Chapter 29
Tumben sekali suasana kantin tidak seramai biasanya. Bahkan Naren heran ke mana perginya warga SMA Nusa Pelita saat jam istirahat, tidak mungkin mereka berbondong-bondong mengungsi di perpustakaan atau toilet.
"Ini kita enggak salah kantin, kan?" tanya Ghifari juga merasa asing dengan situasi dan kondisi kantin SMA Nusa Pelita saat ini.
"Pada bawa bekal kali."
Naren dan Ghifari serentak memandang Naufal tak percaya. Jika memang benar adanya, kenapa tidak dari dulu? Kondisi kantin saat jam istirahat sangat memprihatinkan, puluhan bahkan ratusan bisa berada dalam satu tempat bernama kantin. Mau tidak mau mereka akan berbagi udara dan berdesak-desakan hanya untuk memberikan jatah kepada cacing yang berada di perut.
"Benar-benar deh! Jani enggak punya urat malu."
Cewek berponi dengan rambut sebahu bertanya, "Kenapa lagi dia?"
"Ih masa lu enggak tahu? Dia lagi cari masalah sama Daffa di ruang jurnalistik," jawab cewek yang memulai obrolan dengan menjadikan Jani buah bibir.
Tak perlu mendengarkan lebih lama, Naren segera berlari menuju ruang jurnalistik. Meninggalkan baris antreannya untuk membeli air minum kemasan botol.
Perseteruan Jani dan Daffa masih berlangsung, bahkan sepertinya kian memanas. Terbukti dari para murid yang semakin tertarik dan menontonnya dari kaca jendela.
"Guru pada ke mana sih?!" gerutu Naren sembari membelah gerombolan yang berada di depan ruangan jurnalistik agar bisa seruangan dengan Jani.
Mendengar pecahan benda dari dalam membuat Naren panik dan semakin cepat membelah kerumunan. Namun, ia terlambat. Tangan Jani sudah terluka, bahkan hati gadis itu sudah tak lagi utuh.
"Gua enggak tahu alasan cantik apa yang membuat lu melakukan hal mengerikan ini, tapi kesempatan lu untuk menjelaskan dan dimaafkan sudah enggak berlaku lagi. Untuk jabatan gua di Jurnalistik, gua pamit undur diri."
Jani benar-benar dihantam kekecewaan yang begitu mendalam, kehilangan sahabat membuat air matanya menetes tanpa sadar. Wajah Jani ikut berpaling, menyembunyikan air mata kesedihan, kekecewaan, dan kehilangan yang dirasakan.
Dengan lantang Daffa bersuara. "Bukan gua pelakunya!"
Langkah kaki Naren berubah pelan saat menghampiri Jani yang sudah berada satu ruangan dengannya. Emosi menguasai Jani saat ini dan ia tengah memikirkan bagaimana caranya agar gadis itu sedikit lebih tenang.
"Jani," panggil Naren lembut.
Gadis yang dipanggil membalikkan badan dan menemukan sosok Naren. Cowok itu merentangkan kedua tangan, seakan-akan menanti Jani untuk memeluk Naren.
"Pulang, yuk!" ajak Naren pelan, tetapi dapat didengar.
Perasaan Jani kembali luluh lantak. Pelupuk mata Jani semakin dihajar oleh air mata yang ingin keluar secara bersamaan. Tatapan tulus, khawatir, dan sayang menjadi satu saat Naren menatap kehancuran gadis yang saat ini melangkah ke tempat Naren berpijak.
Beberapa langkah lagi Jani berada dalam dekapan Naren, tetapi mau tak mau langkah gadis itu harus terhenti. Naufal dan Ghifari baru saja masuk bersama dengan bu Raya.
***
Suasana tegang dalam ruang BK belum mereka hadapi karena Naren harus membalut luka di tangan Jani di UKS. Tidak perlu jahitan, Naren hanya perlu mensterilkan luka. Ghifari dan Naufal juga berada di dalam UKS memperhatikan gerak-gerik mereka yang saling menyukai, tetapi tak memiliki hubungan.
"Jangan lupa kedip," ucap Jani risih. Tatapan Naufal dan Ghifari seperti ingin memakannya hidup-hidup.
Tanpa sadar Naufal mengedipkan matanya, tetapi Ghifari malah berujar, "Gua sama Naufal meleng dikit kalian berdua malah berulah."
"Coba kalau kita datang telat sedikit, kalian berdua bisa bikin heboh satu sekolah karena pelukan di tempat yang enggak seharusnya," ucap Naufal seperti ibu yang mengomeli kelakuan buruk anak-anaknya.
Jani menatap Naufal prihatin. "Jadi sosok ibu memang enggak mudah, mereka sedikit menyusahkan dan membutuhkan perhatian. Harap bersabar, ini ujian." Mereka yang dimaksud Jani ialah Naren dan Ghifari.
"Gua harus lebih bersabar berhadapan sama lu," keluh Naufal dengan tatapan nelangsa.
Jani tertawa kecil. Walaupun kedekatan mereka semakin membuat warga SMA Nusa Pelita bertanya-tanya dan nama Jani dijadikan topik obrolan, ia tetap bersyukur memiliki mereka yang saat ini menemani Jani di titik terendah.
"Lu semua siap dipanggil bu Raya?" tanya Ghifari ingin tahu apakah hanya dia yang merasakan grogi karena baru pertama kali memasuki ruang BK dengan situasi dan kondisi genting atau yang lain juga ikut merasakan hal serupa.
Naufal menggeleng. "Baru pertama kali ini. Kasih gua semangat dong!"
Ghifari, Naufal, dan Naren memang tipikal murid berprestasi dalam bidang akademik dan minim sensasi, berbanding terbalik dengan Jani yang selalu berulah.
"Hitung-hitung kenalan lebih dekat enggak sih? Siapa tahu jodoh anaknya bu Raya itu salah satu dari kalian."
"Kalau ternyata Naren gimana?" tanya Naufal sedikit jahil.
"Enggak papa sih kalau Naren mau," jawab Jani santai sembari mengedikkan kedua bahunya tak acuh.
"Kasihan banget Naren dibuang," ucap Ghifari ikut-ikutan.
Naren tak menanggapi obrolan mereka. Bibirnya bungkam, tetapi otaknya bekerja keras. Memikirkan banyak hal, termasuk situasi dan kondisi yang menimpa mereka saat ini.
"Enggak seru kalau bahas dia. Badan di sini, otak di luar planet," ledek Naufal memahami karakter Naren yang memang lebih banyak diam dan berpikir.
***
Ada perasaan marah saat Jani mendengar penjelasan tentang kasus yang membuat citranya buruk. Namun, tak bisa dipungkiri perasaan Jani juga ikut lega mengetahui flashdisk tersebut sudah ditemukan.
"Flashdisk tersebut sudah ditemukan di ruang tata usaha. Sebelumnya saya minta maaf sudah menuduh kamu karena flashdisk ini sangat berarti bagi pihak sekolah."
"Meskipun flashdisk tersebut berarti, tetapi Ibu enggak bisa seenaknya mengecam hingga membuat nama Jani dicap sebagai pencuri. Selain itu, saat Jani menyampaikan pendapat mengenai dia bertemu dengan saya, sebagai guru BK Ibu harus mempercayai anak didik Ibu sendiri. Jikalau Ibu sendiri tidak percaya, lalu siapa yang akan mempercayai dia?" Naren mengeluarkan pendapat yang sudah ia tahan semenjak dirinya diinterogasi dengan bu Raya di ruang BK.
Walaupun Jani tidak menceritakan segalanya, tetapi Naren mengetahui semua yang Jani lalui dan rasakan.
"Karena saat itu saya enggak punya pilihan selain menyudutkan Jani. Saya mendapatkan aduan, ditambah adanya saksi mata yang menguatkan sebuah prasangka."
"Prasangka merupakan pendapat atau sikap yang berlandaskan emosi."
Naren terus-menerus menyerang argumen bu Raya membuat Jani terpaksa menegur Naren. Bisa-bisa ruangan BK berubah menjadi ruang pengadilan.
"Itu udah enggak penting lagi. Jika Ibu merasa bersalah sama saya, tolong kasih tahu siapa saksi mata yang Ibu maksud."
Bu Raya mengalami pertentangan bain. Seorang saksi mata pasti harus dilindungi, tetapi ia merasa bersalah atas perbuatan yang sudah membuat Jani buruk. Ia tak bisa menutup mata dan telinga karena selama ini anak didiknya menjadi buah bibir.
"Bu!" panggil Jani menuntut jawaban.
"Daffa. Saat itu dia bilang kamu bersamanya di ruang tata usaha."
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top