Chapter 13

Pikiran Jani lebih relaks dibandingkan saat ia berhadapan dengan Naren. Pancuran air dingin mengenai kulit kepalanya membuat Jani merasa segar kembali.

Dengan rambut masih dililit handuk, Jani menuju meja belajarnya untuk mengecek google from berisian mention confess di laptop.

Hal yang paling menyenangkan saat ibu dinas ke luar kota ialah ayah juga ikut tak pulang. Ayah lebih memilih bermalam di ruangannya atau menginap di rumah kakek. Jika sudah begitu, Jani bisa dengan bebas mengurus segala keperluan untuk siaran radio.

Namun kali ini semangat Jani pudar saat membaca isian mention confess di google from. Setengah dari pesan di google from berisi tentang kedekatan Aqila dan Naren. Kemungkinan besar warga sekolah mengetahui kedekatan mereka selain karena interaksi di sekolah, mereka juga melihat Instagram story  Aqila hari ini.

"Padahal gua udah nangis cukup lama di kamar mandi, tapi kenapa air mata gua enggak habis sih? Rasanya mau nangis lagi," keluh Jani merasa sesak dalam dada.

Kedua tangannya menopang kepala yang terasa pusing, sepertinya Jani akan diserang flu. Menangis ditambah kucuran air dingin merupakan perpaduan sempurna untuk membuat siapa saja terkena demam dan flu, terlebih saat kondisi perut kosong.

Dengan kondisi kepala ingin pecah, badan bergetar hebat, dan mata bengkak dan berair Jani menyusun teks untuk siaran radio. Walaupun sakit yang amat menyiksa, ia harus tetap profesional memilih mention confess yang masuk untuk ia bacakan esok hari.

***

Sesuai rencana yang Jani susun untuk pelatihan CASIS, mereka akan siaran bersama dengan Jani untuk mengetahui bagaimana alat-alat di ruang siaran radio dapat beroperasi. Jani mengatur pembagian jadwal untuk hari ini hanya 3 CASIS yang akan menemaninya siaran, 2 orang lagi akan ada jadwal menyusul.

"Gua udah tahu kalian berdua. Nasrul sama Putra, tinggal yang satu ini kita belum kenalan." Jani mengulurkan tangan kanannya berniat berjabat tangan dengan gadis dengan usia lebih muda satu tahun dari umurnya.

Gadis itu menyambut uluran tangan Jani sembari memperkenalkan namanya. "Alisa Kak, dari kelas 10 IPA 1."

Jani melepaskan jabat tangan Alisa sembari mengangguk kecil. "Kali ini kita akan siaran bareng ya. Microphone di ruangan cuman ada dua. Nanti ada yang mengatur audio mixer sama software dan satu orang lagi ada yang siaran bareng gua. Kalian hompimpa aja buat menentukan tugas masing-masing."

Jani sengaja menentukan tugas dengan cara lain dari pada yang lain, karena ia tak sempat memilih penentuan tugas mereka masing-masing. Semalam ia terlalu lelah menangis, setelah membuat teks siaran Jani memutuskan hibernasi agar ia tak jatuh sakit. Namun tetap saja, pagi ini kepala Jani terasa sakit dan tubuhnya terasa berat untuk beranjak dari kasur.

"Alisa dapat siaran, Nasrul kebagian software, dan Putra mengatur audio mixer. Sebelum gua kasih teks siaran ke kalian, ada yang mau ditanyakan perihal job desc masing-masing?"

Sunyi. Wajah masing-masing dari mereka terlihat tegang. Siaran pertama tentunya mereka tak ingin ada kesalahan, selain karena tak ingin mengacaukan siaran hari ini, mereka juga takut Jani akan memberikan penilaian rendah kepada mereka. Tentunya penilaian dari Jani menjadi salah satu syarat mereka diterima atau tidak dalam organisasi siswa intrasekolah.

Jani merasa kesal karena tak mendapat jawaban 3 CASIS di hadapannya. Badannya sedang dalam kondisi kurang sehat, ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pelatihan CASIS hari ini dan pergi menuju UKS sesegera mungkin. Jani dapat melihat mereka masih kebingungan, maka dari itu ia membuka sesi tanya-jawab, namun tak ada dari mereka yang ingin bertanya.

"Gua enggak menerima pertanyaan saat nanti siaran berlangsung dan gua enggak menoleransi kesalahan dalam bentuk apa pun. Kalau ada yang enggak dipahami atau masih bingung silakan tanya sekarang!"

Hawa di sekitar mereka semakin tegang karena Jani bersikap bossy. Nasrul bahkan melangkah mundur beberapa langkah, sedikit menjauh dari tempat Jani berdiri.

"Kalau enggak ada bilang enggak ada. Kalau mau bertanya, cepat utarakan pertanyaannya. Jangan bikin waktu terbuang percuma."

"Enggak ada, Kak." Jawaban mereka keluar serentak dari bibir masing-masing dengan nada bergetar.

Teks siaran sudah dibagikan. Jani menangkap raut bingung di wajah Putra dan Nasrul, sedangkan raut wajah Alisa tampak terkejut lalu menggeleng kecil.

"Alisa kenapa geleng-geleng kepala? Enggak paham?"

"Paham kok, Kak." 

"Oke, karena enggak ada yang bertanya, gua anggap kalian paham. Alisa bisa duduk samping gua." Jani kembali mengecek satu per satu, mulai dari lagu yang nanti akan diputar, headphone, dan microphone

Dengan ragu Alisa menarik kursi di samping Jani, tampak ia takut mencoba sesuatu hal baru dan dapat mengacaukannya jika ia salah langkah. "Tenang, jangan tegang. Kalau lu tegang, siaran bisa berantakan." Jani berharap Alisa mendengar masukannya. 

Putra memberikan tanda bahwa pengoperasian audio mixer sudah ia jalankan dengan menggeser ke atas bagian kontrol level dan mengaktifkan mic 1 dan mic 2 barulah Jani dan Alisa dapat melakukan siaran. 

"Selamat hari Rabu teman-teman seperjuangan, yang sebentar lagi kita akan memasuki pekan ujian. Pasti kalian stres bukan?" Jani membuka siaran kali ini dengan pengingat untuk dirinya sendiri dan teman-teman satu sekolah. 

"Siaran kali ini gua Narapati Dwi Renjani enggak akan sendirian karena ditemani ..."

"Alisa Syahla Salsabilla," sambut Alisa.

"Akan menemani waktu istirahat kalian hari ini dengan program acara mention confess. Gua udah memilih beberapa pesan yang akan gua dan Alisa sampaikan untuk kalian untuk siaran kali ini."

Jani menganggukan kepalanya, memberikan tanda kepada Alisa. "Walaupun udah kita pilih, mention confess kali ini tetap berhubungan  dengan kak Naren dan kak Aqila. Waduh, sepertinya sekolah kita akan melahirkan calon pasangan baru nih atau jangan-jangan ..."

"Jangan-jangan apa nih?" saut Jani dengan nada ingin tahu. 

"Jangan-jangan udah jadian!" seru Alisa.

"Waduh, bisa kali pajak jadian. Gua menerima via transfer, pulsa, dan e-wallet." 

"Kak Jani udah siap sedia menampung ya!" Alisa terkekeh kecil di akhir kalimatnya. "Pesan pertama dari anonim dan tertuju pada Narendra dan Aqila dengan isi pesan ... kalau ngapel jangan sampai malam ya? Enggak baik untuk jomlo seperti gua yang melihat kemesraan kalian di kafe dekat sekolah."

"Terbongkar nih Naren sama Aqila kalau ngapel di kafe dekat sekolah kita. Dispatch SMA Nusa Pelita ngeri juga ya." 

Alisa mengangguk walaupun para pendengar mereka tak dapat melihat secara langsung. "Betul banget, Kak. Jadi takut nih ngapel dekat sekolah, takut ketangkap basah." 

"Kayaknya Alisa udah ada pasangan nih, pajak jadian boleh dong." 

Alisa tertawa kecil sembari menggeleng-gelengkan kepalanya salah tingkah. "Masih belum kelihatan nih pasangan hidup gua, Kak. Sambil nunggu pasangan hidup gua muncul, gua akan putar lagu I Still Love You dari The Overtunes."

Putra kembali mengoperasikan audio mixer, sedangkan Nasrul mulai mengotak-atik software untuk memutarkan lagu I Still Love You dari The Overtunes.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top