Chapter 10

Setelah diam beberapa saat untuk memikirkan permasalahan Naren dan Mahen, Jani akhirnya bangkit dari kursi dan menuju kamar Naren dengan membawa dua dinner plate berisi spageti yang sudah dingin.

"Naren bukain pintunya! Tangan gua enggak bisa!" teriak Jani. Ia bisa saja membuka pintu kamar Naren menggunakan sikunya, tetapi ia sengaja mengusili pemilik kamar.

Kurang lebih dua menit Jani menunggu di depan pintu kamar Naren, pemilik kamar tak juga membukakannya pintu. "Buka atau gua dobrak nih?!" ancam Jani tetapi Naren tak jua membukakannya pintu.

"Naren, ih!" teriak Jani kesal sendiri.

"Kalau lu bisa dobrak, berarti lu bisa buka sendiri pintunya! Jangan nyebelin, gua lagi marah sama lu!" teriak Naren dari dalam kamar.

Jani terkekeh kecil, Naren itu tak jauh berbeda dari golongannya. Mengerti kebutuhan dapur, suka ngomel seperti ibu-ibu, dan kalau ngambek bilang-bilang.

Terpaksa Jani membuka pintu kamar Naren menggunakan sikunya. "Kalau marah tuh marah aja, enggak usah pakai bilang segala."

"Suka-suka gua lah, gua yang marah. Kok lu yang sewot?"

Padahal yang sewot saat ini Naren, tetapi yang dituding malah dirinya. "Ngaca, elu yang sewot duluan. Nih, makan. Kalau mau ngambek, kenyangin dulu tuh perut. Masuk angin aja! Ntar minta dikerokin."

"Ngaco. Enggak nafsu makan gua, buat lu aja."

"Makan, Ren. Sayang makanan dibuang-buang."

"Kan gua buangnya ke elu."

Jani mendelik sebal. "Emangnya gua tempat sampah?"

Posisi Naren saat ini sungguh menyebalkan di mata Jani. Tiduran di atas kasur dengan memeluk guling dan memegang ponsel, entah kesibukan apa yang sedang dilakukan Naren bersama ponsel pintarnya, ia merasa diabaikan.

"Ren bangun. Makan dulu, gua belum makan nih nungguin lu." Walaupun kesal Jani tak ingin membuat Naren semakin marah.

Mendengar Jani belum makan karena menunggu kehadirannya membuat Naren sedikit luluh. Ia turun dari kasur dan mengambil spageti yang berada di atas meja belajarnya.

"Gua makan di sini, puas? Lu juga makan sekarang," titah Naren dengan tegas. Sesaat Jani terpaku, semula cowok itu marah dengan Mahen, tetapi Naren malah melampiaskan amarah tersebut kepadanya.

Makan malam di kamar Naren berlangsung hening, tak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka. Hingga Jani keluar dari kamar pun, Naren tak juga menahannya untuk tetap tinggal.

***

Semalam aksi bungkam di antara Jani dan Naren berlanjut hingga Jani tertidur di ruang tamu. Biasanya jika Jani menginap di rumah Naren, cowok itu yang akan tertidur di ruang tamu, sedangkan Jani akan menguasai kamar Naren.

Semula Jani ingin melanjutkan perang dingin di antara mereka, namun ia urungkan. Saat Jani bangun dari tidur, ia menemukan dirinya di kamar Naren. Cowok itu ternyata memindahkannya dari ruang tamu ke kamar.

"Senyum mulu, jigong lu netes tuh!"

Kedatangan Atika benar-benar merubah suasana hatinya. "Banyak senyum tuh pahalanya gede."

"Kebanyakan senyum yang ada gila. Senyum tuh sama orang, ini senyum sendirian."

"Sirik aja lihat orang bahagia." Atika menatap Jani dengan tatapan ingin tahu.

Tumben sekali Jani pagi-pagi sudah bahagia. Hampir setiap pagi sahabatnya itu terlihat suram karena dikejar tenggat tugas dari guru dan Daffa, selalu ketua Jurnalistik.

Jani ingin sekali mengeluarkan bola mata Atika dari sarangnya saat ini juga karena merasa risih dengan tatapan yang diberikan Atika. "Apaan sih tatap-tatap gitu? Naksir?"

"Masih normal gua, kalaupun belok selera gua bukan lu, Jan. Lu tuh tumben banget pagi-pagi bawaannya hepi kayak gini. Biasanya suram udah kayak hawa malam Jumat kliwon."

"Kan ada masanya gua suram dan ada masanya gua hepi. Enggak selalu suram karena gua bisa depresot lama-lama dan enggak selalu hepi juga, karena hidup itu cobaan. Kalau enak namanya cobain."

"Lu lagi naksir seseorang?" tebak Atika melihat gelagat Jani seperti orang kasmaran.

Sejak awal mereka bersahabat di masa putih abu-abu, kisah asmara Jani yang sama sekali belum tercium baunya. Gadis itu selalu bilang bahwa ia tak menyukai siapa-siapa. Namun saat melihat gelagat Jani yang seperti orang kasmaran pagi ini, Atika tentu ingin tahu siapakah orang yang tidak beruntung itu?

"Kan gua naksir lu. Masa enggak peka gitu?" Dengan sengaja Jani membuat Atika merinding di tempat.

"Gua serius, Jan. Lu mah pagi-pagi udah bikin gua merinding. Kalau disakitin cowok itu kuncinya cari cowok yang lebih baik, bukan pindah haluan."

Kedua tangan Jani memangku dagunya di atas meja. "Gimana mau disakitin sama cowok lain? Cowok yang gua suka dari dulu cuman satu."

Spontan Atika berdecak kesal, cewek kalau udah jatuh hati itu otaknya udah enggak kepakai. "Siapa sih cowoknya?"

"Nanti juga lu bakalan kenal. Kalau persahabatan kita langgeng, biar gua juga bisa terbuka sama lu."

Sudah kurang lebih satu tahun Jani bersahabat dengan Atika, Sakha, Rania, dan Daffa. Namun Jani belum bisa membuka dirinya untuk bercerita sebebas saat Jani bercerita dengan Naren dan Daffa.

***

Pulang sekolah Jani sudah memiliki rencana bertemu CASIS yang akan ia bimbing mengenai apa saja benda yang ada di ruang siaran. Lima orang CASIS sudah menanti kehadiran Jani di depan pintu ruang usaha.

"Udah lengkap personil kalian?"

"Sudah, Kak."

"Oke. Sebelum gua memperkenalkan alat-alat di ruang siaran, kita bakalan kenalan dulu. Gua Narapati Dwi Renjani, biasanya dipanggil Jani. Gua bertugas mengurus siaran radio SMA Nusa Pelita. Untuk perkenalan gua ada yang mau ditanyakan?"

"Kakak yang suka gombal pas siaran itu, ya?" Jani menatap badge yang berada di bagian dada kanan. Nasrul Cahyadi.

"Nama lu Yadi? Mau gua gombalin juga enggak pas besok siaran?" tanya Jani mengulum senyum jahilnya.

"Dia enggak mau dipanggil Yadi, Kak. Takut diledek jadi Yadi Sembako," celetuk Putra membuat Jani terkekeh. Pantas saja nama Yadi terdengar tidak asing di telinganya.

"Gua takut kalian pulang kesorean, lebih baik kita mulai perkenalan alat-alatnya sekarang ya." Jani membuka ruang tata usaha yang sudah dikunci.

Sebagai penyiar SMA Nusa Pelita, Jani memiliki kunci serep ruang tata usaha karena ruang siaran berada di dalam ruang tata usaha. Sudah kurang lebih satu tahu Jani menjadi penyiar, untungnya tidak ada hal aneh yang terjadi di ruang tata usaha.

"Yuk masuk! Ruangannya agak sempit, harap bersabar."

Perkenalan Pertama Jani akan memperkenalkan alat beserta fungsi dari alat tersebut.

"Pertama gua mau mengenalkan kepada kalian sama microphone. Udah tahu microphone fungsinya apa, 'kan? Alat ini berfungsi untuk menghantarkan getaran suara kepada out speaker. Microphone tuh setau gua punya banyak macam, ada yang mono dan stereo, berkaki dua dan empat, dan ada juga yang microphone classic dan modern. Kalau mau lebih lengkap, silakan berselancar di Google."

Tangan kanan Jani mengambil headphone berwarna hitam yang biasa ia gunakan saat siaran. "Microphone punya teman namanya headphone yang berfungsi untuk mendengarkan aktivitas yang sedang mengudara. Suara yang gua dengar dari headphone sama kayak suara yang kalian dengar. Dari penjelasan dua alat itu ada yang mau ditanyakan?"

"Saya izin bertanya, Kak." Nasrul yang tidak ingin dipanggil Yadi itu mengangkat tangan kanannya sedikit kesulitan karena ruang siaran terlalu sempit untuk diisi 6 orang.

Jani mengangguk, mempersilakan Nasrul melontarkan pertanyaannya. "Kalau microphone pelunas hutang itu masuk ke jenis microphone mana ya Kak?"

Bibir Jani tersenyum seperti logo Kumon. Nasrul sepertinya memiliki bakat terpendam menjadi pelawak seperti Yadi Sembako.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top