4-1

Sejak kejadian itu Aninda izin dari sekolah untuk beberapa hari, dan bimbingan konseling. Awalnya cewek itu canggung bertemu dengan Tinita , tapi Tinita sudah memaafkan tindakan Aninda, bagaimana pun tidak ada yang terluka waktu itu, ya walau memang Tinita harus merelakan beberapa rambutnya saat ditarik.

UTS telah dilalui, hasilnya akan diumumkan bersamaan dengan hasil UAS. Tinita dan teman-temannya belajar dengan sangat giat. Lalu dilanjutkan dengan tour di Finlandia.

Tournya kali ini lebih rame dari tournya tahun lalu, ia mengunjungi banyak tempat. Cakra terus terusan menempel dengannya, kadang membuat Tinita risih. Karena dimana ada Cakra maka disana juga ada fansnya.

Sedangkan Angle banyak memiliki kenalan cowok lokal yang ganteng-ganteng.

Tinita membaca buku Sejarahnya, ketua kelas sedang mengumpulkan tugas yang telah mereka sebelum diserahkan.

"Tinita!"

Terkejut, Tinita segera berdiri dari duduknya. Semua pandangan mata tertuju padanya. Siswa yang lain tidak menyangka guru mereka akan membentak dengan keras, apalagi pada seorang Tinita.

Bisa dibilang Tinita adalah salah satu siswa paling bersih di sekolah.

"Ya bu,"

"Saya tidak menyangka kamu bisa-bisanya menyalin tugas milik orang lain. Buat ulang tugas ini! Salin sebanyak lima kali dengan tulisan tangan!"

Tunggu? Menyalin? Itu tidak mungkin!

Bagaimana pun Tinita tidak pernah menerapkan praktek copas di setiap tugasnya. Jadi bagaimana ia bisa dibilang menyalin tugas milik orang lain?

"Tapi bu-"

"Saya tidak terima bantahan! Cepat kerjakan!"

"Baik bu."

Tidak ada yang bisa Tinita lakukan, berdebat dengan Bu Atika tidak aka nada habisnya. Bu Atika juga bukan sekedar guru biasa, dia dapat memeriksa tugas anak didiknya dengan cepat, meski sudah berumur namun daya ingat beliau masih tajam.

Di SMA Dirgantara, bukan hanya siswanya saja yang harus memiliki kemampuan lebih, para gurunya pun juga harus memiliki kualitas mengajar yang tinggi.

Jadi meski sekarang Tinita kesal, ia hanya bisa menelannya bulat-bulat. Beberapa orang di kelas mereka mulai berbisik, sambil sesekali melihat kea rah Tinita.

Hah... masalah kembali mendatangi Tinita.

Tapi kalau memang ada tugasnya yang mirip dengan siswa lain, siapa orang itu? Kalau memang mereka sekelas tidak mungkin hanya Tinita saja yang di panggil tadi.

Apa dari kelas lain?

Tinita menghela napas, tapi tidak mungkin juga ada seseorang yang memiliki tingkat kemiripan pikirannya yang sama dengannya. Tinita juga tidak banyak bergaul dengan anak dari kelas lain, bahkan menyapa saja sangat jarang.

Baiklah, Tinita membuang jauh-jauh rasa kesalnya lebih baik ia memperhatikan Bu Atika yang sedang menjelaskan materi.

***

"Sumpah ya masa tugasmu bisa sama dengan tugas anak lain?" ucap Angle sambil merapikan ikatan rambutanya

"Tenang Angle," ucap Aninda "jangan emosi begitu,"

"Tapi Bu Atika keterlaluan banget, masa langsung main tuduh Tinita, sebel," kata Angle lalu menyelam ke dalam air

Tinita menghela napas, "Sudahlah jangan dibahas."

Mereka bertiga sedang berada di salah satu sisi kolam renang. Materi olahraga kali ini adalah renang. Rei duduk di dekat mereka dengan mengenakan pakaian olahraga, tidak mengenakan pakaian renang seperti teman-temannya, cewek itu sedang datang bulan.

"Tapi nggak mungkin kebetulan, kali aja ada yang sengaja," komentarnya sambil menguap

"Bener yang dibilang Rei! Kali aja ada yang sengaja ngelakuinnya!" ucap Angle menggebu-gebu

Kalau Tinita pikir-pikir ucapan kedua temannya memang masuk akal. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang melakukannya? Dan mengapa?

Ada banyak orang di sekolah ini, Tinita tak bisa main tebak asal.

"Mungkin aja itu ulahnya Ochi kan? Akhir-akhir ini kayaknya dia sirik ama Tinita," ucap Angle setelah mengeluarkan kepalanya dari air.

"Angle, kita tidak boleh menuduh sembarangan tanpa bukti yang jelas," kata Aninda bijak

Yah, mereka memang tidak bisa asal tuduh.

"Sudahlah anggap saja sedang sial," kata Tinita

Meski sebenarnya Tinita sangat ingin menggebrek orang yang memiliki tugas yang serupa dengannya.

Tidak, tidak sekarang.

"Tinita,"

Ketua kelas mereka menghampiri, "Lo dipanggil Pak Anton, habis pelajaran langsung ke kantor,"

Tinita mengangguk menanggapi ucapan ketua kelas yang langsung pergi setelah menyampaikan pesan.

"Lihat ini!"

Pak Anton berteriak marah padanya begitu Tinita menghadap, beberapa guru yang ada di kantor tampak memperhatikan mereka.

Tinita membaca tugas Fisika yang minggu lalu di kumpulkan itu dan milik dari seseorang dari kelas lain. Isinya sama persis dari kata hingga titik komanya.

Bagaimana bisa sama persis?! Batin Tinita berteriak, melihat kertas yang tercetak rapi itu.

"Padahal kamu salah satu siswa teladan disini, saya tidak menyangka kamu bisa melakukan hal semacam ini!"

"Tapi pak! Saya tidak melakukannya!"

"Jangan mengelak! Tugas milik Romeo ini dikumpul dua hari lebih dahulu daripada milikmu!"

Tinita mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang siap meledak kapan saja. Tapi ia tidak bisa marah di dalam ruang guru, reputasinya bisa saja rusak dimata mereka.

Walau sekarang sudah rada rusak sih.

"Kamu kerjakan latihan di halaman 57 tulis tangan dan salin sebanyak 3 kali,"

"Baik pak," ucap Tinita

Begitu ia keluar dari ruang guru, Tinita langsung mengambil langkah lebar menuju ke kelas 11IPA 3.

Romeo ya? Tinita tidak tahu dia orangnya seperti apa, kenal saja sepertinya tidak. Tapi bagaimana tugas mereka bisa sama persis?! Bahkan untuk soal penalaran dan essai tanpa hitungan juga sama persis!

"Permisi, ada orang yang namanya Romeo?" tanya Tinita kepada salah satu cewek dengan rambut sedikit berantakan yang baru saja keluar dari kelas.

"Eh? Romeo?" tanya cewek itu setengah terkejut. Sebelum masuk ke dalam kelasnya dan memanggil Romeo yang tampak sedang berbicara dengan beberapa temannya.

"Lo siapa? Ngapain nyariin gue?" tanya Romeo tak ramah begitu ia menghampiri Tinita yang menunggunya di luar kelas.

"Kamu yang mengerjakan sendiri tugas Fisika yang diberikan Pak Anton? Atau kamu menyontek punyaku?" tanya Tinita tanpa menahan amarahnya

Romeo mengerutkan alisnya, "Ya jelaslah gue yang ngerjain sendiri! Nggak mungkin gue nyontek ke lo, kenal aja nggak!"

"Nggak mungkin! Kalau gitu gimana bisa tugas kita sama?!"

"Ya mana gue tau! Lo jangan asal tuduh gitu!" balas Romeo yang merasa tersinggung

"Pasti ka-"

"Misi, misi, gue mau jemput sapi yang lagi laper,"

Cakra langsung membekap mulut Tinita, sebelum cewek itu menuntaskan ucapannya.

"Ganggu aja!" kesal Romeo sebelum kembali ke dalam kelasnya.

Beberapa siswa yang melihat pertengkaran kecil Tinita dan Romeo langsung bubar. Cakra segera menyeret Tinita menjauh dari area itu sambil tetap membekap mulut Tinita.

"Ck! Apa yang kamu lakukan?!" ucap Tinita begitu bekapan mulutnya dilepaskan

"Gue Cuma mencegah lo ngamuk disana, gue tau kalo lo sekarang lagi dalam masalah, tapi main tembak langsung, nggak gini juga kali."

Tinita mengalihkan pandangannya, ia masih kesal pada Romeo juga Cakra yang mengintervensinya.

Cakra menghela napas, lalu menarik tangan Tinita lagi.

"Daripada kesel terus mending kita pergi ke perpustakaan nyari materi buat tugas tambahan sejarah lo kemarin,"

Mendengar ucapan Cakra, Tinita menghela napas. Benar yang dikatakan cowok itu, daripada marah-marah sekarang. Lebih efektif untuk menyiapkan materi lagi untuk tugasnya yang malah semakin menumpuk. 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top