4. Martabak Manis
Nungguin ya?
***
Hari ini Arfan terlihat sangat sibuk di kantor. Setelah mengantarkan Kia ke sekolahnya, dia langsung menuju kantor. Nadia sudah mengingatkannya dari jauh-jauh hari jika akan ada rapat penting yang harus ia hadiri hari ini. Saat jam istirahat seperti ini pun, Arfan memilih untuk makan siang di ruangannya. Dia harus menyelesaikan semuanya agar tidak membawa pekerjaan ke rumah, karena bagi Arfan rumah adalah tempatnya untuk lepas dari semua hal tentang pekerjaan.
Suara dering telepon membuyarkan fokus Arfan. Dia meraih ponselnya dan melihat nama ibunya yang tengah menghubunginya sekarang. Tanpa menunggu, Arfan langsung mengangkat panggilan itu dan bersandar pada kursinya.
"Halo, Buk?" sapa Arfan.
"Nak, halo. Denger suara ibuk nggak?" ucap suara di seberang sana.
"Denger kok, Buk. Ada apa telepon?"
"Nggak, ibuk cuma mau tanya kabar kamu, Fan."
Arfan tersenyum, "Kabar aku baik. Ibuk sama Bapak gimana?"
Ibu Arfan tersenyum di seberang sana, "Ibuk baik, keadaan bapak juga udah mendingan, Fan. Tadi pagi juga ikut senam di lapangan."
"Syukurlah."
Cukup lama keheningan terjadi sampai akhirnya Ibu Arfan kembali berbicara, "Gimana keadaan kamu, Fan?"
"Udah dijawab tadi, Buk. Baik."
"Kamu tau kalau bukan itu maksud ibuk."
Arfan tersenyum kecut dan memainkan dasinya, "Baik-baik aja kok, Buk. Beneran."
"Gimana sama Nak Kia?"
Arfan menghela napas kasar, "Kia juga baik, cuma agak bandel aja."
Tanpa diasangka Ibu Arfan tertawa, "Kan Kia masih muda, masih remaja, masih seneng-senengnya itu."
"Tapi dia badung banget, Buk."
"Kamu yang sabar ya, pasti lama-lama juga bakal terbiasa. Kamu udah janji sama Pak Surya buat jagain Kia jangan buat Pak Surya kecewa."
Arfan mengangguk paham, "Aku ngerti, Buk. Pelan-pelan aku juga ajarain Kia nanti."
"Kapan kamu pulang? Ajak Kia main-main ke sini. Suka main ke sawah nggak?" tanya Ibunya.
Arfan lagi-lagi hanya bisa tersenyum kecut. Kia dan sawah adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Kia adalah gadis kota yang menyukai hal-hal yang berbau modern. Arfan yakin jika gadis itu tidak akan betah jika berada di desa.
"Kia lebih milih ke club kayanya dari pada ke sawah," jawab Arfan.
"Ihh, kan belum cukup umur. Kamu ingetin dia."
"Iya, Buk. Ya udah aku mau kerja lagi. Ibuk sama Bapak sehat-sehat ya, nanti kalau ada libur panjang aku pulang."
"Iya, Nak. Kamu sehat-sehar ya di sana. Jagain Kia, jangan galak-galak. Kasian Kia."
"Iya, Buk. Aku matiin ya dulu ya. Assalamualaikum."
Arfan memang bukan asli Jakarta. Dia hanya orang rantau yang datang ke Jakarta setelah lulus kuliah. Dia asli Surakarta dan orang tuanya masih tinggal di sana hingga saat ini. Kehidupan yang sederhana tapi cukup membuat Arfan nekat merantau ke Jakarta untuk mendapatkan peruntungan yang lebih besar. Meskipun memiliki beberapa petak sawah dan kebun, Arfan tetap harus bertanggung jawab untuk hidup kedua orang tuanya yang pasti akan menua. Sebagai anak tunggal, hanya dirinya yang bisa mengubah nasib orang tuanya. Tidak selamanya Arfan akan membiarkan orang tuanya bekerja di sawah, apalagi dengan penyakit jantung ayahnya.
Arfan kembali meraih map-map di hadapannya dan mencoba untuk fokus. Dia menghela napas sebentar sambil memijat pangkal hidungnya pelan. Saat masih membaca, tiba-tiba matanya tertuju pada satu foto yang ada di atas meja. Terdapat foto Pak Surya dan Kia di sana. Sejak menggantikan posisi Pak Surya sebagai pemimpin perusaaan, Arfan memang menempati ruangan beliau. Dia tidak merubah apapun yang ada di ruangan itu, termasuk foto-foto keluarganya.
Mata Arfan tertuju pada foto berukuran cukup besar di belakangnya. Tepat di belakang mejanya, ada foto Pak Surya beserta istrinya dan Kia yang masih sangat kecil. Mungkin gadis itu masih duduk di bangku sekolah dasar saat itu. Arfan memang hanya mengetahui istri Pak Surya dari foto, karena sejak pertama kali bekerja di sini, Pak Surya sudah berstatus duda dengan satu anak. Kesetiaan Pak Surya yang membuat Arfan kagum. Uang tidak membutakan segalanya, bahkan hidup Pak Surya hanya untuk membahagiakan anaknya, Kia.
***
Masih berada di ruang kerjanya, Arfan melirik ponsel dan jam dinding beberapa kali. Dia menggaruk keningnya sebentar dan kembali menatap ponselnya. Nadia yang berada di depannya mulai bingung.
"Kenapa, Pak?" tanya Nadia bingung, karena fokus bosnya tampak tidak penuh saat ini.
"Saya harus jemput Kia di sekolah," ucap Arfan pelan.
"Tapi ini belum selesai, Pak. Kalau Pak Arfan mau, ini bisa diselesain nanti." Nadia memberi saran.
Arfan menghela napas lelah dan mulai meraih ponselnya. Dia malas jika membawa pekerjaan ke rumah. Lebih baik dia lembur dan pulang setelahnya lalu istirahat dengan tenang sampai pagi kembali datang.
"Saya minta supir kantor untuk jemput Kia aja."
"Biar saya yang telpon, Pak." Nadia berlalu pergi untuk menghubungi supir kantor.
Arfan bergumam dan mulai mengetikkan pesan untuk Kia.
"Kia, sekarang saya nggak bisa jemput. Saya udah minta Pak Anwar buat jemput kamu di sekolah. Kamu tunggu aja."
Nadia kembali masuk bertepatan dengan Arfan yang sudah mengirim pesan pada Kia. Lima menit lagi jam sekolah gadis itu akan berakhir. Arfan mulai kembali lega dan fokus pada pekerjaannya dibantu dengan Nadia, sekretaris Pak Surya yang sekarang sudah menjadi sekretarisnya.
"Makasih ya, Nad." Arfan menatap Nadia yang kembali duduk.
"Sama-sama, Pak." Nadia mengangguk dan tersenyum.
***
Kia keluar dari kelas dengan dahi yang berkerut. Dia berjaan pelan sambil membaca pesan Arfan yang baru saja ia buka. Perlahan senyum manis mulai muncul di bibirnya. Dia berteriak dan menggerakkan tubuhnya senang.
"Lo kenapa, Ki?" tanya Vita bingung.
"Mas Arfan nggak jemput gue," ucapnya senang.
"Bisa jalan dong kita? Nongki yuk?" ajak Vita semangat.
"Skuy lah." Gio datang dan merangkul bahu Vita dan Kia.
"Ke mana? Gue nggak punya duit. Lagian Mas Arfan udah minta Pak Anwar buat jemput." Kia berucap sedih.
"Dih, kayak nggak punya temen aja lo. Ada duit gue, santai aja yang penting kita happy dulu sebelum UN," ucap Vita.
"Tapi kan-"
"Yaelah, Ki. Kita nongkrongnya cuma beli kopi, tapi duduknya setengah hari, sambil main wifi."
"Terus Pak Anwar gimana?" tanya Kia bingung.
"Belum dateng kan? Kita berangkat dulu aja. Gue kabarin yang lain." Gio dengan cepat berlalu ke tempat parkir untuk mencegah teman-temannya untuk pulang. Kapan lagi mereka sekelas bisa kumpul bersama seperti ini?
"Tapi nanti jangan malem-malem ya pulangnya, ngeri gue sama Mas Arfan," ucap Kia.
"Iya, gue juga nggak boleh pulang malem. Aman lah pokoknya." Vita kembali menarik Kia ke tempat parkir, mengabaikan Pak Anwar yang bisa saja sudah berangkat untuk menjemputnya.
Sebelum itu Kia juga sudah mengirim pesan pada Arfan. Dia berkata jika akan pulang dengan temannya agar Pak Anwar tidak perlu menjemputnya. Tidak ada balasan dari Arfan dan itu membua Kia yakin jika pria itu mengizinkannya. Setidaknya jalan-jalannya kali ini tidak meninggalkan beban pikiran. Beruntung Kia memiliki teman-teman yang loyal dan mengerti akan kondisinya.
***
Tepat pukul tujuh malam, motor Gio berhenti tepat di depan rumah Arfan. Kia turun dan bergumam terima kasih.
"Makasih ya, Yo. Besok duit lo gue ganti," ucap Kia sambil mengangkat martabak manis yang ia bawa. Dia sengaja membeli itu untuk Arfan, sebagai bentuk pereda amarah jika pria itu marah nanti.
"Yaelah, masih bahas itu aja. Santai aja kali."
"Oke, hati-hati ya." Kia melambaikan tangannya.
"Gue duluan kalo gitu, ya." Gio menyalakan motornya dan berlalu pergi.
Kia mengambil kunci pagar dan berusaha membukanya. Saat sudah masuk, langkah kakinya terhenti saat melihat Arfan tengah berdiri di teras sambil membawa secangkir kopi. Pria itu hanya menatapnya lekat dan tidak ada senyum sama sekali. Kia menelan ludahnya gugup dan mulai menutup pagar rapat. Dengan pelan dia berjalan menghampiri Arfan, entah kenapa dia mulai merasakan aura yang mencengkam.
"Mas Arfan," sapa Kia.
"Dari mana?" tanya Arfan begitu singkat. Pria itu masih berdiri dengan bersandar di pilar rumah.
"Habis main," jawab Kia menunduk.
"Kenapa nggak bilang?"
"Kan aku udah bilang pulang sama temen." Kia menatap Arfan kesal.
"Tapi kamu nggak bilang kalau mau main."
Kia berdecak. Baginya tidak ada yang perlu dipermasalahkan tentang inu tapi kenapa Arfan selalu punya cela untuk memulai pertengkaran di antara mereka?
"Ya udah sih. Kan aku nggak pulang malem juga."
"Pulang sama siapa kamu tadi?" tanya Arfan saat melihat Kia mulai melepas sepatunya.
"Sama Gio," jawab Kia singkat. Dia sudah kesal dengan Arfan.
"Pacar kamu?"
Kia mendongak dan menatap Arfan kesal. Dia berjalan mendekat dan memberikan bungkusan martabak manis yang ia bawa. Arfan menatap itu bingung.
"Apa itu?"
"Martabak manis," jawab Kia tak acuh.
"Saya nggak suka manis."
Mata Kia membulat mendengar itu. Dia maju selangkah dan menatap Arfan tajam, "Ya udah, nanti makannya sambil liat kaca biar ada pait-paitnya!"
Setelah itu Kia berlalu pergi masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Arfan yang menatap martabak manis di tangannya dengan bingung. Perlahan senyum tipis menghiasi wajahnya. Dia menggeleng pelan dan mengikuti langkah Kia untuk masuk ke dalam rumah.
***
TBC
Hari ini Kia aman, nggak tau kalo besok..
Ini jawaban Kia dalem hati pas Arfan tanya siapa Gio.
Follow ig viallynn.story
Jangan lupa vote dan commentnya ya 😘
Viallynn
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top