Chapter 32
Cukup lama ia berpikir. Akhirnya Naren menjawab, "Gua suka sama Jani. Kita berdua tumbuh bareng. Bukan berdua, tetapi bertiga. Naufal sama Ghifari sudah kenal jani sejak SMP, maka dari itu kita berusaha buat melindungi Jani saat kejadian di kantin."
Lagi-lagi Atika dan pendengar siaran radio SMA Nusa Pelita dibuat heboh dengan pernyataan Naren. Kedekatan yang terjalin di antara Jani dan Naren tidak pernah tercium.
"Gua cukup kaget dengan hubungan kalian. Apa harapan lu mengenai kasus ini?"
"Jangan sampai kejadian kembali. Gua harap pelaku yang menyebarluaskan video tersebut, teman-teman yang membicarakan di belakang Jani, dan pelaku yang membuat kehebohan di kantin bisa meminta maaf sama Jani. Termasuk kalian sahabat Jani yang dia percaya sejak menginjakkan kaki di SMA Nusa Pelita."
Atika terdiam beberapa saat, ia benar-benar merasa bersalah. "Hari ini Jani enggak masuk ke sekolah, apa lu tahu keberadaan Jani saat ini?" tanya Atika sedikit tergugu-gugu.
"Dia dirawat di rumah sakit. Gua minta doanya juga supaya dia bisa cepat pulih dan kembali ke sekolah."
Atika ingin menanyakan penyakit apa yang diderita Jani hingga membuat gadis itu dirawat, tetapi waktu siaran hampir habis. Mau tak mau siaran hari ini harus selesai dengan berbagai pertanyaan di kepala Atika.
"Sebenarnya masih banyak yang mau gua tanyakan, tetapi waktu kita menipis. Sekian siaran kali ini, untuk lagu penutup gua akan memutarkan Make it Right dari BTS feat Lauv."
***
Naren tahu hal ini akan terjadi. Seusai melakukan siaran, Daffa mengajak Naren untuk berbicara, tetapi Naren menolak ajakan tersebut karena waktu istirahat sudah usai.
Dan di sinilah mereka sekarang. Meja di bagian pojok kantin sekolah menjadi pilihan Daffa agar warga SMA Nusa Pelita tidak dapat mencuri pandang dan pembicaraan yang akan mereka bahas.
"Ada hal yang mau gua bicarakan sama lu. Alasan gua melakukan semua ini."
"Gua setuju untuk ketemu lu bukan mau membahas alasan karena sudah melakukan hal yang membuat Jani sakit hati. Alasan itu seharusnya langsung lu ungkapkan di ruang jurnalistik, di hadapan Jani. Bukan di hadapan gua."
Hening menyelimuti keduanya. Dafa merasa lawan bicaranya sedang membangun dinding pembatas agar dirinya tidak asal bicara.
"Gua sudah tahu alasan lu melakukan semuanya. Enggak ada lagi yang mesti dibicarakan di antara gua dan lu, semestinya lu sama Jani yang harus saling bicara. Tentunya saat kalian sudah sama-sama siap."
Naren berniat meninggalkan Daffa yang sibuk dengan pikiran yang bercabang. Belum sempat langkah kakinya melangkah Daffa berujar, "Maaf. Gua minta maaf."
"Lu enggak ada salah sama gua. Seharusnya lu minta maaf sama Jani, tetapi enggak sekarang. Nanti kalau Jani sudah sembuh."
Dengan tulus Naren menepuk pundak kanan milik Daffa. Ia berharap Daffa menemui Jani terlebih dahulu untuk meminta maaf dan hubungan keduanya bisa segera membaik.
***
Bangsal rumah sakit dengan aroma alkohol menjadi tempat Jani tidur, menonton kartun, dan mandi. Jika dilihat saat ini, gadis itu sudah sehat dan bisa dipulangkan.
"Sebelum pulang ada yang mau Ayah bahas sama kamu Jani."
Kehadiran ayah membuat Jani langsung mematikan televisi yang menayangkan kartun Upin Ipin. Hawa tegang tiba-tiba menyelimuti ruangan dan perasaan Jani menjadi tak menentu.
"Kamu benar-benar ingin menjadi reporter?" tanya ayah membuat Jani mengangguk.
"Dokter bukan kemauan Jani."
"Tetapi kamu sudah janji saat itu."
Jani berujar dengan gugup, "Karena saat itu ada kakek dan nenek. Mana mungkin Jani menolak di hadapan keluarga besar ayah."
"Ayah enggak bisa kasih restu perihal mimpi kamu, Jani. Kamu sudah tahu risiko yang akan ditanggung jika kakek dan nenek tahu permasalahan ini."
"Namun, Jani enggak bisa menyerah untuk gapai mimpi Jani, Ayah!" seru Jani. Ia serius perihal mimpinya saat ini yang tak bisa ia relakan begitu saja.
"Kalau boleh putar waktu, Ayah memilih untuk enggak lahir di keluarga ini. Ayah selalu berusaha untuk membuat kakek dan nenek kamu bangga dengan kehadiran ibu kamu Jani, Ayah juga selalu meminta mereka untuk tidak ikut campur dalam jalan yang dipilih cucu-cucunya. Namun, usaha yang sudah dikerahkan selama ini belum membuahkan hasil. Saat ini Ayah enggak punya pilihan selain mengarahkan kamu untuk menjadi dokter. Ayah enggak mau kebencian kakek dan nenek juga diarahkan ke kamu."
Perasaan sedih dan bersalah masuk ke dalam hati Jani tanpa sadar. Ia kira selama ini ayah bersama kakek dan nenek yang mengatur jalan hidupnya untuk kebanggaan mereka, tetapi ayah melakukan ini karena tak ada pilihan lain.
"Apa enggak ada pilihan lain selain dokter?" tanya Jani meratapi nasibnya sendiri.
"Ada. Kamu bisa menjadi reporter, tetapi tidak dengan meliput. Reporter enggak hanya liputan baik di lapangan ataupun tampil di layar kaca. Namun, kamu bisa menjadi editor surat kabar. Ayah akan dukung kamu sebisa Ayah, tetapi Ayah minta tolong untuk tetap meraih harapan kakek dan nenek kamu."
Beban di pundak Jani semakin berat. Penawaran yang ditawarkan ayah cukup menggiurkan daripada ia tidak mendapat restu sama sekali. Namun, tawaran tersebut juga cukup berisiko untuk kesehatan jiwa dan raganya.
"Ayah memperbolehkan kamu mengikuti ekstrakurikuler Jurnalistik, tetapi Ayah juga meminta kamu untuk mengikuti lomba supaya kakek dan nenek kamu tidak curiga. Bagaimana?" tanya ayah meminta persetujuan Jani.
"Untuk waktu belajar bisa dinegosiasikan?" tanya Jani memikirkan kesehatan jika waktu yang ia butuhkan untuk istirahat tidak cukup.
Ayah diam sejenak untuk berpikir, negosiasi kali ini berjalan cukup alot dan memakan waktu. "Belajar mandiri bisa, les tidak ada negosiasi karena kakek sama nenek kamu suka meminta hasil dari les yang selama ini kamu ikuti."
Wajah Jani tampak syok mendengar pernyataan yang begitu mengerikan. "Fakta baru yang sangat mengejutkan."
"Kamu baru tahu? Kehidupan inilah yang sudah Ayah jalankan selama ini. Kamu berarti setuju sama tawaran Ayah, kan?"
Jani mengangguk pasti. Sudah tak ada pilihan lain untuk menggapai mimpinya. Semoga saja dengan ini Jani bisa menggapai keduanya.
"Jangan sampai ketahuan kakek sama nenek ya? Ingat ini rahasia kita berdua," ucap ayah mengingatkan Jani untuk tak membuat kakek dan nenek serangan jantung.
Sembari tertawa kecil Jani mengangguk. "Makasih Ayah," ucap Jani tulus. Ia merasa lebih lega karena masalah ini sudah diselesaikan.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top