2-3
Jika begini terus, kepala Tinita bisa meledak.
Sambil berjalan di lorong, Tinita mencari-cari keberadaan Cakra, biasanya cowok itu akan terlihat bersama dengan sekelompok kecil cewek-fansnya. Tinita mengabaikan tatapan tidak suka beberapa orang yang mengarah padanya dan tetap fokus mencari bocah satu itu.
Cakra selalu mangkir dari tugasnya, begitulah yang terjadi dengan berbagai macam alasan. Tinita tidak menyangka dia harus sekelompok dengan orang menyebalkan seperti Cakra.
Bahkan pengumpulan bagian cowok itu selalu terlambat dari tengat waktu, membuat Tinita harus meluangkan waktu yang ekstra lebih untuk tugas kelompok mereka.
"Joshua, kamu melihat Cakra?"
Joshua yang baru memasukkan bakso ke dalam mulutnya tersedak karena Tinita menghampirinya dan tanpa basa-basi menanyakan perihal Cakra.
"Uhuk! Seingat gue sih tadi dia ada di lapangan basket main sama anak-anak," jawab Joshua
"Dia nggak ada di lapangan," sahut Tinita cepat, "aku baru saja dari sana. Apa Cakra ada kegiatan klub akhir-akhir ini?"
"Eng... kayaknya sih enggak," jawab Joshua, sedikit takut dengan tatapan tajam Tinita
Tinita melihat sekeliling, "Kamu tahu dia kabur kemana?"
"gak-nggak tahu!" jawab Joshua cepat
"Ya sudah," sahut Tinita lalu pergi berlalu.
BRAK!
Rasanya baru saja Joshua ingin menghela napas, Tinita tampak menendang sebuah kotak besar di sudut kantin. Mengaggetkan hampir separuh siswa yang sedang menikmati makan siang mereka.
Dalam hati, Joshua berharap kalau kali ini Cakra selamat.
Dari kejauhan Joshua melihat Cakra yang keluar sambil menggosok kepala belakangnya, sedangkan Tinita tampak memarahinya lalu menyeret Cakra keluar dari kantin.
"Astaga dia bar-bar banget," gumam Joshua
"Hei permisi, Joshua kamu lihat Tinita nggak?"
Joshua menengok lagi meski sedikit rada kesal karena makannya harus terinterupsi lagi, "Baru aja pergi sambil nyeret Cakra."
"Yah..." gumam Angle lalu duduk di samping Joshua, "tontonannya udah lewat," ucapnya kecewa
"Lo telat, tadi lebih heboh dari biasanya," ucap Joshua lalu meneguk isi teh botolnya
***
Cakra melambaikan tangannya saat beberapa cewek memandangnya yang sedang diceret oleh Tinita. Sumpah sebenarnya ini memalukan, tapi Cakra memilih untuk diam saja ia tidak ingin membuat para penonton melihat dua singa yang mengamuk.
Nanti image menyenangkannya hilang lagi.
Tinita berhenti menyeretnya begitu mereka sampai di lantai empat, tidak ada banyak siswa yang berlalu lalang juga.
"Cakra, sebenarnya kamu punya masalah apa denganku?" tanya Tinita to the point.
"Masalah? Enggak," sahut Cakra
Tinita menghela napas, "Gara-gara kamu aku harus kerja lembur untuk tiap tugas kelompok kita," jelas Tinita
"Gue kan udah ngasih sebelum waktu pengumpulan, mananya yang salah?"
"Kamu bisa tidak mengirimnya tidak mepet dengan waktu pengumpulannya?" tanya Tinita setengah kesal, "dan lagi tolong kerjakan bagianmu dengan baik, ada beberapa materi yang bolong dan soal yang belum berisi jawaban yang lengkap."
"Ya manusia kan enggak sempurna jadi wajar donk kalau pekerjaan gue enggak sempurna," sahut Cakra lagi.
Entah kenapa Tinita menjadi mendidih mendengarnya.
Well... ia tak pernah sekelompok dengan orang seperti Cakra, menganggap semuanya mudah seperti angin lalu, mengerjakan sesuatu dengan asal-asalan.
Tinita mengambil napas panjang sebelum berkata.
"Ini juga mempengaruhi nilaiku juga, bagaimana pun ini tugas kelompok jadi nilainya tergantung kamu dan aku."
"Lo ambisius banget," komentar Cakra, "isi otak lo cuma peringkat aja ya?"
"Ya," sahut Tinita singkat,
Ada alasan kenapa ia harus mendapatkan peringkat yang tinggi setiap tahun, prestasi dan nilai di sekolah juga membantu dalam meniti karir di masa depan nanti. Meski banyak orang yang berkata bahwa nilai (teori) itu tidak terlalu penting dibanding dengan cara menghadapi situasi di lapangan (praktek), namun Tinita rasa keduanya perlu karena apa yang dia pelajari sekarang bisa diterapkan nanti, bukan sekedar nilai.
Dan masih ada banyak alasan lain.
Cakra memandang aneh Tinita, "Gue kaget lo beneran ngaku," ucap Cakra
"Terserah," sahut Tinita, "untuk tugas Sejarah sudah selesai mengumpulkan materinya?"
"Nanti gue kirim, lagian kan lo bilang kumpulnya nanti sore ke email lo,"
Tinita memincingkan matanya, "Ya, dan kalau kamu masih ingat juga, aku memintamu untuk mengirim perhitungan fisika tadi malam dan kamu belum mengirimnya."
"Nanti gue kirim seka-"
"Aku minta yang Fisika sekarang, atau jangan bilang kamu belum membuatnya?"
"Oke-oke gue akan membuatnya sekarang puas?"
Tunggu, jadi Cakra belum membuatnya?!
"Buat sekarang! Sekalian juga sama yang Sejarah!" perintah Tinita mutlak.
***
Cakra menghela napas sambil menulis double folio yang sudah berisi jawaban dari tugas Fisika, Tinita duduk di depan bangkunya, kursi yang seharusnya diduduki oleh Joshua.
Cowok itu melirik ke arah luar kelas, beberapa cewek yang ingin masuk-dengan membawa kotak bekal tampak mengurungkan niat mereka begitu menyadari Tinita yang sedang mengawasi Cakra.
Kalau saja Cakra sedang tidak ingat kalau Tinita itu cewek dan mereka sedang ada di sekolah, Cakra akan melempar cewek itu jauh-jauh.
"Nih, gue udah selesai." jawab Cakra sambil menyerahkan double folio itu kepada Tinita.
"Yang sejarah juga sekalian," ucap Tinita begitu menerima bagian Cakra.
Cakra menyenggol catatan Tinita sehingga catatan itu jatuh. Tinita menunduk untuk mengambilnya dan di saat itulah...
Cakra kabur.
Cowok itu setengah berlari kabur dari Tinita yang meneriaki namanya, sial kayaknya rumor soal Tinita yang kejam terutama dalam kerja kelompok dan sejenisnya benar adanya. Cakra mulai ingat sekarang, kalau tidak salah Tinita juga pernah jadi tutor Angle, Cakra pernah melihat mereka belajar di kantin.
Kalau tidak salah wajahnya Angle juga tampak depresi saat itu.
Setelah merasa aman Cakra mulai berjalan santai, beberapa siswa tampak menatapnya dengan kagum, ada juga yang menyapanya secara terang-terangan.
Jadi siswa populer itu tidak mudah.
Langkah Cakra lalu berhenti di kantin, di sana Joshua tampak telah selesai menghabiskan baksonya, di hadapan Joshua terdapat seorang cewek yang sedang memainkan ponsel sambil memakan roti mangga.
"Oh, lo masih hidup aja, kirain udah mati, lo ilangnya lama," komentar Joshua begitu menyadari Cakra yang bergabung di meja mereka.
"Syukur gue masih selamat," sahut Cakra, "sial, seharusya gue protes keras ke Pak Samuel waktu itu."
"Yang lalu biarlah berlalu," ucap Joshua
"Lagi pula, apa yang dilakukan nona cantik ini hm?"
Angle menoleh begitu Cakra tampak berbicara padanya, "Apa?" tanya Angle balik,
Joshua tampak menahan tawanya "Pesona lo kayaknya udah makin turun drastis deh."
Cakra yang mendengar itu lalu membuang wajah. Merasa harga dirinya sebagai 'pria tertampan' di sekolah tercoreng di depan sahabat dan 'gadis tercantik' di sekolah.
"Akhir-akhir ini lo deket sama Tinita," ucap Joshua pada Angle, sebagai salah satu orang yang juga sekelas dengan Angle saat di semester kedua kelas 10. Joshua tahu bahwa Angle jarang dekat dengan seseorang.
"Tentu saja karena kami teman," sahut Angle lagi
"Lo kuat berteman ama robot galak kayak dia?" tanya Cakra
"Hm? Tinita memang mudah marah, tapi dia baik!" jawab Angle
***
Tinita tidak menerornya lagi setelah ia kabur, cewek itu tampak seperti biasanya diam dan berkutat dengan buku atau tugas di kelas hingga bel pulang berbunyi.
Cakra jadi merasa agak lega, setidaknya dia bisa pergi jalan-jalan dengan beberapa cewek kali ini tanpa gangguan Tinita.
Bruk
Cakra menabrak seseorang karena ia terlalu fokus untuk membaca beberapa chat dari penggemarnya.
"Sorry, apa kam- Tinita?"
"Maaf," ucap Tinita singkat sambil memunguti bukunya
Kali ini Cakra memperhatikan Tinita yang sedang tidak dalam mode galak. Lingkaran berwarna hitam tampak samar di kedua matanya, beberapa anak rambutnya basah, mungkin ia habis cuci muka?
Tinita tampaknya belum ada tanda-tanda pulang, cewek itu bahkan tidak membawa tasnya.
"Oh ya, Cakra untuk tugas komputernya sekalian juga sore ini, biar lebih cepat gabunginnya."
Cakra diam sejenak, "Gimana kalau gue yang gabungin tugas komputernya?"
"Ya?" sahut Tinita agak bingung, karena biasanya Cakra menolak bagian 'menggabungkan' tugas cowok itu selalu mengeluh. "Kamu beneran mau gabungin?" tanya Tinita memastikan.
"Ya, tenang aja gue bisa nyelesain dengan cepat,"
Tinita diam sejenak, tumben sekali Cakra berinisiatif untuk tugas kelompok mereka?
"Aku akan mengirim filenya sejam lagi, ingat untuk membawa tugasnya besok."
"Oke, tuan putri," ucap Cakra sambil mencium tangan Tinita yang bebas tak membawa buku.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top