3-1
Sejak Cakra menyatakan bahwa ia akan menjadi rivalnya, cowok itu kadang menghampirinya entah itu di kantin di kelas ataupun di perpustakaan.
"Ah sial, lo udah sampe pelajarin materi integral," kata Cakra di samping Tinita yang sedang membuka buku.
Joshua yang mendengarnya langsung tersedak, "Bukannya itu materi tahun depan?"
"Tinita itu penuh persiapan," ucap Angle bangga dibalik buku komik yang sedang ia baca "bocah-bocah kayak kalian mana tahu,"
Cakra langsung menyentil kening Angle, "Pangeran di hadapan putri ini bukan seorang bocah lho," ucapnya lalu beranjak ke rak yang berada di belakang Angle.
Tinita tidak menanggapi ocehan ketiga orang itu dan tetap membaca buku tentang materi integral yang kini ada di mejanya. Meski sebenarnya agak risih karena mereka sedikit ribut dan malah makan di dalam perpustakaan.
'Lagian nggak ada orang selain kita', itulah pembelaan Joshua saat dirinya dan Cakra datang dengan sebotol milkshake dan sebungkus sate.
Perpustakaan memang sepi, kebanyakan siswa pergi ke lapangan untuk melihat pertarungan antara Oda dan Romeo, entah apa yang melatar belakanginya, menurut kabar yang sempat Angle dengar Romeo sedang berusaha untuk mengalahkan Oda-yang merupakan mantan wakil geng sekolah dan seharusnya naik pangkat menjadi ketua semester ini kalau saja geng itu masih eksis dan tidak bubar.
Para guru juga sedang mengadakan rapat besar bersama dengan sebagian besar staf dan pegawai. Sehingga mereka mendapatkan jadwal bebas sampai jam 11 nanti.
Cakra memakan satenya sambil memilah buku, "Minggu depan berapa target nilai ulangan lo?" tanya Cakra pada Tinita.
"Seratus," jawab Tinita tanpa mengalihkan matanya pada buku yang sedang dibaca.
"Ma-maaf apa kami mengganggu? Boleh kami ikut?"
Mereka menoleh begitu mendengar suara orang lain di dekat mereka. Ada Aninda dan Rei, Aninda membawa dua buah kotak bekal, ia lalu duduk di samping Joshua berseberangan dengan Tinita.
Sedangkan Rei memilih untuk mencari tempat di samping Tinita yang kosong, ia menarik dua buah kursi dan mendekatkannya lalu rebahan disana.
"Pantes banget Oda betah disini, nyaman banget buat tidur," ucap Rei lalu memejamkan matanya.
"Aku bawa kue kering, kalau kalian mau bisa ambil," ucap Aninda dengan suara lembutnya
Joshua dan Angle langsung mengambilnya dengan semangat.
Cakra menarik kursi dan duduk di samping Tinita, cewek itu masih tetap tak bergeming meski tempat mereka bertambah beberapa orang. Sebenarnya ingin sekali Tinita mendepak orang-orang di sekitarnya ini karena membuatnya merasa tidak nyaman.
Dikelilingi oleh banyak orang bukan rutinitas Tinita, kalau saja Angle tidak memohon-mohon padanya serta wajah memelas dari Aninda dan Rei-yang Tinita tak bisa bedakan antara memelas atau menahan kantuk. Untuk ikut belajar bersama, maka pagi ini ia tidak perlu repot-repot berada di tengah-tengah mereka.
Tinita menyodorkan tisu pada Cakra, "Nih, lap bibirmu dan jangan sampai mengotori buku yang kamu bawa," ucap Tinita
Cakra menerimanya, sambil mengucapkan 'thanks' sebelum melanjutkan acara belajarnya yang ditemani sate.
Sedangkan di meja seberangnya, Angle dan Joshua saling berebut kue kering terakhir yang ada di kotak milik Aninda, cewek itu tampaknya tidak dapat meredakan perasaingan antara Angle dan Joshua.
Malahan ia terlihat panik sekaligus bingung.
Tinita memijit keningnya, sial. Seharusnya ia ingat untuk membawa headsetnya hari ini.
Rei mencolek pinggang Tinita membuatnya menoleh pada cewek yang rebahan di kursi dengan sebuah buku yang menutupi wajahnya.
"Nih, kalo lo butuh," ucapnya sambil menyodorkan headset pada Tinita.
Tinita menerima headset tersebut dengan wajah datar, meski sebenarnya dalam hatinya ia merasa lega. Ia lalu measang headset itu pada I-podnya dan mendengarkan lagu sambil belajar, mengabaikan keributan di sekitanya.
***
"Katanya Cakra saingan dengan Tinita lho..."
"Hee??? Masa? Bukannya yang ada Tinita lagi manfaatin Cakra ya?"
"Mungkin aja buat nagih simpati guru-guru?"
Bisikan itu Tinita dengar ketika ia memasuki kantin, namun sepertinya meski orang yang dibisikan berada di dekat mereka, mereka masih saja sibuk dengan gossip.
Hari ini Angle sedang izin untuk mengikuti ajang modelling selama dua hari, terhitung sejak hari ini.
"Hallo Tinita," sapa Aninda ketika mereka bertemu di kantin, Tinita tersenyum sopan pada cewek lemah lembut itu.
Tinita tidak melihat Rei di samping cewek itu, mungkin bocah itu molor di suatu tempat, mungkin kelas? Sedikit menganggetkan melihat Aninda yang tampak berada di kantin tanpa membawa tentengan apapun.
Karena biasanya Aninda memang membawa bekal ke sekolah, yang terkadang banyak.
Tinita mengambil roti dengan ikan tuna, lalu membayarnya. Sedangkan Aninda mengambil sekaleng minuman penyegar serta sebungkus keripik kentang.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aninda pada Tinita yang tampak tenang sambil membaca buku catatannya.
"Aku tidak memperdulikannya, itu membuang-buang waktu," jawab Tinita,
Yah, lagi pula apa yang didapat jika memperdulikan hal semacam itu? Hanya menghabiskan tenaga tanpa hasil yang memuaskan. Lagi pula Tinita masih mempunyai banyak hal yang perlu dikerjakan.
"Kamu berencana pergi jalan-jalan ya?" tanya Aninda melihat catatan Tinita yang lebih mirip buku peta wilayah.
"Tidak, aku hanya menghafal jalan saja," jawab Tinita
"Aku jadi ingat, kita akan ada tour mini setelah UTS nanti," gumam Aninda mengingat-ingat, "apa poling negaranya sudah di tentukan ya? Aku berharap ada pilihan ke skotlandia."
"Hm," gumam Tinita
Ia hanya berharap mereka mendapatkan beberapa ilmu baru bukan sekedar melihat pemandangan atau berjalan-jalan seperti tahun lalu.
Tidak, tahun lalu tour yang paling mengesalkan, Tinita ingat saat kejadian prank pada malam terakhir mereka di Kanada, hampir setengah orang di hotel yang mereka tempati terbangun dengan panik.
Prank werewolf itu bahkan hampir membuat polisi turun tangan, sekolah harus meminta maaf dan Tinita tidak bisa tidur karena teman sekamarnya mulai bercerita dan bergosip ria setelah kejadian itu.
Ketika mereka memasuki kelas, Rei mengangkat tangannya dengan wajah yang masih mengantuk, meja milik Rei dan Tinita disatukan "An, keripikku," tagihnya pada Aninda
"Cuci muka dulu," ucap Aninda sambil memberikan pesanan Rei.
"Percuma aku akan tetap mengantuk," sahut Rei membuka keripik kentang
Tinita melirik ke arah buku yang telah di buka di atas mejanya, terdapat coretan spidol merah.
"Tolong jelaskan, gue nggak ngerti bagian itu." kata Rei
Tinita mengangguk dan duduk di kursinya, beberapa hari belakangan ini Rei memang meminta bantuannya untuk menjelaskan beberpa poin pelajaran yang tidak cewek itu mengerti. Menjelaskan pada Rei lebih mudah daripada Angle dulu, setidaknya Tinita tidak pernah naik darah ketika mengajari Rei.
"Gue baru konek, jadi perjanjian saragosa itu antara spanyol dan portugis, hm...."
"Ya," sahut Tinita
"Thanks Tin," ucap Rei lalu menguap, "lo mau keripik kentang?" tawar Rei
Tinita menggeleng, ia memperlihatkan roti isi tunanya.
"Sepi banget nggak ada Angle, lo nggak kangen?" tanya Rei
"Tidak," jawab Tinita singkat sambil membuka pembungkus rotinya,
"Rei kamu sudah mendengar soal tour nanti?" tanya Aninda
"Hm..." Rei menopang dagunya, "Kalau nggak salah sekarang semua pilihannya ada di eropa gitu yang gue denger dari OSIS," jawab Rei
Mereka pun melanjutkan obrolan mengenai tour yang nanti akan dilaksanakan kurang dari sebulan nanti. Tinita lebih banyak diam dan mendengarkan, sesekali ia memberikan komentar singkat.
Sepertinya walau Angle tidak ada disini, sekeliling Tinita akan tetap sedikit ramai.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top