Chapter 21
Seusai mandi, langkah kakinya bergegas menghampiri Jani di rumah. Dari dulu ia selalu mencoba memahami dari sudut pandang gadis dengan watak keras kepala, berambisi, dan seperti anak kecil. Hanya di awal sudut pandang Jani bisa ia pahami. Tak berselang lama Naren akan tersulut emosi, tersadar sudut pandang Jani tak beralaskan logika.
Seperti tidak ada akhlak, Naren membuka pintu utama tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun sosok perempuan yang berada di ruang tamu dengan balutan daster berwarna hijau muda selutut membuat ia terkejut dan berhenti di tempat.
"Maaf Tante. Naren kira di rumah cuman ada Jani." Naren mengatupkan bibirnya saat sadar bila ia salah berbicara. Bisa-bisa Naren dicap sebagai cowok tidak baik, yang seenaknya masuk ke dalam rumah saat hanya ada Jani sendirian.
"Maksud Naren enggak gitu Tante. Naren ada urusan sama Jani," ujar Naren sedikit canggung. Berulang kali tangan kanannya menunjuk pintu utama yang tak jauh dari tempatnya berpijak lalu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Naren benar-benar dibuat salah tingkah.
"Tadi Naren buru-buru soalnya ada yang mau dibahas sama Jani, makanya langsung masuk, tapi itu juga enggak benar sih, Tan. Aduh, maaf yaa Tante. Jani ada di mana ya?"
Ibu Jani yang sedari tadi tampak bingung seketika tertawa kecil melihat sikap Naren. "Jani ada di kamar, samper aja anaknya."
Dengan canggung Naren menghampiri perempuan yang melahirkan Jani dan mengulurkan tangan kanannya. Berniat menyalami. "Sekali lagi Naren minta maaf ya, Tante."
Sembari menyalami, ibu Jani mengelus puncak kepala Naren. "Enggak papa, tapi di atas jangan lupa ketuk pintu dulu, ya!" Dengan spontan Naren menganggukkan kepalanya.
Jika kamar Naren didominasi warna monokrom, kamar Jani didominasi warna putih. Pintu kamar berwarna putih polos, tanpa hiasankhas anak remaja pada umumnya, seperti stiker yang menempel ataupun dream catcher yang menggantung.
Ia tahu betul, Jani menginginkan kehidupan normal seperti anak remaja seumurannya. Sangat disayangkan, Jani dilahirkan oleh keluarga yang tidak jauh berbeda dengan Naren. Satu hal yang hanya sesuai dengan keinginan Jani, yaitu siaran. Hanya itu yang membuat Jani tampak seperti memiliki kehidupan normal, walaupun Jani harus menutupinya sampai saat ini.
Semula Naren memang memahami jalan yang Jani pilih, namun semakin lama ia takut jika rahasia Jani akan terbongkar. Lebih baik berbicara jujur daripada ketangkap basah. Ia yakin jika ketahuan, Jani akan menerima sanksi lebih parah.
"Jani," panggil Naren sembari mengetuk pintu. Kali ini suaranya lebih pelan dibandingkan saat mereka beradu argumen, semoga saja gadis yang berada di dalam mendengar panggilannya.
Tak mendapatkan jawab, Naren memanggil kembali. "Jani. Ini gua, Naren."
Lagi-lagi Naren tak mendapat balasan dan pintu kamar masih dikunci dari dalam. Hanya dua alasan Naren belum juga dibukakan pintu, antara Jani tak mendengar panggilannya atau gadis itu masih marah kepadanya.
"Kita perlu meluruskan sesuatu, penting banget loh. Masa mau diem-dieman? Ayolah, kita perlu ngobrol sebentar." Naren tak mau menyerah untuk membujuk Jani agar mau mengobrol dengannya.
"Gua lagi males ngomong, mending lu pulang aja!" titah Jani dari dalam kamar.
Sudah diusir, namun Naren tak ingin menuruti keinginan Jani begitu saja. Jika Jani keras kepala, maka ia akan lebih keras kepala.
Langkah kakinya menuju lantai bawah, berniat menemui kembali ibu Jani. Naren tak berniat mengadu permasalahan mereka, ia hanya mau meminta beberapa barang yang ia butuhkan agar Jani mau mengobrol dengannya tanpa menggunakan mulut.
"Tante ada pena dan kertas atau buku yang udah enggak kepakai?" tanya Naren membuat ibu Jani kebingungan.
"Tante cari dulu, ya. Barang yang kamu minta itu untuk apa sih?" Belum dijawab Naren, ibu Jani lebih dulu masuk ke dalam kamar utama yang terletak di lantai satu, dekat dengan ruang tamu.
Tak berselang lama, ibu Jani keluar dari kamar dengan membawa barang sesuai dengan permintaan Naren.
"Jani emangnya enggak ada?" Barang yang diminta Naren itu sangat sederhana dan pastinya setiap anak sekolah memiliki kertas dan pena.
Jika Jani mau membuka pintu kamar dan mengobrol dengannya, tak mungkin Naren meminta kertas dan pena. Bingung ingin menjawab jujur atau bohong, Naren hanya bisa mengucapkan terima kasih dengan pelan dan kembali ke depan pintu kamar Jani.
Kalau malas ngomong, tulis aja di sini.
Jika Jani malas berbicara, Naren akan membuat gadis itu berbicara dengannya melalui tulisan. Kertas yang sudah ia tuliskan beberapa kata itu ia selipkan melalui bawah pintu kamar Jani.
"Jani di bawah pintu," ucap Naren sembari mengetuk pintu kamar Jani. Semoga saja gadis keras kepala itu mau diajak kompromi.
Tak berselang lama, Naren mendapatkan kertasnya yang dikeluarkan dari dalam.
Gua capek, mau istirahat. Lu spesies apa sih, Ren? Enggak ngerti bahasa manusia apa? Pulang, Ren!
Menyerah. Naren dengan terpaksa menuliskan permintaan agar ia dapat bertemu Jani sepulang sekolah dan menyelipkannya di bawah pintu sebagai pesan terakhir. Berharap Jani akan datang menemuinya esok hari.
"Gua balik dulu," pamit Naren sembari mengetuk pintu kamar Jani, memberi tanda bahwa ia akan pulang.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top