Game Over

Judul: Game Over
Genre: Thriller, Action, Militer

🎮🕹️🎮

Tahun 20XX, terjadi sebuah tragedi yang tidak bisa dilupakan oleh orang-orang. Kejadian yang membuat 400 orang terjebak kedalam sebuah permainan aneh. Dan tragedi tersebut disebut oleh orang-orang sebagai Death Battle. Kebrutalan diperlukan agar selamat dari tempat itu.

🎮🕹️🎮

Gemericik air terdengar jelas menelusup kedalam gendang telinga. Terlihat dua orang gadis sedang bermain air di sebuah anak sungai yang tampak jernih. Mereka tampak asyik menikmati air itu hingga tak menyadari bahwa telah ada orang yang mengawasi mereka dari kejauhan.

"Bagaimana? Musuh ada disana?"

"Ya! Sesuai dengan apa yang kau katakan Ken!"

"Aku siap menunggu perintah darimu!" ucap seorang pemuda bersurai hitam pekat memainkan sebuah pisau lipat. "Tunggu perintah dariku!" ucap seseorang dari kejauhan.

"Siap!" seru keduanya serempak

Sudah 20 menit berlalu dan belum ada tanda untuk menyerang musuh. Hanya ada suara gemercik air dan tawa dua orang gadis yang tengah bermain air.

"Jadi, bagaimana? Nama yang ku rekomendasikan lebih baik dari nama kalian sebelumnya?" ucap pemuda bersurai hitam pekat memecahkan keheningan diantara mereka. "Aku gak papa sih, tapi mereka berdua aja yang menyesal," ucap pemuda bersurai putih. "Zerinich? Gak papa sih daripada Yuki tapi yang main lakik!" gurau pemuda itu. Sementara jauh disana, seseorang sedang menyumpahi kedua pemuda itu.

"Ada yang datang!" ujar pemuda bersurai hitam pekat. Kedua pemuda itupun mulai mempersiapkan sniper yang sudah siap dengan peredam suara ditangan mereka.

Tiba-tiba suasana diantara mereka menjadi tegang. Aura membunuh yang jelas dari kedua pemuda itu. Dengan sniper di tangan, mereka siap membunuh siapapun agar bisa keluar dari tempat ini. Tempat yang telah menjebak mereka dan memaksa mereka saling membunuh.

"Langsung habisi mereka dengan peredam suara."

Tanpa menunggu lama, kedua pemuda itu langsung melepaskan tembakan kearah dua gadis tadi dan membuat dua orang yang datang tadi terkejut karena kedua temannya telah terbunuh.

Istrinya Giyuu was killed by ZERINICH using AWM
inces cantik was killed by AkameH using M24

"Dua down! dua orang lagi kalian yang urus, kami harus pindah posisi!"

"Baik!"

Kedua pemuda tadi segera berlari meninggalkan posisi mereka sebelumnya dan mengambil jalan memutar. "Kiri!" seru salah satu pemuda itu. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan serta suara mobil memasuki telinga kedua pemuda itu.

"Cepat naik!"

Sebuah mobil jeep dengan atap terbuka datang menghampiri mereka. Kedua pemuda itu segera melompat kedalam mobil ketika sang pengemudi berhenti.

"Woow! Gila! Tegang bet cuy!"

"Kalau kita bisa main seperti ini makin seru parah sih!"

"Supir diem ae!" celetuk pemuda bersurai hitam pekat. "Dahlah, diam aja aku," ucap pemuda bersurai biru navy pada pemuda dibelakangnya. "Andaikan aku gak minta kalian ikut turnamen offline hari itu, kalian gak bakal terjebak dalam permainan aneh kayak gini," ucap pemuda bersurai merah.

"Ken, ini semua bukan salahmu sepenuhnya, ini juga salah kami! Kamilah yang membuat keputusan untuk ikut! Dan, kita ini sahabat! Come on, kita udah lama bersama, rasain suka duka, dan ya, nyobain mantan masing-masing!" ucap pemuda bersurai hitam pekat itu. Kalimat terakhir dari pemuda itu sontak membuat ketiga temannya tertawa.

"Semuanya bakal tetap aman selama kita bersama!"

"Kau benar, Akame! Kita bisa lewatin ini semua bersama-sama!" ucap Ken meyakinkan dirinya. "Zero, ntar cari mobil baru yang atapnya tertutup! Pake mobil ini dingin dan sekalian cari rumah kosong buat kita pakai istirahat malam ini!" ucap Akame pada sang pengemudi.

"Hikari, ntar malam kau yang jaga sama Zero lagi."

"Ogah! Malam ini kalian yang pertama jaga!"

"Ni anak siapa sih? Nyebelin bet sumpah!"

🎮🕹️🎮

Malam telah tiba dan bulan telah menggantikan sang mentari. Itu berarti sudah lebih dari 3 jam mereka di hutan. Dalam sebuah rumah kosong, api unggun menyala terang, lidah api membawa penerang untuk 4 orang pemuda yang sedang menikmati makan dan istirahat mereka dengan sela senda gurau.

"Battle Ground di dunia nyata? Kagak logis!" ujar Ken menatap layar hologram yang berisikan informasi yang mereka butuhkan untuk menjadi pemenang.

"Aku anggap itu wajar, yang kagak logis itu, kita terjebak disini tanpa tau siapa nama asli kita!" ucap Zero pasrah. Mereka bahkan tidak tau siapa keluarga mereka ataupun darimana mereka berasal. Mereka hanya tahu tentang penyebab mereka berada disini dan semua tentang senjata yang ada di tempat yang antah berantah.

"Benar, kita tau nama asli kita semua. Aku hanya ingat nama karakter yang aku buat dalam ceritaku aja," ucap Akame. "Untung kau ingat sama karaktermu, kalau gak... Dahlah bundir aku," ucap Zero.

"Ya, selain dari nama-nama karakter yang aku buat, aku gak ingat lagi yang lainnya."

"Ini makin sulit buat dipikirkan."

"Yang nyuruh kau mikir siapa?"

"Bangke!"

🎮🕹️🎮

Grim Reapper was killed by AkameH using M24
asuna was killed by AkameH using M24
Panda Senpai was killed by AkameH using M24
Kurochi was Killed by AkameH using M416

"Good game, Akame!"

"Gila, kenapa skill ku ini gak bisa kugunain di game sih?"

"Di game noob, di real life pro, GG bet kawan kita ini!" sindir Ken yang membuat Akame tersenyum pahit. "Ciri-ciri dakjal kek gini nih! Koe minta ku granat sumpah!" maki Akame mengeluarkan sebuah granat.

"Hikari udah gak bisa make AWM-nya dulu berarti, kau harus jadi support dulu, Hikari," ujar Zero. "Benar, peluru magazine-nya hanya ada 7 dan sisa peluru yang lain ada 7," ucap Hikari menujukkan 7 buah peluru berkaliber 300 WM yang untuk digunakan pada sniper Arctic Warfare Magnum (AWM). Sniper yang paling dicari oleh seluruh orang yang ikut terjebak di tempat ini. Untuk mendapatkannya juga harus menunggu sebuah pesawat menjatuhkan sebuah suplai yang hanya muncul 1 kali dalam 3 hari. Alternatif lainnya adalah menggunakan flare gun untuk mendapatkan suplai jika beruntung mendapatkannya.

"Seharusnya hari ini suplai sudah muncul dan berharap kita dapat AWM lagi!" ucap Akame sambil mengganti Scope 6x pada M416 dengan Red Dot Sight. M416, sebuah senjata yang simple dalam penggunaannya dan mudah ditemukan. Senjata yang cocok digunakan jarak dekat namun kurang efektif untuk jarak jauh.

"Masih ada 50 orang yang masih bertahan, aku rasa kita bisa menghabisi musuh ketika mereka mengambil suplai!" usul Ken. "Benar, akan ada banyak orang yang datang untuk mengambil suplai karena selain senjata, juga ada makanan disana," ucap Akame yang tampak masih sibuk dengan senjata yang ia gunakan. "Kita butuh suplai healing juga dan beberapa granat serta bom asap, kurasa kita perlu bensin dan cari kendaraan lain," jelas Akame lagi.

Sebagai support memang sudah itu tugasnya. Memperhatikan kebutuhan timnya agar tidak kehabisan suplai nantinya. Ken adalah seorang IGL (In Game Leader) yang diberi tugas untuk mencari informasi sekaligus rusher bersama Zero sebagai driver dan flanker. Hikari dapat tugas untuk menjadi sniper bersama dengan Akame untuk mengcover teman-temannya dari kejauhan.

"5 jam lagi suplai akam datang dan selagi itu kita cari suplai, bagi 2 tim!"

"Zero dan Hikari pergi ke kiri! Aku dan Ken bakalan ke arah sebaliknya dan kita bakal ketemu dalam waktu 3 jam dari sekarang!" jelas Akame.

"Dimengerti!" ucap mereka serempak.

🎮🕹️🎮

Tim Ken dan Akame.

Kedua pemuda itu dapat bagian untuk mencari suplai healing, granat, dan bom asap. Kedua pemuda itu pergi ke area perumahan yang tak jauh dari posisi mereka sebelumnya. "Ken, aku periksa gedung sebelah kanan dan kau yang kiri!" ucap Akame memberi usulan.

Mereka berdua langsung berpencar kembali untuk mengumpulkan suplai. Tak sampai lima menit, tiba-tiba terdengar ledakan dari gedung yang dituju oleh Ken.

"Ken!" jerit Akame. Ia langsung bergerak secepat yang ia bisa memasuki gedung tersebut. Asap hitam langsung menyambut sang pemilik surai hitam pekat itu. Dia bersiaga dengan M416 yang sudah dilengkapi peredam suara pada moncong senjata itu.

Akame mengaktifkan walkie talkie yang berada di sakunya. Ia mencoba memanggil Ken menggunakan Walkie talkie namun tak ada jawaban dari sang pemilik surai merah itu.

Kang Victor was killed by Yuki Gans using UMP45
JAGOAN NEON was killed by Yuki Gans using M416

Dua notifikasi yang muncul pada layar hologram dihadapan Akame membuat dirinya bernafas lega. "Syukurlah dia selamat," gumam Akame pada dirinya sendiri.

"Hallo?'

"Kau ada dimana? Bikin orang panik bodoh! Mana manggil kagak dijawab lagi!" maki Akame begitu Ken menjawab panggilan walkie-talkie Akame. "Cie panik cie~" goda Ken yang membuat Akame semakin kesal. "Balik cepetan bodoh!" jerit Akame.

"Santai bro santai!"

🎮🕹️🎮

Tim Zero dan Hikari.

Disisi lain, kedua pemuda itu telah mendapatkan benda dan alat yang dibutuhkan. Namun sebelum bisa kembali, mereka harus berhadapan dengan musuh terlebih dahulu. Baku tembak tidak dapat terelakkan lagi dan membuat mereka harus berlindung pada sebuah rumah kecil.

"Hikari, apa kau punya kain bekas atau semacamnya?"

"Ada, memangnya untuk apa?" tanya Hikari sembari mengeluarkan 3 buah perban. "Aku mau membuat bom molotov!" ucap Zero. Ia mengeluarkan beberapa botol alkohol lalu membuka satu persatu botol alkohol itu. Kemudian ia menutup bagian atas botol-botol itu dengan perban yang diberikan Hikari.

"Bakar dan lempar setelah aku memberikan tanda!" ucap Zero. "Berikan aku pemantiknya!" ucap Hikari.

Keheningan tiba-tiba melanda. Tidak ada suara tembakan lagi yang terdengar selain suara angin yang berhembus dan membuat daun-daun pohon yang telah mati jatuh berguguran. Musuh-musuh yang sebelumnya menembak membabi buta tanpa henti kini telah senyap tak bersuara namun masih bersiaga.

Dor!

Sebuah tembakan terdengar dari sebuah rumah kecil dan membuat satu diantara mereka terbunuh. Mereka langsung melepaskan tembakan kembali dan kali ini secara acak.

Tidak ada serangan balasan dari Zero maupun Hikari lagi. Mereka memutuskan untuk memeriksa kondisi Hikari dan Zero. Mereka telah menyerang namun tak ada balasan bahkan notifikasi bahwa mereka telah membunuh pun tidak ada sama sekali.

Sebuah botol dengan ujung yang terbakar datang dari dalam rumah itu. Ketika botol itu telah menyentuh tanah. sebuah ledakan kecil terjadi dan menyebabkan area disekitarnya terbakar. Dan 4 notifikasi beruntun muncul dilayar hologram Zero dan Hikari. Kedua pemuda itu berhasil membunuh musuh-musuhnya.

🎮🕹️🎮

"Kalau bukan karena mobilnya sempat mogok, mungkin kami gak bakalan buang-buang waktu sih," ucap Zero pada Akame yang sedang kesal. 4 jam yang lalu mereka telah berhasil berkumpul kembali. Walaupun mereka telat 1 jam berkumpul karena Zero dan Hikari yang terlambat. Dan untungnya mereka berhasil mengambil suplai walaupun tidak dapat membunuh musuh.

"Setelah ini belok kiri!" ucap Akame datar. Zero yang tau bahwa Akame tak menanggapinya hanya bisa menghela nafas kasar. "Maklum bocil," ucap Zero.

1 detik...

2 detik...

3 detik...

"Setelah ini aku bakalan bunuh seseorang."

"Lain kalo direm dikit ya kalau ngomong!" ucap Ken menahan tawanya. Hikari yang berada disamping Zero hanya bisa tertawa. Bagaimana dengan Zero? Zero hanya bisa menelan saliva ketika mendengar perkataan Akame. Mungkin dulu ia masih bisa menganggap ini candaan namun kali ini tidak. Karena kemungkinan perkataan Akame bisa menjadi kenyataan.

"Ngomong-ngomong, tersisa berapa orang yang masih hidup, Ken?" tanya Hikari yang berusaha mengubah suasana.

"Tersisa... Eh?!"

"Kenapa?!" tanya Zero yang menghentikan mobil secara mendadak. "Tersisa 8 orang lagi dan jika ditambahkan kita, berarti ada 12 orang yang tersisa di tempat ini!" jelas Ken dalam satu tarikkan nafas. Dan anehnya, ketiga sahabatnya paham apa yang dikatakan oleh Ken.

"Kita cari tempat bersembunyi!" seru Akame. "Pakai ghillie suit dan bersembunyi di dalam hutan!" perintah Ken pada temannya.

Keempat pemuda itu langsung berlari menuju hutan setelah memakai baju kamuflase atau ghillie suit. Entah sejak kapan sebuah pelindung berwarna biru muncul dan menutupi disekitar area hutan. Ditambah lagi hujan yang turun dan membasahi hutan membuat penglihatan menjadi berkurang.

"Sial! Aku tidak bisa membidik dengan benar jika hujan seperti ini!" ucap Hikari. "Pergilah keatas pohon dan aku yakin itu bisa sedikit membantu!" usul Zero pada Hikari. Pemuda bersurai putih itu langsung memanjat pohon dan bersiap dengan AWM yang berada ditangannya. "Zero ganti posisi! Gunakan sniper ini dan kau bersama Hikari tolong cover kami!" ucap Akame memberikan senjata M24 pada Zero. Senjata yang sedikit sulit dijumpai namun sangat sepadan dengan kerusakan yang diberikannya. Zero juga memberikan DP-28 kepada Akame.

"Bersiap ditempat!"

🎮🕹️🎮

Sekitar 30 menit kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat kearah Akame dan yang lainnya. Akame yang mengetahui ada yang datang, langsung mengganti senjatanya menggunakan M416 dan memberikan kode kepada Ken dan yang lain.

"Musuh mendekat! Aku mendengar sekitar 2 orang! Zero dan Hikari periksa sekitar dengan sniper kalian! Aku dan Ken akan membunuh musuh!" ucap Akame memompa senjatanya yang telah ia pasang peredam suara. "Siap?" tanya Ken yang telah bersiap.

"1...!"

"2...!"

"3...!"

"Go!"

Akame dan Ken langsung berlari secepat yang mereka bisa memutari musuh. Mereka langsung membunuh musuh tepat pada bagian kepala dan membuat mereka mati seketika. Dua notifikasi muncul di layar hologram Akame dan Ken lalu disusul oleh dua notifikasi lainnya.

"Kerja bagus!"

Ternyata Zero dan Hikari telah membunuh 2 musuh yang lainnya. Kini tersisa 4 orang yang perlu mereka eliminasi agar bisa bebas dari tempat ini. Mungkin terdengar kejam namun inilah jalan satu-satunya yang harus dilakukan.

"Setelah bebas dari tempat ini, aku akan mencari tau siapa yang telah menjebak kita disini!" ucap Akame geram. "Kalau begitu, kita perlu mencari 4 orang yang masih tersisa itu!" ucap Ken.

Keempat pemuda itu langsung bergerak secara bersama agar dapat saling melindungi. Tak sampai 20 menit, mereka melihat asap yang menutupi area didepan mereka.

"Bom asap? Sepertinya kita telah menemukannya!" ucap Hikari tersenyum penuh kemenangan. Belum sempat melangkahkan kaki, sebuah benda bulat menggelinding kearah mereka.

"Granat!"

Duar!

Beruntung bagi mereka berhasil selamat dari ledakan itu. Tapi, mereka harus terpisah karena ledakan bom tadi. Selain itu, senjata yang mereka gunakan juga terlepas dari tangan mereka.

🎮🕹️🎮

Lokasi Hikari.

Hikari harus berdiri sempoyongan karena efek ledakan sekaligus tubuh ia menghantam sebuah pohon yang besar. Dan kini, ia dihadapkan oleh seorang gadis bersurai pirang yang telah siap dengan sebuah linggis di tangannya.

"Shit!" umpat Hikari. Gadis itu langsung berlari kearah Hikari dan melayangkan linggisnya menuju kepala Hikari. Dengan cepat ia menghindari serangan linggis itu dan melakukan tendangan yang cukup keras kearah gadis tersebut. Tak sampai disitu, Hikari kembali menyerang perut gadis itu dengan pukulan telak pada ulu hatinya dan membuatnya muntah darah.

Hikari menghela nafas lega ketika telah menjatuhkan gadis tersebut. Namun, sepertinya gadis itu cukup kuat untuk berdiri setelah menerima serangan mematikan dari Hikari.

"Menyusahkan orang saja ni cewek."

Gadis itu kembali menyerang Hikari dan dapat dihindari dengan mudah oleh pemuda bersurai putih itu. Tetapi, gadis itu kali ini langsung mengubah serangannya dan menusuk bahu kiri Hikari menggunakan ujung linggis yang tajam itu.

"Akh! Brengsek!" umpat Hikari. Ia menendang gadis itu dan membuatnya terpental jauh. Hikari langsung melempar linggis yang terjatuh dari tangan gadis itu dan mengenai kepalanya. Gadis itu mati dengan kepala yang tertancap oleh linggis.

"Merepotkan saja!"

🎮🕹️🎮

Lokasi Zero.

Pemuda bersurai biru itu sedang bersumpah serapah kepada musuh di hadapannya. Bagaimana tidak, musuh yang ia hadapi berbadan kekar dan menggunakan dua buah celurit di tangannya. Sementara ia hanya menggunakan tangan kosong.

"Persetan dengan itu semua!" jerit Zero melesat kearah pria berbadan kekar yang menjadi lawannya. Pria itu menebas celuritnya kearah Zero namun bisa dihindari oleh pemuda itu. Zero menyerang menendang lengan kiri pria itu sekuat mungkin dan membuatnya melepaskan celurit di tangannya.

"Sekarang kita imbang!"

Zero menyerang kembali pria itu menggunakan celurit yang ia dapat kearah kepala pria itu. Serangan Zero nyatanya dapat ditahan oleh pria itu. Tak habis akal, Zero menendang kepala pria itu sekuat mungkin dan membuatnya mundur beberapa langkah. Tanpa menunggu lama, Zero langsung melayangkan serangannya dan mengoyak perut pria itu dengan celurit miliknya hingga mengeluarkan organ-organ tubuh pria itu.

"Untung dia bodoh!" gumam Zero menatap lengan kanannya yang hampir putus karena kecerobohan yang ia buat.

🎮🕹️🎮

Lokasi Ken.

Ken berhadapan dengan seorang pemuda bersurai coklat dengan sebuah tongkat baseball ditangannya. Tanpa menunggu waktu yang lama, Ken langsung melayangkan tendangan yang kuat kearah pemuda itu. Pemuda itu kembali bersikap siaga dan melesat kearah Ken.

Ken yang tak menyadari gerakan pemuda itu menerima pukulan keras pada kepalanya dan membuat kepalanya mengeluarkan darah. Ken kembali menyerang pemuda itu sambil berusaha mempertahankan kesadarannya. Ken menendang pemuda itu sekuat mungkin dan disusul serangan yang mengenai kepala pemuda itu hingga membentur pohon dan hancur.

Tak sampai disitu, Ken mengambil tongkat baseball dari tangan pemuda itu dan menyerangnya menggunakan tongkat itu sekuat-kuatnya.

"Selesai!" ucap Ken sebelum ia pingsan.

🎮🕹️🎮

Lokasi Akame.

Akame berhadapan dengan seorang pemuda bersurai hitam yang sedang bermain-main dengan sebuah parang di tangannya. "David!" geram Akame menatap tajam pemuda itu. "Yo! Akame! Bagaimana dengan permainan yang diciptakan oleh Ayahku? Sangat cocok dengan dirimu bukan? Upss?! Aku lupa kalau kau tidak ingat apapun!" ejek pemuda bernama David itu.

"Maaf ya, cairan yang kalian gunakan itu tidak berguna kepadaku!" ucap Akame yang membuat David diam membeku. "Setelah keluar dari tempat ini, Aku akan menghabisi seluruh eksperimen Ayahmu!" ucap Akame mengeluarkan parang yang sengaja ia simpan untuk berjaga-jaga disituasi seperti ini. "Heh! Yang keluar dari sini adalah aku!" ucap David sombong.

"Kita lihat saja!"

Ting!

David langsung menyerang Akame dengan parang miliknya namun dapat ditangkis dengan mudah oleh Akame. Pemuda bersurai hitam pekat itu kembali menyerang David, mengincar bagian kepala pemuda itu. David melompat untuk menghindari serangan Akame walaupun perutnya tergores sedikit oleh ujung parang Akame.

Akame langsung menyerang David secara beruntun tanpa jeda sedikitpun. Hal itu membuat David kewalahan untuk menghindarinya.

Akame kembali menyerang David dan kali sini berhasil menyayat dada pemuda itu. Tanpa memberikan nafas sedikitpun bagi David, Akame kembali menyerang David dan memotong kedua lengannya.

"Sampai jumpa di neraka, David!"

Trash!

Akame menebas kepala pemuda itu dengan tatapan yang begitu dingin layaknya sebuah es. "Membawa seorang pembunuh ke dalam permainan yang mengharuskan seseorang untuk membunuh adalah hal yang paling bodoh!" ucap Akame dingin.

Tiba-tiba dari balik awan, muncul sebuah helikopter yang terlihat sedang membawa seseorang yang sedang bergantung pada tangga d helikopter itu. Orang itu kemudian turun dan menghampiri Akame yang sedang bersiaga jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

"Bagus, mencoba membunuh adik sendiri?!" ucap seorang pemuda bersurai hitam pekat dengan manik emas. "Oh? Kau rupanya, Emma!" ucap Akame membuang parang di tangannya.

"Bagaimana dengan yang lain?"

"Mereka baik-baik saja! Mereka hanya menerima beberapa luka saja namun tak ada yang mengancam nyawa," ucap Emma datar. "Baiklah, antar kami pulang!" ucap Akame berjalan meninggalkan adiknya yang sedang memasang wajah kesal.

"Dia kakakku bukan sih?"

🎮🕹️🎮

Tragedi yang menyebabkan sebanyak 400 orang yang terlibat didalamnya dan hanya menyisakan 4 orang yang selamat saja. Salah satu diantaranya adalah Akame Horikita. Putra pertama dari keluarga Horikita yang terkenal sebagai seorang psikopat.

Dan otak dari kejadian itu adalah pemimpin sebuah perusahaan besar yang bernama Kazuto. Kini ia telah ditangkap atas perintah komandan militer, Noran Ramadhan. Salah satu kenalan sekaligus teman dari Akame. Dan perusahaan milik Kazuto dihancurkan oleh pihak yang berwajib.

Dan saat ini Akame barusaja bertemu dengan Noran bersama Emma dan ketiga sahabatnya. "Terima kasih atas bantuannya, Noran!" ucap Akame. "Tidak masalah Tuan Horikita, saya siap untuk membantu anda kapanpun dibutuhkan!" ucap Noran tersenyum tipis.

"Kalau begitu saya permisi Tuan-tuan." ucap Noran pergi meninggalkan Akame bersama Emma dan sahabatnya. Tak lama setelah kepergiannya Noran, kelima pemuda tersenyum bahagia.

"Yey! Kagak jadi masuk penjara!"

"Untung dia bisa diajak kerja sama!" ucap Akame tersenyum simpul. "Ya, dengan begitu aku bisa melanjutkan eksperimennya!" ucap Emma.

"Benar, setelah ini kita akan membuat sedikit permainan kejar-kejaran dengan zombie."

"Permainan yang akan kita gunakan untuk memanipulasi orang lain selanjutnya."

~The End~



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top