CHAPTER 2
Pukul 9 pagi, saya dibangunkan oleh keributan di ruang tamu. Suara orang sedang mengobrol. Saya kenal suara kakek. Namun, saya tidak kenal suara yang lainnya. Dari cara mereka bicara, sepertinya serius sekali.
Saya bangun, membuka pintu, mendapati ruang tamu yang ramai. Ada sedikitnya enam tamu di sana. Saya tidak menghitung yang menunggu di luar. Mereka sedang duduk di kursi masing-masing dengan kakek saya sebagai pusat. Beberapa dari mereka sempat mengangguk untuk menyapa saya. Sisanya masih serius mendengarkan kakek bicara.
Sedikit yang saya tangkap dari diskusi itu adalah, rencana pembangunan sebuah jembatan, dan sesuatu yang berhubungan dengan tukang pijat. Entah apa maksudnya. Merasa tidak penting, Saya melangkah pergi ke kamar mandi yang ada di dapur.
"Hadi, kamu ndak salat subuh?" tanya nenek.
"Salat, nek, tapi tidur lagi," jawab saya sambil menguap.
"Makanya jangan begadang. Niatmu ke sini mau liburan, kan? Sia-sia kalau waktumu habis buat tidur," omel nenek, sebisa mungkin dengan suara pelan agar tamu-tamu yang sedang heboh itu tidak mendengar.
"Hujannya berisik, nek. Petirnya bikin kaget. Mana semalam ada pengemis yang datang minta-minta," saya beralasan.
Seketika nenek menghentikan aktifitas bersih-bersihnya. Pemukul kasur yang dgenggamnya itu berhenti di udara, dan tak sempat menggebuk. Nenek saya menoleh dengan dahi mengkerut. Bukan kerutan karena tua, tapi kerutan heran.
"Pengemis?"
"Hooh. Laki-laki, gondrong, bajunya compang-camping, terus-"
"-terus kamu kasih?" tanya nenek. Kali ini air mukanya berubah masam.
"Seribu doang. Kembalian karcis bus kemarin lusa."
Setiap jawaban yang saya berikan, membuat wajah nenek seolah makin ketakutan. Takut itu menular. Sekarang saya juga jadi ketakutan.
"Kenapa, sih, nek?"
"Hadi, selama tiga hari di sini, sudah berapa kali pengemis itu datang?" tanya nenek sambil menarik saya ke dapur.
"Baru semalam."
"Apa dia bilang sesuatu? Tanya sesuatu?"
"Nggak, nek, saya juga nggak ngomong apa-apa, soalnya kesal. Kasihan, sih, kasihan, tapi minta-minta ke rumah orang tengah malam begitu benar-benar nggak sopan."
Ya, pengemis semalam adalah kombinasi keanehan dan ketidak sopanan yang tidak pernah saya temui sebelumnya. Hanya saja, bukankah reaksi nenek saya sedikit berlebihan?
"Memang mereka siapa, sih, nek?" tanya saya.
Nenek saya urung menjawab karena mendengar rapat di ruang tamu sudah bubar. Kakek saya menutup pintu dan menyusul kami ke dapur.
"Jembatannya mau diperbaiki mulai besok. Hari ini saya mau ke sungai untuk lihat-lihat," ucap kakek. "Kamu jadi mancing?" tanyanya pada saya.
"Hari ini batal, kek. Mungkin besok."
Sebelumnya, kakek sempat cerita tentang sebuah jembatan tua yang menghubungkan desa kami dengan sebuah bukit kecil di seberang sungai. Jembatan itu putus sejak seminggu yang lalu, sebelum saya datang berlibur ke desa ini.
"Kamu kenapa, Hadi?" tanya kakek, seolah memergoki suasana hati saya yang sedang gamang.
Namun, melihat nenek yang berusaha menyembunyikan percakapan kami barusan, saya pun memilih tidak menjawab. Setidaknya tidak dengan jawaban yang jujur.
"Kesiangan, kek. Susah tidur gara-gara hujan."
"Ya, sudah, nanti malam kamu tidur di kamar kakek saja, biar kakek di depan saja, sama nenek," Kakek menaik-turunkan alisnya pada nenek. Nenek membalas dengan memukul pantat kakek pakai penggebuk kasur.
Setelah itu, kakek pergi ke meja makan untuk sarapan. Dengan gelagat seolah menyimpan rahasia besar, nenek member saya peringatan.
"Kalau nanti malam mereka datang lagi, jangan kamu kasih. Jangan buka pintu."
"Ke-kenapa, nek?" tanya saya pelan, mengimbangi bisikan nenek.
"Karena sekali diberi, pengemis itu akan datang terus setiap malam ke rumah orang yang memberinya uang."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top