Chapter 26

Tak ada obrolan yang tercipta di antara Jani dan Naren, mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. 

"Sebentar lagi tengah malam, lu enggak mau pulang?" tanya Jani dengan maksud mengusir cowok itu dari rumahnya.

"Pulang. Besok gua antar ke sekolah." 

"Kalau lu antar gua enggak bakalan mau berangkat ke sekolah," ancam Jani. 

Menurut Jani masalah di rumah belum usai, ia harus memikirkan banyak hal tentang rencana ke depannya. Hanya di sekolah Jani berharap ketenangannya tidak diganggu gugat. Ia tak mau hubungannya dengan Naren membuat pikiran Jani semakin bercabang.

"Jangan keras kepala Jani."

"Lu yang seharusnya jangan ikut campur, Ren. Lu enggak tahu dampak seperti apa kalau warga SMA Nusa Pelita mengetahui hubungan kita?"

"Berhenti memikirkan pendapat orang lain. Lu juga harus memikirkan perasaan lu sendiri Jani!"

Jani semakin tersulut emosi. "Kalau gua berhenti memikirkan pendapat orang lain, semakin banyak orang yang bakalan tersakiti, Ren. Enggak lihat kejadian malam ini?!"

Adu argumen mereka kali ini mampu membuat ibu Jani terusik dan keluar dari kamarnya dengan sepasang mata sembab. 

"Ada apa ini? Sudah malam loh, Jani enggak tidur? Naren enggak mau pulang?"

"Pulang, Tante. Pamit dulu," ucap Naren dengan terpaksa.

Kepergian Naren membuat Jani bernapas lega, akhirnya cowok itu pulang juga. Jani menatap ibunya yang juga menatapnya. Seolah tahu pemikiran ibu, dengan gugup Jani menjawab, "Ini mau tidur kok."

***

Kepalanya tetap terangkat, tak ada niatan untuk menundukkan kepalanya karena Jani bukan tersangka apalagi pelaku. Ia tak mau semakin direndahkan walaupun saat ini tatapan tajam dan meremehkan ditujukan ke arah Jani. Bahkan ada yang secara terang-terangan mencibir pedas, padahal mereka tidak tahu kejadian aslinya. 

"Cari siapa?" tanya Jani melihat kehadiran Daffa di lorong kelas, tepat di depan pintu kelas XI IPA 5.

"Datang juga. Tumben datangnya mepet," ucap Daffa seolah-olah cowok itu tengah menanti kehadiran Jani sedari tadi. 

"Kenapa cari gua?" 

Tanpa basa-basi Daffa berujar, "Untuk sementara ini siaran radio bakalan diambil alih sama anak jurnalistik yang lain."

Tatapan Jani berubah bingung dan ingin tahu, ia masih mencoba memahami kalimat yang dilontarkan Daffa barusan. "Maksudnya gua digantikan seseorang? Kenapa bisa?"

"Gua terpaksa karena keributan kemarin. Perihal CASIS juga gua bakalan cari pengganti lu, untuk saat ini lu bisa ambil waktu rehat."

Berbagai spekulasi berputar di kepala. Dunia memang tidak seindah taman bunga, tetapi ia tak menyangka buruknya melebihi tempat penampungan sampah. Ia tak percaya saat ini Daffa memandang dan memperlakukan dirinya bagaikan sampah. Menjijikkan dan berujung dibuang. 

"Gua kenal lu bukan baru setahun, tapi gua enggak menyangka kalau sahabat gua yang satu ini enggak percaya sama gua."

Ia punya harga diri, sudah cukup Jani memohon agar dipercaya oleh manusia. Ia tak mau semakin dihancurkan oleh ekspektasi, karena kenyataan sudah cukup dengan pahitnya kenyataan.

"Gua bukan enggak percaya sama lu, Jani."

"Oh, ya? Terserah. Makasih banyak sudah kasih gua waktu buat berleha-leha. Gua titip siaran radio sama lu." Jani menepuk bahu kiri Daffa dan berjalan memasuki kelas, meninggalkan Daffa.

Prinsip Jani adalah jika dirinya merasa tak dihargai, lebih baik pergi. Ia tak mau kehadiran dan kerja keras yang sudah ia lakukan selama ini hanya dianggap angin lalu. 

***

"Sakha ayo ke kantin!" ajak Atika menanti orang yang dipanggil di dekat pintu.

"Bentar. Gua ajak Jani dulu."

Atika berdecap tak suka. "Buat apa ajak dia? Lu mau punya hubungan sama orang yang suka mencuri dan banyak drama?" tanya Atika sembari menyeret Sakha untuk segera pergi ke kantin.

Percakapan tadi didengar oleh Jani, tak hanya Jani. Seluruh penghuni XI IPA 5 mendengar obrolan antara Sakha dan Atika. Mau tak mau Jani menuju kantin sendirian. Jika cacing di perutnya tidak demo, lebih baik dirinya pergi ke perpustakaan. Bertukar pikiran dengan buku.

Baru beberapa langkah sepasang kakinya memasuki area kantin, Jani dihadiahkan air bekas cucian peralatan makan, Dari baunya Jani tahu ini dari tukang bakso, tercium bau sedikit amis dan ada bihun yang menempel di seragamnya. 

Seharusnya Atika menyindir mereka yang menghadiahkan dirinya air bekas cucian peralatan makan yang ditampung dalam ember, bukan dirinya. Jani jadi menyesal pergi ke kantin, seharusnya ia memilih kelaparan daripada mendapat hadiah yang tak ia harapkan.

Tak tahu adik kelas atau kakak kelas, tetapi mereka berkelompok. Tatapan mereka mengutarakan kebencian yang begitu mendalam, padahal Jani sama sekali tak mengusik kehidupan mereka. Kedua tangan Jani mengepal, menahan amarah. 

Dengan tatapan tajam Jani berjalan membelah kerumunan yang menatapnya dengan tatapan puas, kasihan, dan bertanya-tanya. Ia ingin balas dendam, Jani tak selemah itu. Ia harus membalas perlakuan setan yang lepas dari neraka, tak peduli jika dirinya juga akan dicap setan. Mata harus dibalas mata. 

Sebelum tujuan Jani tercapai. Naren menghalangi niatnya. Tak hanya Naren, ada Naufal, dan Ghifari. Tak perlu bicara, Jani tahu dari raut wajah mereka mengkhawatirkan kondisi Jani, tetapi ia bukan cewek lemah. Bukan dirinya yang harus dikhawatirkan, tetapi mereka yang membuat keadaan Jani seperti ini. Mental mereka sangat mengkhawatirkan.

"Minggir," titah Jani dengan sorot mata tajam.

"Gua boleh minta untuk tetap diam dan pergi ke UKS? Ghifari bakalan antar dan menunggu sampai gua datang," pinta Naren tak mau jika Jani kembali berurusan dengan guru, karena keributan.

"Berhenti ikut campur urusan gua, Ren. Kalau gua mengalah sekarang, besok kelakuan setan macam apa lagi yang bakalan gua terima?" 

"Gua janji lain kali enggak akan terjadi. Percaya sama gua." 

Jani menggeleng. Dirinya bukan anak kecil yang harus percaya dengan omong kosong Naren. "Gua enggak bisa percaya, kecuali ada jaminannya." 

"Gua bakalan membersihkan nama lu kembali. Pegang janji gua dan sekarang patuh sama gua." 

Dengan tatapan menyelidik Jani bertanya, "Caranya?" 

"Enggak perlu tahu."

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top