2 : Hujan
Genre : Romance.

Bulir bulir hujan yang turun begitu deras menemaniku sedari tadi.
Aku mengeratkan selimut yang menutupi tubuh.
Dingin...
Sorot mataku tak henti-hentinya menatap ke arah luar jendela. Hujan masih saja tak berhenti, malah semakin deras.
Hujan, banyak orang yang tak menginginkan kehadirannya bahkan mengumpatnya karena bagi mereka, mengganggu aktivitas.
Namun banyak pula yang menyukainya, bahkan ada yang bilang kalau hujan membawa cinta. Entahlah, aku tak mengerti di mana turunnya "cinta" itu.
Aku termasuk diantara orang-orang yang tak menyukai hujan.
Kenapa?
Yah...karena hujan itu memang kadang mengganggu.
Misalnya saja jika hujan di malam minggu, pasti yang punya rencana buat jalan-jalan bersama pasangan atau keluarga menjadi terhalang.
Lagipula hujan itu membawa rasa dingin, maksudku dingin untuk fisik. Oke, dari tadi aku terus membicarakan sisi tak baiknya, sekarang kita masuk di sisi baik hujan.
Tau apa?
Kalau hujan turun apalagi turun dengan deras seperti sekarang, maka tidur kita akan nyenyak dan nyaman. Well, bicara tidur, itu adalah hobiku.
Aku merasa aneh,
wanita-wanita di sekitarku, maksudku temanku sering mengatakan hujan membawa cinta.
Aneh sekali!
Darimana cintanya? Apa mereka pikir dikala hujan menurunkan seorang pangeran?
Haha, tidak lucu.
Namun meskipun aku tak menyukai hujan, tapi kita tetap tak boleh mengumpat atau membencinya 'kan?
Hujan itu anugerah dari Tuhan, membawa berkah. Maka dari itu kita tak boleh membencinya.
Hujan juga selalu setia, selalu setia turun, meskipun manusia-manusia menghindari serta membencinya jika ia datang.
Dia tetap setia turun untuk menyejukkan kita, memberi kita air untuk minum, dan untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan agar tak mati.
Banyak sekali bukan, manfaat hujan untuk kehidupan kita?
drrtt drrrrtt
Lamunanku buyar saat mendengar getaran handphone yang berada di atas meja sebelahku.
Aku mengernyit sebelum akhirnya menggeser tombol hijau pada benda pipih itu, "Halo." Sapaku mengangkat telepon tersebut yang nomernya tak dikenal.
"Hei. Apa kabar?"
"Siapa ini?"
"Apa kau lupa dengan suaraku, heh?"
"Siapa ini? Cepat katakan. Aku tak tau."
Aku mendesaknya karena penasaran.
"Aku Doni. Teman SMAmu." jeda sejenak, "Apa kau ingat aku, Shella Riana? Aku dapat nomermu dari Denis, teman dekatmu. Oh ya, aku cuma ingin memberitahu sesuatu."
"
Astaga! Ternyata kau! Aku baik-baik saja kok. Ada apa memangnya?"
Balasku antusias.
Doni adalah teman SMA-ku yang sudah lama tak ada kabar, dan sekarang rasanya senang sekali menerima telpon darinya tiba-tiba seperti ini.
P
erlu kalian ketahui, Doni adalah cowok yang kusuka dari dulu. Tapi setelah lulus dan tak ada kabar, entah kenapa perasaan itu mulai memudar dengan sendirinya.
Kini, dia menghubungiku lagi setelah sekian lama.
Hal itu membuat hatiku menghangat.
"Tapi jangan terkejut ya."
Aku memutar bola mata bosan. Bertele-tele sekali!
"Cepatlah!"
"Aku di depan rumahmu sekarang, keluarlah. Kau tau? Disini dingin sekali dan kau tega sekali membuatku menunggu dibukakan pintu sambil kehujanan."
"Apa? Bagaimana bisa---"
"Cepatlah!"
Langsung saja kumatikan telepon dan beranjak menuju pintu luar.
Cklek!
Kini dihadapanku berdiri seorang pria yang wajahnya tak asing lagi bagiku, namun memang banyak yang berubah. Pria itu sedang dalam kondisi bersandar di mobil sambil memegangi payung agar terhindar dari hujan yang kini sudah turun tidak terlalu lebat.
Langsung saja aku menghambur memeluknya hingga payung yang dipegang Doni terlepas jatuh.
"Kau kemana saja, dasar bodoh!" Ucapku seraya makin mengeratkan pelukanku.
Kudengar ia berdecak kesal.
"Apa kau tak merasa kehujanan? Lihatlah, payungnya jatuh karenamu. Kita kehujanan nih."
"Ah maaf, ayo masuk."
Aku langsung melepaskan pelukanku padanya kemudian meraih payung yang tergeletak akibat ulahku.
***
"Kau tidak berubah," kata Doni seraya mengelap rambutnya yang sedikit basah dengan handuk.
Kini kami sudah berada di dalam ruang tamu. Sedang duduk di sofa sembari meminum coklat panas yang kubuat.
"Kau juga." balasku singkat sambil membantunya mengelap rambut.
"Aku ke sini untuk memberi sesuatu. Maaf membuatmu terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba ini. Aku tau alamatmu dari Denis, lagi. Kami teman akrab dan satu kantor."
Ujarnya menjelaskan lalu menyeruput coklat panas setelah selesai mengelap rambutnya.
"Ada apa? Apa yang ingin kau sampaikan? Sepertinya penting sekali." Tanyaku terus menerus sembari menatapnya.
"Ya memang sangat penting." Doni langsung merogoh sesuatu dari jaketnya.
Kulihat ia mengeluarkan sebuah undangan pernikahan berwarna biru muda dengan tampilan elegan nan indah.
"Doni Setya & Maya Aulia"
Aku tersentak melihat nama calon pengantin di undangan itu.
"Aku akan menikah minggu depan, kau harus datang ya. Teman-teman kita sewaktu SMA dulu juga aku undang. Itulah mengapa aku sampai repot-repot mengantarkan itu di sini."
Aku hanya diam mendengar penjelasan Doni. Entahlah, rasanya tiba-tiba hatiku tertusuk oleh ribuan jarum saat ini.
Sesak dan sakit.
Padahal rasa bahagia baru saja menyelimutiku atas kedatangannya di sini, namun lihat apa yang ia sampaikan.
Aku segera membuang undangan yang tadinya berada di tanganku.
Tak terasa air mataku mulai turun. Aku terisak keras, tak memedulikan reaksi Doni terhadap hal tersebut.
"A-apa yang terjadi? Hei, kau tak apa?"
Doni cemas sekaligus bingung melihatku yang tiba-tiba menangis.
"Kau jahat!"
Ujarku sambil menatapnya tajam lalu memajukan wajah dan menarik jaket yang ia kenakan.
Aku mencium bibirnya.
Tak ada penolakan dan tak ada balasan dari Doni.
Aku membuka mata yang tadinya terpejam, kulihat ia terbelalak kaget.
T
api tak bertahan lama karena setelah itu kupaksa lidahku untuk menggerayangi mulutnya.
Meskipun sulit, Doni membuka mulutnya memberi lidahku celah untuk masuk.
Aku melumat bibirnya dengan lembut, tanganku kini berada di lehernya, mengalungkannya di sana.
Setelah merasa benar-benar kehabisan pasokan oksigen, aku pun menyudahi ciuman itu.
Ciuman pertama kalinya untukku.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Doni dengan nada tinggi.
Aku hanya menatapnya dengan air mata yang masih tertinggal di pipi.
"Aku mencintaimu."
Jujurku.
Akhirnya perasaan yang sudah ada sejak lama itu kini terungkapkan meskipun terlambat.
"Jangan bodoh. Apa kau gila, hah?" Dia membentakku kali ini.
"Ya. Aku memang orang gila yang memendam perasaannya padamu dari SMA hingga bertahan sekarang!"
Jawabku dengan senyuman miris.
"Biarpun kau mencintaiku. Apa gunanya baru mengungkapkan sekarang? Aku ke sini ingin memberikan undangan pernikahanku bersama calon istriku, bukan memberimu waktu untuk mengungkapkan itu. Maaf, tak seharusnya aku berada lama-lama di sini."
Dia sudah mulai ingin beranjak meraih knop pintu, namun dengan cepat aku menahannya dengan memeluk Doni dari belakang.
"Aku tau ini sudah terlambat. Seharusnya aku mengungkapkannya dari dulu. Aku memang bodoh." Kataku sambil menyandarkan kepala di punggungnya.
"Oke, lalu apa maumu sekarang?" Kini dia berbalik menghadapku.
"Aku ingin minta satu hal."
"Apa itu?"
"Katakan kau mencintaiku."
Dia menghela napas berat.
"Aku mencintaimu Shella Riana."
Ucap Doni sembari menatapku lekat.
Aku tau dia mengatakan itu karena terpaksa.
Tapi aku hanya ingin mendengar Doni mengatakannya.
Cukup bodoh memang, namun setidaknya aku dapat mendengar kata-kata yang menyejukkan hatiku terakhir kalinya dari orang yang kukagumi sejak SMA itu.
Doni kini terlihat memajukan langkah dan semakin mengikis jarak diantara kami.
Cup
Dia memberiku ciuman singkat di bibir kali ini. Ya cuma ciuman singkat lalu ia melepasnya.
"Terima kasih sudah menjaga perasaanmu selama ini untukku. Namun maaf, mulai sekarang lupakanlah aku."
Dia berkata sambil memasang senyum lembut.
Setelah mengatakan hal itu ia pun segera beranjak pergi meninggalkanku diikuti suara mobilnya yang kian menjauh.
"Sama-sama, Doni."
Setelah kejadian ini, entahlah aku harus percaya pada kata-kata hujan membawa cinta atau tidak.
Tapi dari kedatangan Doni di sini saat hujan turun, mungkin menurutku hujan juga bisa membawa cintaku pergi.
Dan perasaanku terhadap hujan masih tetap sama, aku tidak menyukainya.

"Yang istimewa dari hujan?
Mengenangmu."
END
Jan jadi kek Shella yee:v
Jangan plagiat.
Jangan siders.
Jangan sampe gak Vomment😚
❤MelQueeeeeen
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top