PEEK A BOO
Chapter 2
Sang Pencari 1
Discalimer
Masashi Kishimoto
Story By
Lavendark
[Hinata Hyuuga, Sasuke Uchiha]
Genre
Romance, Drama, Slice of Life
.
.
.
.
.
Enjoy Reading!
.
.
.
.
.
--- Sang Pencari (1) ---
.
.
Segala hal yang terjadi di dunia ini, selalu memiliki alasan. Kalimat itulah yang selalu Sasuke percayai. Segalanya seimbang dalam dunia ini, namun sayangnya sifat yang sudah beranak pinak dalam diri manusia tidaklah mau mengerti. Mereka hanya memandang kulitnya saja.
Jika setiap pemuda di tanyakan siapa laki-laki jepang yang paling membuat mereka iri saat ini, maka mereka akan menjawab dengan jawaban yang sama.
Uchiha Sasuke.
Bangsat! Satu kata yang selalu Sasuke berikan kepada manusia-manusia yang memuja dan iri padanya. Sasuke benci saat setiap orang dengan terang-terang mengatakan iri padanya. Oh sialan... mereka selalu berkata bahwa hidup Uchiha Sasuke adalah sempurna.
Dan beruntung.
Tentu saja, Sasuke tidaklah menjadi Sasuke yang sekarang jika kedua orang tuanya tidaklah tampan dan cantik, tidaklah kaya, dan tidaklah jenius. Kenyataannya kelurganya sangat sempurna. Ibunya yang sangat cantik, ayahnya yang bahkan masih tampan dengan usia tua, dan kakaknya yang juga tak kalah tampannya. Entah harus dikatakan beruntung atau tidak, Sasuke menjadi laki-laki paling tampan di keluarganya.
Pepatah selalu bilang, jika kedua anaknya perempuan, maka anak kedualah yang paling cantik. Namun, jika kedua anaknya laki-laki, maka anak pertamalah yang paling tampan.
Oh, itu hanya mitos belaka. Nyatanya, Sasuke dan Itachi, tidak seperti itu. Sasuke lebih tampan dari sang kakak. Semua orang mengakuinya.
Kembali lagi keawal. Semua orang hanya senang melihat kulitnya saja. Menjadi sempurna. Satu kata yang selalu menjadi impian setiap orang.
Sasuke sempurna. Kaya, pintar, sexy, dan tampan. Namun, setiap orang harus selalu ingat, dibalik hal yang sempurna, selalu terselip suatu usaha keras. Apapun itu. hidup dikeluarga sempurna, mewajibkan Sasuke untuk menjadi sempurna juga. Kehidupannya dibatasi dan pergerakannya diawasi. Itu bukan berarti Sasuke di kekang. Tidak sama sekali. Orang tuanya selalu membebasi dia dengan apa yang akan dia lakukan. Namun satu hal yang selalu diingatkan orang tuanya padanya adalah 'jangan pernah membuat skandal dan menghancurkan kehormatan keluarga'
Itu bukanlah bualan semata, sang paman ditendang dari Uchiha karena scandal yang dibuatnya. Menghamili seorang model. Pamannya mencintai sang model, dan Sasuke pikir, dengan diusirnya sang paman dari Uchiha, membuat dia bisa bebas dan bahagia Bersama sang pacar.
Oh lupakan, kenyataannya sang paman memilih bunuh diri beberapa hari setelah di tendang keluarganya. Bukan keluarganya yang menjadi alasanya. Tapi si model jalanglah yang membuatnya demikian.
Diusir dari Uchiha, otomatis menjadi miskin dan gelandangan. Sang model tak bisa terima kenyataan itu,.... Memilih untuk menggugurkan bayinya dan pergi meninggalkan pamanya yang malang.
Cinta selalu memiliki alasan.
Fisik atau harta? Dua hal yang paling difavoritkan atas nama cinta.
Dan karenanya, sasuke memilih menjauh dari cinta.
Sasuke tentu lebih memilih kesempurnaan yang dimilikinya sekarang, dibanding harus memilih hal tabu yang disebut cinta. Cinta itu adalah hal yang mengawang... kebenarannya tak ada yang tau, karena cinta hanya bisa terucap dari mulut saja.
Hidup di keluarga sempurna, tidak selalu enak. Karena mereka selalu memaksamu menjadi sempurna. Ibu ayahnya tidak pernah menyuruhnya untuk juara dikelas, ataupun berprestasi lainnya. Mereka benar-benar orang tua yang baik yang membebaskannya dalam bertingkah. Tapi tidak dengan masyarakat, mulut mereka layaknya pedang... menilai segalanya hanya dari mata mereka. Karena itu, keadaanlah yang memaksa Sasuke untuk menjadi sempurna.
Pola makan harus selalu disiplin, semua kelurganya memiliki badan bagus dan ideal, apa kata orang jika dirinya gendut?... meski memiliki kecerdasan, seorang Uchiha tetaplah harus belajar untuk menjadi yang terbaik. Sasuke benci belajar, tapi kalau tidak belajar... maka Sasuke akan menjadi orang terbodoh di Uchiha dalam sejarah. Sasuke tidak mau itu. bahkan kesehatan pun seperti itu. Sasuke harus rutin berolahraga dan mengkonsumsi buah-buahan, tentunya Sasuke tidak mau menjadi Uchiha yang pertama dalam masalah penyakitan.
Lihat? Hidup di keluarga sempurna juga tidak serta merta menyenangkan. Semuanya harus seimbang. Usaha dan hasil. Ini sama seperti hukum fisika. Gaya berbanding lurus dengan tekanan. Semakin besar gaya hidup maka semakin besar tekanan hidup. Sasuke menghindari suatu kesombongan... namun, mata-mata masyarakat jelatah lah yang memandang hidup mewahnya sebagai kesombongan. Sialan! Apa mereka tidak pernah tau jika Uchiha rutin menyumbang ke panti asuhan dan Lembaga-lembaga sejenisnya?
Cinta.
Sasuke tidak pernah tau, apa itu cinta. Ah Sasuke tau itu secara teori... hanya saja, dalam merasakannya Sasuke tidak pernah tau. Kedua orang tuanya dipertemukan dalam acara perjodohan. Alasan klasik. Untungnya meraka memang saling mencintai, bahkan sebelum dijodohkan. Ah betapa beruntungnya itu..... Semua orang tau, Hidup elit tak lepas dari jodoh yang di paksakan. Tapi tidak dengannya atau sang kakak. Sebenarnya mereka dibebaskan untuk memilih dan mencintai wanita di luar sana.
Tapi tetap saja... wanita-wanita yang dipersunting oleh lelaki Uchiha, adalah perempuan-perempuan yang hebat dan terbukti kesempurnaannya. Tidak, orang tuanya tidak menginginkan hal itu padanya dan sang kakak. Untunglah orangtua nya tidak berfikiran kolot terhadap itu. terserah anaknya mau menikah dengan siapa, asal mereka bahagia dan tidak membuat scandal dalam norma social (Seperti selingkuh atau hamil diluar nikah) orang tuanya tidak lah mempermasalahkan itu. tapi sekali lagi, kondisi lah yang memaksa Sasuke untuk mencari yang sempurna. Dia tidak mau dicap sebagai Uchiha pertama yang memiliki istri dibawah rata-rata.
Meski Mikoto membebaskan putranya untuk memilih kekasih, namun tetap... semua memiliki tenggak waktunya. Seperti sang kakak yang menjadi bujang lapuk, mau tidak mau harus menerima menantu pilihan sang kaasan. Uchiha Izumi. Yang sekarang menjadi kakak iparnya.
Karena kejadian sang paman, membuat Sasuke tidak bergairah dengan sebutan cinta. Wanita benar-benar menakutkan dan memuakan. Mereka terlalu gila layaknya jalang. Sasuke sudah sering dijebak. Seperti di beri obat perangsang dalam minumannya atau jalang yang terang-terangan menunjukan tubuhnya. Dalam tiga bulan, setidaknya Sasuke bisa mendapatkan itu selama dua kali. Oh tentunya para jalang itu tidaklah berhasil menikmati tubuhnya. Sasuke lebih memilih kabur ke mobilnya dan menuntaskan hasratnya dengan tangannya sendiri. Ingat! Sasuke dipaksa untuk jauh dari skandal. Sasuke masih waras untuk menjaga kesempurnaan keluarganya. Sasuke tidak menyalahkan para perempuan yang menjebaknya diluar sana... Sasuke tentu memakluminya, dengan kondisinya..... Sasuke yakin, setiap perempuan akan rela bertelanjang dan mengangkang di depannya hanya untuk menikmati kesempurnaan yang dimilikinya.
Namun Sasuke tak mau mendapat skandal. Kesempurnaannya akan terus dipertahankan... menjauh dari hal yang disebut cinta dan wanita.
"Kau belum memiliki kekasihkan? Kaasan ingin mengenalkan anak teman kaasan padamu" suara lembut itu layaknya petir yang menghantam otaknya. Sasuke lupa tenggat waktunya. Dia sudah berumur 26 tahun. Oh... brengsek! Sasuke terlalu nyaman dengan status sendiriannya dan lebih menikmati bekerja dan bermain dengan sahabatnya.
Sasuke mendesah, dan Mikoto mendelik "kau jangan mengelak lagi! Ingat perjanjiannya kan?" Sasuke berdecak lalu pergi dari sana. Terlihat tidak sopan, tapi Sasuke tidak peduli.... Satu hal yang mengerikan, Perkenalan yang direncanakan oleh sang kaasan, akan selalu bermuara ke pernikahan. Sasuke, belum mau menikah. Dia akan menikah ketika dia sudah bosan bekerja dan bermain.
Membanting pintu kamarnya dengan kasar, dan mulai merebahkan dirinya. Tau begini Sasuke jadi menyesal menginap di mansion utama. Cih.... Ngomong-ngomong masalah menyesal.....Sasuke jadi teringat oleh perempuan yang pernah menyatakan perasaan padanya secara gamblang beberapa minggu yang lalu. Siapa namanya? Shiziku? Shizuki? Shazuki? Ah Sasuke tidak peduli. Meski begitu, Sasuke jadi menyesal menolaknya. Seharusnya Sasuke terima saja dan memanfaatkannya. Sasuke yakin, jika dia punya pacar... maka mulut sang kaasan akan terbungkam dengan apiknya.
.
.
.
...
.
.
.
Mood tadi malam tidak bersisa di pagi ini. Aura negative sudah hilang dalam tubuhnya. Hanya karena pesan email dari seorang perempuan yang tidak dia ketahui sebelumnya.
Ino Yamanaka. Perempuan yang mengaku sebagai desainer dan sangat mendamba padanya.
Jika ada yang bisa di manfaatkan, kenapa harus dilewatkan? Pikir Sasuke saat itu.
Dan pagi itu, Sasuke mendeklarasikan hubungannya dengan Ino pada keluarganya saat sarapan. Mikoto terima-terima saja. dan fugaku sama sekali tidak peduli.
Yamanaka Ino.
Cantik, seksi, smart dan kaya. Tidak ada cacat, tapi itu tak membuatnya jatuh cinta. Bahkan sampai saat ini, saat hubungannya sudah mencapai dua setengah tahun. Sasuke masih enjoy bermain dengan temannya dan sibuk dalam pekerjaannya. Menjadikan Ino tameng dalam perjodohan ibunya. Bayarannya? Sasuke hanya perlu meluangkan waktu diakhir pekan untuk berjalan-jalan dengan Ino. Bukanlah hal yang sulit menurutnya.
Tidak ada wanita yang mau bersama tanpa suatu ikatan yang nyata. Begitu juga dengan Yamanakan Ino, belakang terakhir Ino selalu mengkodenya untuk maju ke jenjang yang lebih serius lagi. Menikah? Sialan.... Sasuke saja belum pernah mencumbu Ino. Bukan karena Ino yang tak mau, Sasuke yakin Ino akan meneteskan air liurnya saat Sasuke meminta izin untuk berciuman. Masalahnya adalah di Sasuke, dia tidak mau mencium bibir sang jelita itu. entahlah... dia selalu mual jika harus membayangkannya.
Mungkinkah dia tidak menyukai perempuan dan membelok? Pikiran itu ditepisnya saat merasa biasa saja pada teman prianya.
.
.
.
...
.
.
.
"oh ayolah Sasuke.... kau harus merasakan bagaimana rasanya daging menjepit dan memijat juniormu... itu sangat nikmat!" perkataan Naruto yang membuat Sasuke tak nyaman. Sasuke dan Naruto itu berbeda. Sasuke harus jauh dari skandal, sedangkan Naruto? Oh... di cap playboy dan pemain wanita saja keluarganya masih memakluminya. Jika itu Sasuke, sudah pasti dia menjadi gelandang saat ini "padahal kau lebih tampan dariku, kau bisa memilih daging kualitas baik dengan wajahmu itu!"
"pulanglah Naruto... kau menggangguku" Sasuke mengusirnya secara terang-terangan. Jelas saja... hampir setiap hari Naruto datang kekantornya. Mengganggunya bekerja.
"tidak bisa.... Aku sudah terlanjur memesan bunga dengan alamat kantormu"
"kau memesan bunga? Untuk salah satu pacarmu?" Sasuke bertanya dengan nada yang malas. Berharap Naruto agar benar-benar pulang.
"Untukmu" tangan kekar itu berhenti membolak-balikan dokumen. Tatapannya kini diberikan pada pemuda kuning. Untuknya? Mungkinkah......
"kau menyukaiku?" dengan wajah innocennya, Sasuke menatap Naruto. Kali ini gantian Naruto yang merinding.
"jangan gila! Itu untuk apartemenmu... kulihat kemarin bunga di vasmu sudah layu" Sasuke mengeryit. Sejak kapan Naruto peduli dengan hal itu? memang sih, biasanya ibunya selalu datang ke apartemennya untuk sekedar mengganti bunga-bunga yang dipajang di meja makan dan ruang tamu. Kaasannya memang penggila bunga. Dan akhir-akhir ini sang kaasan tidak datang ke apartemennya karena sibuk mengurus izumi yang sedang sakit, meninggalkan bunga layu di apartemennya.
"sejak kapan kau peduli dengan hal-hal yang berbau fenimisme?"
"anggap saja sabagai bentuk balas budiku karena sering menginap di tempatmu. Aku tidak membayar listrik dan air, karena kau sudah punya uang yang banyak.... Jadi kupikir, menggantikan bunga layumu lah hal yang paling bagus" alasan yang menurut Sasuke masih tidak masuk akal. Sejatinya, itu hanya akal-akalan Naruto agar bisa bermain di tempat Sasuke lebih lama. Naruto sangat tau Sasuke akan mengusirnya, makanya dia mencari alasan yang bagus untuk bertahan.
"kau sudah gila dobe" Naruto hanya tersenyum lebar dan menunjukan gigi putihnya, terlihat bodoh dimata Sasuke. "lalu kapan bunganya akan sampai?"
"ugh... entahlah. Aku baru dapat kabar, jika pengatar bunganya sedang bermasalah karena sepedanya menabrak mobil orang" Sasuke mengernyit. Pengantar bunga dengan sepeda? Masih ada ya yang seperti itu di zaman ini? Bukankah dengan motor atau mobil akan lebih praktis dan cepat?
"ck! Terserah"
.
.
.
...
.
.
.
Hal yang paling dibenci Sasuke adalah tempat kumuh dan berisi orang orang rendahan. Sasuke tau, terkadang mereka akan bersusah payah dalam mendapatkan segalanya, secara legal maupun illegal. Sasuke pernah datang ketempat yang kurang berkelas, dan dia berakhir dengan melepas hasratnya di mobil. Sialan... ada yang menaruh obat perangsang di minumannya.
Tapi sekarang Sasuke tidak terlalu menghawatirkan itu. semenjak Ino menjadi pacarnya, tidak ada yang berani mencoba mendekatinya. Sekali dayung dua pulau terlewati. Terbebas dari sang kaasan dan juga dari jalang-jalang diluar sana.
Ino sangatlah berguna.
Sasuke tersenyum tipis memandang Ino di depannya. "tumben kau mengajakku ke tempat seperti ini" Bar Casseno, begitulah Sasuke membacanya. Biasanya Ino akan mengajaknya makan di tempat yang berkelas. "Ada apa, Ino?" Sasuke bertanya, dan Ino hanya tersenyum ragu.
"Sasuke-kun... mungkin aku sudah sering mengatakan ini, tapi... bukankah lebih baik kita meresmikan hubungan kita?" pertanyaan yang membuat dahi Sasuke mengeryit tidak suka. Sasuke tau, obrolan ini akan berakhir kemana. "eum... jika kau belum siap dengan pernikahan, mungkin lamaran bisa menjadi solusi yang baik"
Sasuke diam, perlukah? Tidak! Sasuke tidak mau mengambil resiko, salah-salah... nanti itu akan menjadi boomerang untuknya. "Sudah kubilang, aku belum siap untuk tahap itu" Sasuke mengatakannya dibarengi dengan pelayan yang menaruh minuman. Sasuke tidak terlalu peduli dengan pelayan itu, dia lebih tertarik memandangi wajah Ino, menebak-nebak apakah ia bisa berkelit setelah ini.
"kau selalu mengatakan itu, Sasuke-kun" diam-diam Sasuke mendecih dalam hati. "orang tuaku sudah menanyakan itu, dan lagi... mereka mengancam akan menjodohkanku dengan pelukis kenalannya jika kau tidak mau menikahiku" Sasuke tidak peduli dengan siapa Ino akan menikah nantinya. Tidak hanya orang tua Ino, pun dengan orang tua Sasuke yang menanyakan kapan mereka akan lebih serius lagi. Apalagi sang tousan juga sudah mulai ikut penasaran. Yah, memang umur Sasuke sudah hampir 29 tahun. Sudah saatnya dia serius dalam berhubungan.
Persentan dengan hubungan! sasuke masih menikmati pekerjaannya.
"maaf Ino, aku tdak bisa" singkat tanpa basa-basi, bahkan wajahnya seperti tak menampakan rasa bersalah sama sekali.
Penipu.
"aku bertanya-tanya... apakah kau mencintaiku?" Sasuke diam, namun mengangguk kaku... lehernya sulit diajak kerja sama untuk berbohong "aku tidak yakin itu.... bahkan aku merasa kau tidak peduli jika aku harus di jodohkan dengan orang lain" tepat sekali. Batin Sasuke.
Sasuke melihat Ino mulai menangis, Sasuke benci melihat itu, meskipun dia tidak peduli sama sekali. Sedikit mengalihkan perhatiannya, Sasuke meminum minumannya. "Aku Lelah" sambung Ino, membuat Sasuke sudah yakin arah pembicaraan ini. "kita akhiri hubungan kita saja. aku mau kita putus" Holy shit! Sasuke kehilangan tameng yang bagus. Tapi tak apa.... Sasuke yakin, dia bisa mendapatkan tameng lainnya. Pasti setelah kabar putusnya dia dengan Ino, akan banyak perempuan yang menyatakan cinta padanya.
Ino berdiri, dan meninggalkannya seorang diri. Yah setidaknya Ino berguna hampir dalam 3 tahun terakhir ini.
.
.
.
...
.
.
.
Sasuke merasakan tubuhnya tidak beres setelah beberapa menit sang mantan pacar pergi. Brengsek! Sasuke tau sensasi ini. Dia harus segera pergi ke mobil. Lagi dan lagi... kenapa tempat rendahan sangat rawan dengan hal hal seperti ini sih? Sasuke hampir saja berdiri saat dia mendengar suara mengintrusi pergerakannya.
"Tu-tuan?" suara yang entah mengapa membuat Sasuke tambah bergairah. Ada apa ini? Sensasinya berbeda dengan biasanya. "mari saya bantu anda ke mobil" suaranya sangat lembut. Jalang sialan. Sasuke hampir saja menolak, namun terhenti saat kulit kasarnya bergesekan dengan kulit halus sang jalang, matanya sedikit mengintip. Perempuan dengan rambut pirang dan kulit seputih susu. Obatnya mulai bereaksi, Sasuke sama sekali tidak bisa fokus untuk memandang wajah yang Sasuke yakini sebagai jalang yang menjebaknya.
Shit! Sesuai dugaannya, jalang ini tidak membawanya ke mobil seperti apa yang ditawarkannya. Sasuke yakin, dia akan dibawa ke hotel atau bahkan apartemen jalang ini. Apa yang mau dilakukan jalang ini? Mengambil spermanya dan hamil? Setelah itu meminta pertanggung jawaban agar bisa dinikahkan dan menguasai harta Uchiha? Huh yang benar saja!
Doubleshit!
Sasuke hampir bisa mengendalikan dirinya dan mendorong jalang itu. tolong garis bawahi. Hampir. Sasuke hampir melakukannya, namun tak jadi ketika dia bisa dengan jelas mencium aroma yang entah kenapa membuatnya semakin mabuk akan gairah. Apakah jalang ini sengaja menggunakan parfum perangsang? Karena Sasuke berkali-kali lipat jadi terangsang. Tapi Sasuke tidak yakin. Apakah ada parfum perangsang dengan aroma bunga?
Sasuke tidak bisa menahannya kali ini. Menyerah, Sasuke membiarkan jalang licik ini membawanya ke ranjang. Sasuke akan menghabisinya malam ini. Dan meneguk sebuah kenikmatan. Tak masalah! Ini bukan salahnya, besok setelah terbangun, Sasuke akan mengancam gadis ini... bahkan jika perlu membunuhnya untuk tetap aman dalam skandalnya.
Saat ini, ada adik kecil yang perlu di manja dan di pijat. Persetan dengan reputasi, jalang pirang ini sukses dan berhasi menggunakan obat perangsangnya.
Masalah keluarga bisa dibicarakan nanti.
Jalan yang nakal. Dia berusaha lari dari Sasuke. kenapa? Bukankah ini maunya? Mungkinkah dia menyesal? Cih biar saja.....
Dengan setengah sadar, Sasuke menindih sang jalang yang menangis memohon minta dilepas. Sasuke tidak peduli. Sasuke memajukan wajahnya, dan saat berhasil menyium ceruk leher si jalang licik. Kewarasan Sasuke benar-benar menghilang.
.
.
.
...
.
.
.
Mata onyx itu terbuka. Hal yang pertama berada di dalam otaknya adalah. Ini bukanlah kamarnya. Mendudukan dirinya dan meregangkan otot-ototnya. Entah kenapa dia merasa sangat pegal. Ketika berhasil duduk, Sasuke merasakan pusing kepala. Dan mendapati dirinya yang telanjang. Biasanya Sasuke memang tidur dengan bertelanjang dada, namun masih tetap mengenakan celana. Tapi sekarang... dia benar-benar seperti bayi yang baru lahir. Tanpa busana sedikitpun.
Apa yang terjadi?
Mata onyx itu melihat ke lantai, dimana semua pakaiannya berantakan tak beraturan.
mungkinkah?
Sasuke berusaha mengingat.
Tapi nihil.... Dia tak mengingat apapun.
Baru saja dia akan berdiri, namun gerakannya terhenti saat melihat hal yang janggal. Darah di seprai. Sasuke bukanlah remaja tanggung dan polos. Dia tau kemana ini berarah.
Making love.
Tapi darah itu?
Apa dia baru saja bercinta dengan gadis perawan?
Mungkinkah?
Saat berusaha mengamati seluruh ruangan, pandanganya terhenti di satu objek. Onyxnya berkilat marah. Sasuke memang tidak mengingat apa yang terjadi semalam, tapi Sasuke yakin... obat perangsanglah yang di terimanya. Lalu...dia tidur dengan siapa? Jalang. Jalang perawan. Sasuke yakin itu... apalagi saat melihat objek berupa cermin.
Disana terdapat tulisan, tulisan yang membuat Sasuke yakin,
Sasuke dijebak. Entah apa rencanya, namun kemungkinan rencananya adalah meminta pertanggung jawaban Sasuke nanti.
Sasuke harus segera mengingatnya, dan menyingkirkan gadis lancang itu.
Namun lagi lagi, Sasuke tidak mengingat apapun.
Mata onyx itu masih menatap cermin dengan serentet tulisan.
Tulisan yang di tulis dengan lipstick merah menyala.
'Terimakasih malam panasnya, kau luar biasa, kau layak disebut sebagai singa ranjang'
.
.
.
TBC
Note :
(Present)
Sasuke (28 tahun)
Hinata (24 tahun)
Naruto (28 tahun)
Ino (27 tahun)
Mikoto (55 tahun)
Fugaku (58 tahun)
Itachi (32 tahun)
Izumi (29 tahun)
Signature,
Lavendark (24 Januari 2019)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top