3
Mohon direfresh dulu sebelum membaca! krn ini republish dengan penambahan bagian... :)
Kania berjalan riang menuju kamar salah satu apartemen mewah yang berada di daerah tebet, begitu sampai pada satu pintu dengan nomor kamar DC 14/12. Kania dengan cepat menempelkan kartu yang berfungsi sebagai kunci untuk pintu, Kania mulai terkikik geli membayangkan betapa terkejutnya Alby melihat kehadirannya di sini. Beruntung Tante Eliza—Mama Alby, berinisiatif memberikan kartu lain kepada Kania sehari setelah keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan.
Begitu pintu apartemen terbuka, suara gemericik air dari kamar mandi segera menyambut Kania. Memberitahu kalau sang pemilik apartemen ini tengah mandi, Kania berjalan masuk, menutup pintu apartemen perlahan. Kania menilai apartemen itu untuk pertama kalinya, semua didesain dengan gaya maskulin, mulai dari sofa, cat ruangan, hingga atribut dapur. Perpaduan warna putih dan hitam. Dan dari semua itu, apartemen Alby sangat rapi. Bahkan Kania tidak yakin, apa kamarnya serapi apartemen Alby ini.
Mata Kania terpaku pada deretan foto yang terpajang di buffet telivisi, banyak menampilkan foto Alby saat berpergian ke luar negeri. Namun ada satu foto yang benar-benar menyita perhatian Kania, foto yang tergantung di atas televisi.
"Ganteng banget sih kamu," bisik Kania seraya menatap foto itu.
Suara gemericik air berhenti, tak berapa lama terdengar suara decitan pintu terbuka. Kania cepat-cepat menoleh, bersiap untuk menyambut Alby. Tapi niat Kania menguap saat melihat keadaan Alby, alih-alih membuat Alby terkejut, Kania justru merasakan pipinya memanas.
"Kamu? Ngapain pagi-pagi ke sini? Kok bisa masuk ke sini, seingat aku..." Alby tidak melanjutkan pertanyaannya karena dia sudah menemukan jawabannya di tangan Kania.
Alby melangkah menuju ke dapur, mengeringkan rambut hitamnya dengan handuk kecil tanpa peduli Kania masih berdiri dengan wajah menggelikan. Terkadang Alby tidak habis pikir Kania terjun dalam dunia modeling, karena Kania tergolong polos dalam urusan pria dan kawan-kawannya.
"Kamu nggak pernah lihat kondisi pria sehabis mandi?" tanya Alby. "Atau pria dengan setengah naked saat photoshoot?"
Kania menoleh ke arah Alby dengan gerakan kaku lalu menggedikan kedua bahunya. Menyadari kalau Alby masih dengan penampilan setengah telanjang, buru-buru Kania memindahkan pandangannya ke segela arah.
"By, pake baju dulu gih. Kamu nggak kedinginan apa? Berkeliaran di ruangan ber-AC sehabis mandi," tanya Kania tanpa memindahkan tubuhnya sejengkal pun dari posisi awal.
Alby meneguk air mineral dengan cepat, tersenyum miring, sekaligu menggeleng geli.
"Kamu nekat datang ke apartemen seorang pria, seharusnya kamu menyiapkan hati untuk melihat penampilan setengah telanjang seperti ini." Alby meletakkan gelas secara asal di meja dapur. "Tunggu di sini, aku pakai baju dulu." Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar Alby kembali menatap Kania, "Kamu harus terbiasa melihatku seperti ini, karena aku lebih suka bertelanjang dada saat ada di rumah.'
Dalam hitungan detik terdengar suara blam cukup keras, menandakan jika Alby telah masuk ke dalam kamarnya.
Kania menghela napas lega, sebenarnya dia cukup senang bisa melihat kondisi Alby seperti tadi. Tidak ada kemeja ataupun jas membalut tubuh kekar pria itu, tidak ada rambut hitam dengan tata rambut klimis. Alby terlihat lebih santai dari biasanya, lebih macho, lebih menggoda. Sejak pertama kali dikenalkan untuk gagasan perjodohan ini, Kania merasa belum pernah melihat Alby berpakaian santai dengan kaos dan celana pendek atau keadaan yang mempertontonkan keindahan otot-otot Alby secara langsung.
Ah, perjodohan. Kata orang hubungan perjodohan itu memuakkan, tapi Kania tidak merasakan itu. Hubungannya dengan Alby sempurna, sudah satu tahun dan hubungannya dengan Alby semakin baik, mereka tidak pernah bertengkar, Alby sering mengirimkan buket bunga, dan yang lebih membahagiakan. Alby tidak pernah terlibat dengan wanita genit mana pun, bisa dikatakan Alby itu setia.
Kania menghempaskan tubuhnya pada sofa panjang yang ada di ruang tamu, tangannya berusaha mengambil remote untuk menyalakan telivisi di atas meja depan sofa. Remote sudah di tangan, namun perhatian Kania tidak lagi tertuju pada telivisi tapi pada amplop cokelat dengan sebuah foto wanita yang terlihat nyaris keluar dari amplop.
Kania menoleh ke arah kamar Alby, sebenarnya ini bukan sesuatu yang baik untuk dilakukan tapi Kania terlanjur penasaran. Setelah memastikan Alby belum keluar kamar, dengan tergesa-gesa Kania meraih amplop cokelat itu.
Cukup lama Kania terdiam, memperhatikan setiap informasi yang ada di amplop cokelat itu. Seketika Kania merasa begitu marah, terlalu marah hingga tanpa dia sadari amplop cokelat beserta isinya sudah tidak berbentuk dalam genggaman Kania.
"Hari ini kamu mau ngajak pergi ke mana? Aku nggak bisa sampai malam, ada kerjaan." Suara Alby terdengar dari arah belakang, "Jangan ngajak nonton, aku lagi..." Alby terdiam, tidak ada raut wajah panik layaknya seorang Pria kedapatan menyimpan rahasia besar. Alby cukup tenang, bahkan tanpa merasa sungkan Alby duduk di samping Kania. "Apa kamu tahu, tidak baik mencampuri urusan orang lain? Termasuk urusan calon tunangan kamu."
Kania memberanikan diri untuk membalas tatapan Alby, rasa marah semakin menguasai diri Kania.
"Kamu ternyata sama saja, By."
Alby berusaha tetap tersenyum, dia mencoba meraih lengan Kania. Namun ditepis secara kasar oleh Kania.
Kania melemparkan amplop cokelat itu di lantai, dia berdiri, Kania mendadak jengah melihat senyum Alby. Padahal beberapa detik lalu senyum Alby masih menjadi senyum favoritnya.
"Kamu keterlaluan Alby Bagaskara! Apa yang kamu harapkan dari aku? Aku pikir kamu beda sama yang lain, aku pikir kamu tulus bersama dengan aku."
"Kania, duduk dulu. Tenang, aku bisa—"
Kania mengangkat satu tangannya di depan wajah Alby.
"Kamu sudah kaya Alby! Kamu nggak butuh waktu untuk menimbun kekayaan!" Kania menatap nyalang ke arah Alby, " Kamu mau saham aku? Fine! Kamu butuh berapa?! Sebutkan Alby! Lebih baik kamu mengatakan terus terang daripada bertingkah mejijikan seperti ini!"
Alby menaikkan satu alisnya, memandang Kania dengan pandangan yang sulit untuk dipahami. Dia menunduk untuk persekian detik, lalu ikut berdiri di hadapan Kania.
"Kamu marah? Oh, ayolah, Kania. Dari awal hubungan kita ini semacam pekerjaan membangun jembatan untuk menghubungkan area 1 dengan area 2, kamu tahu kan maksud aku?"
Bibir Kania bergetar pelan, dia sudah menyusun kata caci maki untuk Alby. Cukup panjang, cukup menohok. Namun sialnya, yang dikatakan Alby sebuah kebenaran yang tidak mungkin Kania abaikan. Mereka berdua hanya sebuah jembatan yang dibangun oleh dua kerajaan bisnis agar semakin luas dan kokoh.
Alby membungkuk sedikit, lalu mengambil amplop yang dibuang oleh Kania, "Aku harap, kamu tetap menjadi wanita manis." Alby menatap lekat-lekat pada Kania. "Jangan sampai ada yang tahu, tetap berperilaku seperti yang kita perankan biasanya."
"Peran?" Kania tidak percaya kata-kata tajam akan keluar dari Alby, pria yang dia sangka tulus memperlakukannya dengan baik selama ini.
"Iya." Alby tersenyum, melemparkan amplop cokelat kembali ke atas meja. "Apa kamu tidak sadar jika selama ini aku hanya berusaha mendalami peran sebagai kekasih bahagia? Ah.." Alby membuka lebar kedua matanya, seakan menunjukkan keterkejutan. "Aku pikir kamu sudah tahu. Seharusnya kamu sudah paham, Nia. Hubungan atas dasar perjodohan nggak mungkin ada rasa yang terlibat di dalamnya, kalaupun ada rasa yang terlibat itu bukan rasa cinta atau sayang tapi lebih mengarah ke toleransi. Terutama perjodohan seperti kita, kita ini hasil perjodohan bisnis. Hanya ada simbiosis mutualisme, lagi pula kamu itu jauh dari wanita..." Kania berdiri, kupingnya terlalu panas mendengar setiap kalimat dari Alby.
Kania tidak menangis, Kania cukup paham. Jika dia menangis, tidak ada lagi harga diri yang tersisa.
Dengan kekuatan penuh, Kania menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Membentuk sebuah senyum untuk menutupi rasa sakit dalam hatinya.
"Tenang saja Alby Bagaskara, aku pandai berakting. Bisa dibilang dari dulu keahlianku adalah akting," ucap Kania seraya tertawa kecil. "Seharusnya aku menjadi aktris bukan kepala editor sebuah majalah, tapi boleh aku jujur. Aku kasihan dengan kamu, hanya mampu menyimpan rasa sedalam ini untuk wanita yang baru menyandang status sebagai istri dari Mas-mu."
****
Alby membuka pintu apartemennya dengan kasar, melemparkan jas navy yang tadi dia pakai ke atas sofa secara asal. Alby marah, sangat marah. Bisa-bisanya wanita itu memasukkan dia ke dalam situasi sekacau malam ini, bahkan tanpa dosa wanita itu pergi entah keluar hotel begitu saja.
Alby menghempaskan dirinya di atas sofa, tepat di samping jasnya.
Tangannya mulai sibuk memainkan iPhone, mencoba untuk menghubungi si pembawa masalah.
Satu kali, tersambung namun berakhir dengan suara operator.
Dua kali, tersambung lagi namun kembali berakhir dengan suara operator.
Ketiga kali, masih tersambung. Namun berakhir seperti dua panggilan sembelumnya.
Keempat kali, hanya operator yang menjawab. Memberitahu jika nomor Kania sudah di luar jangkuan alias mati.
"Shit!! Kamu harus memperbaiki ini, Kania!" geram Alby.
Alby mengganti tujuan teleponnya, tidak seperti menghubungi Kania. Kali ini orang dia hubungi mengangkat panggilan teleponnya, ada nada khawatir terdengar di seberang sana tapi diabaikan oleh Alby.
"Redam semua pemberitaan untuk besok, saya tidak peduli kita harus mengeluarkan biaya yang besar untuk membungkam setiap wartawan yang hadir. Yang saya mau, tidak ada satupun majalah, koran atau acara telivis yang memberitakan kekacauan pembukaan hotel hari ini. Kamu paham? Kalau saya menemukan satu saja berita lolos ke masyarakat, kamu harus siap kehilangan pekerjaan. Paham, Putra?!"
Tidak mau menunggu kesanggupan Putra, Alby mematikan sambungan telpon dan melemparkan iPhone ke samping tubuhnya.
Alby membuka simpul dasi dari lehernya, membuka empat kancing teratas dari kemejanya hingga bulu-bulu halus yang menghiasi bagian dadanya terlihat begitu saja. Napas Alby berderu dengan hebat, membuktikan jika emosi masih setia bersemayam dalam dirinya. Alby mulai membayangkan akan begitu banyak pertanyaan muncul dari pihak keluarganya, bukan hanya keluarganya tapi keluarga Kania juga. Alby tidak mampu membayangkan reaksi marah Pak Ryan jika beliau tahu, bagaimana cara dia memperlakukkan Kania selama enam bulan ini. Dulu saja melihat Pak Ryan marah kepada Abe karena menyakiti Kian sudah membuat Alby merinding ngeri, bagaimana jika dia harus mengalaminya sendiri.
Alby mengacak-acak rambut hitamnya, fustrasi.
"Gila kamu, Kania. Kenapa kamu harus membuat masalah serumit ini?" Alby mencengkram erat-erat sisi rambutnya dengan kedua tangan. Kepanikan semakin menyelimuti Alby, terutama saat dia mulai membayangkan Pak Ryan menarik semua bantuan atas hotelnya. "Nggak... Nggak... Arggghhh!!! Kania, seharusnya kamu nggak perlu membuat semua ini menjadi seribet ini! Sial! Kenapa kamu selalu mengambil kesimpulan dan keputusan seorang diri?!"
Jangan harapkan Alby akan memikirkan keadaan Kania atau apapun itu yang seharusnya dipikirkan seorang kekasih pada umumnya, karena sejak awal. Alby tidak pernah menganggap Kania sebagai seorang kekasih, bagi Alby. Kania hanya kunci agar bisnisnya berjalan lancar tanpa bayang-bayang sang kakak, Ardiaz Bagaskara.
Please aku udah mulai lelah dgn jwb pertanyaan yg udh aku jwb... :( help me... mengerti ini aku sedang berusaha menyelesaikan ALby, seperti aku menyelesaikan para bagaskara yang lain... Aku ingin memberikan yang baik untuk kalian... :)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top