2. Kembang Mekar

halo pembaca...slow update ya

barangkali ada yang mau kalian sampaikan, apa dayaku lah...

hepi reading....

:D :D :D

Keraton Mataram. 1788

Berharap hari ini aku mendapati kembang mekarku berlatih menari lagi, maka aku sudah memosisikan diri duduk termenung menyangga dagu di bawah pohon yang sama. Sejak pertemuan beberapa hari silam, tiada kudapati sosok Gayatri beredar di wilayah keraton. Tapi aku lupa perihal Wira pernah berkata untuk tarian ini para penari berlatih setiap hari Selasa Kliwon menurut penanggalan Jawa. Gayatri seakan dipingit, menjadi bagian penari pengisi acara sakral Jumenengan sang raja seolah tidak bebas berkeliaran sembarangan. karena menjelang pelaksanaan para penari diharuskan berlatih marathon mulai sepuluh hari menjelang pertunjukan. Kudengar para penari sedang rehat, mereka kini sibuk beraktivitas di wilayah Keputren.

Tanganku meraih ranting terdekat, menggoreskan sketsa wajah perempuan diatas media pasir. Mataku hanya menangkap para soroh bahu berjalan tergesa menuju pawon di wilayah Keputren. Mereka terlihat hilir mudik membawa bakul besar berisi bahan makanan yang akan dihidangkan pada acara Jumenengan esok. Kanjeng Ibu Ranu semalam berkata padaku bahwa hari ini dia ingin bergabung turut memasak bersama Gusti Kanjeng Ratu selaku kepala Lembaga Keputren. Kegiatan memasak berlangsung di Pawon Gondorasan, dapur khusus untuk memasak segala keperluan penyelenggaraan upacara adat di wilayah keraton.

Aku hampir putus asa. Dimana kau, Gayatri? Kembalikan separuh ruh milikku yang kau bawa itu. Tercekit dada ini berhari-hari berselang tanpa menjumpa dirimu. Ah, tidak sehari, tapi setiap helaan napasku. Gayatri, kamu sudah mengacaukan akal sehatku. Perlihatkan dirimu, aku tahu kau berada di Keputren bersama para kerabat putri sentana dalem dan soroh bahu membantu menyiapkan keperluan upacara sakral ini. Setidaknya sekadar kau nampak di ujung pelupuk mataku meski dari jauh, kuharap mampu meredakan kegundahan yang kian merajalela.

Mataku beranjak terkantuk sesaat membelalak begitu sosok yang mirip kembang mekarku berjalan dari arah Keputren. Tubuhnya dibalut kemben, kulit bahunya semakin cemerlang berkat pantulan cahaya sempurnanya matahari. Matanya jernih berbinar memancarkan sinar keindahan. Kubuang ranting di tanganku sembarangan. Setengah berlari kususul dia. Gayatri terkesiap saat melihat langkahku mengarah padanya. Ia mempercepat langkah biar tidak terjangkau dariku, namun jarik yang membelit kakinya agaknya membatasi ruang gerak Gayatri. Dia bisa terjatuh kesrimpet kalau saja tanganku tidak cekatan mencekal lengannya.

"Maaf," ucapku kikuk seraya melepaskan cekalanku.

Gayatri mengusap lengannya yang telanjang, menundukkan pandangan.

"Namamu Gayatri? Aku sedang bicara denganmu, Gayatri, tolong tatap mataku. Kau bisa dituduh tidak sopan karena mengacuhkan seorang Pangeran," ucapku berpura-pura mengancam.

"Ampun, Ndara. Saya tidak bermaksud mengacuhkan Anda. Sa..." Gayatri berucap sambil membungkukkan badannya berulang.

Aku menarik dagunya, menyejajarkan pandangan kami supaya aku dapat bersitatap dengan mata cemerlangnya lebih dekat. Aku tidak bisa menahan senyuman membuat Gayatri mengernyitkan dahi.

"Mohon maaf, Ndara. Saya mau belanja ke pasar membeli sayuran untuk dimasak bagi para cadhong," sahut Gayatri pelan.

"Namaku Kumara. Jangan panggil Ndara, aku bukan Pangeran betulan seperti Wira." Aku membebaskan dagunya dari jariku.

"Saya tahu, namun demikian saya tetap menganggap Anda seorang Pangeran seperti halnya Ndara Wira. Bagaimanapun Anda adalah kerabat dari Susuhunan."

"Bolehkah aku menemanimu ke pasar, Gayatri? Banyak mata nyalang diluar sana yang membahayakanmu. Mereka tidak akan menyia-nyiakan pesona perawan yang sedang mekar seperti dirimu. Kau perlu pendampingan."

"Tidak perlu, Ndara. Saya terbiasa belanja sendiri."

"Jangan menolakku, Gayatri. Biarkan aku menemanimu belanja. Panggil aku Kumara. Kau bisa mengucapkannya, bukan? Ku-ma-ra."

"Njeh, Ku-ma-ra."

"Bagus."

Gayatri, gadis perawan yang sedang mekar bagai kembang merupakan putri seorang abdi dalem di keraton. Ayahnya adalah bagian dari cadhong sedangkan ibunya abdi dalem di Keputren. Keluarganya turun temurun telah mengabdi sejak masa Pakubuwana II. Menari di hadapan Sinuhun merupakan impian tinggi kebanyakan gadis saat itu apalagi menari ketika upacara penobatan sang raja. Kebetulan yang direncanakan Gusti Pengeran menjadikan Gayatri salah satu dari penari Bedhaya Ketawang sehingga aku menemukannya ketika ia sedang memantaskan penyelarasan geraknya.

Gayatri, aku ingin bercengkerama denganmu setiap hari. Membingkai senyummu sedalam kalbuku. Mematri bayangmu dalam benakku biar aku tidak berkabung dililit rindu. Biar parasmu hanya untukku. Semua tentangmu ditakdirkan Gusti Pengeran pasti hanya untukku. Keinginanku sekarang tidak muluk, hanya menghabiskan waktu seharian bersamamu. Apa daya, malam ini kamu harus mengikuti ritual sebelum pertunjukan esok, tidur di Panti Satria dimana segala peninggalan spiritual disimpan sehingga menasbihkan Panti Satria menjadi tempat paling suci di istana.

Bertepatan tanggal 29 September 1788 di usia dua puluh tahun, bergelar Sampeyandalem Ingkan Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana IV naik tahta. Upacara berlangsung khidmat. Tamu undangan berasal dari golongan terkemuka, sekali lagi orang sepertiku hanya satu dari sekian ribu orang biasa di luar sana yang beruntung menjadi tamu kehormatan yang diundang.

Aku menahan nafas beberapa detik begitu rombongan penari memasuki Pendapa Sasana Sewaka. Pandanganku berkelana pada sosok kembang mekar yang berubah wujud menjadi sangat mempesona dibalut busana mewah berwarna hijau sebagai bentuk kehormatan terhadap Kanjeng Ratu Kidul. Setiap gerakan yang ia ayunkan menyihir penglihatanku. Gemulai tangan langsingnya, bibir oranye miliknya yang membuatku gerah, menyalurkan energi magnetis mengaliri darahku. Pandanganku bersaing bersama seluruh pasang mata, meskipun tak bersuara aku dapat menangkap tatapan memuja mereka pada kembang mekarku disana. Memang dia paling bersinar diantara kembang lainnya.

Senggolan lengan Wira pada lenganku tak kuhiraukan. Telunjukku mengarah ke bibir mengisyaratkannya diam. Wira mengangguk semakin mengatupkan rahangnya, matanya berbelok kembali menatap para penari.

Gayatri, Sayangku

Biarpun matahari berjarak kepada bumi

Biarpun berselisih bagaikan laron memperebutkan cahaya

Tiada kurang tautan hatiku padamu

Selama ragaku berpisah dari ragamu

Kuasa Sang Pencipta menenteramkam pucuk kalbu kita

Tunggulah aku, pada masaku nanti

Mengikat seluruh jiwamu, tubuhmu, segalanya berkenaan denganmu kepadaku

Sambil menanti, tetaplah menjadi kembang mekarku

Akan kukirim ceritaku sekadar penawar rindu

Kumara

***

Yogyakarta. 2017

Aku menguap sambil jemariku setia menjelajahi keyboard mengetik laporan berisi evaluasi pengendalian internal perpustakaan yang mesti selesai hari ini. Besok, laporan itu digunakan menjadi dasar penilaian manajemen mutu pengelolaan perpustakaan. Duh, diriku harus membiasakan lembur di awal masa kerja. Nasib anak baru rela pulang terakhir demi menyelesaikan tugasnya. Setidaknya ini perploncoan yang dilegalkan begitu menurut pembelaan para senior.

Kantor SAI sudah sepi. Semua penghuninya berbondong-bondong kembali pulang begitu jam kerja berakhir, meninggalkan aku sendiri tanpa pengertian. Aku sering dengar konon ketika senja menjelang malam, itu merupakan waktu membahagiakan bagi para penghuni tak kasat mata keluar dari sarangnya. Sebagian senior mengatakan padaku kalau kantor SAI memiliki sisi lain di waktu tersebut. Bodo amat, toh, aku tidak peduli.

Sebuah benda dingin menyentuh tanganku, sukses memancing tenggorokanku mengeluarkan teriakan. Mataku menyipit melihatnya tertawa.

"Mas Dhanu! Jahil banget, sih." Aku memundurkan kursi berbelok ke arahnya sembari melipat tangan di dada.

"Serius amat, Di. Lagipula loyal banget kamu dibelain lembur. Udahlah, selesaikan di rumah saja. Ini sudah mau maghrib saatnya berganti penghuni." Mas Dhanu mengambil duduk di sampingku masih belum berhenti menertawakanku.

"Laporannya besok mau dipresentasikan, Mas. Lagipula kamu juga masih berkeliaran."

Mas Dhanu menghentikan tawa. Ia menyerahkan sebotol air mineral dingin padaku. "Nih, minum dulu. Kamu itu butuh hiburan jangan kerja terus."

Aku menyambut air mineralnya. Membuka penutup botol lantas meminum tanpa menyentuh bibir botolnya.

"Biasa semangat anak baru, Mas."

Ia terkekeh kecil. Mas Dhanu, salah satu seniorku yang paling telaten membimbingku mulai dari masa magang hingga aku diterima bekerja di SAI. Dia lelaki riang belum pernah kudapati rona menggugat dari wajahnya kecuali saat pekerjaannya mengalami ketidakberesan. Entahlah, aku juga enggan ikut campur setelahnya.

"Sisanya kerjain di rumah aja, Di. Aku lapar, nih."

"Nanggung, Mas. Bentar lagi selesai." Aku membalikkan badan berfokus pada layar komputer. Kutanya dia sembari mengetik, "Ya, apa hubungannya sama rasa laparmu, Mas."

"Makan, yuk."

"Boleh. Tapi bentar lagi ini beneran tinggal dikit."

"Baiklah, Nona Diajeng yang manis."

Mas Dhanu memainkan ponsel, posisi badannya menghadap ke arahku. Sesekali aku dapat menangkap lewat ekor mata, seniorku ini membagi pandangan antara aku dengan ponselnya. Setengah jam berlalu akhirnya laporanku selesai. Kutekan save kemudian berstreching ria meregangkan kekakuan ototku.

"Yuk, Di." Mas Dhanu berdiri sambil tetap menekuni ponselnya. Aku mengangguk sebelum mengemasi meja.

Beralas tikar di atas trotoar kami duduk menunggu pesanan tiba. Sepanjang jalan raya di samping gedung rektorat menyediakan dagangan kaki lima beragam. Mas Dhanu mengajakku kesana dengan dalih mencari sumber makanan terdekat saja karena dia keburu lapar. Sorot lampu kendaraan berpendar membias sirna menjadi serpihan. Lantunan nada pemusik jalanan bersahutan bersama cekikikan rombongan gadis belia di seberang kami. Petikan gitar pemusik itu menghanyutkan sisa lamunan yang sengaja kucipta.

Kesunyian sempat melanda, Mas Dhanu asyik bercumbu dengan ponselnya. Sesekali bibirnya membentuk lengkungan pertanda dirinya terpengaruh oleh penampakan apapun yang tersedia di layar ponselnya. Es jeruk milikku tersisa separuh isi gelas. Kuhirup aroma senja berpadu asap kendaraan bermotor yang meraung lalu kuhembuskannya keras, sengaja mengusik keasyikan lelaki di depanku supaya ia menyadari kehadiran manusia lain di dekatnya.

"Capek?" tanya Mas Dhanu seraya memasukkan ponsel ke saku celana bahannya.

"Lama banget keburu laparku menguap dibawa kunang-kunang," tandasku mengulum bibir ke dalam.

Mas Dhanu tertawa. ''Aku yang kelaparan malah kamu yang keranjingan.''

Setelah tawanya reda tatapannya menuju padaku, dalam. "Di."

"Hm."

"Kalau cewek ulang tahun itu dikasih apa, ya?"

Mataku menyipit. Menyinggung hal itu aku seperti teringat sesuatu yang terlewatkan. Tapi sel-sel kelabu di dalam otakku enggan bekerjasama mengingat informasi itu.

"Yah, tergantung kesukaan ceweknya apa. Emang yang ulang tahun siapa, Mas? Cewekmu kah?"

Mas Dhanu hanya nyengir. "Maunya gitu, sih."

Aku membisu mencerna ucapan Mas Dhanu yang terindikasi aneh di telingaku. Kepalaku beralih, menengok ke samping. Gurauan gerombolan gadis belia disana semakin memecahkan keramaian suara klakson beserta riuhnya pengunjung lesehan. Semogaku saat ini hanya untuk seporsi makanan guna membahagiakan para cacing yang berdemo di dalam perutku.

Soroh bahu : abdi dalem

Pawon : dapur

Sentana dalem : kerabat keraton

Jarik : kain panjang memiliki motof batik

Kesrimpet : jatuh, tersandung (dalam bahasa Jawa) karena sesuatu yang terlilit

Ndara : sapaan kepada bangsawan atau majikan

Cadhong : prajurit keraton

SAI : Satuan Audit Internal

Yogyakarta, 10 Mei 2017

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top