5. Pahlawan yang Singgah
BAB I
"Kau ... tidak akan lepas dari ini," desis Charis, menatap nanar laki-laki di depannya. Ah, bagus, aku mengucapkan kalimat paling klise bagi orang yang disekap.
Jexe Rolft, laki-laki yang dimaksud, cuma mengangkat bahu. Mereka berdua berada dalam kamar sempit berukuran 4x4 meter, di markas rahasia Jexe. Kamar sekaligus ruang tahanan Charis.
"Nona, aku akan tanya sekali lagi," sahut Jexe, memainkan rambut hitamnya. "Mengapa kau menanyai tentang diriku di jalanan Draxir? Kau anak buah Joe?"
Charis memilih diam.
"Mungkin lidahmu harus kuubah jadi batu," kata Jexe. "Jadi kau akan diam selamanya."
"Sebenarnya, aku tidak akan diam, cuma tidak bicara dengan jelas saja," ucap Charis tanpa sadar. Sial.
Perlakuan Jexe pada Charis sebenarnya cukup sopan, setidaknya sopan untuk ukuran laki-laki yang berprofesi sebagai pembunuh ini. Selama tiga hari dia ditahan oleh Jexe dan kawanannya; dibawa ke markas yang ada di antah berantah ini. Jexe tidak mau mengambil risiko, dia menyita sepatu, sarung tangan, sebagian perhiasan, bahkan ikat rambut dan kaus kaki Charis; sepertinya rumor yang mengatakan kalau Charis bisa membuat senjata dari bahan-bahan itu telah didengar Jexe.
Rumor yang terlalu dibuat-buat. Tapi mungkin karena itu Jexe belum membunuhnya.
Selama tiga hari Charis tidak tidur; pikirannya penuh dengan plot bagaimana kabur dari tempat ini. Tapi plot-plot itu selalu berakhir sama, dia tidak akan bisa kabur, kecuali kalau dia mendapat perhiasannya lagi.
Sialan kau, Willard. Sialan kau, Note. Gara-gara kalian aku berada di situasi ini, maki Charis dengan pikiran yang semakin lelah, mengingat lagi alasan mengapa dia berada di sini.
***
"Ah, Lady Ardena, selamat datang," kata Tuan Willard dari balik meja kerjanya. Lelaki tua itu berhenti membaca bukunya. Nanobot? Ternyata dia suka juga dengan yang seperti itu.
Charis duduk. Semua jendela terbuka, membuat sinar matahari sore kota Veros menerangi seluruh ruangan. Apa Tuan Willard tidak merasa panas di tempat ini? Sayup-sayup, Charis mendengar dengungan nyamuk di telinganya. Pompa di lantai bawah sedang diperbaiki, tapi dia tidak menyangka hewan-hewan yang tinggal di sana akan pindah ke sini.
"Sumber terpercayaku mengatakan Anda menemukan petunjuk tentang keberadaan Note. Boleh saya tahu 'petunjuk' itu?" tanya Charis tanpa basa-basi lagi.
"Saya tidak akan mengatakan rumor yang didengar oleh koki dan pelayan istana sebagai sumber terper—"
"Jawab saja!" sahut Charis tak sabar. Dia langsung menyesali ucapannya. Tuan Willard adalah penasihat raja Alteriya II dan bangsawan ternama di Alterium. Charis telah melanggar berbagai protokol hanya untuk menemuinya. Sekarang dia malah memotong ucapan laki-laki itu.
Jaga ucapanmu. Note sekarang tidak ada untuk mengeluarkanmu dari keruwetan politik Alterium.
Tuan Willard tampak biasa saja dengan kekurangajaran itu. Mungkin ini bukan kali pertama dia berhadapan dengan gadis bersuasana hati buruk seperti Charis sekarang.
"Saya harap Anda merahasiakan informasi ini," kata Tuan Willard. "Menghilangnya Note Arianor masih belum diketahui publik; kami berharap agar Duke Arianor juga tidak mengetahui ini. Duke mungkin menganggap anaknya sedang bersenang-senang dengan Anda sekarang, dan kami ingin dia tetap berpikir seperti itu." Tuan Willard menatap Charis tajam.
"Katakan saja di mana aku bisa menemukannya," keluh Charis. Oh Igna, dia tidak ingin basa-basi sekarang. Nyawa Note mungkin dalam bahaya.
"Draxir," kata Tuan Willard.
Draxir, kotanya para kriminal Authere. Charis menggeleng tak percaya. Rasanya tidak mungkin Note pergi ke sana. Tapi, dia menghilang di Authere, dan Draxir merupakan kota di Authere.
"Pernah mendengar Jexe Roflt?" kata Tuan Willard lagi.
"Apa itu? Merek sabun?"
Tuan Willard cuma menatap Charis datar.
"Ehm." Charis pura-pura membersihkan tenggorokannya. Sebaiknya dia jangan main-main dengan orang tua ini. "Yang pastinya itu bukan merek pistol, kalau itu aku pasti tahu. Jadi, merek orang, em, maaf, nama orang," kata Charis. "Anda mau mengatakan kalau dia yang menyebabkan Note menghilang?"
"Mungkin."
'Mungkin'. Orang yang kucintai tidak jelas hidup matinya, yang kudapat cuma 'mungkin'. Charis tahu dia tidak bisa menyalahkan Tuan Willard. Lelaki itu pasti telah mengerahkan seluruh jaringan mata-matanya untuk mendapat secuil informasi ini, hal yang gagal Charis lakukan.
"Saya tidak akan mengatakan kalau ini merupakan informasi yang akurat," sambung Tuan Willard. "Walau cuma sedikit yang bisa saya dapatkan. Beberapa orang saya ... mati untuk mendapatkan ini."
Sepertinya si Jexe ini berbahaya juga. Baiklah, saatnya untuk mandiri. Charis berdiri. "Kapan aku berangkat?"
"Berangkat?" Tuan Willard tampak terkejut.
"Anda memberikan info ini padaku. Anda jelas tahu apa yang akan kulakukan untuk menyelamatkan Note," ucap Charis. "Jika aku terbunuh, Anda bisa terbebas dari kekacauan-kekacauan yang sering kubuat."
Lagi-lagi pandangan Tuan Willard sama sekali tidak bisa Charis artikan. Ayolah, Pak Tua. Akui saja rencanamu itu!
"Kematianmu, Lady Ardena, hanya akan membawa masalah padaku saja." Tuan Willard kembali menulis. "Kau terlalu tinggi menilai dirimu sendiri, gadis muda. Ingat siapa dirimu."
Oh, aku ingat siapa diriku. Cuma gadis bangsawan minor yang bodoh. Seekor nyamuk hinggap di leher belakang Charis. Dengan geram dia memukul hewan sialan itu. Tenangkan dirimu. Willard ingin kau marah. Itu balasan atas kekurangajaranmu padanya.
"Jadi kapan—"
"Besok, kapal Windsurfer," kata Tuan Willard tanpa menoleh dari dokumennya.
"Ck, terima kasih," sahut Charis menahan geram. Dia membungkuk hormat, dan secepatnya berjalan keluar dari ruangan itu.
"Lady," kata Tuan Willard, "kalau kau bertemu Jexe, tolong ambil juga dokumen rahasia Alterium yang sempat dicurinya dari kita. Kalau perlu, ambil secara ... diam-diam."
Oh, jadi itu alasanmu tertarik pada Jexe? Dan kau ingin menggunakanku? Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu, untuk sementara. Dan aku tidak akan tertangkap seperti anak buahmu itu.
***
Charis mengajak Stewart, pelayan sekaligus bodyguard Note, untuk menemaninya ke Draxir. ASV itu seperti kehilangan arah saat Note tidak ada.
Betapapun percaya dirinya Charis akan keberhasilannya dalam mengelabui Jexe, namun Jexe berhasil menangkapnya di hari pertama dia di kota itu. Semua itu merupakan kesalahan Charis sendiri. Dia terlalu frontal menginterogasi penduduk Draxir, sama saja dengan berteriak "Di mana kau Jexe?" ke seluruh kota. Malam harinya, saat dia mengunjungi bar Under Desert, kawanan Jexe menangkapnya. Untung saja Stewart berhasil melarikan diri.
Dan di sini lah dia sekarang.
"Sepertinya kau tidak akan bicara lagi," sahut Jexe berdiri. Dia mulai berjalan ke pintu. "Mungkin aku harus menggunakan cara yang lebih ... ekstrim."
"Kau ingin membunuhku?" tanya Charis.
Jexe tersenyum sambil menatapnya. "Aku seorang Kekkan, Nona. Aku pembunuh bayaran. Menurutmu apa yang akan kulakukan?"
Dia akan membunuhku, pikir Charis kalut. Saatnya untuk mencoba taktik baru. "Itukah yang kau katakan saat kau menculik Note Arianor?"
Jexe berhenti memutar kenop. Dia memandang Charis dengan lebih tertarik. Sial, aku mengucapkan kalimat yang salah.
"Ooh, kau temannya si Arianor ini?" Jexe mendekat. Dia menarik rambut Charis hingga wajah mereka saling berdekatan. "Di mana dia? Apa dia yang menyuruhmu ke sini?"
Seharusnya aku yang bertanya, brengsek! Jexe bisa saja main-main dengannya, atau dia benar-benar tidak tahu dengan keberadaan Note. Apa Charis mengejar informasi palsu? Tuan Willard memang mengatakan kalau informasinya bisa saja salah, tapi Charis terlalu berharap dengan info ini, sampai dia tergesa-gesa.
Menatap mata Jexe, Charis menemukan kebenarannya. Jexe benar tidak tahu di mana Note.
Dalam hati, Charis mendesah kesal. Bagus sekali, aku ditangkap oleh salah satu ketua geng kriminal Draxir, dan ... tidak ada artinya sama sekali.
"Kau yang menculiknya. Mengapa bertanya padaku?" tanya Charis ngotot.
"Nona, sekali lagi, aku pembunuh bayaran, bukan penculik." Tangan Jexe mulai menghilang perlahan-lahan. Tidak, bukan menghilang, tapi berubah asap. "Sekarang, apa dia yang menyuruhmu ke sini?"
Charis menggeleng. Asap—yang tadinya adalah tangan Jexe—mulai menggumpal di sekitar wajahnya. Charis mulai kesulitan bernapas; menatap Jexe nanar.
Ketukan pintu menyelamatkan Charis dari kematian yang semakin dekat. Asap Jexe kembali berubah menjadi tangannya.
"Aku bisa membunuhmu dengan mudah, Nona," bisik Jexe sambil membuka pintu. Dia bicara sebentar dengan orang yang mengetuk tadi. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi langkah Jexe terdengar menjauh.
Charis masih menahan napasnya. Tadi apa? Sihir?
Aku harus keluar dari sini. Informasi Tuan Willard salah. Jexe ternyata mencari Note juga. Tapi ... mengapa?
Supaya dia bisa membunuhnya, pikir Charis tiba-tiba. Ada yang menyewa Jexe. Tapi Note menghilang terlebih dahulu. Apa dia bersembunyi? Tidak, kalau Note bersembunyi, dia pasti akan menghubungi Charis, apalagi setelah melihat Charis ada di kota ini.
Jadi, dia mungkin memang diculik, tapi bukan oleh Jexe. Jadi siapa? Dan mengapa?
Charis berjingkat dari ranjang. Dia memegang anting-antingnya—satu-satunya benda yang tidak diambil Jexe, mengaktifkan fungsi perhiasan itu yang sebenarnya. Bunyi di sekitarnya menjadi nyaring, dan Charis bisa mendengar pembicaraan jarak jauh. Setelah menyaring beberapa suara, dia akhirnya menemukan suara Jexe.
"... dia berdarah waktu ditemukan," kata seorang laki-laki. Orang yang tadi memanggil Jexe.
"Pelakunya? Si 'Roo' ini lagi?" tanya Jexe.
"Bukan, tapi Joe."
Joe? pikir Charis. Apa maksudnya Red Joe? Dia merupakan saingan Jexe dalam menguasai dunia bawah Draxir. Charis mengetahuinya pada hari pertama dia ke sini. Dia bahkan sempat berpikir untuk menemui Joe setelah mengunjungi bar Under Desert. Sayang Jexe menangkapnya terlebih dulu.
Jexe terdengar meninju dinding. "Si sialan itu benar-benar menyusahkan."
Lawan bicaranya berkata, kali ini lebih pelan, "Aku mendengar kalau dia telah menyandera seorang bangsawan Alterium. Sepertinya targetmu."
Alis Charis naik. "Oh, benarkah?" Jexe terdengar tertarik.
Nyamuk di lehernya membuat Charis menepuk leher itu. Di sini juga nyamukan? Ck!
Jexe terdengar berjalan kembali ke kamar. Charis cepat-cepat kembali ke ranjang.
"Sebuah berita gembira telah sampai padaku," kata Jexe dengan senyum khasnya yang memuakkan. "Dan keberadaanmu jadi tidak ada gunanya lagi."
"Apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Charis. Jika Jexe ingin membunuhku sekarang....
Jexe mengangkat bahu. "Tidak ada. Kau cuma beban saja bagi markasku. Kau bisa pergi sekarang."
Tunggu, cuma itu?
***
Jexe tetap memegang kata-katanya. Charis dibawa di sekitar markas. Semua benda-bendanya dikembalikan, kecuali perhiasan. Dasar perampok. Anak buah Jexe sepertinya tidak menyadari kalau semua perhiasan itu adalah palsu.
Setelah itu, Jexe meninggalkannya sendirian. Tuan rumah yang buruk. Mengapa dia malah meninggalkanku?
Tapi ini kesempatan yang bagus untuk mengambil dokumen yang dikatakan Tuan Willard. Berjalan-jalan sebentar, Charis menemukannya di sebuah ruang arsip. Tidak ada penjaga, dan sangat mudah. Terlalu mudah. Perangkap?
Setelah menemukan dokumen itu, Charis baru menyadari kalau markas ini berada di bawah tanah. Pantas tidak ada jendela, yang ada cuma dinding beton, serta udara yang terasa tertekan. Urgh, dia semakin kurang jeli. Harusnya dia menyadari itu saat dalam kurungan.
Jexe datang tak lama kemudian dan membawanya ke ruang besar. Ada belasan Kekkan yang tinggal di markas. Sebagian tampak bekerja mengangkat peti. Ada juga yang bermain kartu. Beberapa Kekkan tampak tertarik mengamati Charis, tapi melanjutkan lagi kegiatan mereka setelah melihat Jexe bersamanya. Mereka jelas menghormati orang itu.
Jexe berhenti di depan sebuah dinding biru tipis transparan. Di balik dinding, terlihat lagi beberapa orang Kekkan yang juga mengangkut peti. Seorang Kekkan datang dari belakang, mengangguk hormat pada Jexe, dan berjalan begitu saja melewati dinding itu. Kekkan tersebut langsung hilang dari pandangan.
"Tertarik?" ucap Jexe tersenyum.
"Apa ... ini?" tanya Charis terkesima. Dia berusaha menyentuh dinding, tapi tangannya cuma melewati benda transparan tersebut.
"Lewati saja," kata Jexe. Dia lalu berjalan pada dinding itu. Sama seperti Kekkan tadi, dia juga menghilang.
Charis mengekor. Markas Jexe langsung berputar mengelilinginya. Sedetik kemudian, Charis telah berdiri di sebuah gang sempit. Draxir. Aku berada di Draxir lagi. Jika dilihat dari tempatnya, dia berada di samping hotelnya menginap.
"Markasku merupakan tempat paling tersembunyi di kota ini," jelas Jexe. "Dinding yang kau lihat itu akan membunuh siapa pun yang mempunyai niat buruk terhadapku, atau berusaha masuk tanpa izinku. Apapun tidak akan bisa melewati ini. Hadiah Igna padaku."
Setelah mengatakan itu, Jexe berjalan menuju dinding sebuah bangunan. Dia melewati dinding itu dan menghilang. Charis berusaha mengikutinya, tapi dia cuma menabrak dinding batu.
"Jadi, aku tidak bisa ke sana lagi?" gumam Charis. Tapi itu tidak penting sekarang. Dia telah mendapat informasi yang diinginkannya. Note berada di tempat Joe.
Bunyi seseorang yang terjun di belakang membuat Charis melirik tajam. Namun, lirikan itu berubah menjadi senyuman. Stewart terlihat biasa saja, tapi Charis tahu kalau ASV itu khawatir dengan kondisinya.
"Mistress," kata Stewart.
"Aku harap kau tidak memporakrandakan kota ini saat aku hilang," ucap Charis lemah. Akhirnya, kelelahan mulai menguasai dirinya. "Temukan Mastermu, Stewart! Aku tahu di mana dia sekarang. Cepat, sebelum Jexe bertindak."
Charis cuma setengah sadar setelah mengatakan itu. Dia sedikit mengingat Stewart mengangkatnya ke kamar. Dia akhirnya membiarkan tubuhnya rileks dan tertidur.
***
Saat Charis bangun, Note telah berbaring di sampingnya. Namun pemuda berambut cokelat itu tampak tidur dengan mimpi buruk. Matanya terpejam, mulutnya komat-kamit mengatakan yang tidak jelas, dan keringat mengucur dari tubuhnya.
"Racun," kata Stewart di depan pintu. "Sepertinya si Joe ini meracun Master. Kita harus pulang ke Alterium secepatnya, Mistress. Saya tidak merasa kalau dia akan bertahan lebih lama lagi."
"Kau menemukannya di tempat Joe?" tanya Charis. "Mengapa penawarnya tidak kau ambil?!"
Stewart tampak merasa bersalah. "Joe sendiri tidak tahu penawarnya apa." Stewart berkata lagi. "Jangan khawatir, Mistress. Joe telah mati. Tempatnya kubuat menjadi abu."
Di hari biasa, Charis mungkin akan tersenyum puas mendengar itu. Tapi, melihat kondisi Note sekarang, Charis bahkan tidak tahu harus bereaksi apa.
"Si Jexe ini sepertinya masih mencari Master," kata Stewart lagi. "Saya harus mengelabuinya agar dia percaya Master telah mati bersamaan dengan kebakaran di tempat Joe. Tapi, dia percaya atau tidak, itu saya tidak tahu."
"Bagus, Stewart" ucap Charis. Dia memejamkan mata. "Aku masih mengingat jadwal pelabuhan. Nanti malam ada kapal yang akan berangkat ke Alterium. Kita pulang menggunakan itu."
***
Sesuai dugaannya, Jexe berusaha menghentikan mereka. Namun, Charis telah mengantisipasi itu dengan mengupah beberapa Troll dan preman-preman Draxir untuk melambatkan Jexe. Mereka akhirnya berhasil kabur darinya. Kalau Jexe ingin membunuh Note, dia harus ke Alterium sekarang. Kalau dia ke sana, Charis telah siap dengan berbagai macam perangkap.
Aku tidak bisa membunuhmu, tapi aku bisa mengakalimu, Jexe.
Charis menyapu kembali keringat di dahi Note yang masih pingsan.
***
Charis sekali lagi berada di tempat Tuan Willard. Dokumen yang ada dicuri Charis sekarang telah berada di tangan Tuan Willard.
Sore yang cerah, dan tidak ada nyamuk.
"Jadi, begitu cara Anda keluar dari Draxir? Sangat ... anticlimactic," kata Tuan Willard.
"Terima kasih," kata Charis sambil menyeruput tehnya. Agak pahit. Racun? Atau aku yang terlalu paranoid?
"Tapi bagaimanapun Anda berhasil membawa Tuan Muda Arianor kembali, jadi saya harus mengucapkan selamat."
Mengingat Note yang masih belum sadar bahkan saat mereka datang ke Veros kemarin membuat tenggorokan Charis terasa kering. Menahan kata-kata kotor yang telah berada di ujung lidahnya, dia berkata sesopan mungkin, "Selamat karena membawa Note pulang, atau selamat karena membuatmu tahu di mana markas rahasia Jexe?"
Tuan Willard cuma mengangkat alis.
"Semua ini," kata Charis, "cuma untuk mengetahui di mana markas rahasia Jexe, kan? Penculikan Note, serta dokumen-dokumen itu sebenarnya hanya pengecoh, saja kan? Aku yakin kalau Red Joe sebenarnya adalah orang suruhanmu."
Willard tidak mengatakan apa-apa.
"Aku harus mengakui rencanamu dengan 'nyamuk-nyamuk' itu hebat juga, Willard, membuat mereka berhibernasi di dalam tubuhku. Mereka masuk ke tubuhku saat aku datang ke sini pertama kali, kan? Saat aku ditangkap Jexe, mereka mulai bangun dan berkeliaran di markasnya.
"Sungguh, Willard, aku suka caramu mengeksekusikan rencana ini. Memberiku informasi yang salah supaya Jexe menangkapku. Saat aku berada di markasnya, 'nyamuk-nyamuk' itu—atau harus kusebut mereka nanobot—keluar dari kulitku, dan memberimu lokasi Jexe. Saat kita bicara sekarang, mereka mungkin sedang memporakrandakan dinding sihir Jexe.
"Dinding sihir yang melindungi markas Jexe akan membuat orang-orang yang mempunyai niat buruk terhadapnya menjadi mati. Itulah sebabnya mengapa orang-orangmu tidak bisa masuk ke sana. Tapi, kalau kau mengirim seorang gadis, yang niatnya cuma mau menanyai Jexe, dinding sihir itu tidak akan membunuhnya. Untuk mencegah agar Jexe tidak langsung membunuhku, kau menyebar rumor kalau aku bisa membuat senjata. Mengingat keadaan Draxir yang seperti siap perang, itu merupakan info yang bagus untuk Jexe."
Charis menarik napas.
"Kalau Jexe tidak menceritakan fungsi dinding transparan yang mengelilingi markasnya itu, aku akan tertipu oleh muslihatmu.
"Tapi Willard...." Peniti yang dimainkan Charis berubah menjadi rapier mini yang hampir mengenai mata Willard. Willard cuma mengerdipkan matanya. Charis mendesis, "Kau bermain dengan orang yang salah, dan taruhannya sangat tidak sesuai dengan hasilnya."
Willard membuka mulut, tapi Charis mendahuluinya. "Jangan coba memanggil pengawal. Stewart telah memastikan kalau semua pengawalmu 'libur' pada jam ini. Hanya kau dan aku di sini. Aku bisa membunuhmu sekarang."
"Tapi kau tidak akan melakukannya," sambung Willard. "Lagipula, kau masih memikirkan keluargamu."
"Kau benar. Aku tidak akan membunuhmu. Raja Alteriya menyukaimu, dan—aku benci mengatakan ini—kau sangat kompeten membantu raja mengurus Alterium." Charis menajamkan matanya. "Tapi, kalau kau mempermainkanku atau Note sekali lagi, siap-siap saja. Mungkin aku akan menyewa Jexe untuk 'mengistirahatkanmu.'"
"Takut melakukannya dengan tangan sendiri?" tanya Willard setengah mengejek.
Charis cuma tersenyum masam. "Satu hal yang kupelajari darimu, 'kalau kau bisa membuat orang lain melakukan sesuatu, mengapa kau harus melakukannya sendiri?'"
Setelah mengatakan itu, Charis pun keluar ruangan, menutup pintu dengan keras.
BAB II
Roo memandang sebentar wajah lelaki yang duduk tidak jauh dari tempat ia merehatkan pantatnya sendiri. Ia mengerutkan keningnya bersamaan dengan asap rokok yang dikepulkan lelaki bertampang sangar itu. Hanya satu yang membuatnya heran: kenapa lelaki itu pelit sekali? Ya... mungkin Roo sudah tidak punya rasa malu lagi, sedari tadi Roo berharap lelaki itu menawarkan rokok yang ia punyai, barang hanya sebatang saja. Sayangnya lelaki itu tidak peka. Bagi Roo, satu batang rokok untuk sekarang setidaknya akan membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Hari yang berawan ini memang bukan menjadi hari keberuntungan Roo. Mendapat gangguan dari seorang gila yang mengaku bawahan Raja Alteriya Kedua sudah cukup membuatnya kesal. Kekesalannya bertambah lagi setelah ia terjebak di kota yang dianggapnya menggelikan ini, Draxir. Ajaibnya, untuk pertama kalinya setelah berpuluh-puluh tahun, akhirnya Roo mengakui kalau Down Under benar-benar surga. Hm, mungkin tidak sesuci surga, tetapi yang jelas Down Under-nya itu tidak seburuk sarang kriminal ini.
"Tch," decak Roo sebelum menepuk jidatnya sendiri. "Kalau terus begini, kapan aku bisa bermain catur dengan Allan lagi? Aku sudah merindukannya," ujarnya frustasi tanpa mengacuhkan kebisingan yang sedari tadi menyelimuti tempat ia berada.
Drak!
Roo mendengar suara yang cukup keras sampai membuatnya kembali menegakkan kembali badannya. Suara yang ia duga timbul akibat senggolan tidak sengaja yang cukup keras ke meja membuatnya menjadi siaga. Diedarkannya pandangan menyelidik ke seluruh sudut kedai minuman di mana ia berada bak orang yang kaget dan bingung. Namun tidak berselang lama, Roo bangkit dari duduknya, lalu keluar dari tempat itu.
Sebenarnya bukan karena kehendak Roo untuk tiba-tiba keluar dari kedai. Kalau ditanya alasannya mengapa, itu semua karena lelaki pelit itu sudah keluar lebih dulu darinya. Misinya sekarang adalah mengikuti si lelaki pelit. Roo sebenarnya memang ingin sekali merampas rokok yang lelaki itu punya, namun yang lebih penting, Roo sedar tadi mengawasinya karena Roo yakin, lelaki itu adalah satu kunci menuju orang yang lebih gila. Orang yang menjadi tujuan ia harus datang ke sarang kriminal ini. Semua bukti yang sudah Roo kumpulkan untuk menyelesaikan masalahnya jatuh dan membuat lelaki pelit itu menjadi tersangka.
Kalau mau dikatakan, keahlian Roo dalam membuntuti seseorang memang tidak bisa diragukan. Roo dapat membuat orang yang ia ikuti tidak menyadari keberadaannya. Walaupun, jujur sudah lama ia tidak bekerja lapangan seperti ini, ia tidak akan pernah melupakan ilmu membuntuti orang. Tentu saja, ilmu semacam ini akan selalu berguna. Terutama dalam membuntui seorang wanita, ilmu ini dapat membuat Roo berakhir di ranjang.
Setelah berjalan, berbelok-belok, dan melewati beberapa gang, akhirnya si lelaki pelit itu berhenti di sebuah bangungan tua berlantai dua yang punya suasana yang suram. Dia sempat menarik napasnya dalam sebelum masuk ke dalam. Tanpa si lelaki itu sadari, kelakuan kecil semacam itu tidak luput dari pengamatan Roo dan membuat Roo yakin kalau orang yang akan ditemuinya adalah orang yang menyebalkan atau... sudah kehilangan akal sehat.
Ketika si lelaki pelit sudah masuk dengan langkah antara samar malas dan takut. Roo turut mengendap-endap masuk mengikuti arah dari si lelaki pelit. Tempat yang akan di datangi lelaki pelit bukan lantai dua. Buktinya ia tidak mengarah pada tangga yang menuju ke atas melainkan ke sebuah tangga menurun melingkar yang letaknya ada di balik pintu yang terlihat seperti pintu kamar. Dan seperti yang sudah Roo pikirkan sedari tadi, bagian dalam bangunan tua itu pasti gelap dan pengap. Sensasinya seperti saat ia masuk ke tahanan.
Langkah Roo terpaksa berhenti tatkala ia mendengar percakap antar lelaki. Dalam posisi menempel pada tembok di tangga, supaya tidak terlihat. Ia berusaha menjamkan indera pendengarannya setajam yang ia bisa supaya tidak ada yang salah ia dengar.
"Sudah kau patikan mereka mengambilnya?"
"Tentu saja. Mereka begitu bodoh sampai mudah tertipu begitu."
"Oh."
"Cuma 'Oh'?"
"Ya. Kau kira satu curut tidak mengganggu? Kupikir, yang bodoh itu bukan mereka, tapi juga kau!"
Terjadi keheningan sejenak. Hening yang membuat Roo was-was, terlebih setelah kalimat yang ada dipercakapan mereka. Semenjak keberangkatannya beberpa hari yang lalu, ia sudah sadar kalau lawan yang akan dihadapinya bukan manusia berotak tikus—meski bertingkah seperti tikus. Dan karena hening yang tidak berkesudahan ini, Roo memutuskan mengambil tindakan yang... bodoh. Ya, dengan bodohnya ia membalikkan badan dan berusaha mengendap-endap keluar. Diam tidak akan membuat mereka bicara lagi. Lebih baik keluar sebelum ketahuan daripada harus berhadapan dengan bajingan-bajingan itu, pikir Roo pendek.
Malangnya, berpikir pendek sudah pasti tidak akan menghasilkan buah yang manis. Di luar dugaan, lawan Roo bertindak selangkah lebih cepat. Sebelum Roo melangkahkan langkah keduanya, seorang lelaki dari antara dua orang tadi berteriak, "He, Curut! Jangan terlalu terburu-buru. Kita bahkan belum mulai loh!"
Yang sulit dipercayai oleh Roo: kenapa keberadaannya bisa diketahui, padahal, bagaimanapun ialah yang terbaik dalam hal memata-matai di Down Under, setahunya. Sialan, umpat Roo dalam batin.
"Luar biasa, sopan sekali kau, sampai tidak mengacuhkan orang yang mengajakmu bermain," suara yang sama kembali merasuki indera pendengaran Roo. "Sini, main dulu sama om! Om punya lolipop besar buatmu, loh!" Lelaki itu mulai mengatakan hal yang menjijikan.
Awalnya ingin sekali Roo menyerbu orang yang mengucapkan kalimat menjijikkan itu. Orang yang bahkan tidak ia ketahui dosanya, namun dalam dirinya sudah ada niat untuk membunuhnya. Meski begitu, dengan berat hati, Roo menghela napasnya, lalu berbalik badan dan berjalan menuruni anak tangga menuju sumber suara.
Kini Roo berhadapan dengan dua lelaki bertampang sangar. Satu adalah si lelaki pelit, dan di sampingnya... pasti lelaki-yang-sudah-kehilangan-akal, pikir Roo. "Hm, ternyata hanya amatiran." Ketika kedua kaki Roo benar-benar menapak di lantai dasar, lelaki selain si pelit berujar serta beberapa kali terkekeh meremehkan. Bagi Roo wajah meremehkan itu bahkan tidak lebih bagus dari pantat sapi. Aku benci dia, batin Roo.
"Jadi, kau, Curut amatiran, maumu sampai ke sini apa?" tanya lelaki yang di benci Roo. Belum sempat Roo membuka mulut, mulut lelaki itu sudah kembali bercicit. "Hm, tunggu-tunggu! Jangan jawab! Biar aku tebak, kau ke sini pasti karena menginginkan lolipop yang aku punya!"
Roo mengerutkan keningnya. Perkiraannya memang jarang salah. Lelaki itu benar sudah kehilangan akal sehatnya. "Hh, maaf saja. Aku bukan pemakan jeruk, Kampret!"
Tawa lelaki itu meledak seketika. "Yah, Om salah... terus maunya apa, dong?" Kurang ajarnya lelaki itu, memerlakukan Roo bak anak kecil yang hendak diculik.
"Dokumen aslinya. Serahkan padaku." Roo berkata langsung pada topik.
"Hm, sudah kuduga. Om-om di sampingku ini memang bodoh," katanya seraya melirik ke lelaki di sampingnya dengan tatapan sinis bak iblis. "akan kuberikan yang kau mau. Tapi harus ada bayaran yang setimpal untuk itu," lanjutnya.
Roo menyunggi sebeleh bibirnya. "Gampang untuk bayarannya. Sekarang serahkan sajalah dokumen yang asli, Jexe," pinta Roo seraya memerlihatkan seringainya.
"Hahaha! Aku suka padamu juga meskipun belum tahu namamu," ujar lelaki yang Roo panggil Jexe. Roo mulai berpikir kalau lelaki di depannya menjadi penyuka sesama jenis setelah ia kehilangan akal sehatnya. Hm, tunggu. Apa dia sungguh lelaki? otak Roo berimajiasi. "Jaga jarak dengaku, dasar sinting!" balas Roo pada akhirnya.
Jexe tertawa geli. "Oke, oke. Sekarang lebih baik kau ikuti aku. Dan kau... Om Bodoh, urusan kita belum selesai. Tunggu di situ," perintah Jexe pada si lelaki pelit. Baru setelah itu, Jexe berjalan memasuki sebuah lorong dan diikuti olrh Roo dibelakang.
"Jadi kau ini tidak bekerja sendiri, rupanya," tanya Roo membuka percakapan.
"Tentu. Kalau tidak ada dia, siapa yang akan membawamu ke sini? Aku terlalu malas untuk pekerjaan itu," balasnya.
"Kau sudah merencanakannya?" Roo kembali bertanya keheranan. Kalau jawabannya iya, dapat dipastikan kalau ia dalam bahanya. Namun kalau dalam keadaan ketahuan tanpa sengaja, ia akan lebih beruntung.
Jexe berhenti, lalu menatap Roo. "Tidak. Bahkan sebenarnya aku tidak tahu siapa kau, dan aku juga tidak mau tahu. Kau itu bak semut yang aku injak secara tidak sengaja ketika aku sedang berjalan."
Kurang ajar. "Oh, kalau begitu, namaku Roo. Dan aku benci Jexe." Roo malah memerkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.
"Dan sekarang aku juga membencimu, Roo," ucap Jexe, lalu membalas uluran tangan Roo. Mereka berdua tersenyum seperti anak kecil yang baru saja berkenalan. Ketika basa-basi itu selesai, mereka melanjutkan perjalanannya.
"Kau hebat juga, ya. Padahal sebelumnya aku yakin tidak ada yang sadar kalau dokumen yang mereka ambil adalah yang palsu. Terutama gadis itu. Aku tidak suka para gadis. Mereka terlalu naif dan menyebalkan," jelas Jexe panjang lebar yang tanpa ia sadari, ia sudah menyatakan kalau dia bukan penyuka wanita.
"Ya. Aku juga tahu gadis itu terlalu mudah masuk ke rencana jahat orang. Padahal sudah jelas dokumen rahasia tidak akan disimpan sembarangan." Roo menyetujui.
"Lalu bagaimana bisa kau sadar, bahkan sampai membuntui Om Bodoh ke sini?" Muncul pertanyaan baru dari Jexe.
"Itu mudah. Sebelum aku keluar dari tempat itu, aku sudah mengamati dengan seksama. Om Bodoh terlalu mencurigakan. Pandangan dan lirikan matanya tidak wajar," jelas Roo.
Jexe berhenti. "Hm, hebat," gumamnya. "Kau mau ini, kan?" ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik badannya. "Kalau begitu, kau harus merebutnya dariku. Atau, singkatnya begini, rebut atau mati." Jexe lalu tertawa licik bak penuh kemenangan.
Seolah tidak mau kalah, Roo ikut tertawa geli. "Oke, sedikit bermain akan menyenangkan," katanya sembari meregangkan ototnya.
Sedetik kemudian, Jexe melempar amplop yang ia bawa ke sembarang tempat, lalu maju melayangkan pukulan cepat ke arah Roo. Ketika pukulan pertamanya dapat Roo hindari dengan mudah, Jexe mengerahkan kaki kanannya ke atas, berusaha menendang tepat ke kepala Roo. Namun lagi-lagi serangannya mudah di antisipasi Roo. "Tidak buruk untuk seekor curut amatiran," ejek Jexe kecut.
"Kalau begitu, kau akan senang dengan ini." Roo bergerak cepat menyerbu Jexe, digunakannya pukulan andalan untuk mengenai wajah Jexe yang jelek—menurut Roo. Dan ia berhasil membuat Jexe tersungkur. Jexe yang sempat lengah tidak dapat menghindar dari pukulan Roo. "Sekarang siapa yang amatiran?"
"Ya... ya... kau tidak amatiran," balas Jexe sembari bangkit dan mengusap darah dari sudut bibirnya. "Ambil saja amplopnya, isinya dokumen yang kau inginkan. Aku sudah tidak peduli lagi."
Roo sempat tertawa mendengar ucapan Jexe yang terdengar seperti bualan itu. "Hh, tapi terima kasih. Lagipula, mereka juga tidak akan tahu kalau itu palsu. Kau tahu? Malas sekali harus bekerja seperti ini. Kalau tidak mereka mengacaukan duniaku, aku tidak akan melakukan ini. Benar-benar menyusahkan," aku Roo.
Jexe tersenyum mendengar pernyataan Roo. "Kau pintar tetapi bodoh, ya. Hahaha.... Kupikir kita bisa menghancurkan si raja sialan itu. Mau?" Jexe menawarkan seolah dia baru saja menemukan teman yang cocok dengan dirinya.
"Mau. Tapi tidak kalau sekarang. Aku ada hal yang lebih penting dan harus segera diselesaikan." Roo menolak halus tawaran Jexe yang memang terdengar menggiyurkan. Menghancurkan? Sudah lama ia tidak melakukan hal-hal keji. Mungkin lain kali ia memang harus melakukannya. "Aku pergi dulu." Roo mengambil amplop cokelat dan menengok sebentar isinya. "Omong-omong Om Pelit bodoh sekali karena patu denganmu," ujar Roo, lalu pergi begitu saja meninggalkan Jexe yang hanya tertawa hambar.
***
Yang sulit dipercaya, Raja Alteriya Kedua menerima begitu saja dokumen yang diberikan Roo. Entah karena terlalu polos atau terlalu bodoh, tetapi Roo juga tidak peduli. "Kuberi tahu saja, dokumen yang sebelumnya itu palsu. Jexe sendiri mengakuinya. Jadi kau kamu terima ini atau tidak? Yang penting tugasku sudah selesai dan kau, jangan ganggu duniaku lagi."
Setelah pertemuannya dengan Raja Alteriya Kedua, Roo kembali ke Down Under. Tugasnya sudah selesai. Semua masalah yang ditimbulkan raja dan orang-tidak–punya-akala-sehat itu sudah bukan urusannya lagi. Dan kini, ia bisa kembali bermain catur dengan lelaki setia kesayangannya.
-The End (?)
===================
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top