6-2

Tinita dengan sigap menghindari tangan itu, cewek itu langsung menunduk dan bergeser begitu mengetahui siswi di belakangnya ingin menangkapnya.

"Lo!"

Rupanya mereka tidak menyerah begitu saja, Tinita baru akan menghindar lagi ketika sebuah tangan melindunginya dari tangan siswi itu.

"Kamu mau ngapain? Ribut?"

Angle tiba-tiba saja sudah ada di depan Tinita.

"Lebih baik kakak ngaca deh sebelum ngajakin ribut, yuk Tinita jangan buang waktu berharga kita disini,"

Angle menarik Tinita pergi dari ketiga siswa yang masih setengah terkejut karena kedatangan Angle yang terlalu tiba-tiba. Begitu Tinita dan Angle

"Kalau aku tau ini lebih awal, aku akan menemanimu ke kantin." ucap Angle

"Tenang aku tidak apa-apa," ucap Tinita, cewek itu merasa sedikit bersyukur karena Angle datang tepat waktu, "Ngomong-ngomong aku kaget karena kamu tiba-tiba datang,"

Tinita tahu bahwa Angle termasuk salah satu siswa terlincah di sekolah, tapi cukup mengejutkan karena cewek itu langsung ada diantara pertengkaran kecilnya dengan para kakak kelas itu.

"Kalian yang nggak lihat sekitar, ngomong-ngomong banyak banget penontonnya," sahut Angle

"Oh,..." tanggap Tinita

Yah, dia sendiri memang tidak peka dengan sekitar kecuali tiga kakak kelas yang berniat untuk menyerangnya tadi. Lagian siapa mereka? Memangnya Tinita mengenal mereka?

Tapi, kalau dipikir-pikir lagi sepertinya mereka menyebutkan Cakra, apa ini ada kaitannya dengan cowok itu? Kalau dipikir-pikir mereka memang dekat akhir-akhir ini, lebih tepatnya Cakra yang selalu menemuinya hanya untuk sekedar menyapa atau mengerjakan tugas.

Apa mereka fansnya Cakra? Tinita tidak tahu kalau cowok itu punya fans seanarkis itu.

"Katanya sih dia suka keluar malem-malem..."

"Weh... masa sih? Jangan-jangan dia juga suka main ama om-om..."

"Serius, aku melihatnya kemarin waktu pulang dari minimarket deket rumah,"

"Kayak Arysa? Haha... mungkin dia juga pakek teknik itu buat ngedongkrak nilainya,"

"Ternyata dia punya banyak backingan ya? Ada Cakra, ada om-om..."

Perkataan-perkataan yang bernada tidak enak itu menghampiri telinganya, sepertinya Tinita memang harus membeli penyumbat telinga untuk dibawanya ke sekolah.

"Mulut mereka panas banget, pengen aku lempar es batu biar adem," ucap Angle kesal

Tinita berniat untuk diam saja, ia tak berkomentar karena merasa komentarnya itu tidak ada gunanya, toh orang-orang itu masih saja berceloteh ria mengenai kabar yang jelas-jelas tak ada asal-usulnya itu.

***

Pelajaran renang seperti biasa langsung praktek, kali ini mereka belajar berenang gaya punggung, dan seperti biasa akan ada jam bebas renang dimana waktu itu digunakan dengan sebaik-baiknya oleh para siswa untuk bermain air.

"Gue nggak nyangka lo bisa nahan napas selama itu," komentar Rei pada Angle

"Ya jelas dong, masa aku kalah ama amatir kayak kalian," ucap Angle bangga

"Kita ganti baju sekarang yuk? Kalau berlama-lama lagi tanganku bisa keriput," ajak Aninda

Sedangkan Tinita sudah keluar dari air sedari tadi, ia tidak punya mood untuk berenang meski Angle sudah mengajaknya untuk nyemplung dan bermain air. Tentu saja itu terjadi karena gossip-gossip tentang dirinya yang makin hari makin dibumbui sana sini. Dulu ia tidak terlalu menanggapinya, biasanya Tinita akan banyak membaca buku atau latihan soal untuk mengusir pikirannya yang terganggu dengan hal semacam itu. namun sekarang ia tak bisa mengabaikannya begitu saja.

Untuk tahu dalang di balik semua gossipnya yang banyak beredar tentu sangat sulit, entah siapa yang memulai Tinita tak bisa mengetahuinya secara pasti karena sekarang orang yang membencinya bukan satu orang saja.

Mereka berempat pun pergi ke ruang ganti, mengambil baju dari loker baju yang telah ada.

"Eh?!"

Tinita terkejut ketika mendapati seragamnya yang sudah robek sana-sini, bahkan tanpa berpikir dua kali pun rasanya seragam itu sudah tak layak pakai lagi.

"Kenapa-astaga!"

Rei dan Aninda langsung menengok ketika Angle hampir teriak menemukan kondisi seragam Tinita.

"Ini udah kelewatan," ucap Rei sambil menguap, meski terlihat mengantuk namun nada ucapannya terdengar kesal.

"Jadi bagaimana? Satu-satunya seragam yang tersisa Cuma seragam olahraga doang," kata Angle

"Tidak apa, aku juga bisa mengatakan alasan pada guru," sahut Tinita tenang meski ia tak merasa baik-baik saja. Ia akan terlalu mencolok jika menggunakan seragam olahraga di kelas.

"Um... kalau kamu mau, kamu bisa menggunakan seragam ini," kata Aninda sambil menyodorkan satu set seragam pada Tinita.

Tinita menerima seragam itu, "Ini seragammu?" tanya Tinita

"Itu milik Andita, aku terbiasa membawakan seragamnya saat olahraga," ucap Aninda sambil tersenyum,

"Begitu ya... tidak apa? Bukankah ini milik kakakmu?"

"Nggak pa-pa pakai aja," kata Aninda

Tinita memakai seragam milik Andita, meski sedikit kebesaran namun tidak mengapa dibandingkan memakai baju olahraga sepanjang hari. Saat pulang sekolah nanti Tinita akan pergi ke koperasi sekolah untuk membeli seragam yang baru.

Hah... sepertinya masalah Tinita sudah di tahap penindasan. Entah siapa yang melakukannya, Tinita tak tahu.

***

Di tengah pelajaran matematika, Tinita kebelet untuk pipis. Sepertinya ia kebanyakan minum saat istirahat tadi, menggantikan cairan tubuh setelah berenang sekaligus menenangkan dirinya.

Tinita masuk ke dalam toilet bersamaan dengan beberapa siswi yang keluar dari toilet.

Begitu masuk ke dalam bilik toilet Tinita segera menuntaskan kegiatannya, tidak memperdulikan suara berisik yang berasal dari luar. Hingga saat Tinita memutar kenop pintu bilik, ia menyadari bahwa seseorang mungkin telah menguncinya dari luar.

"Hei! Tolong! Siapapun! Keluarkan kau!" teriak Tinita sambil menggedor-gedor bilik toilet.

Sedangkan 2 orang siswi yang berpapasan dengannya saat masuk ke dalam toilet tertawa kecil. Mereka lalu keluar dari toilet menutup pintunya dan tak lupa memajang tulisan 'toilet rusak' di depan pintu sehingga tidak ada orang yang akan memasuki toilet.

Tinita meraba seragamnya berharap menemukan ponselnya.

Sial! Sepertinya ia meninggalkan benda kecil itu di dalam kelas.

Tinita menyandarkan dirinya pada bilik Toilet, sepertinya ia memiliki banyak haters di sekolah ini. Tinita memijit keningnya, kenapa masalah selalu datang padanya akhir-akhir ini? Sejak ia memasuki kelas IPA 1, hidupnya yang tenang mulai terganggu.

Atau memang dia berjodoh sial dengan kelas itu? Sepertinya memang iya.

"Tinita, lo disana?"

Tinita mengenali suara itu, itu suara Rei.

"Ya! Aku disini!" ucap Tinita

Akhirnya ada orang yang datang juga.

Terdengar suara berisik sebelum pintu bilik dibuka dari luar oleh Rei, cewek itu tampak memegang sapu.

"Lo udah nggak aman lagi," ucap cewek itu lalu melempar sapu itu ke pojokan.

"Sepertinya ya," kata Tinita membenarkan, sepertinya sekolah ini berubah menjadi medan perang untuknya.

Bukan lagi medan perang untuk bersaing pada prestasi dan nilai akademis.

Istirahat ke dua mereka memutuskan untuk menghabiskannya di perpustakaan, tempat itu cukup sepi dan tidak banyak orang sehingga Tinita tidak perlu mengkhawatirkan gendang telinganya yang selalu dihantam suara-suara yang menganggu.

"Kita nggak bisa membiarkan ini!" ucap Angle menggebu-gebu

"Angle benar, kali ini lo harus bertindak atau kelakuan mereka bakal menjadi-jadi," sahut Rei

Tinita menghela napas, "Kurasa melaporkannya pada guru BK sudah cukup,"

"Nggak! Itu nggak bisa! Kalau kamu ingat ini bukan pertama kalinya di sekolah ini! Dan mereka tampak biasa saja seolah itu semua tak pernah terjadi!" kata Angle

Aninda mengangguk menyetujui perkataan Angle maupun Rei.

Tinita tahu itu, ia sangat tahu. Sebelum kasus bunuh diri Andita ada sebuah kasus bunuh diri lain, seorang siswi yang gantung diri di hutan dekat sekolah. Dia merupakan 'target' penindasan satu sekolah. Tinita tidak terlibat dalam penindasan itu, tapi ia juga tak membantu cewek itu karena ia fokus pada nilai dan prestasi individualnya saat itu.

Kebanyakan penindasan yang terjadi di sekolah mereka terjadi pada siswa yang tidak berada dalam kelas unggulan. Atau didasari dengan permusuhan dengan orang 'penting' di sekolah.

"Aku punya hal yang harus kuselesaikan, bukan itu saja," ucap Tinita

Ya, dia harus fokus pada UAS serta tugas-tugas yang harus ia selesaikan, mengumpulkan banyak nilai untuk menambal nilai-nilainya yang berlubang di banyak tempat karena masalah sebelumnya. 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top