5-4
"Jangan pernah katakan kepada siapa pun"
"Ini adalah rahasia di antara kita"
Cerita yang dirahasiakan pasti akan selalu tersebar
Apakah ada seseorang yang bisa menjaga mulutnya?
Aku sudah tak peduli dengan siapa yang berada di pihakku lagi
Untung dan rugi tak ada hubungannya
Percaya dan tak percaya
Teman-teman yang tak bertanggungjawab
-Eccentric by Keyakizaka46
Tama memperhatikan pria yang mengaku dirinya adalah sang ayah. Saat semua kerabat telah pergi meninggalkan pemakaman ibunya Pria itu tetap berdiri hingga yang tersisa hanya mereka, dan mulai mengatakan hal yang diluar dugaan itu.
"Aku gak percaya," ucap Tama yang baru berumur 8 tahun itu, "mama bilang papa sudah tiada,"
Pria itu lalu berjongkok di hadapan Tama, menyamakan tinggi badan mereka.
"Saya ayah kamu,"
"Apa buktinya?" tanya Tama
Pria itu menunjukkan wajahnya sendiri, "Ini bukti bahwa kamu adalah anakku,"
Tama terdiam sejenak, otaknya yang memang memiliki kecerdasan lebih tahu bahwa wajah mereka mirip. Setelah diam begitu lama Tama mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan pria yang ada di hadapannya.
***
"Ini kakakmu,"
Begitu Tama setuju untuk tinggal bersama sang ayah yang muncul setelah 8 tahun hidupnya, Pria itu langsung memboyong Tama menuju ke sebuah rumah yang begitu besa. Saking besarnya, Tama yakin bahwa ia bisa menampung seluruh tetanggannya.
Cowok yang berstatus sebagai kakak tirinya itu hanya diam memandangi Tama.
"Penakut," ucap cowok itu ketika melihat Tama yang bersembunyi di balik sang ayah.
"Haha... kalian cepat sekali akrabnya,"
Akrab darimananya?! Pikir Tama masih dengan rasa takut
Cowok yang memakai seragam SMA itu lalu menarik Tama, anak itu tampak bergetar saat kakak tirinya menariknya dengan kuat.
"Berkeliling rumahnya sama kakak dulu ya, papa mau kerja,"
"Papa konon,"
Meski mendapatkan reaksi tidak menyenangkan dari si cowok, Ayah Tama tetap tersenyum ramah. Lalu meninggalkan Tama berdua dengan cowok itu.
"Hiks hiks..."
Tama mulai menangis, bagaimana pun juga tampang kakak tirinya ini lebih menyeramkan dari guru matematikanya di sekolah.
"Hah... jangan menangis oke? Gue hanya kesel karena tau dia ternyata menelantarkan lo selama bertahun-tahun,"
"Kakak nggak marah?"
Cowok itu mensejajarkan dirinya dengan Tama lalu mengusap kepalanya lembut.
"Gue nggak bisa memarahi adik-adik kecil gue,"
Tama lalu berkeliling rumah barunya bersama dengan sang kakak, ada banyak pelayan yang mondar-mandir saat mereka lewat. Kebanyakan dari mereka tidak memperdulikan Tama dan kakaknya.
"Lo suka main apa?"
"Ma-main boneka,"
Di setiap akhir minggu sang kakak selalu rutin menemuinya ke kamar sekedar menanyakan kabar atau menemaninya belajar. Bagaimana pun juga kesibukan kakaknya hampir sama dengan sang ayah sehingga Tama jarang melihatnya.
"Oh.... siapa nama-nama bonekanya?"
"Hai aku Olla, aku Faijal, aku Mose!"
Tama menyahut sambil menggerakkan ketiga bonekanya, lengkap dengan suara yang berbeda. Sang kakak terkejut dengan bakat Tama yang terbilang langka dan jarang di temui, bahkan tanpa latihan yang khusus.
***
"Jika saya tahu akan begini, saya akan mengambilmu lebih awal,"
Tama diam sambil memeluk bonekanya, sang ayah baru saaja datang dari pertemuan orang tua dan guru, entah apa yang dibahas.
"Tamara,"
"Ya... ayah?"
"Kamu harus mendapatkan ranking yang tinggi dan prestasi yang banyak, barulah kamu bisa berdiri sebagai bagian dari keluarga Rivalta yang kokoh
***
"Ah... dia anak yang diambil Leo,"
"Bisa-bisanya anak itu mengambil sampah,"
"Meski luarnya mirip, aku yakin di dalamnya tidak,"
"Sepertinya kita memeliki banyak cucu illegal,"
"Hahaha.... Sepertinya itu menyenangkan, pertemuan keluarga akan selalu ramai,"
Tama memperhatikan orang-orang dewasa yang tampak berkumpul dalam acara ulah tahun ayah dari kakeknnya. Orang yang begitu tua itu tampak duduk di atas kursi roda, tersenyum pada setiap orang yang hadir.
Tama akhirnya mengerti apa yang dikatakan oleh ayahnya beberapa bulan yang lalu, tempat tinggalnya kali ini, lebih keras dan kotor dari sebelumnya.
"Hai, kamu Tama kan? Kenalkan namaku Jessica, aku sepupumu lho,"
Tama melirik cewek yang tampaknya seumuran dengannya, dia memiliki warna rambut yang merah tembaga dengan iris berwarna cerah. Dia tak tampak seperti orang Indonesia, melainkan seperti orang eropa.
Ah... kalau dipikir-pikir pun Tama juga sedikit tak mirip dengan orang Indonesia kebanyakan.
"Pasti sangat sulit untukmu bersekolah di Rajawali Junior High School dengan riwayat sekolahmu sebelumnya, kalau ada yang tidak kamu mengerti bisa tanyakan saja aku," kata Jessica "lagi pula aku kakak kelasmu disana,"
"Terima kasih," ucap Tama sambil memalingkan wajah tak ingin bertatapan dengan Jessica.
"Tenang saja, aku akan membantumu untuk meningkatkan rankingmu,"
"Ta-tapi kak, aku sudah dapat rangking 1 waktu pembagian rapot kemarin,"
***
"Wah aku baru tahu dia anak haram..."
"Bukankah yang seperti itu tidak pantas?"
"Yah bagaimana pun juga dia menodai peringkat pertama..."
Tekanan itu datang setelah memasuki tahun ajaran baru, Tama yakin ini bukan sekedar kebetulan. Sbeelumnya tidak ada yang membicarakannya seperti ini, mereka tidak pernah membicarakan Tama di awal tahun jaran baru.
Pasti Jessica melakukan sesuatu.
Tama menghela napasnya, ia lalu duduk di bangkunya. Tidak ada orang-orang di kelas yang menyapanya, meski sudah terbiasa seperti itu namun tekanan dari luar kelas sampai juga di dalam kelas.
"Hei, kau anak illegal! Kudengar kamu bisa bersuara macam-macam,"
Seorang anak laki-laki mendekati mejanya sambil memandangnya mengejek.
"Maksudmu?" tanya Tama
Meski ia takut dengan orang di depannya namun Tama berusaha untuk terlihat kuat, bagaimana pun juga ia tidak boleh menunjukkan sifat mindernya di hadapan semua orang.
"Oh mungkin kau terlalu sibuk membaca buku hingga tidak melihat ini,"
Ia menunjukkan sebuah rekaman video yang berisikan Tama yang sedang bersuara menirukan beberapa karakter lucu di TV sambil menggoyangkan snack yang dibawanya saat tamasya Tama ingat rekaman itu.
"Katannya kamu bisa berusara macam-macam, ayo perlihatkan pada kami!"
"Iya ayo! Nggak usah malu-malu!"
"Bagaimana kalau seuara tikus?"
"Apa kamu bisa bersuara seperti babi?"
"Tawanya nenek sihir bisa juga kan?"
Teman sekelasnya langsung menyahuti perkataan cowok tersebut, membuat Tama semakin tidak nyaman. Apalagi mengetahui bahwa aksinya yang menghibur anak-anak kecil yang kebetulan ia temui malah tersebar satu kelas, atau mungkin satu sekolah.
Padahal Tama sudah menyuruh teman sekelas yang mengetahuinya untuk tutup mulut, kenapa bisa banyak orang yang tahu sih?
"U-uh... Diam!" bentak Tama
"Huwahaha... suaranya yang ini bagus juga!"
"Wuih udah kayak dubber di TV-TV menghayati sekali,"
"Segitu aja tersinggung, dasar sombong,"
Tama langsung melangkahkan kakinya keluar dari kelas.
***
"Papa dengar kamu bolos sekolah,"
Tama duduk di ruang tengah, ia sedang disidang oleh ayahnya yang tiba-tiba saja datang, harusnya pria itu pulang 3 jam lagi.
"Tamara jawab!" ucap sang Ayah dengan keras karena Tama tampak tak merespon apa-apa.
"Me-mereka membuatku malu..." ucap Tama "semua anak mengejek suaraku, semuanya! Itu sangat menggangguku,"
Sang ayah menghela napas, "Kalau begitu jangan menggunakan suara anehmu lagi dan fokuslah pada pelajaranmu,"
"Ta-tapi a-"
"Kamu ingin mereka bungkam bukan? Kamu harus menggunakan prestasi untuk membungkam mereka, sama seperti kamu membungkap orang-orang tua itu saat ulang tahun kakek buyutmu."
Tama mengangguk lemah, meski bukan itu yang benar-benar ia inginkan.
***
"Sudah gue bilang kan kalau mau bolos jangan pulang dulu,"
Ucapan itu langsung ditangkap pendengaran Tama begitu cewek itu keluar dari dalam ruang Tamu. Kakak Tirinya tampak baru saja pulang dari kuliah.
"Ini untuk lo, gue tahu papa nggak ngijinin kamu bersuara dengan suara unik lo itu lagi, tapi gue rasa kalau lo emang benar-benar butuh tempat aman cuma ini yang bisa gue kasih,"
Tama memperhatikan kunci yang diberikan oleh kakaknya lalu tersenyum lemah.
"Terima kasih kakak,"
NB sebenernya mau bikin ceritanya Tama di Bird, eksklusif buat masalah 'eccentric'nya ini. Tapi setelah kupikir PS juga butuh karakter antagonis lagi dan wala, Tama pun masuk. terjemahannya dikutip dari Kazelyric uwu ^^
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top