Chapter 37

Sebelumnya Jani melakukan pesta barbeku bersama Naren tanpa kehadiran Mahen di halaman rumah. Kali ini Jani mengundang Mahen untuk ikut pesta barbeku bersama. 

Jani memiliki rencana memperbaiki hubungan di antara Mahen dan Naren dengan mengobrol bersama. Jani harap mereka bisa mengeluarkan keluh kesah masing-masing, semoga saja tidak berujung pertikaian.

Mahen datang paling terakhir karena cowok itu baru saja pulang sekolah. Selain menjadi siswa berprestasi, Mahen juga mengikuti beberapa kegiatan di sekolah. Jani tahu karena Mahen pernah membanggakan apa saja yang diikuti cowok itu di sekolah.

"Lu undang Mahen  juga?" tanya Naren saat melihat kehadiran saudara kembarnya.

Jani mengangguk santai. Ia tahu Naren dan Mahen akan menunjukkan rasa tidak suka saat mereka disatukan tanpa ada kepentingan sama sekali.

"Ini mau pesta barbeku?" tanya Mahen langsung duduk di samping Jani, menempatkan gadis itu berada di tengah-tengah Mahen dan Naren.

"Ada bumbu barbeku, udang, sosis, bakso, dan ini ada panggangan. Lu pikir kita mau bikin apa selain pesta barbeku?" tanya Naren dengan nada sewot.

Belum mengeluarkan keluh kesah saja mereka sudah adu mulut, bagaimana kalau mereka adu nasib? Bisa-bisa terjadi perang di sini.

"Bisa minta kerja samanya untuk diam? Masa kalian mau berantem terus? Kita bisa enggak jadi makan malam kalau kalian adu mulut."

Dengan kompak Mahen dan Naren membungkam mulut masing-masing. Naren melakukan tugas untuk membakar sosis dan bakso yang sudah terbalut bumbu barbeku, sedangkan Mahen bertugas mencuci udang yang sudah dikupas oleh Jani.

"Sebenarnya gua punya maksud terselubung untuk mengundang kalian dalam pesta barbeku malam ini," ucap Jani membuka obrolan agar saat Mahen sudah selesai mencuci udang.

"Gua sudah menduga karena lu jarang banget ajak gua kalau ada momen bareng Naren." Mahen sadar bahwa ia sering kali dilupakan dan tak masuk ke dalam momen yang tercipta di antara Naren dan Jani. 

Jani merasa bersalah. Ia tahu maksud Mahen. Saat pesta barbeku sebelumnya dan saat mereka menghabiskan akhir pekan di perpustakaan nasional dan blok M, Mahen tak ada di tengah-tengah mereka. Padahal mereka bertiga tumbuh bersama, tetapi Mahen selalu tak ada di beberapa kesempatan.

"Gua minta maaf untuk itu. Rencana gua malam ini untuk kalian dapat mengeluarkan keluh kesah. Tujuan awalnya sih supaya kalian berdua punya hubungan persaudaraan selayaknya saudara, tetapi kalian juga bisa kok mengeluarkan keluh kesah ke gua." 

Rasanya tak adil jika hanya Naren dan Mahen saja yang dikritik, padahal ia juga manusia yang sepatutnya mendapatkan kritik agar ke depannya ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik. 

"Kalian pacaran?" tanya Mahen langsung tepat sasaran.

Jani dapat melihat Mahen menatap Naren dan dirinya secara bergantian. Tatapan Mahen seakan-akan ingin memastikan sesuatu yang sudah ia ketahui. 

"Iya. Lu cemburu?" tanya Naren membalas tatapan Mahen.

Bahu Mahen mengedik. Ia memang merasa cemburu, tetapi Mahen sadar bahwa ia kalah sejak awal. "Kalau gua cemburu, memang gua punya hak apa?" 

"Nah itu lu sadar diri." 

Seakan-akan Jani tidak ada di sana. Gadis itu membungkam mulutnya, membiarkan Mahen dan Naren beradu mulut mengenai hubungan yang baru ia jalin bersama Naren. 

"Enggak usah sok. Gua terlebih dulu sadar mengenai perasaan gua ke Jani, bahkan gua yang ada di samping dia saat lu dekat-dekat sama cewek yang lu bawa ke rumah."

"Enggak peduli siapa yang terlebih dahulu sadar, tetap gua yang jadian sama Jani. Kalau enggak mau ditikung, lu seharusnya bisa mengungkapkan perasaan terlebih dahulu," balas Naren. Walaupun Mahen memberikan fakta yang sebenarnya, ia tak ingin kalah. 

Selain pusing Jani juga merasa lelah mendengarkan pertikaian Mahen dan Naren seperti anak kecil yang berebut mainan. Sifat keras kepala dan tak ingin kalah satu sama lain mendarah daging di antara keduanya. Jani heran mengapa mereka bertiga bisa tumbuh bersama dengan watak yang sama-sama keras kepala.

"Kalian adu mulut sebenarnya termasuk kemajuan daripada diam-diaman, tapi menyimpan kebencian?"

"Hubungan saudara memang seperti itu. Kelihatannya kita saling menjaga jarak dan memancarkan kebencian, tetapi kita saling membutuhkan. Terbukti saat lu sakit, Naren minta tolong ke gua untuk telepon ambulans," jelas Mahen memberi tahu Jani karena dirinyalah gadis itu bisa dibawa ke rumah sakit.

"Permasalahannya itu karena kebetulan gua dan Mahen menaksir cewek yang sama," ujar Naren.

"Dan lu yang iri sama gua. Bukan iri sih, tetapi lu lebih merasa perlakuan orang tua kita berbeda," tambah Mahen. 

"Itu sama saja, Hen. Lu belajar persamaan enggak sih?" tanya Jani heran.

Benar apa yang dikatakan Naren waktu itu. Mahen sadar dengan perlakuan orang tua mereka yang berbeda, tetapi mengapa cowok itu tidak ingin membagi kenyamanan dengan saudara kembarnya sendiri?

"Gua enggak tahu alasan apa yang orang tua kita miliki saat memilih bersikap demikian, Ren. Bukannya gua enggak mau membagi apa yang diberikan ke orang tua gua, tetapi orang tua kita memang mendidik anaknya secara berbeda."

"Lu pernah bertanya sama orang tua kita kenapa perlakuan mereka berbeda?" tanya Naren dengan wajah berharap. Ia berharap jika Mahen berusaha untuk memperbaiki persaudaraan mereka.

Mahen mengangguk. Tentu saja ia pernah bertanya-tanya karena ia peduli dengan Naren. "Pernah sekali dan orang tua kita sama-sama membungkam mulut. Gua itu diam-diam peduli sama lu, Ren. Mana mungkin gua enggak peduli sama saudara sendiri."

Ada perasaan aneh yang terbesit saat Jani memperhatikan bibir Mahen saat mengatakan tentang dirinya yang peduli kepada Naren. Awalnya Jani kira Mahen benar-benar tulus, tetapi senyum miring secara tipis terpatri di bibir cowok itu.

"Mungkin lain waktu Naren bisa tanya langsung ke orang tua lu. Kalau lu takut diamuk, gua bisa tanya langsung sama ..."

"Lu enggak percaya sama perkataan gua?" potong Mahen menatap Jani dengan tatapan tajam.

Bukan hanya perasaannya saja, tetapi aura Mahen memang berbeda malam ini. Apa dirinya baru menyadari ada yang salah terhadap diri Mahen? Atau memang cowok itu berubah?

"Lu Mahen yang gua kenal, 'kan?" tanya Jani mengungkap isi pikirannya.

Mahen mengangguk. "Memang ada Mahen yang lain? Mahen yang lu kenal cuman satu, gua doang." Jemari tangan kanan Mahen membentuk V.

Sepasang mata Jani memicing ke arah pergelangan tangan kanan Mahen. Walaupun gelap, Jani dapat melihat ada garis tipis yang terukir di pergelangan tangan kanan cowok itu.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top