3-3

Tinita memperhatikan google maps yang terpampang di layar laptopnya, sedikit banyak ia bersyukur karena hidup di jaman yang bisa mengakses informasi dengan cepat dan mudah.

SMA Dirgantara bukan SMA swasta biasa. Siswa yang masuk merupakan siswa dengan prestasi yang tinggi serta mempunyai orang tua yang berdompet tebal. Hampir setengah orang di kelasnya memiliki prestasi di bidang masing-masing.

Semua alumninya memiliki masa depan dan pekerjaan yang layak serta bagus, kebanyakan alumni merupakan orang besar di pemerintahan, pengusaha hebat, atau seorang pesohor.

Meski begitu sekolah ini juga menerima siswa dari jalur beasiswa, dan tentunya seleksinya sangat ketat. Kalau tidak salah ingat, adik kelasnya yang selalu menduduki peringkat pertama merupakan siswa jalur beasiswa.

Fasilitas yang diberikan oleh sekolah juga tidak main-main, seperti beberapa ruang laboratorium ada dua, serta dilengkapi lapangan indoor dan lapangan luar, dua buah aula pertemuan dan aula utama. Kalau saja tidak ada program tour keliling dunia, mungkin Tinita tidak akan pernah melihat dunia luar.

"Haah..."

Tinita menyandarkan punggungnya, setelah mencatat rute yang mereka lewati saat tour nanti. Telinganya masih disumbat oleh headphone yang memutar sebuah lagu yang dinyanyikan oleh seorang DJ radio amatir.

Ia lalu menatap laporan pratikum fisika yang baru saja selesai ia print. Cakra tidak pernah neko-neko lagi soal tugas mereka.

Meskipun terkadang Tinita juga harus meneror Cakra jika bagian miliknya belum lengkap. Dan gara-gara itu juga gossip tentang mereka pun makin tersebar luas.

Baru-baru ini Tinita mendapat pesan kaleng berisi peringatan agar menjauhi Cakra karena mereka menganggap dirinya menganiaya Cakra.

Kalau Tinita menganiaya Cakra, maka nilai tugas mereka yang akan dianiaya.

Tinita merebahkan kepalanya di lipatan tangan, drama hidupnya makin lama makin bertambah sejak mengenal orang-orang absurd itu.

***

"Eh?"

Tinita memperhatikan isi kolong mejanya sekali lagi, namun ia tidak menemukan buku catatan yang ia cari. Baru saja ia keluar untuk membeli minuman kaleng, dan dalam sekejap buku itu hilang.

"Angle, apa kamu melihat buku catatanku?" tanya Tinita

"Buku catatan? Aku nggak tau," jawab Angle

Ia melihat sekeliling kelas, tidak ada banyak orang di dalam.

Perasaan Tinita mulai resah, ia lalu mencari-cari buku itu di tasnya namun buku dengan sampul berwarna hijau itu tidak ia temukan.

"Sial tidak ada," gumam Tinita

Cewek itu mulai menghampiri beberapa siswa yang ada di kelas dan menanyakan apakah mereka melihat keberadaan buku catatannya, namun mereka semua menjawab 'tidak'.

"O-oi! Tinit!" panggil Angle saat melihat Tinita yang tampak gelisah itu

Tinita menoleh padanya, "Angle, kamu benar-benar tidak melihatnya?" tanya Tinita sekali lagi,

Angle menggeleng ini pertama kalinya ia melihat Tinita yang kehilangan sesuatu, "Catatan itu penting banget ya? Emang apa isinya?"

Tinita diam sebentar "Isinya peta dan rute beberapa tempat," jawabnya

"Kalian lagi ngomongin apa?" tanya Aninda

Rei dan Aninda menghampiri, mereka baru saja dari kantin.

"Buku catatanku hilang," jawab Tinita "Warnanya hijau dengan pola daun."

"Buku yang selalu lo bawa itu? hm... mungkin tertinggal di salah satu kelas nggak sih? Kita kan sempet ganti kelas beberapa kali hari ini," komentar Rei

"Bener, kita cari aja bersama, pasti ketemu dengan cepet," usul Angle

Tinita menghela napas, "Baiklah, tolong bantuannya."

Mereka berempat pun berpencar mencari buku catatan milik Tinita. Ia berjalan menuju kantin, mungkin tadi ia membawanya dan menaruhnya di salah satu meja lalu lupa untuk mengambilnya.

Tapi, apa mungkin ada pihak lain? Fans garis keras Cakra mungkin? Tinita menghentikan langkahnya, itu memang mungkin mengingat ia sempat mendapatkan surat kaleng.

Ah, sudahlah! Nanti pasti ketemu!

Namun getaran di sakunya menyita perhatian Tinita.

Bukumu ada di atap, ambil dalam waktu 2 menit atau tidak sama sekali.

Tinita memperhatikan pesan asing itu, dari nomor yang tidak dikenal. Tinita menghela napas sebelum mempercepat langkahnya menuju ke rooftop.

***

Cakra bersiul sambil berjalan, sesekali menyapa beberapa orang dengan senyuman ramah.

Ah... sungguh hidup yang indah, tidak ada terror dari Tinita dan menyapa beberapa cewek cantik. Kalau saja Tinita bisa sedikit lebih jinak, mungkin dia akan terlihat manis dimata Cakra.

Joshua pergi latihan basket persiapan DBL kalau tidak salah.

"Hoi! Cakra!"

Oda tiba-tiba menghampiri saat dirinya melewati perpustakaan, cowok itu terlihat sedikit berantakan-khas orang baru bangun tidur.

"Ada apa?" tanya Cakra, memperhatikan Oda yang tampak mengatur napasnya seperti habis berlari marathon.

Memangnya bisa ya lari-larian di dalam perpustakaan?

"Tinita, lo harus mencari bocah itu," ucap Oda

Satu alis Cakra naik, kalau tidak salah ia memang belum ada menyapa atau menghampiri Tinita seperti biasanya hari ini.

"Memangnya ada apa?" tanya Cakra, bingung dengan tingkah Oda

"Dia bakal mati, kalo lo terlambat, dia bisa mati di bunuh!"

"Ha?? Mati?! Oda lo jangan bercanda!"

Sial, jantung Cakra dag dig dug sekarang, membayangkan kalau Tinita kehilangan nyawanya. Tapi sejak kapan Oda bisa memprediksi kematian seseorang?!

"Gue serius! Aish! Kalo lo nggak mencegah dia ke atap sekarang dia bakal jatuh dan mati!"

Oda mendorong Cakra dengan keras, mau tak mau Cakra berlari menuju ke atap sekolah meski ragu. Tapi ia khawatir juga kalau memang terjadi sesuatu dengan Tinita.

Cakra segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Tinita, namun panggilannya tidak kunjung dijawab oleh cewek berambut pendek itu. Menaiki lantai empat, ia berpapasan dengan Angle.

"Angle! Lo liat Tinita nggak?" tanya Cakra

"Dia lagi nyari buku catatannya yang ilang," jawab Angle, "ada apa emangnya?"

"Ada yang mau ngebunuh Tinita, di atap," ujar Cakra

"Ka-kamu jangan bercanda!"

"Oda yang bilang, terserah mau percaya atau nggak,"

Cakra kembali melanjutkan larinya, Angle yang awalnya ragu langsung mengikuti langkah Cakra. Angle jadi khawatir, apa ini berkaitan dengan buku catatan Tinita yang hilang?

***

Tinita melihat sekitar atap sekolah, tidak ada siapa pun disini. Ia lalu mengambil ponselnya, berniat untuk memanggil orang yang telah mengiriminya pesan, namun ponselnya mati kehabisan daya.

"Kenapa disaat seperti ini," gumam Tinita

Ia berjalan di sekitar rooftop, angin yang berhembus disini lebih keras dan terasa lebih dingin. Berada di tempat ini mengingatkan Tinita akan berita bunuh diri yang sering ia dengar sejak memasuki sekolah ini.

Beberapa sisi pinggir atap dipasangi besi penghalang walau belum semua, sepertinya sekolah sudah mulai bertindak mengenai kejadian itu.

Matanya lalu menangkap buku catatannya yang berada di tepian. Tinita kembali memperhatikan sekitar, tidak ada orang.

Baik lakukan ini segera dan cepat turun.

Ketika Tinita menunduk untuk mengambil buku itu, ia merasakan ada seseorang di belakangnya, dengan cepat Tinita menyamping menghindari tangan yang hendak mendorongnya itu.

Begitu Tinita melihat orang itu, rasa terkejut langsung mengalir di kepalanya, ia menatap tak percaya pada orang itu. 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top