7-1

And why

Belive me I really wanna die don't you know?

No way, I can find my sign.

Pertanyaan Cakra waktu itu, Tinita belum sempat menjawabnya. Mimpi ya... Tinita tidak pernah berpikir jauh ke sana. Dia hanya ingin mendapatkan nilai tertinggi dan mencapai kesuksesan. Tapi kalau mimpi yang benar-benar spesifik, Tinita tidak mengetahuinya.

Tinita lalu memperhatikan beberapa foto yang ia ambil dari perkemahan, lalu matanya jatuh pada pemandangan langit senja yang ada di jendela rumahnya.

***

Hari ujian pun tiba, Tinita sudah mempersiapkan apa yang harus ia persiapkan. Belajar yang banyak dan juga latihan soal. Setidaknya tidak ada masalah yang menghampirinya sekarang. Masalah penindasannya juga sudah menghilang, walau masih saja ada beberapa orang yang bergosip tentangnya tapi itu tidak terllau mengganggunya.

Karena, memang, gossip adalah salah satu hal yang akan laris manis dimana pun dan kapanpun.

Mereka pun berjuang hingga hari terakhir UAS.

"Ah... akhirnya semua ini selesai..." ucap Angle ketika bel pulang telah berbunyi,

Cewek itu merebahkan kepalanya di atas meja, ia menoleh pada Tinita yang sedang merapikan peralatannya ke dalam tas.

"Tinita, habis ini kita pergi bermain yuk!" kata Angle

Pluk!

"Lo pikir kita anak umur berapa?" kata Rei sambil memukul pelan kepala Angle

"Ck! Kamu nggak merasa lelah Rei?" tanya Angle pada orang yang duduk di depan bangkunya itu.

"Ya gue lelah juga," jawabnya

"Tapi kamu nggak terlihat mengantuk,"

"Gue udah menghabiskan beberapa saset kopi instan,"

"Aku duluan," ucap Tinita beranjak dari tempat duduknya.

"O-oi! Tinit! Tunggu!" teriak Angle menyusul Tinita.

Mereka berdua berjalan di lorong sekolah, beberapa siswa juga keluar dari kelasnya.

"Oh? Bukannya itu Tama?" kata Angle ketika melihat Tama yang keluar dari ruang BK.

Tinita langsung menoleh pada arah pandang Angle, Tama memang keluar dari ruangan itu. Ia tampak kesal, wajahnya yang selalu tertutupi dengan masker sekarang tidak.

"Hei! Kamu kenapa?" tanya Angle menepuk bahu Tama sehingga cewek itu berhenti berjalan,

"Oh, gak pa-pa," jawab Tama singkat, "gue hanya mendapat beberapa tugas yang mengesalkan aja,"

"Owh, semangat ya!" kata Angle

Tama mengangguk sebelum pergi, Tinita memperhatikan kepergian cewek yang memiliki iris hitam kebiruan itu.

"Ini pertama kalinya aku melihatnya tanpa menggunakan masker," ucap Tinita

"Hm... kamu benar juga, setiap hari ia selalu memakai masker, bahkan saat pelajaran olahraga,"

***

Hari pengumuman pun tiba, pagi-pagi sekali papan pengumuman sudah penuh dengan siswa yang ingin melihat hasil ujian UASnya. Tinita juga berada di antara kerumunan itu. Begitu ia melihat hasil ujiannya, perasaan tak enak langsung merasuki hatinya, dengan pelan ia keluar dari kerumunan itu.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Angle ketika Tinita sudah keluar dari kerumunan itu.

Tapi Tinita diam saja, raut wajah cewek itu juga tidak terlihat senang. Angle jadi bertanya-tanya, apakah hasil yang diperoleh Tinita jelek? Tapi masa sih bisa begitu?

Sejauh yang Angle ingat, Tinita adalah salah satu siswa yang selalu mendapatkan nilai tertinggi di setiap ujian akhir. Kalaupun ada yang diatasnya, itu pastilah Arysa. Tapi cewek itu sudah pindah ke sekolah lain sejak awal semester lalu.

Nilai UAS tidak dipengaruhi oleh tugas-tugas yang dulu ada, jadi masalah yang menimpa Tinita seblumnya tidak akan mempengaruhi nilai cewek itu.

"Kalian sudah melihat hasilnya ya?" tanya Joshua menghampiri Angle dan Tinita, disamping Joshua, ada Cakra juga.

"Gimana? Gimana? Tinita, lo harus kasih selamat ke gue lho..." ucap Cakra dengan wajah yang ceria

Sedangkan Tinita cuma diam dan berjalan pergi, meninggalkan ketiganya.

"Dasar! Lo seharusnya nggak ngomong gitu!" kata Joshua sambil menjitak kepala Cakra

Cowok itu langsung mengusap bekasnya, "Ya, gue mana tahu kalau reaksinya bisa begitu?"

"Sorry, maksud kalian apa?" tanya Angle, merasa aneh dengan sikap kedua cowok yang di hadapannya.

"Lo nggak lihat pengumuman? Tinita rangking dapet rangking dua," jawab Joshua

"Hah?! Truss ranking satunya siapa?"

"Itu, gue," sahut Cakra

"Hah?! Nggak salah?" tanya Angle

"Kalau gue salah kenapa reaksi Tinita kayak gitu?" ucap Cakra,

Angle langsung menginjak kaki Cakra, "Kamu menyebalkan!" kata Angle lalu berlari meninggalkan kedua cowok itu.

"Lha? Apa salah gue? Gue kan emang udah pernah bilang kalau gue itu rivalnya Tinita?"

Joshua ingin sekali melempar temannya ini, "Cakra, gue sebenernya bingung, lo suka ama Tinita atau benci ama dia?"

***

Tinita menghela napas, ia sama sekali tidak memiliki mood yang baik kali ini.

"Nih, lo jangan bersedih gitu," ucap Cakra sambil memberikan chatime pada Tinita,

Mereka berdua sedang ada di taman belakang sekolah, tidak ada jadwal belajar hari ini, kebanyakan siswa yang datang ke sekolah hanya sekedar untuk mengisi absen, melihat perolehan nilai atau kegiatan ekstrakulikuler.

Tinita menerima chatime yang diberikan Cakra sebelum menghela napas kembali.

Ini bukan salahnya Cakra juga, seharusnya Tinita tidak bersikap dingin seharian pada cowok itu, karena ini salah Tinita juga, ia kurang maksimal mempersiapkan diri dan menghadapi UAS kemarin.

Ini bukan salah siapa-siapa jika Tinita mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Kalau dipikir-pikir Cakra memang orang yang cerdas, Tinita ingat kalau Cakra bisa dengan mudahnya menghack seluruh media sosial Ochi.

Hm... Cakra juga perwakilan sekolah dalam lomba robotic kemarin, meski itu adalah lomba bertim namun tentunya kalau Cakra tidak memiliki kecerdasan lebih cowok itu tidak mungkin ikut kan?

Mungkin karena cowok itu lebih rajin sekarang daripada dulu, kalau Tinita ingat-ingat lagi, Cakra bukan orang yang mempermasalahkan tentang nilainya sebelum cowok itu mengatakan bahwa ia ingin menjadi rival Tinita.

Yah... sepertinya dia memang harus mengakui kemampuan cowok itu.

"Hm... aku tidak apa-apa," ucap Tinita lalu menyeruput chatimenya.

Cakra memperhatikan Tinita yang sekarang tampak tenang dan tidak gloomy seperti tadi.

"Tinita,"

"Hm?"

"Gue mau lihat senyum lo,"

"Ha?"

***

Baiklah, sekarang adalah medan perang yang sebenarnya. Tinita melihat mobil ibunya yang terparkir rapi di garasi. Sepertinya ia pulang lebih awal dari yang diperkirakan, padahal Tinita kira ia bisa langsung tidur di kamarnya setelah ini, namun sepertinya tidak.

"Tinita,"

Nah, baru saja masuk ke dalam rumah, ibunya langsung memanggilnya. Tinita memperhatikan wanita paruh baya yang begitu mirip dengannya itu. Ia tampak cantik meski usianya terus bertambah tiap tahunnya.

Tinita kadang jadi berpikir, apakah penampilannya akan seperti ibunya ketika sudah dewasa?

"Ya Ma," ucap Tinita

"Hasil UAS-nya,"

Tinita menyerahkan hasil UAS yang telah ia dapatkan, dan kali ini dia gagal mendapatkan rangking pertama di UAS.

"Tinita,"

"Ya,"

"Kenapa hasilmu bisa segini?"

Tinita diam, kaalu ditanya speerti itu ia tidak bisa menjawabnya.

Ibunya menghela napas, "Targetmu kali ini tidak terccapai lagi, ibu kecewa,"

Bukan ibunya saja yang kecewa, ngomong-ngomong Tinita juga kecewa karena ia yang berusaha disini.

"Kamu seharusnya bisa lebih dari ini! Kamu sudah mengikui berbagai bimbel! Dan kamu juga sudah berada di kelas unggulan!" ucap Ibunya berapi-api menahan amarah

"Maaf bu..." ucap Tinita menunduk. 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top