Prepossess - 20

Semuanya berawal dengan kamu, juga sedikit senyum di ujung bibir itu.
Menjadikanku bisu, menjadikan kamu adalah satu-satunya untukku.
🔥

🎼 The Simple Things - Michael Carreon 🎼
Selamat membaca... 💜💜💜
Please baca ini sambil dengerin lagu di atas
Tapi vote sama komen dulu sini hehe

🔥

Waktu yang lama...
Untuk menciummu...

'Aku mungkin akan kesulitan untuk berhenti.'

Kata-kata itu terngiang di kepala Bella, begitu pula dengan tatapan Romeo padanya. Sesaat Bella berpikir kalau laki-laki itu sedang menahan diri. Yang tidak dimengerti oleh Bella apa alasannya. Untuk ukuran laki-laki yang menginginkan hubungan tanpa status, Romeo terlalu memberi batas di antara mereka.

Seperti di kamar mandi tadi. Mereka bahkan hanya berpegangan tangan saat Bella bertanya banyak hal. Jauh sekali di luar dugaaan Bella.

Bukan berarti Bella juga mengharapkannya, tapi itu membuat Bella semakin kewalahan karena berpikir Romeo jauh lebih menarik dari yang ia kira. Membuatnya penasaran sampai di mana batas yang membentengi laki-laki itu.

Romeo membuat Bella tinggal lebih lama dengan membuatkan segelas teh kamomil hangat yang tidak bisa ditolaknya. Mereka masih duduk di sofa. Tirai jendela dibiarkan terbuka dan ini begitu nyaman sampai Bella menyandarkan punggungnya dalam-dalam.

"Kali ini tentang dirimu,"

"Aku?"

"Kenapa kau masih menyukai teh kamomil?"

Bella tersenyum lebar. "Teh kamomil pertama yang kuminum adalah buatan ayahku. Saat itu aku tidak bisa tidur karena terus bermimpi buruk, apalagi di luar hujan deras dengan petir. Lalu ayah membawakan secangkir teh dan memintaku menghirup aromanya terlebih dulu sebelum meminumnya. Sejak malam itu aku selalu mencari teh kamomil setiap kali gelisah atau panik. Sepertinya aku tidak menyangka akan menjadi kebiasaan sampai aku sudah dewasa."

Romeo mencubit pipinya. "Dasar penakut."

"Tidak!"

"Siapa yang berlari menggedor pintuku saat ada tikus?"

"Semua orang takut pada tikus."

"Aku tidak."

"Kau bukan manusia."

Romeo terkekeh.

"Tapi teh itu juga punya makna lain sekarang. Itu mengingatkanku pada ayah."

"Dia pergi?"

Bella mengangguk. "Sebelum pindah ke sini aku tingal bersama ibuku. Dia bekerja di perusahaan kecil dan membiayai sekolahku. Kadang aku menerima pesanan kue untuk mencari uang saku. Itu semua kami lakukan setelah ayahku pergi lima belas tahun lalu dan tidak pernah kembali lagi sampai sekarang."

"Kau pasti kesepian." gumam Romeo.

"Terkadang. Tapi ibuku selalu terlihat kuat dan baik-baik saja. Seolah memang tidak pernah ada sosok suami di hidupnya. Seolah tidak pernah ada ayah untukku."

"Kau pernah bertanya tentang ayahmu?"

Pernah suatu hari, di hari ulang tahunnya yang ke dua belas. Bella bertanya bisakah ia menelpon ayahnya karena ingin mendengar ucapan selamat ulang tahun.

"Ibuku tidak mengatakan apa-apa dan langsung menangis. Itu pertama kalinya aku melihatnya ambruk dan terisak sejak kepergian ayah. Ibu memaki ayah dengan kalimat kasar dan mengatakan betapa ia sangat membencinya. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi menyebut ayah di depan ibu. Aku tidak ingin dia menangis."

"Bagaimana denganmu?" Romeo menyentuh tangan Bella yang menggenggam gelas. Lalu mengisi gelasnya lagi dengan teh. "Kau sering menangis?"

"Dulu," Romeo mengambil alih gelas kosong di tangannya dan meletakkan gelas itu ke atas meja. "Saat masih kecil aku lumayan cengeng."

Romeo berdehem.

"Jangan tertawa!"

"Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa."

"Aku gampang menangis. Ibu bilang karena ayah yang terlalu memanjakanku. Tapi ayah tidak pernah memerdulikan itu. Setiap kali aku menangis, aku selalu pergi memeluk ayah. Dia akan menenangkanku, menggendongku dan mengatakan aku boleh menangis sepuasnya."

Bella bisa dengan jelas melihat kenangan yang berputar di kepalanya. Kakinya yang berdarah karena terjatuh, tangisannya yang keras, juga pelukan hangat ayahnya.

"Kata ayah, menangis itu wajar. Itu tidak menjadikanmu lemah. Itu tanda kejujuranmu terhadap dirimu sendiri. Setelah selesai menangis, kau akan lebih kuat lagi."

Romeo merangkum tangannya jadi satu. "Aku harap dia bisa kembali bersamamu."

"Itulah yang kuinginkan sejak dulu. Tapi sekarang, aku rasa lebih baik dia tidak usah kembali."

"Kenapa?"

"Perlu waktu yang lama untuk membuat ibu bangkit dari keterpurukannya ditinggalkan ayah. Sekarang aku dan ibu baik-baik saja. Aku tidak bisa membayangkan jika ayah kembali. Aku tidak tahu harus merasakan apa. Aku tidak ingin marah padanya karena telah menelantarkan keluarganya begitu saja."

Itu bukan yang benar-benar Bella inginkan, tapi sesuatu yang benar untuk keadaannya saat ini. Biarlah luka yang sudah tertutup tidak perlu dibuka lagi.

"Aku ingin bertanya lagi." Kata Bella setelah menyesap tehnya. "Kau pernah berpacaran?"

Romeo tersenyum seolah itu pertanyaan lucu, lalu menggelengkan kepala.

"Bohong."

"Untuk apa aku berbohong."

"Karena tidak mungkin tidak ada yang menginginkanmu."

"Itu terdengar seperti pujian," Romeo tersenyum kecil. "Tapi memang tidak pernah."

"Kenapa?"

"Tidak tertarik."

"Jadi kau selalu melakukan hubungan tanpa status, seperti bersamaku sekarang?"

Romeo tidak menjawab.

"Kalau begitu kau pernah-," kalimat Bella terpotong karena Romeo mengulurkan tangan, pertanda sentuhan yang harus dilakukan karena pertanyaannya. Bella menyambutnya. "Kau pernah jatuh cinta?"

Romeo masih diam. Tangannya diremas lembut, dengan ibu jari Romeo mengusap punggung tangannya. "Pernah."

Bella tertohok di dada. Ia mengira Romeo akan menjawab sebaliknya. "Pernah, artinya sekarang tidak lagi? Kenapa? Dia meninggalkanmu? Itukah alasanmu tidak ingin lagi menjalin hubungan?" oke itu terlalu banyak untuk ditanyakan tapi sudah terlanjur meluncur dari mulutnya.

"Aku masih mencintainya. Sejak dulu. Dan akulah yang meninggalkannya."

Iris mata Bella membesar.

"Ini akan terdengar sangat klise," sambung Romeo. "Tapi aku tidak pantas untuknya."

"Mungkin itu hanya ada di pikiranmu. Kau pernah bertanya padanya?"

"Aku tidak ingin dia bersamaku."

"Tapi kau bilang mencintainya."

"Mencintai bukan selalu tentang memiliki, bukan?"

"Tapi mencintai juga tentang berjuang. Kau tidak bisa menyimpulkan semuanya hanya dari satu pihak. Kau juga harus mendengarkan perasaannya. Kalau dia mencintaimu sama besarnya denganmu, kalian pasti bisa menemukan jalan keluarnya."

Romeo menarik tangan Bella mendekati bibir laki-laki itu dan mengecup punggung tangannya. Napas panas laki-laki itu menerpa kulit tangannya. Romeo seperti akan mengatakan sesuatu namun ponselnya memilih waktu yang salah untuk bergetar.

Bella merogoh sakunya dan menjawab. "Ada apa ibu?"

"Kau ada di mana sekarang?"

"Aku di apartemen. Ada apa, bu?"

"Kalau begitu apa yang sedang kau lakukan? Aku sudah mengetuk pintumu dari tadi. Cepat buka!"

Bella melonjak dari kursi terlalu cepat. Untung saja Romeo langsung memeganginya. Tanpa berpikir ia langsung berlari ke pintu dan membukanya.

"Astaga!" Sophia melihat Bella keluar dari apartemen Romeo. "Jadi aku salah mengetuk pintu. Kukira ini apartemenmu."

Lidah Bella kelu. Belum sempat ia bicara Sophia sudah melewatinya masuk ke apartemen Romeo.

"Di mana toiletnya? Ibu sudah tidak tahan."

"Di – di sana."

Saat Sophia sudah menuju arah yang ditunjuk, Bella mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada Romeo di sana. Sepertinya laki-laki itu bisa membaca situasi dengan cepat dan bersembunyi. Akan menjadi percakapan yang sangat panjang jika ibunya melihat Romeo di sini.

Dan bagaimana ia memperbaiki kesalahpahaman ini!

Sophia keluar dari toilet dengan wajah lega. Ia duduk di sofa yang tadi ditempatinya bersama Romeo. "Sofa ini sangat nyaman. Kau yang membelinya?"

"Ti-tidak. Itu sudah ada sejak aku kemari," ia harus membuat ibunya pergi dengan cepat. "Kenapa ibu tidak memberitahuku akan datang?"

Sophia melihat sekeliling. "Gaya ruangan ini sangat berbeda sekali dengan kepribadianmu."

"Tempat ini milik Sandra. J-jadi aku tidak ingin mengubah apa-apa. Tapi serius, ibu harus menelpon terlebih dulu sebelum datang kemari."

"Jadi aku harus membuat janji pertemuan dengan anakku sendiri?"

"Bukan begitu. Kau bisa mengunjungiku kapan saja. Tapi bisa saja aku sedang berada di luar."

"Kau bukan akan yang suka berkeliaran di luar tanpa tujuan. Lagipula kau anak rumahan di mana pun kau tinggal."

Bella lupa sedang berhadapan dengan ibunya.

"Tetap saja, paling tidak beritahu aku dulu."

Sophia memicingkan mata. "Apakah ada yang kau sembunyikan?"

"Tidak!"

"Kau sedang menyembunyikan sesuatu."

Bella panik. "Mana mungkin aku begitu. Ibu mau minum? Aku ambilkan dulu."

Bella menggigit bibir karena ia salah membuka lemari penyimpan gelas dan berharap ibunya tidak menyadari itu. Saat meletakkan minuman di atas meja, Sophia kembali bertanya.

"Katakan padaku, apa yang kau sembunyikan? Kau tentu tidak berpikir bisa membohongiku selamanya, bukan?"

Bella langsung mematung. Karena saat ini Romeo tengah membuka pintu kamar dengan santai dan bersandar di pintu. Sophia yang duduk membelakangi pintu itu tidak bisa melihat laki-laki itu namun Bella hampir kehilangan napasnya.

Sophia mengambil tangan Bella. "Kau bisa mengatakannya sekarang. Jangan menyimpan sesuatu sendirian, Bella."

Romeo menyunggingkan senyuman. Dengan gerakan telunjuk mengarah ke dadanya, lalu bergeser menunjuk sofa tempat ia dan ibunya sekarang. Romeo bermaksud ingin memperlihatkan diri, maka Bella langsung melotot melarang laki-laki itu. Romeo semakin terkekeh atas kepanikannya.

"Sandra sudah menceritakannya padaku," ujar Sophia. "Robert mengkhianatimu, bukan?"

Entah kenapa Bella tidak mempermasalahkan lagi perihal Robert diketahui oleh ibunya. Karena ada hal yang lebih besar saat ini yang harus ditutupinya.

Sophia tiba-tiba memeluknya. Mengusap belakang kepala Bella dan isakan terdengar.

"Ibu menangis?"

"Maafkan, ibu, sayang... maafkan ibu."

Romeo masih berdiri di ambang pintu kamar. Memperhatikan mereka.

"Seharusnya ibu bisa lebih memperhatikanmu. Seharusnya ibu tidak memintamu mengenal Robert."

"Jangan meminta maaf," Bella membalas pelukan dan mengusap punggung ibunya. "Ini bukan salah ibu. Aku Cuma bertemu laki-laki brengsek."

Sophia mengurai pelukan. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kenapa malah menyembunyikannya? Sebelum kemarin Sandra cerita, ibu masih menelpon Robert."

"Aku hanya menunggu waktu yang tepat. Maaf, seharusnya aku langsung menceritakannya padamu. Aku melihat Robert bermesraan dengan sekretarisnya. Itulah alasanku membatalkan pertunangan."

Sophia semakin meraung. Merasa bersalah karena tidak mendampingi Bella melewati masa sakit hatinya. Tapi karena saat ini ia sudah hampir melupakan kejadian itu, maka ia bisa dengan enteng tersenyum meyakinkan ibunya.

"Ibu, aku sudah baik-baik saja. Aku sudah tidak memikirkan Robert. Aku bahkan tidak mengingat kejadian itu lagi. Berhentilah menangis."

"Kau bersungguh-sungguh?"

Bella mengangguk sampai rambutnya bergoyang. "Aku sangat bahagia sekarang," ia sempat melirik ke arah Romeo tapi kembali menatap Sophia. "Kau lupa jika menangis bisa menambah kerutan di wajah?"

Detik itu juga Sophia menahan napas dan menghapus air matanya. "Apapun yang terjadi, jangan pernah lagi menghubungi laki-laki itu."

"Tidak akan."

"Dan ibu percaya kau akan bertemu laki-laki yang tepat di waktu yang tepat. Kau anak ibu yang baik, maka Tuhan pasti akan mengirimkanmu pasangan yang sama baiknya."

Bella menilik ke belakang punggung Sophia, namun Romeo sudah tidak ada di sana dengan pintu kamar tertutup.

Saat ibunya sudah tenang, Bella membuatkan makanan dari bahan-bahan yang ditemukannya di kulkas. Dalam hati berjanji akan mengganti itu nanti.

Setelah menyelesaikan makan, Sophia menutup mulutnya karena menguap. "Apakah sebaiknya ibu menginap saja?"

🔥

"Aku tidak mengerti kenapa selalu terjadi kesalahpahaman tentang apartemen. Dulu aku mengira tempatmu adalah milik Petty, sekarang ibuku menganggap tempatmu adalah apartemenku."

"Kalian sangat mirip."

Romeo dan Bella tengah menyusuri jalanan menuju kafe. Di tengah kerumunan banyak orang yang juga melintas ingin bekerja. "Sepertinya. Aku akan mengganti bahan makananmu yang kugunakan tadi malam."

Sophia tidak menginap. Katanya ia harus bekerja dan jarak dari apartemen terlalu jauh. Sebuah keberuntungan yang sangat disyukuri Bella. "Hari ini kau off?"

Romeo meraih Bella untuk menukar tempatnya berjalan di lajur yang tidak terlalu padat. "Iya."

"Lalu kenapa pergi ke kafe?"

"Aku mengantarmu."

Hati Bella menghangat dan ia menunduk agar senyumannya tidak terlihat. Namun Romeo kembali menahan lengannya. Yang jika tidak dicegah, maka Bella akan menabrak sepeda yang parkir di tepi jalan.

"Perlukah aku mengantongimu?" Romeo terlihat gemas. "Perhatikan jalanmu, Bella!"

Bella mengulum senyum semakin dalam. Hatinya membuncah dan inilah yang membuatnya menggapai tangan Romeo. "Mulai sekarang aku memerlukan ini untuk berjalan dengan aman."

Romeo memasukkan tangan mereka yang saling menggenggam ke saku jaket laki-laki itu. "Kau aman di dalam sini."

Setelah itu Bella tertawa. Ia juga bisa melihat gurat senyum di bibir Romeo.

Rasanya Bella ingin berharap jarak kafe semakin jauh. Agar ia bisa terus berjalan bersama Romeo. Agar bisa mencuri lihat pada senyum kecil di wajah tampan laki-laki itu.

Tapi ketika masuk ke dalam kafe, keduanya berhenti dengan menatap ke satu titik yang sama.

Biasanya tidak ada orang di bagian counter. Ronald akan bersantai di kantornya sampai penanda "open" di pintu terpasang.

Tapi sekarang laki-laki itu tengah berada di belakang kasir. Mungkin itu tidak terlalu mengejutkan, namun seseorang yang sedang berdiri di samping Ronald cukup membuat langkah Bella terhenti.

"Oh, hai..." sapa Ronald ramah lalu berubah bingung karena melihat Romeo. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau memutuskan untuk membuatku kaya raya dengan tidak jadi mengambil jatah liburmu? Jika iya maka aku akan memelukmu sekarang."

"Aku mengantar Bella." Sahut Romeo.

Sebelum kebingungan Ronald semakin menjadi, Petty menyahut. "Mereka sedang bersama, Ronald. Aku bertemu Bella yang bertelanjang kaki di apartemen Romeo."

Ronald menyipitkan mata ke arah Romeo dengan seringai jahil. "Kalian beruntung aku tidak melarang hubungan antar pegawai," Ronald menatap Bella dengan senyuman geli. "Baiklah. Sekalian saja aku beri tahu kalian. Aku sudah sering bilang ingin menambah pegawai karena berkat kue Bella," Ronald menunjuknya seraya berkedip. "Kafe kita semakin didatangi banyak orang setiap harinya. Jadi kuputuskan menerima Petty untuk bekerja di sini."

Petty yang sudah mengenakan seragam Kafe sangat ketat di tubuhnya itu melambai dengan senyum sumringah ke arah Bella.

"Dia akan membantu Romeo menerima pesanan. Juga bertugas mengambil kue-kue dari dapur. Itu akan lebih memudahkan Bella. Dan setidaknya aku tidak perlu pusing seandainya Romeo tiba-tiba menghilang tanpa kabar lagi. Hal yang tidak kalah penting adalah kalian sudah saling mengenal," Lanjut Ronald bersemangat. "Bagaimana? Apakah aku jenius?"

Karena tidak mungkin mengharapkan Romeo memberikan jawaban, maka Bella membuka mulutnya. "Itu akan sangat membantu. Terima kasih, Ronald." Bella lalu menatap Petty. "Aku senang kau di sini."

Petty bertepuk tangan di depan dada. "Kita akan menjadi teman kerja yang kompak. Seharusnya dari dulu saja aku bekerja di sini."

"Dulu kau tidak tertarik saat aku menawarimu." Timpal Ronald.

"Sekarang berbeda karena Kafe ini tidak terlihat gersang lagi sejak ada Bella." Sahut Petty.

Romeo terlihat tidak peduli. Dan jika Bella menanggapi celotehan Petty ia tidak akan bisa mulai bekerja.

"Kau tahu betapa menyenangkannya ini? Kita akan semakin sering bersama." Kata Petty sangat antusias. "Dan aku bisa menikmati kuemu gratis."

"Kau bisa langsung mengatakannya padaku," Bella tersenyum. "Baiklah aku akan segera pergi ke dapur."

Bella mendengar di belakang punggungnya jika Petty memanggil Romeo. Tapi ia tidak ingin menoleh ataupun mendengar pembicaraan mereka dan bergegas ke dapur.

Namun Bella tidak menyangka bahwa Romeo justru mengikutinya. Jack yang sudah berada lebih dulu di dapur cukup terperanjat melihat kehadiran Romeo.

"Setahuku kau off hari ini." Kata Jack sambil menguap.

"Aku mengantar Bella." Sahut Romeo. Kalimat yang sama seperti sebelumnya.

Jack melebarkan matanya. "Kau barusan bicara? Tidak biasanya kau merespon perkataanku." Jack mengangkat telunjuk dan jari tengah ke arah Romeo. "Ini berapa?"

"Dua." Jawab Romeo lalu memunggungi laki-laki itu.

Jack mengerjap dengan mulut terbuka. Mungkin tidak terlalu berlebihan jika mengingat Romeo terkenal dengan sikap diam hampir acuhnya itu.

Bella sudah melangkah ke dalam kamar ganti ketika Romeo menahan pintu.

Kalau diingat-ingat, mereka sering berdiri di ambang pintu seperti ini. Pintu apartemen mereka, dan sekarang pintu ruang ganti. Setelah kehangatan yang sempat Bella rasakan tadi, sekarang terasa seolah mereka berada di dunia yang berbeda. Seolah memang ada sekat tak kasat mata di antara keduanya.

"Ulurkan tanganmu." Katanya.

Walaupun Bella tidak mengerti, ia tetap melakukan apa yang Romeo minta. Telapak tangannya menghadap ke atas lalu sesuatu yang dingin menyentuh jari manisnya. Sebuah lingkaran besi bulat meluncur masuk ke jari manis Bella.

Ini jelas bukan seperti proses pertunangan dan besi bulat itu bukan sebuah cincin. Melainkan gantungan kunci berbentuk bulan penuh. Yang mengait sebuah kunci berwarna perak, sama persis seperti kunci apartemen Bella. Tapi itu tentu saja itu bukan miliknya.

"Ini milikku," Ujar Romeo.


Bella menatap kunci itu, lalu beralih ke Romeo.

"Simpanlah."

"Tapi... untuk apa?"

"Jika sewaktu-waktu ibumu datang."

Ah, benar.

"Selain itu untuk meyakinkanmu," Romeo menyandarkan tangannya di sisi pintu, sejajar dengan kepalanya. "Bahwa memang hanya kau yang bisa masuk ke sana selain aku."

"Dan ibuku." Bella mengulum senyum.
Ujung jari kaki Bella melengkung saat mendengar itu. Perutnya geli, apakah mungkin benar ada kupu-kupu yang menggila di dalam sana?

Romeo menyentuh dahinya dengan telunjuk. "Bahwa kau satu-satunya yang berhak atas aku."

Bella tidak tahu jika mendapatkan sebuah kunci akan membuat debarannya hampir meledakkan dada. Ia menggigit bibir dan tidak terlalu peduli jika Jack tengah menguping.

Bella menggenggam kunci itu di tangan dan tersenyum. "Aku akan menyimpannya."

"Bisakah kalian memilih tempat lain untuk bermesraan?" Celetuk Jack dari meja panjang wastafel. "Aku ingin bekerja dengan damai tanpa harus menahan gatal di telingaku."

Bella menahan senyum, begitu pula Romeo. "Sampai nanti."

Bella mengangguk sampai rambutnya yang dikuncir bergoyang. "Hati-hati."

Seperti belum cukup membuat Bella merona, Romeo maju dan mengecup dahinya. Bella seperti merasakan aliran listrik di sekujur tubuhnya.

"Aku tidak percaya ketika orang-orang mengatakan cinta bisa membuatmu gila," Jack bersidekap. "Sekarang aku baru saja menyaksikannya. Pertama Romeo tiba-tiba saja memakan kue, lalu kedua dia menanggapi ucapanku. Aku sudah berpikir akan ada badai hari ini."

"Memakan kue?" Bella mengantongi kunci, namun dahinya berkerut. "Apa maksudmu?"

"Kurasa semua orang tahu kalau Romeo tidak suka makanan manis. Dia sangat anti dengan gula. Tapi lihatlah dia sekarang," Jack lalu tertawa. "Dia bahkan berpura-pura meminta kue ke dapur hanya sebagai alasan ingin melihatmu. Astaga aku tidak pernah menyangka."

Bella masih menggenggam kunci di dalam sakunya. Lalu mengingat bagaimana Romeo memakan kuenya tanpa mengatakan apa-apa. Bella menutup pintu kamar ganti. Menekan dadanya yang masih berdrbar sejak tadi.

Jika ini cukup keterlaluan disebut terpesona, mungkin Bella tidak keberatan menunjuk dirinya sedang jatuh cinta.

🔥

Halooo... 😁
Aku akan bertanya, "apa kabar kamu?" Walau sebenarnya tentu saja aku selalu berharap kalian sehat dan bahagia.

Nggak kerasa sebentar lagi tahun 2020 habis. Bukankah itu sebuah pencapaian untukmu karena berhasil melewatinya dengan tegar? Wah, hebatnya.

Semoga kamu selalu mengerti, jika setiap hari adalah kesempatan baru. Kalau kemarin kamu sempat jatuh, hari ini aku yakin kamu sudah bisa berlari kencang.

Hahahaa... aduh kok jadi ngaco!

Intinyaaaa aku sayang kamu!!!
Makasih sudah mau menunggu cerita ini. Kamu akan menjadi saksi di setiap part yang aku tulis.

Oiyaa kemarin ada video baru di channel youtubeku. Silakan ditonton yaah... minta tolong juga di like dan subscribe 😍🙏🙏 huhuu makasiih banyaakk

https://youtu.be/5XqsPTAThUk

Faradita
Penulis amatir yang merasa berdosa setelah makan mie tengah malam


Hei pembacaku juga semangat yaa komen minta adegan kissnya #eh


Revisi : 24 oktober 2021
Maaf yaa updatenya lama 🥺

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top