Chapter 33

Bukan Jani namanya yang tidak masuk sekolah hanya karena di sekolah tersangkut kasus dan dirundung. Dari SMP dirinya sudah kebal menjadi topik pergunjingan dan tetap berusaha untuk menginjakkan kaki di kelas saat jam pembelajaran berlangsung. Jani tidak ingin rugi melewatkan ilmu dari guru.

Dengan wajah luru ke depan dan langkah pasti Jani memasuki area sekolah. Namun, perasaan aneh menyergap. Tak ada lagi gunjingan tentang kasus yang membuat namanya diinjak-injak.

"Jani," panggil Atika saat mendapati raga Jani di dekat kelas XI IPA 5 sedang mematung.

"Eh, iya." Jani memandang Atika bingung karena melihat tatapan mata yang berbeda. Sebelumnya tatapan Atika seakan-akan merendahkan, tetapi kali ini tatapan gadis di hadapannya seakan-akan merasa bersalah.

"Gua minta maaf."

Eh, ada apa ini? Dirinya hanya tidak masuk satu hari, tetapi situasi dan kondisi di sekolah sudah berbeda.

"Iya, tetapi selama gua enggak masuk ada kejadian apa ya? Kok lu tiba-tiba minta maaf."

Enggak mungkin Atika menyadari begitu saja, kecuali jika fakta sudah disebarluaskan mengenai dirinya yang bukan pelaku dari kasus hilangnya flashdisk.

"Naren sudah kasih tahu semuanya."

"Ke lu?" tanya Jani heran sendiri karena Naren tipikal cowok yang lebih suka aksi daripada basa-basi melalui bibir.

Atika menggeleng. "Ke semua warga SMA Nusa Pelita melalui siaran."

Wajah Jani semakin syok karena langkah yang dipilih Naren sangat berbeda. "Naren? Bagaimana bisa?"

"Loh lu enggak tahu? Bukannya kalian dekat?"

"Lu tahu gua sama dia dekat?" tanya Jani seperti orang linglung.

Entah siapa yang kehilangan akal logika, tetapi Naren benar-benar tidak bisa ditebak. Jani merasa malu, takut, grogi, kesal menjadi satu. Perasaan ini tak bisa digambarkan.

"Walaupun menurut gua masih banyak hal yang gua ingin tahu, tetapi dapat gua rangkum kalian punya hubungan spesial."

"Lu enggak benci gua?" tanya Jani memastikan bahwa kepopuleran Naren tidak akan membuat hidup Jani kembali seperti yang ia jalani semasa SMP.

Gantian. Atika malah dibuat kebingungan oleh pertanyaan Jani. "Kenapa gua mesti benci lu?"

"Karena gua dekat sama Naren?"

"Yang benar aja. Emang ada yang pernah benci lu gara-gara dekat sama Naren?!" tanya Atika dengan nada tinggi.

"Kok lu jadi marah sih? Kan gua cuman tanya."

"Pertanyaan lu itu aneh, tahu enggak?" Wajah Atika yang semula sedikit kesal berubah ke semula saat ia berhadapan dengan Jani. "Pokok gua minta maaf. Maaf karena enggak percaya sama lu dan maaf untuk hal apa pun yang bikin lu sakit hati."

Walaupun saat itu Jani merasa sakit hati dengan perbuatan Atika, tetapi ia melangkah mendekat untuk memeluk Atika. Ia sangat merindukan sahabatnya. "Gua tahu lu enggak bermaksud, tetapi lain kali gua harap lu tetap percaya sama sahabat lu, ya? Kalian itu benar-benar berarti bagi gua, Atika."

***

Suasana hati Jani cukup baik hingga kehadiran Daffa di kelas XI IPA 5 cukup membuat perasaan Jani tak menentu. Jelas ia marah, kecewa, dan merasa sakit hati, tetapi jauh di lubuk hatinya Daffa sangat berarti sebagai seorang sahabat.

"Gua bisa ngobrol sama lu?"

"Tentang apa?"

Jani pikir ia berhak untuk mendahulukan harga dirinya saat ini dan berpura-pura tidak tahu apa yang akan menjadi topik perbincangan mereka karena kejadian di ruang jurnalistik membuat Jani marah.

Daffa merasakan penyesalan teramat besar dan tak berani menatap langsung sepasang mata Jani. Cowok itu hanya mampu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap sepasang sepatu converse chuck taylor 70s yang ia kenakan.

"Tentang kesalahan yang sudah gua lakukan."

"Akhirnya lu mengakui kesalahan lu?"

Bukannya senang karena Jani mendengar kejujuran Daffa, perasaan sedih dan kecewa malah semakin menghantui Jani. Walaupun Jani ingin mendengar kejujuran, tetapi ia juga berharap bukan sahabatnya tak mengkhianati Jani.

"Gua minta maaf. Banyak yang harus gua jelaskan dan gua butuh ngobrol empat mata sama lu," pinta Daffa dengan terpaksa mengangkat kepalanya, melihat ke sekeliling tempat ia berpijak. Sungguh bukan tempat yang strategis untuk melakukan klarifikasi dan meminta maaf dengan tulus di dalam kelas.

Dengan terpaksa Jani mengikuti kemauan Daffa. Berbicara 4 mata di suatu tempat yang tidak terlalu ramai.

Kolam renang SMA Nusa Pelita sangat sepi saat jam istirahat. Jika pun ada murid di sana, mereka merupakan salah satu murid berprestasi di cabang olahraga renang yang harus latihan.

Jani dan Daffa pergi ke lantai dua, tempat murid SMA Nusa Pelita membersihkan diri setelah berenang. Lantai dua dibuat seperti huruf U di mana bagian tengah merupakan tangga, tempat untuk turun ke lantai bawah. Bagian kanan merupakan ruang ganti dan membersihkan diri untuk cewek, sedangkan cowok berada di sisi kiri.

Tak ingin dianggap berbuat mesum, Jani memilih berada di bagian tengah. Dari lantai dua terlihat dengan jelas ada enam jalur lintasan dalam kolam renang, jalur tersebut dibatasi dengan tali dalam bola yang membentang dari ujung ke ujung.

"Mau bicara tentang apa?" tanya Jani meminta sahabatnya itu untuk membuka suara.

Salah. Sekarang Daffa tak bisa dianggap sebagai sahabat, karena cowok itu sudah mengkhianatinya.

"Memang benar pelaku yang menyebarkan video itu di sosial media adalah gua. Selain menyebarkan, gua juga bertindak sebagai saksi di ruang BK dan memberikan kesaksian buruk agar lu disalahkan."

Jahat! Mungkin jika Jani tega saat ini, Daffa sudah ia dorong dan berakhir di dalam kolam renang. Untung saja ia masih waras.

"Awalnya gua enggak percaya, tetapi sahabat gua ngasih tahu kenyataan beserta bukti. Gua berharap bukan lu pelaku yang menyebarkan video tersebut dan membuat nama gua jelek."

Memang perilaku Daffa tak bisa dibenarkan. Nama seseorang menjadi jelek dan mau tak mau harus mengalami perundungan oleh banyak murid SMA Nusa Pelita, terlampau tragis nama orang tersebut ialah nama sahabatnya sendiri.

"Kenapa lu melakukan ini? Sadar enggak sih, gara-gara ini persahabatan kita rusak. Gua selalu tanya alasan lu dan mencoba sabar karena lu sahabat gua, tetapi lu selalu mengelak!"

"Karena gua cemburu."

Tunggu. Jani tak mengerti hal apa yang dicemburui Daffa. Hidupnya begitu menyesakkan, bahkan Daffa sendiri tahu bagaimana kondisi keluarga Jani.

"Naren suka sama lu dan gua cemburu," lanjut Daffa memberikan fakta yang cukup mencengangkan.

Wajah Jani berubah kaget. Ia sama sekali tak pernah membayangkan sahabatnya menyukai Naren, terlebih Daffa karena mereka sesama jenis.

Daffa terkekeh melihat reaksi Jani yang terkejut. Wajah gadis itu benar-benar lucu, antara kaget, bingung, dan geli.

"Lu baru ketemu sama orang yang suka sesama jenis ya? Gua suka sama Naren sejak kita masih SMP dan sialnya gua kalah saing sama cewek."

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top