahil mengangkat Cain dari tanah, membawa kakinya mengayun-ayun di udara.

"Di mana dia?"

Cain meludahi wajahnya. "Pergi saja ke neraka."

Mata Tristan menyipit. "Oh, aku sudah sering mengunjunginya." Tristan mendorong jatuh Cain ke tanah. Belum sempat pria itu mengutarakan apapun, jemari Tristan menarik pelatuk ke arahnya. Bunyi letusan bergema ke sepenjuru hutan begitu peluru bersarang pada otak Cain, menghentikan nyawanya seketika.

Dentuman nyaring itu seakan mengabarkan pesan kepada setiap orang bahwa mereka bisa saja langsung diadili di sini, tanpa ampun, sebelum dibawa ke pengadilan. Gigil menyusup di antara kegelisahan mereka sementara hawa malam hari kian dingin, semakin berat. Tristan menarik napas begitu dalam hingga relung parunya sesak. Kemudian, ia mulai menggeledah sendiri tiap tenda besar yang ada di sana.

Serdadu lain begitu takut atas kemarahan komandannya, sehingga mereka bergeming di tempat, menjaga para tahanan yang juga ketakutan. Tristan tahu, apa yang telah ia lakukan sungguh tidak berperasaan, tetapi ia tak tahan dengan lecutan dari bayangan terburuknya mengenai Thalia. Di benaknya, Thalia disiksa perlahan. Sebuah penyiksaan yang pasti membuat wanita itu mati, namun tidak dalam sekejap. Apabila ia berkeras mengikuti permainan Cain Abernathy, maka tiap detik yang ia habiskan, juga menguras detak jantung Thalia.

Di tenda pertama, Tristan membalikkan sebuah meja, lemari, menghantam segala hal. Banyak kertas berhamburan, kain-kain robek berterbangan. Namun, tidak ada petunjuk sekalipun yang ia temukan. Pasti ada sebuah petunjuk, batinnya. Pasti. Langkahnya bergegas menuju tenda kedua yang menurut pengamatannya mencurigakan. Ia menyingkap kain tenda tersebut untuk mendapati—

Anastasia Stokes tengah memasukkan segala dokumen berharga ke dalam tas kulitnya. Berencana kabur dengan informasi penting. Dan entah datang dari mana, kilas balik menghantamnya. Berhati-hatilah, bisik wanita itu. Lembut bibirnya mengusap permukaan mulut Tristan. "Stokes—"

Wanita itu selalu secerdik dan secepat ular. Dengan gerakan yang telah terlatih sempurna jemarinya menarik pelatuk ke arah Tristan. Sedangkan tangan satunya hendak meraih sebuah foto di meja yang tidak jauh dari Tristan. Tetapi, Tristan telah lama mengenali wanita itu sehingga ia mampu mengelak serangan dadakan tersebut dan cekatan merebut foto yang diraih Anastasia.

Pistol mantap bersarang pada genggaman Anastasia sementara Tristan mengamati jeli foto itu. "Thalia," gumamnya. Nama indah itu terasa hambar pada lidahnya. Bagai racun dituang pada tenggorokannya. Membuatnya sesak akan cinta masa lalu.

"Kembalikan, Schiffer. Kau tidak akan mengetahui di mana Thalia berada. Mitra kami telah menjaga putri itu dengan pengawasan ketat." Anastasia perlahan maju menghapus tentang di antara mereka. Meskipun demikian, genggamannya masih kuat pada gagang pistol yang ia acungkan pada Tristan. Wanita ini tidak pernah mengendurkan pertahanannya, batin Tristan. Dan kemudian, moncong pistol itu berada tepat di depan dadanya.

"Stokes," ujar Tristan lembut, "kita tidak perlu melakukan ini. Akan kubiarkan kau hidup dengan syarat kau bantu aku mencari Thalia, sebab aku tidak keberatan membunuhmu dua kali."

Mata Anastasia menyipit dengan bengis. "Aku tidak membutuhkan rasa kasihanmu. Aku tidak pernah mati di tanganmu sebelumnya dan kali ini—"

Tristan menangkap pergelangan tangannya sebelum Anastasia sempat menarik pelatuknya. Sebuah manuver memuntir yang amat cekatan sampai-sampai mata Anastasia seakan disorientasi tak bisa mengikuti pergerakannya. Pistol Anastasia terserak ke tanah sementara Tristan menahan kedua tangannya. "Sekali lagi, Stokes." Tristan mendekatkan wajahnya. "Aku akan membiarkan kau hidup, jika kau hendak membantu kami."

Pandangan Anastasia menyapu tanah seolah-olah wanita tersebut mempertimbangkan tawaran Tristan. Ya, Stokes, kau harus menerima—

Sebuah tendangan menukik nyaris mengenai ulu hatinya. Tristan melepaskan kedua tangan Anastasia oleh refleks dan sepersekian detik kemudian wanita itu menyarangkan tinju ke bawah rahangnya. Dengan gesit Anastasia merunduk memperoleh foto yang terjatuh juga pistolnya. Tubuh langsing wanita itu menyelinap melalui Tristan dan mengacungkan jari tengah tepat di depan wajahnya.

"Kau masih sama bodohnya, Schiffer!" seru Anastasia. Dan wanita itu lari meninggalkannya.

Langkah Tristan berderap keluar, meneriakkan perintah kepada seluruh serdadu pengepung untuk mengejar Anastasia. Wanita itu tidak pernah kehabisan cara untuk mengejutkannya. Tristan mengikuti arah larinya. Kebanyakan anggota pasukannya tak sanggup mengimbangi cepat lari Anastasia. Bagaimana tidak, wanita itu dikelilingi oleh sejumlah Zahl merah sepekat milik Tristan. Wanita itu telah dilatih fisik dan psikis untuk menjadi seorang tentara. Seorang tentara, yang menurut Tristan, memenuhi kualifikasi sebagai petarung handal.

Anastasia berbelok ke kanan, ke kiri, membentuk jalan yang meliuk-liuk mengitari hutan. Wanita itu tahu, tampaknya, bahwa hutan sudah diamankan oleh Pasukan Pemberantas Reyes. Tidak ada jalan baginya untuk berlari. Tidak ada. Tristan menyunggingkan senyum samar pada bibirnya sembari mengikuti lari wanita itu. Ini adalah kemenangan mudah, batin Tristan.

Sosok langsing itu akhirnya sampai pada bibir tebing. Tungkai indahnya yang terbalut celana kulit diam. Punggungnya yang selalu tampak kuat, agak membungkuk pasrah. Sebuah gestur samar yang hanya Tristan sadari. Menggelikan, sesungguhnya, sebagaimana dirinya selalu memperhatikan hal-hal kecil pada diri wanita itu.

Lekuk rekah bibirnya. Lentik bulu matanya membingkai mata sebiru es. Telinga yang terbentuk sempurna untuk dicium. Tangan kidalnya yang kokoh. Leher jenjangnya yang terbalut kulit halus bercela. Kulit Anastasia tidak mulus laiknya putri bangsawan pada umumnya. Kulitnya menandakan seberapa kuat diri wanita itu menghadapi tantangan. Seorang pejuang. Tetapi, entah bagaimana, gairah Tristan justru bangkit menangkap sekelebat putih samar bekas lukanya. Seperti misalnya, pada siku kanannya.

"Stokes, kali ini kau tidak akan menang." Tristan berjalan dengan kepelanan yang disengaja. "Menyerahlah padaku."

Anastasia membalikkan badannya. Di belakangnya, terhampar arus sungai yang teramat deras. Bebatuan di dinding tebing begitu tajam, mampu mengoyak kulit hewan sekeras apapun. Ketinggian tebing itu pastinya mematahkan—memporak-porandakan—tulang seorang pria sehat bugar seperti Tristan sekalipun. Tristan tidak bisa membayangkan apa yang akan diperbuat tebing itu pada tubuh ramping Anastasia.

Manik sebiru lautan beku itu menusuk Tristan dengan tuduhan benci yang mendalam. Dari balik gigi rapinya, Anastasia mendesis, "Aku belum berniat mengalah, Schiffer." Anastasia melanjutkan, "Tidak sebelum aku membunuhmu di tanganku. Mungkin, dengan mematahkan lehermu sama seperti kau mematahkan leher ayahku lima tahun lalu. Atau cara lain. Aku tidak peduli."

Tristan menggeram. "Kau tak mengerti, Stokes."

"Lalu, apa yang bisa kau buat aku mengerti?" Tangan Anastasia membentuk kepalan kencang. Uratnya tampak marah.

"Aku akan menjelaskannya, namun sebelum itu, kemarilah." Tristan melirik tas kulit yang tersampir di sisi badan Anastasia. Di dalam tas itu tersimpan banyak informasi penting mengenai Thalia. Ia begitu dekat dengan menemukannya. Ia begitu dekat dengan kebenaran; apakah Thalia telah tewas atau hidup dengan penyiksaan atau—hidup bahagia bersama Alec. Kesimpulan ketiga mencuri segala napas tak bersisa. Pening merambat dari tulang belakang Tristan menuju otaknya.

Hal tersebut begitu jelas, namun Tristan tak bisa menerima hal itu begitu saja.

Pertanyaan lirih Anastasia menampar Tristan balik pada kenyataan. Pada bau rintik hujan yang mulai membasahi tanah hutan. "Apa yang hendak kau jelaskan, Schiffer..?"

"Bawa tas itu ke hadapanku, Stokes. Maka akan aku jelaskan semuanya."

Anastasia melirik tas di sisi badannya. Ia menggenggam tas tersebut, melontarkan tanya, "Kau menginginkan tas ini, Schiffer?"

Tristan menelan ludahnya. "Ya, lemparkan saja, Stokes. Apabila pemikiran berada di dekatku membuatmu mual."

"Kau sangat menginginkannya?" tanya Anastasia, sekali lagi.

Kesabaran Tristan mulai menguap perlahan menjadi partikel-partikel entah. Tristan menjawab cepat, "Ya."

"Kalau begitu, Schiffer, matilah bersamaku." Belum sempat Tristan mengedipkan matanya, pada detak jantung selanjutnya, Anastasia Stokes telah melemparkan diri ke belakang. Jatuh dari bibir tebing bersama dengan tas tersebut.

Entah—entah apa gerangan yang terlintas di benak Tristan saat itu, ia melompat serta.[]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top