6-4
Jika ada pemikiran dari dunia ini yang menyakitimu
Maka aku akan terbakar sebagai ganti dirimu
Aku akan selalu berdiri tegak di sisimu
Menjadi penangkal petir dari kebencian
--Hiraishin-Keyakizaka46
Seekor Anjing tiba-tiba menggigit tas selempang kecil yang dibawa Angle, cewek itu lalu menariknya agar terlepas namun sepertinya itu membuat marah si anjing.
Grr.... GUK!
"U-u-uwa!!!" teriak Angle
Anjing itu mulai membuka mulutnya lagi dan Angle segera berlari agar anjing itu tidak menggigitnya.
"Angle tu-"
"Sudah biarkan saja, toh lari beberapa putaran nggak bakal ngebuat dia mati,"
Cakra meletakkan tangannya di bahu Tinita agar cewek itu tidak berlari menyusul Angle yang dikejar anjing.
"Anjing itu milikmu?" selidik Tinita
"Ya anjing kesayangan gue," ucap Cakra
"Kamu pasti sengaja," kata Tinita,
"Kalau dia nggak pergi, lo dan gue nggak bisa mengobrol berdua kan?"
Yah, cara yang digunakan oleh Cakra memang agak licik.
"Jadi apa maumu?" tanya Tinita agak jutek
"Gue minta maaf karena nggak ada di dekat lo di sekolah tadi, ada hal yang harus gue urus, tapi kayaknya kurcaci-kurcaci itu udah ngurus lo dengan baik jadi gue nggak terlalu khawatir ama putri salju gue ini," ujar Cakra lalu mengacak rambut Tinita
"Aku tidak perlu bantuanmu untuk itu," sahut Tinita sambil menepis tangan Cakra
"Ya, lo perlu gue dan yang lain, buat jadi penangkal petir,"
***
Joshua menatap Tinita dan teman-temannya yang masuk ke dalam ruang ganti.
"Hei, Cakra, lo bakal diem aja gitu?" tanya Joshua
Ia dan Cakra sempat melihat beberapa cewek dari kelas lain masuk ke dalam ruang ganti saat pelajaran renang berlangsung dan tentunya perhatian seluruh kelas jatuh pada guru olahraga yang sedang memberikan materi. Mereka mungkin merencanakan sesuatu yang tidak baik, mengingat soal gossip yang beredar.
Cakra pun melompat memasuki air, "tenang aja, dia nggak sendirian," ucap Cakra
"Ya dia emang nggak sendirian, tapi sebagai cowok masa lo biarin dia kayak gitu? Lo beneran suka dia atau nggak sih?!" kata Joshua
Sebagai orang yang dekat dengan Cakra, Joshua masih belum bisa memahami Cakra sepenuhnya, kadang Cakra bisa melakukan hal diluar nalar, atau tiba-tiba aja berubah dari cowok yang garang jadi kalem. Bahkan Joshua masih tak mengerti kenapa Cakra bisa menganggap Tama yang notabene adalah cewek sebagai saingannya dalam merebut hati Tinita.
Padahal Joshua sangat yakin kalau Tinita itu nggak mungkin jenis yang belok meski tidak pernah terlihat dekat cowok manapun. Mungkin Cakra belum sadar kalau dia satu-satunya cowok yang paling sering ada di dekat Tinita.
"Gue punya rencana sendiri," ucap Cakra lalu menyelam ke dalam air.
***
Cakra terlihat mengutak-atik layar ponselnya, ia tampak fokus pada benda kecil itu sehingga tidak menanggapi beberapa sapaan yang mampir di telinganya. Biasanya Cakra akan senang hati membalas sapaan itu dengan sapaan yang lebih manis.
Sedangkan Joshua tampak bingung dengan sikap Cakra yang tidak se-santai Cakra pada umumnya, apa benar cowok itu sedang merencanakan sesuatu?
Sepertinya cowok itu memang sedang merencanakan sesuatu, entah apa.
"Gue harap rencana lo berjalan mulus," ucap Joshua, "kalau lo butuh bantuan lo bisa panggil gue,"
"Gak usah, gue sendiri aja bisa," ucap Cakra "lo cukup fokus ama pertandingan lo minggu nanti,"
Ah ya... ucapan Cakra membuat Joshua teringat dengan pertandingan basketnya minggu depan.
***
Cakra tampak berdiri di lantai 5 sekolah, tempat yang cukup sunyi dan bagus untuk bertemu. Cowok itu bersiul untuk membunuh sepi yang mampir ketika ia sedang menunggu. Dari balik jendela ia memperhatikan beberapa siswa yang sedang bermain sepak bola di lapangan. Mereka tampak seperti titik kecil yang berlarian kesana-kemari.
Begitu mendengar suara langkah kaki Cakra segera menoleh, orang yang ditunggunya telah tiba.
"Jadi lo yang manggil gue?!" ucap cewek itu dengan nada kesal
"Ya, aku sudah menunggumu lo dari tadi," kata Cakra sambil mencium punggung tangan kanan si cewek, namun si cewek langsung menarik tangannya yang hampir menyentuh hidung cowok itu.
"Cakra gue nggak suka basa basi,"
"Oh benarkah? Gue kira selain menyebarkan gossip lo suka berbasa-basi,"
"Ck! Lo mau bilang apa ke gue? Kalo lo terus neror gue di SMS gue bakal laporin lo!"
"Wah gue takut tuh," ucap Cakra sambil terkekeh dan mengangkay kedua tangannya, "Gue nggak tau siapa yang menang antara Hariyanto atau Antares,"
Ochi kembali berdecak tak senang karena nama keluarga mereka dibawa-bawa, ya memang keluarga mereka sering bersaing untuk menjadi keluarga yang paling berkuasa dan berpengaruh baik itu di bidang ekonomi atau sosial. Dan sebagai generasi kesekian yang harus menghadapi konflik dingin itu, Ochi lelah.
"Gue mau lo berhenti ganggu Tinita," ucap Cakra
"Gue menolak," sahut Ochi cepat, "lagian ngapain lo ngurusin dia? Bukannya dia Cuma salah satu boneka yang lo suka?"
Cakra menarik kerah baju Ochi, menatap cewek itu nyalang, "kalo lo mengatakan itu sekali lagi, gue nggak segan ngelempar lo ke jendela,"
"Ha! gue baru tahu lo beraninya sama cewek!"
Ochi langsung mendorong tangan Cakra hingga terlepas, sedangkan Cakra masih tampak marah.
"Ya gue berani, kenapa nggak? Karena lo udah mengusik sesuatu milik gue!"
***
"Aku nggak ngerti kenapa Pak Samuel suka kali nyuruh siswanya buat mindahin barang," ucap Angle kesal
"Ya mau bagaimana lagi?" ucap Tinita, "Kita tidak bisa menolak bukan?"
Angle menghela napas, "Aku masih capek, masa kita nggak boleh pakek lift ke lantai lima sih? Nggak tahu apa kalau tangganya banyak,"
Mereka berdua dimintai tolong oleh Pak Samuel untuk memindahkan dua kardus yang berisi lembar jawaban yang sudah diperiksa dan dinilai. Karena tidak diperlukan lagi jadi dipindah ke gudang.
"Ha! gue baru tahu lo beraninya sama cewek!"
Angle dan Tinita yang baru tiba di lantai itu terkejut mendenar ucapan itu. Dengan segera mereka menaruh kardus itu dilantai dan mendekat ke arah dua orang yang tampak bertengkar itu.
"Ochi? Cakra?" panggil Angle
Keduanya menoleh begitu dipanggil oleh Angle.
"Cih yang dibicarain muncul juga," ucap Ochi sinis menatap Tinita.
"Ini... ada apa?" tanya Tinita
"Orang yang jadi biang masalah lo adalah cewek ini," kata Cakra, "dia yang nyebarin rumor tentang lo yang nggak bener,"
Sekarang giliran Tinita yang menarap Angle dengan tatapan tajam, "Jadi kamu yang melakukannya? Kenapa?"
"Sok polos lagi! Dasar nggak tahu diri!"
"Jaga mulutmu!" ucap Angle keras,
"Kenapa?! Lo mau pura-pura nggak tahu? Lo sengaja kan caper di pelajarannya pak Samuel?! Lo suka sama dia kan?!"
Tinita ingin membenturkan kepala Ochi sekarang juga, ia tidak menyangka bahwa akar masalahnya adalah ini.
Memang sejak kapan Tinita menyukai guru satu itu?!
Tinita akui memang, Pak Samuel tampan dengan rambut hitam gelapnya, tubuhnya yang tinggi dan mata birunya. Tapi bukan berarti Tinita menyukai guru itu sebagai seorang lelaki! Ia sebatas menghormatinya sebagai guru, tak lebih dan kurang!
"Aku tak menyangka kamu bisa berpikiran seperti itu," ucap Tinita sambil tertawa miris,
"Lo!"
"Aku menghormatinya sebagai guru tak lebih dan tak kurang," ucap Tinita tegas,
"Nah, lo sendiri sudah denger kan?" kata Cakra, "jadi berhenti melakukan hal yang nggak guna kayak gini!"
"Gue tetep nggak mau!"
Cakra menghela napas, "Kalau lo nggak mau, gue bakal hack akun sosmed lo dan ngebuat lo jadi bahan tertawaan satu dunia,"
Cowok itu menujukkan ponselnya, akun Ig Ochi yang terpampang jelas. Ochi jelas terkejut, tangan cewek itu berusaha untuk mengambil ponsel Cakra, namun cowok itu segera berkelit. Jadi Ignya kemarin yang tak bisa dibuka bukan karena kesalahan aplikasi, melainkan karena kena hack?!
"Eits! Akun lo bakal aman kalo lo setuju untuk nggak nyebarin gossip dan nggak memprovokasi siswa lain buat menindas Tinita,"
Ochi berdecak kesal, "Ya gue setuju!"
"Kamu nggak minta maaf sama Tinita?" tanya Angle geram
"Nggak akan!" sahut cewek itu sinis, "Gue nggak akan mengganggu Tinita dan lo nggak boleh ngutak-atik sosmed gue!"
Selesai mengatakan itu Ochi berjalan meninggalkan mereka.
"Dasar cewek nggak tahu diri!" kata Angle "dia bahkan nggak minta maaf sama Tinit,"
Tinita menghela napas, "Dia tidak membuat keributan lagi itu sudah cukup,"
Cakra menyimpan ponselnya, "Gue keren kan?" ucap cowok itu
Kali ini mau tak mau Tinita menyetujuinya, "Ya kamu keren,"
"Itu artinya lo jatuh hati kan sama gue?"
"Tidak!"
NB. butuh asupan tidur :)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top