Bab 18 Bisa!
"Oke, itu saja untuk hari ini. Selamat siang," ucap Rena mengakhiri kelas.
"Siang," sahut mahasiswanya.
Saat banyaknya sumber suara mengeluarkan kata serupa, dengung yang besar masuk ke gendang telinga Bintang, menyadarkannya dari lamunan. Setelah kembali ke kenyataan, Bintang melihat punggung kecil Rena meninggalkan kelas. Dia segera bangkit dan menerobos para mahasiswa yang mengantre untuk keluar. Dia ingin menanyakan sesuatu pada Rena... tentang Aurora.
Pintu kelas tidak terlalu besar. Lebarnya hanya bisa menampung lima sampai tujuh orang sekaligus, sementara pengunjung kelas setidaknya lebih dari seratus.
Ketika tiba giliran Bintang mencapai pintu, yang ia lihat adalah bayangan Rena yang berbelok di ujung koridor. Kakinya yang panjang dan kuat berlari mengejar. Bintang sampai di belokan di ujung koridor dan menemukan jalan setelahnya adalah tangga menurun.
Bayangan seorang wanita dengan rambut digelung seperti sanggul terlihat telah menuruni anak tangga terakhir. Dengan napas tersenggal-senggal Bintang kembali berlari. Kali ini dia berhasil mengejar wanita di depannya. Namun, Bintang menyadari kalau dia salah orang.
Wanita itu bukan Rena. Hanya gaya rambutnya saja yang sama. Orang itu bahkan seorang mahasiswi, bukan dosen.
Bintang memegang kepalanya yang pusing. Sebenarnya, kalaupun dia berhasil menghentikan Rena dia tidak tahu dengan pasti apa yang ingin ia tanyakan. Tapi dia benar-benar ingin bertanya pada Rena.
Sebelumnya Bintang sudah bertemu Aurora dan orang itu bersikap seolah tak pernah ada kejadian canggung di antara mereka di masa lalu. Kemudian Rena, Bintang tahu dia secara sengaja menceritakan tentang kejadian bertahun-tahun itu lagi di hadapannya. Rena seolah memberitahunya kalau Aurora tidak pernah baik-baik saja sejak saat itu.
Apa yang terjadi pada Aurora setelahnya? Dia menangis di depan Bintang hari itu.
Kepalanya seperti berputar sebentar, lalu dia mendengar namanya dipanggil.
"Bintang! Di sini kau rupanya. Aku kira kau akan tersesat atau semacamnya." Dani menghampiri Bintang dengan sebuah map yang tebal.
"Kau sudah selesai?"
"Ya, baru saja. Kau dari mana? Kelihatan agak pucat."
Bintang menyentuh wajahnya, heran. "Benarkah?"
"Benar. Aku tidak berbohong. Kita bisa meminjam ruang kesehatan kalau kau merasa kurang baik."
"Tidak, tidak. Aku hanya sedikit pusing tadi."
"Sungguh? Apa kau punya penyakit kepala? Ah, itu tidak mungkin." Setiap anggota polisi dituntut untuk hidup keras dan sehat. Tidak ada orang yang memiliki riwayat penyakit kambuhan akan diterima sebagai polisi di lingkungan ini.
"Ya. Aku mengikuti kelas sastra yang baru-baru ini diwajibkan dan itu membuat kepalaku pusing," jawab Bintang asal-asalan. Dia tidak mau menceritakan sebenarnya tapi dia merasa sangat riskan kalau Dani bertingkah seolah dia adalah orang tuanya. Itu menjijikan memiliki orang tua seperti Dani. Setidaknya itulah yang Bintang pikirkan saat ini.
"Hahahaha.... Kau sangat konyol. Banyak tempat untuk bermain di sini dan kau tetap memilih untuk mengikuti sebuah kelas kuliah. Orang seperti kita yang tidak tahan dengan teori, mana bisa tetap baik-baik saja setelah satu jam di dalam ruang tertutup!"
Dani mulai membual dan mengeluarkan tawa mengerikannya. Tapi Dani juga tidak salah. Kebanyakan polisi akan mengambil jalur akademi dari pada berputar-putar kuliah, kemudian mempersiapkan diri secara mandiri untuk mengikuti pendaftaran. Hal itu sangat merepotkan dan peluang diterimanya jauh lebih kecil dari lulusan akademi.
"Ditambah, kau meninggalkanku di tempat asing tanpa petunjuk dengan perut kosong. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan, hah?" Bintang agak kesal soal ini. Matahari sudah semakin tinggi. Dia seharusnya sudah sarapan nasi atau bubur. Bukan roti kecil dengan rasa stroberi. Dia juga memakannya di tempat umum.
"Haha! Aku lupa kalau kita belum makan. Ayo, aku akan mengajakmu ke kedai mie ayam pangsit langgananku. Aku jamin rasanya enak! Kalau tidak, aku akan mentraktirmu di restoran barat kesukaanmu sampai puas!"
Bintang mengangkat satu alisnya. Tawaran yang cukup menarik.
"Janji?"
"Janji!"
Dani kembali mengemudikan mobilnya ke jalan raya. Karena sudah siang, Bintang akan menghitung makan kali ini sebagai sarapan dan makan siang. Dia setidaknya bisa berhemat sedikit lebih banyak dari hari-hari sebelumnya.
Acara sarapan sekaligus makan siang selesai. Bintang pura-pura enggan saat makan mie ayam pangsit langganan Dani, agar pria yang lebih tua itu mentraktirnya. Tapi Dani juga seorang polisi senior. Dia tahu apa yang Bintang coba lakukan!
Jadi pada akhirnya Bintang tidak akan pernah mendapat makanan gratis sepuasnya dari Dani.
Mereka langsung menuju kantor Polres Tegal Kota untuk bekerja. Bintang meninggalkan mobilnya kemarin, karena ban depannya bocor. Sekarang, saat dia ingin memeriksa keadaan mobilnya, tidak hanya bannya yang bocor tapi mesin mobilnya tidak mau menyala sama sekali.
Bintang mencoba yang terbaik untuk mengakali mobil butut itu tapi hasilnya nihil. Mau tidak mau dia harus meminta mobil derek membawanya ke bengkel terdekat. Montir bilang beberapa bagian mesin mengalai kerusakan parah dan harus diganti. Bintang bertanya bagaimana mungkin mobilnya bisa rusak sementara benda berat itu hanya ditinggal semalam. Tidak ada jejak pembobolan sama sekali.
Montir itu berpikir kalau mesinnya memang dirusak secara sengaja tapi pekerjaannya sangat halus. Ada bagian-bagian yang rusak di mana seharusnya hanya para montir saja yang tahu kelemahannya. Kerusakan yang terjadi fatal, tapi tidak terlihat.
Mendengar apa yang montir katakan, Bintang meminta pria muda itu untuk memeriksa seluruh mobil termasuk rem dan tangki bensin. Alan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan pemeriksaan dan perbaikan secara keseluruhan. Jadi hari ini Bintang sekali lagi merasa lelah hanya dengan memikirkan bagaimana dia pulang nanti.
Hari ini Yogi mendapatkan libur mingguan. Karena sejak awal misi yang mereka terima tidak resmi, hari libur tetap mereka dapatkan. Bintang duduk sendirian di ruang kerja. Dia menatap barang bukti dan salinan laporan perkembangan kasus. Barang-barang yang dibawakan Aurora tidak dia buka sama sekali.
Semuanya masih tersimpan rapi di dalam plastik masing-masing. Bintang tidak berani membukanya. Dia tidak tahu dengan pasti apa yang harus dia lakukan dengan benda-benda itu. Dalam menjalankan kasus, setiap barang bukti bukan urusannya. Mengurus barang bukti adalah tugas divisi lain. Dia sudah mencoba meminta bantuan, tapi ditolak. Untuk mengatakan kalau dirinya, seorang anggota reskrim senior mendapat barang bukti dengan bantuan pihak luar, itu hanya akan memperburuk keadaan jika beritanya sampai bocor.
Yang mengetahui tentang isu ini hanyalah dia, Dani, Yogi, dan Aurora. Meskipun Dani adalah orang dengan mulut tak terkendali dan Yogi hanyalah seorang junior yang bisa disuruh apapun, mereka tidak sebodoh itu untuk menyebarkan hal semacam itu. Mereka tidak bodoh sama sekali.
Sementara Aurora, dia adalah seorang detektif swasta. Siapa yang taju berapa persen dari keseleuruhan rahasia dunia berada di otaknya. Membayangkan Bintang sendiri yang sesumbar untuk menjatuhkan harga dirinya sendiri bahkan tidak mungkin. Jadi sampai saat ini hal itu masihlah sebuah rahasia. Tidak bisa disebut rahasia juga, hanya tidak nyaman untuk dikatakan.
Hari ini Bintang tidak melakukan banyak hal. Dia dianggap sedang menganggur secara kode etik. Seorang polisi yang menganggur alias sedang kosong pekerjaan akan dikenakan kewajiban membantu anggota polisi yang lain. Seharian Bintang membantu menangani satu atau dua masalah administrasi, sampai dengan pelayanan masyarakat.
Ngomong-ngomong tentang administrasi, saat Bintang kembali ke meja keluhan dia tidak bisa tidak mengingat kejadian hari sebelumnya. Agak aneh memang, tapi dia tidak mau ambil pusing tentang itu.
Langit terkontaminasi warna jingga yang cantik di sore hari. Jalanan sudah melewati masa teramainya saat para pekerja pulang ke rumah masing-masing. Sudah waktunya bagi Bintang untuk pulang juga.
Bintang berjalan tertatih-tatih ke halte bus. Setelah sampai pun dia harus menunggu begitu lama sebelum akhirnya sebuah bus biru langit dengan gambar burung elang yang mengembangkan sayap datang.
Melangkahi anak tangga bus teratas, Bintang melihat Aurora duduk di kursi panjang paling belakang. Dia tersenyum dengan lembut ke arah pintu masuk. Bintang berpikir kalau Aurora sengaja duduk di sisi paling kiri agar dia duduk di sisi seberang. Aurora pasti sengaja menunggunya di bus ini!
"Aku sudah mencarinya." Aurora tiba-tiba mengeluarkan suara saat Bintang menatap keluar jendela.
"Hm? Mencari apa?" Bintang menoleh dengan bingung. Kenaoa Aurora mengatakan hal yang tidak dia ketahui begitu saja?
Aurora tertawa kecil. "Kamu memintaku mencari tahu lokasi pengiriman email. Aku sudah menemukan jejaknya. Mau lihat?"
Ah, itu rupanya. Bintang benar-benar lupa tentang email itu.
"Ya, tentu saja. Tapi aku berpikir kalau pekerjaanmu sangat efisien. Apa kau melakukan semuanya sendiri?" Bintang mulai lagi. Dia tidak terlalu tertarik tentang bagaimana Aurora mendapatakan informasi, hanya saja dia curiga kalau Aurora memiliki semacam koneksi ke dunia yang berbeda.
"Tidak ada manusia yang bisa melakukan semuanya sendiri. Terutama ini bukan bidangku. Jadi aku meminta seorang teman untuk membantuku. Ini." Aurora menerahkan dua lembar kertas HVS.
Lembar pertama berisi tulisan yang begitu banyak. Bintang membaca semusnya tapi kepalanya semakin pusing. Isi dari lembaran itu adalah jalur pemindahan server yang dilakukan oleh Andi. Dia tidak tahan dengan istilah-istilah asing dan segera menyelesaikannya.
Pada lembar kedua, isinya lebih ringkas dan jelas. Hanya sebuah peta kecil dengan lingkup yang kecil pula. Bintang menyipitkan matanya untuk memastikan gambar dan tulisan di permukaan putih itu.
Tempat Andi mengirim email adalah... sebuah warnet?
"Kau yakin hasilnya akurat?"
"Ya, 85% akurat." Aurora menjawab dengan yakin jadi Bintang tidak mengatakan apapun.
"Lokasinya berada di salah satu titik paling ramai di kota. Apa penjahat sekarang lebih suka mencari perhatian atau apa?" Sepertinya tidak juga. Sampai detik ini Bintang masihlah seorang polisi reskrim. Bukan berarti Bintang tidak pernah menemui kejahatan yang dilakukan di tempat ramai, hanya saja internet sangat sensitif.
Internet itu kuat tapi juga sangat lemah. Harusnya mudah dilacak saat seseorang melakukan hal sembrono di tempat umum, dengan perangkat yang umum pula.
"Tapi pelaku cyber crime biasanya melakukan aksinya di tempat umum. Para pemula akan melakukan kejahatan dengan perangkat komputer yang digunakan untuk umum. Seperti warnet dan kafe internet, bahkan komputer kantor atau sekolah. Mereka berpikir kalau hal itu jauh lebih aman dari pada menggunakan perangkat pribadi. Tidak salah, tapi menggunakan perangkat umum berarti keluar. Mereka yang menggunakan perangkat umun setidaknya tidak bisa menghapus beberapa jejak seperti saksi mata."
Aurora menjelaskan panjang lebar. Dia sangat mengerti kalau Bintang tidak suka belajar hal baru. Internet terkenal saat mereka baru masuk SMA. Awalnya Bintang menjadi salah satu dari sekian banyak siswa yang kecanduan. Semakin lama Bintang semakin bosan. Lagi pula setelah lulus SMA dia berada di asrama, akademi polisi. Tidak ada banyak waktu untuknya mencari tahu hal-hal baru yang tidak bisa berhenti berkembang setiap saat.
"Hm, aku mengerti. Kalau begitu aku akan ke sana besok." Bintang memutuskan.
"Boleh aku ikut?"
Bintang menatap Aurora dengan heran. "Ikut? Ikut apa?"
"Aku ingin ikut ke warnet itu untuk membantumu."
"Apa? Tidak, tidak. Kau tidak boleh. Jelas sekali kalau kau tidak boleh." Bintang mengerutkan kening. Aurora pasti tahu tentang ini tapi dia tetap meminta untuk ikut.
"Tapi aku juga berperan dalam kasus ini. Hanya ego tapi aku ingin melihat bagaimana semua ini akan berkembang. Lagi pula kau tidak punya dukungan lain. Kenapa tidak menerimaku?" Aurora sedikit memohon. Tapi kata-katanya menusuk tepat ke titik paling sakit di hati Bintang.
"Aku punya dukungan dan aku tidak butuh yang lain." Bintang mengeraskan rahangnya.
"Kau sangat keras kepala. Aku tidak akan mengacau atau ikut campur. Hanya melihat. Tidak lebih. Aku hanya ingin tahu bagaimana jejak-jejak tertinggal di warnet itu."
"Tetap tidak. Semua sudah diatur oleh hukum dan kau tidak punya hak untuk menawar," tegas Bintang.
Aurora mengerucutkan bibirnya. Dia kesal karena Bintang sangat, sangat keras kepala. Orang ini tidak berubah bahkan setelah sembilan tahun.
"Kau bicara tentang hukum ini dan hukum itu. Terserah. Aku akan tetap datang." Aurora melipat kedua tangan di depan dadanya. Dia memalingkan wajah dari Bintang.
"Kau tidak bisa."
"Aku bisa!"
"Tidak bisa!"
"Bisa!"
"Ck... aku bilang tidak bisa!"
"Bisa!"
"Tidak!"
"Bisa!"
Bintang hampir meledak karena marah. Namun marahnya tidak seserius itu. Dia ingin membalas Aurora lagi, halte tempatnya berhenti terlihat. Dia segera bangkit dari kursi dan maju untuk turun.
Bus berhenti. Sebelum Bintang benar-benar turun, dia melirik ke arah belakang. Dan yang dia temukan adalah Aurora yang menjulurkan lidahnya, meledek dengan kepuasan luar biasa. Bintang tidak tersinggung. Justru sebaliknya dia merasa lucu dan tertawa.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top