20. WRONG NUMBER
Firasat buruk Pascal terbukti saat ia berjalan menuju pintu apartemennya dan ponselnya berdering. Iris menelepon. "Ris..."
"Aku benar-benar kecewa."
Pascal mengerjapkan mata, suara adiknya terasa dingin, "Apa maksudnya? kenapa?"
"Masayu sudah cerita."
Pascal berhenti melangkah, jantungnya berdegub ritmis. "About what?"
"Mantanmu ke apartemen? mengkonfrontasi pernikahanmu."
Oh! "Aku bisa mengatasinya, semua baik-baik saja."
"Apanya!" seru Iris, suaranya terdengar amat kesal. "Ini yang kami khawatirkan, mantan-mantanmu entah siapa saja, merasa tak terima dan bayangkan jika mereka tahu kamu menikahi Masayu? Mereka pasti merundungnya!"
Merundung? Astaga! "Tentu saja tidak, aku menjaga Masayu dengan ba—"
"She's crying, Pascal... it hurt her." sela Iris.
Pascal menggaruk kepalanya, Masayu sebaiknya memiliki argumen yang tepat saat melibatkan adiknya. Sialan! "Kami baik-baik saja, aku menjelaskan situasinya dengan baik pada Masayu."
"Dan lagi, yang lebih mengecewakan, kalian tinggal di apartemen? tempat kamu bawa pacar-pacarmu ke sana! Masayu seharusnya berbeda."
"Apa maksudmu? aku nggak bawa pacarku ke Apartemen."
"Tapi perempuan itu datang ke sana, semalam."
"Dia hanya mengetahui tempat tinggalku, tapi aku tak pernah membawanya tinggal, hanya Masayu dan aku yang tinggal bersama."
Iris menghela napas, "Masayu nggak percaya itu, dia merasa tak nyaman."
"What?" Pascal langsung panik dan bergegas ke pintu, menekan kode.
Seluruh ruangan gelap, tak perlu memanggil, ia yakin Masayu tak ada di sini.
"Sebagai sesama perempuan, aku bisa memahaminya." kata Iris menyadari apa yang terjadi.
"Dimana dia?" tanya Pascal, ia mulai kesal dengan akhir drama ini.
"Aku memintanya pulang ke rumah." jawab Iris
Pascal menghela napas, "Aku akan menjemputnya, terima kasih sudah menelepon."
"Pascal, aku serius, jangan remehkan kegelisahan Masayu..."
"Hmm... salam untuk Zhao." pamit Pascal lalu menutup teleponnya.
Pascal bergegas kembali menuju mobilnya, ia berusaha menormalkan napasnya saat berada di balik kemudi. Setelah yakin dirinya baik-baik saja, Pascal langsung menyalakan mesin dan pergi.
Masayu masih berada di ruang keluarga saat Pascal masuk rumah. Mata istrinya itu sembab dan melihat sorot tajam Asoka, Pascal curiga diantara mereka berdua siapa yang sebenarnya artis lakon. Tatapan Masayu tampak benar-benar tersiksa, seperti istri belia menghadapi suami tiran.
"Begitu sikapmu melihat Mami?" tanya Asoka.
Pascal langsung beranjak mendekat, membungkuk untuk mengecup kening ibunya. Pascal mengulurkan tangan, menyentuh wajah Masayu yang duduk di samping Asoka. "Kita sepertinya akan makan malam di sini, tapi kita akan pulang."
"Aku nggak bisa tinggal di apartemen itu."
"Oke, kita cari rumah, sementara itu tinggal di hotel atau manapun, terserah."
Wajah Asoka tampak seperti pesakitan mendengarnya. Pascal tahu ia keterlaluan.
"Hanya rumah ini tempatku yakin kamu nggak bersama perempuan lain." kata Masayu.
"Masayu." tegur Pascal dengan nada yang cukup meyakinkan.
Masayu menghapus air matanya, "Aku akan tinggal dan kalau kamu mau ke hotel, terserah."
"Masayu!" seru Pascal saat Masayu langsung beranjak.
"Kamar Pascal yang pintu hitam, setelah tangga ke kanan." kata Asoka sembari berdiri. "Mami kecewa semua ini terjadi hanya dalam beberapa hari setelah pernikahan! keterlaluan sekali."
Wah! Masayu pasti membuat ceritanya benar-benar dramatis. Pascal tak menanggapi apapun dan segera menyusul ke kamar. Begitu membuka pintu, Masayu sedang bersidekap di tengah kamar, melihat tempat tidur, meja kerja di sudut ruangan, sofa nyaman di depan jendela, lalu lemari dan pintu menuju kamar mandi. Masayu mendekat ke foto yang Pascal pajang di meja kerja, Pascal dan Iris kecil di sana, dengan latar pemandangan kebun bunga matahari.
"Handsome." kata Masayu lalu menoleh kepada Pascal. "Aku benar-benar mendapat versi terbaik dari anak kurus dan polos ini."
"Letakkan itu dan ambil tasmu, kita keluar." kata Pascal ganti bersidekap menunggu.
"Aku serius dengan kalimatku, aku tak tahan berada di apartemen, entah siapa saja yang—"
"Aku tinggal di sana hanya bersamamu."
"Natasha jelas mengenali tempat itu."
"Aku akan memecatnya jika itu benar-benar mengganggumu."
Masayu tersenyum dan menggeleng, "Tidak, tentu saja tidak boleh... aku adalah istri yang harus belajar mengatasi hal-hal seperti ini."
"Kau istri yang harus belajar menurutiku."
"I did!" kata Masayu, mengangguk yakin dan mulai melepas atasan bajunya. Pascal menelan ludah dengan pemandangan itu. "Aku tidak ingin berada di tempat selain ruangan ini."
"Aku hanya tinggal di sini jika ada Iris." kata Pascal susah payah berusaha mengabaikan.
Masayu mencampakkan atasan bajunya ke keranjang cuci. "Kenapa?"
"Ingat peringatanku tentang tidak memancing terlalu dalam?"
"Yah, baiklah... kalau begitu hari ini saja."
"Tidak."
Masayu mengembuskan napas dan mendekat, langsung mendekap Pascal. "Kau tidak mengerti betapa sakit hatiku mengetahui bahwa kau dan Nat punya hubungan sedalam itu... bahkan kalian juga punya kenangan di Seoul."
Pascal geleng kepala, "Itu hanya liburan sekolah, ada puluhan anak lain bersama kami."
"Tetap saja, itu menyakitiku." ungkap Masayu, bernapas di leher Pascal, memberi kecupan. "Aku mau tempat yang benar-benar tidak kau jamah bersama perempuan lain."
Tangan Masayu kemudian menelusur sepanjang dada Pascal, merasakan napas dan debar jantung suaminya mulai berubah. Masayu tersenyum, mendongak dan mencium bibir Pascal.
Pascal meresponnya dengan menahan punggung Masayu, tangan satunya bergerak menurunkan restleting rok, menjatuhkannya ke lantai. Perempuan ini yang lebih dulu memancingnya.
"Jangan merobeknya." larang Masayu sembari menahan tangan Pascal dari kain stockingnya.
Pascal tak mendengar itu dan tetap mengoyaknya, Masayu bergidig saat tangan Pascal menyelip dan ia kembali dicium. Beberapa menit kemudian Masayu hanya bisa bergantung lemah di pudak suaminya, jari-jari Pascal tak hanya lihai dalam melepas dan mengoyak pakaian.
Masayu menegakkan diri, tangannya beralih ke celana tapi Pascal mendorongnya. Masayu terhuyung dengan kening berkerut bingung, ia amat membutuhkan pria itu. Tapi Pascal justru merapikan kembali dasi di lehernya.
"Kita ikuti kemauanmu kali ini." kata Pascal menatap Masayu dengan dingin. "Tapi, dalam pernikahan kita, kau hanya harus menjadi istri yang baik untukku, tidak ada alasan untukmu tinggal di sini sebagai menantu yang baik bagi orangtuaku."
Masayu menelan ludahnya, "Tapi, aku merasa bahwa—"
"Ingat ini baik-baik, kau hanya akan datang kemari saat aku membawamu... tanpaku kau bukan siapapun di tempat ini dan tidak berhak berada di dalamnya." kata Pascal lalu mengulurkan tangan, menyentuh lipstick yang pudar hingga dagu Masayu. "Dan jangan gunakan tubuhmu untuk menundukkanku, itu murahan."
Setelah mengatakannya Pascal memilih keluar kamar, meninggalkan Masayu yang kali ini sungguh-sungguh menangis.
==]P — CONTRACT[==
Pascal mandi di kamar Iris, ada baju Zhao di sana, dan Pascal berniat memakai salah satunya. Tapi saat keluar kamar mandi, ada kaus, boxer dan jeans Pascal di tempat tidur Iris. Masayu tampaknya benar-benar memiliki indra ke enam yang khusus untuk menebak kebutuhan Pascal.
Pascal berpakaian, ia kembali ke kamarnya untuk bicara pada Masayu, tapi perempuan itu tak ada. Masayu ada di dapur, bersama Asoka dan seorang pengurus rumah tangga. Asoka tertawa karena Masayu berkelakar tentang usia tua seharusnya layaknya anggur, semakin berharga.
Pascal harus mengakui istri cantiknya memang memikat, bisa berbaur dengan baik. Bahkan pengurus rumah tangganya yang biasanya hanya berwajah kaku, bicara formal, bisa ikut tersenyum dan tampak senang mengenalkan tempat-tempat penyimpanan bumbu.
Makan malam hampir siap dan begitu melihatnya, Masayu langsung tersenyum.
Wah! ini dia si istri idaman, batin Pascal sembari berjalan ke kursinya. Masayu langsung mendekat, menunjukkan adonan puding yang baru dituang dalam gelas kristal.
"Bi Herta sudah masak banyak dan aku cuma buat pudding ini, rasa moka."
Pascal memasukkan jarinya dalam gelas tersebut, menyentuh cairan hangat di sana lalu membawanya ke mulut. "Bitter..." gumamnya.
"Karena itu kita makan pakai coklat putih leleh." kata Masayu tersenyum.
"Perfect, then." kata Pascal mengulurkan tangan menahan pinggang Masayu. "Jangan capek."
Masayu mengangguk, "Tinggal dimasukkan ke kulkas, tunggu sebentar..."
Pascal melepaskannya, memeriksa ponselnya dan membalas beberapa chat dari teman-temannya. Pascal masih berkomunikasi dengan baik dengan teman-temannya semasa kuliah di London Medical, ia dan Zhao punya circle pertemanan yang sama. "Aku nobar keluar hari ini."
"Nobar?" ulang Masayu.
"Hmm... Liverpool lawan Manchester United, jam sembilan."
Masayu mengangguk dan beralih melepaskan apron, duduk di samping Pascal. Asoka meletakkan hidangan terakhir di meja dan mereka mulai makan malam bersama.
"Nggak bisa nonton di rumah?" tanya Asoka
"Adrian pulang dari Amerika, sudah sejak pernikahan Zhao aku nggak ketemu." jawab Pascal lalu menoleh pada Masayu. "Nggak papa kan, Sayang? aku harus traktir mereka juga karena nggak undang ke pernikahan kita."
"Oh... emm, tapi sama Edwin ya." pinta Masayu.
"Oke." kata Pascal lalu makan dan setelah selesai, Masayu segera beranjak mengambilkan jaket.
"Aku tahu kamu penganut cashless sejati, tapi nggak ada salahnya jaga-jaga bawa uang cash." kata Masayu saat mengulurkan dompet Pascal.
Pascal menerimanya, pria itu masih menikmati dessert pudingnya, "Lama-lama enak juga puding ini, aku habis gelas ke tiga."
"Aku akan buat lagi besok." kata Masayu, melarikan jemarinya, merapikan rambut Pascal.
"Mami kira kamu bukan jenis yang suka dimanjakan." kata Asoka sambil tersenyum-senyum.
"Masayu memang pengecualian." ucap Pascal santai.
"Mami bisa lihat itu." kata Asoka dan tersenyum lebar pada menantunya.
Pascal berdiri dan mengambil jaketnya, memakainya sembari berjalan ke pintu. Edwin benar-benar sudah menunggu di luar. Hanya mengangguk formal saat menatap Pascal dan Masayu.
"Jangan pulang pagi, kamu harus ke Singapore dengan penerbangan pertama." kata Masayu.
"Ack!" gumam Pascal, berpamitan dengan mengelus pipi Masayu. "Pergi sebentar ya..."
Masayu mengangguk, menunggu hingga Pascal masuk mobil baru kembali ke rumah.
==]P — CONTRACT[==
Teman-teman Pascal langsung berkomentar saat menyadari ada cincin di jari manisnya. Pascal menjawab sekenanya bahwa ia berhasil menjebak seseorang menikah dengannya. Edgar langsung tergelak, Adrian geleng kepala. Dibanding Zhao, kedua temannya ini yang lebih banyak menjadi saksi kenakalan Pascal saat kuliah. Mereka bahkan pernah berpesta semalaman dengan para perempuan setengah telanjang.
"Are you serious? Married man?" tanya Edgar.
Adrian langsung menelepon Zhao mengkonfirmasi hal itu. Keduanya terperangah saat Zhao mengiyakan. "Lepaskan cincinmu, biar kami lihat siapa perempuan itu."
"No! istriku ingin dirinya tetap misterius." tolak Pascal.
"What? alasan macam apa itu?" protes Adrian.
Pascal mengangguk, "Aku serius, dan supaya aku tetap mendapat jatah golku nanti, sebaiknya kita tidak mengubah keadaan itu."
"Jelas ini bukan perempuan biasa." selidik Edgar lalu teringat saat sama-sama bertemu di acara amal HW-Hospital. "Pengacara itu? Miss Lang?"
"Pengacara? bercinta sambil mengobrolkan pasal pemindahan saham." kata Adrian.
Pascal tertawa, "Bukan-bukan, bukan pengacara, apalagi artis, apalagi presenter."
"Sesama pemegang saham? kau kan sudah menguasai mayoritas Pasque Techno."
"Bukan juga, Ad! dia hanya perempuan yang kuinginkan, begitu saja."
Edgar menyipitkan mata, "Pernikahan mendadak, dengan perempuan misterius, ini bukan sejenis kesialan yang kau tanggung karena one night stand?"
"Tidak ada kesialan semacam itu dalam hidupku, ini murni sepenuhnya berkah."
"Aku penasaran, jujur saja." kata Adrian lalu menekan kembali ponselnya. "Dan karena Zhao juga tutup mulut, aku akan menelepon Masayu."
Pascal langsung terperanjat, "Untuk apa?"
"Dia pasti tahu siapa istri Bossnya." kata Adrian dan Pascal buru-buru mengambil ponsel itu, menatap ke layar dan mematikannya.
"Masayu jelas tahu siapa istrimu." kata Edgar mengangguk-angguk.
Tentu saja! Masayu tahu. "Ia tak akan buka mulut dan apa-apaan kau punya nomornya."
"Pikirmu kenapa? kau susah dihubungi saat Iris kecelakaan dan kemudian tiba-tiba dia bersama dengan Zhao." kata Adrian lalu mengambil ponselnya. "Aku di luar negeri saat Iris bertunangan, aku menelepon kantormu dan Masayu membantuku untuk kiriman hadiah itu."
"Oh!" kata Pascal mengangguk-angguk.
"Apa sikap Masayu masih sama meski kau menikah?" tanya Edgar, wajahnya penasaran.
"Ya, memangnya dia kenapa?" tanya balik Pascal, Masayu memang bertemu dengan teman-temannya ini di acara pesta ulang tahunnya dulu.
"Masayu jadi pendampingmu saat Iris bertunangan dan menikah, menurut istriku Masayu benar-benar seperti pasanganmu." kata Edgar
Adrian mengangguk, "Istriku juga tidak menyangka Masayu sekadar sekretarismu."
"Kalau dia patah hati, dia tidak menunjukkannya." kata Pascal santai.
"Really? punya sekretaris secakap dia memang langka, dia bahkan menjaga hal-hal pribadimu." kata Edgar, pria itu syok saat tahu Pascal meminta Masayu menyiapkan hadiah kencan.
"Istrimu baik-baik saja mengetahui soal Masayu?" tanya Adrian.
Pascal tersenyum, "Tentu saja."
Adrian menyelidik, "Kau tak peduli bukan, jika Masayu patah hati?"
Pascal memberi jawabannya dengan senyuman yang lebih lebar. Ia memang brengsek sejati.
==]P — CONTRACT[==
Sudah jam satu pagi saat Pascal pulang ke rumah, ia langsung ke kamar dan mendapati Masayu tertidur di sofa depan jendela. Ada album foto di pangkuannya, foto bayi hingga balita Pascal. Jelas istrinya melakukan inspeksi untuk menemukan itu. Pascal mengambil album tersebut, menyadari satu foto tertinggal di tangan Masayu. Foto Pascal kecil mencium perut bulat Asoka.
Byakta yang mengambil foto itu, ini foto favoritnya sejak dulu.
"Aku bisa memberikan apa saja untuk anak itu." sebuah suara terdengar lirih.
Pascal beralih menatap Masayu yang membuka mata.
"You're so adorable, aku gemas sekali." kata Masayu dengan senyum lembutnya, mendesah dalam. "Aku jadi ingin melihatmu gemuk."
"Tidak." tolak Pascal, ia cukup gempal saat balita, memang lucu. "Seperti katamu, aku versi terbaik saat ini."
"Oh iya, aku menemukan beberapa majalah playboy di laci nakasmu." kata Masayu lalu menunjuk tumpukan majalah di tempat sampah. "Dilihat dari tanggalnya, usiamu seharusnya baru tiga belas saat itu, nakal sekali."
Pascal tertawa, ia geli melihat sampul majalah itu, "Aku bahkan sudah lupa punya semacam itu."
"Ya, karena aku yakin, tahun berikutnya kau memutuskan melihat aslinya." kata Masayu membuat tawa Pascal terdengar lebih keras.
"Mulutmu selalu cerdas, Mrs. Pasque." puji Pascal sembari meletakkan foto dan melepaskan jaketnya. Masayu menegakkan tubuh, menyambut saat Pascal mengulurkan tangan, menggandengnya ke tempat tidur.
Sejenak Pascal menyadari bahwa Masayu tidak mengenakan kaus biasa, istrinya itu mengenakan atasan jersey Pascal. Ujung baju itu mencapai setengah paha Masayu, seksi sekali.
"Aku tahu Liverpool kalah." kata Masayu membiarkan Pascal mengamatinya.
"Kau pakai jerseyku." kata Pascal, sebenarnya puas dengan bagaimana penampilan istrinya.
"Aku nggak bisa pinjam baju karena Iris lebih kecil dariku." kata Masayu lalu menguap kecil. "Nah, besok ada penerbangan pertama yang harus dikejar, jadi—"
Pascal langsung mengangkat Masayu, membaringkannya di tengah tempat tidur, ia meraba ke balik jersey istrinya, tanpa pakaian dalam. "Ini jelas undangan yang tak akan kulewatkan..."
Masayu menahan tangan Pascal, "Aku tak mau seperti tadi."
"Tidak, tidak... aku akan memberikannya kali ini." janji Pascal lalu mencium Masayu.
Sepanjang sisa malam, Pascal membuktikan bahwa ia menepati janjinya.
==]P — CONTRACT[==
Masayu benar-benar harus mulai membiasakan diri tidur dibelit lengan kekar ini. Pascal benar-benar tidak melepasnya kecuali saat Masayu harus bangun lebih dulu. Masayu menghela napas, kepalanya pusing, ia tak benar-benar tidur selama satu jam ini.
Pascal menggerakkan kepala, mengerjapkan mata. "What time is it?"
"Empat dan pesawatmu setengah tujuh, kau hanya punya waktu bersiap sekitar empat puluh menit." kata Masayu memperkirakan jarak rumah dan bandara.
Pascal menanggapi dengan geraman, mencium-cium kepala Masayu. "Kita bisa membuat alasan agar kau ikut bersamaku."
"Tidak, aku harus memastikan perwakilan Farm Research Independent mendapatkan semua kebutuhan informasi tentang Madja dan membantu mereka mencicil keperluan belanja untuk Pasque Seeding Centre."
Pascal menggeram lagi, "Aku akan merindukanmu."
"Aku akan menjemputmu besok siang."
"Aku ingin pulang nanti malam."
"Tidak bisa, kita sudah mengundur jadwalmu dengan Young Leo Medical agar hari ini kau leluasa bersama Direktur NUS, kau berjanji akan pamer teknik down swing padanya."
Pascal mendesah, Masayu benar, jika bisa mengambil hati Direktur NUS, bukan hanya pembaruan laboratorium yang akan ia dapatkan, tapi juga pembaruan ruang praktik pembedahan. Menempatkan operating bed terbaru Pasque Techno di sana akan jadi pencapaian bagus untuk tahun ini. Membayangkannya saja sudah membanggakan.
Masayu mengecup lengan Pascal, "Bangun dan mandi, akan kusiapkan jasmu."
Pascal melepaskan Masayu dan beralih memasuki kamar mandi. Masayu kembali mengenakan atasan jersey Pascal, menyiapkan setelan kerja dan menata bawaan Pascal. Berkas yang harus dibawa sudah jadi satu dengan tas laptop. Masayu tinggal memasukkan komputer tablet Pascal, membawakan satu setelan lagi untuk besok, kaos tidur, celana pendek dan jeans.
Pascal keluar dari kamar mandi, ia berpakaian sementara Masayu mengeluarkan dompet dari jaketnya, memindahkannya ke bagian depan tas Pascal.
"Ah dasi dan sapu tanganmu." kata Masayu kembali membuka lemari, memilih-milih yang sesuai dan memasukkannya ke tas. Pascal benar-benar siap berangkat dalam empat puluh menit.
"Aku akan mengantarmu ke bawah." kata Masayu tapi Pascal menggeleng.
"Tidurlah, hari ini masuk jam sepuluh saja... pesawat yang membawa perwakilan FRI mungkin baru tiba sebelum makan siang." kata Pascal, ia mengambil ponsel dan tasnya.
Masayu memang sangat mengantuk, ia mengecup pipi Pascal, "Hati-hati ya..."
"Jangan lupa menjemputku besok." kata Pascal memeluk Masayu sebelum beranjak.
Tapi Masayu tidak bisa tidur dan memutuskan untuk membuat kopi, ia sarapan bersama Asoka lalu berangkat ke kantor. Pascal menelepon saat perwakilan dari Farm Research Independent datang, mereka melakukan video call sebentar lalu Masayu kembali pada pekerjaan. Sore hari di Pasque Techno cukup sibuk dan Masayu mulai pening.
"Mas, kok lemes banget sih?" tanya Lulu, mereka memang akan pulang bersama. Yoshua ulang tahun dan berniat mentraktir nonton.
"Hmm... tapi nggak papa." jawab Masayu mencoba memfokuskan tatapannya.
"Say! Lu!" panggilan itu disertai suara-suara klakson dari Avanza perak milik Yoshua.
Mereka segera bergegas masuk, Fanya dan Sera sudah berada di dalam. Masayu duduk di tengah bersama Lulu, ia langsung bersandar karena pusing.
"Hampir gue nggak lolos balik duluan." kata Yoshua melajukan kendaraan.
"Kenapa emang?" tanya Sera.
"Nyai tuh! tiba-tiba lempar kerjaan, katanya harus ke Singapore."
Masayu terperanjat, Lulu yang berseru. "Heh! Boss bukannya ke Singapore juga?"
"Iya, sampai besok siang." jawab Masayu, mencoba menenangkan diri.
"Tuhkan-tuhkan!" kata Lulu.
Fanya geleng-geleng kepala, "Ih gue kok najis besar banget, bayangin Nat jadi istrinya Boss."
"Bukan deh! bukan Nyai lah!" kata Sera lalu mencondongkan kepala ke depan. "Waktu Bu Inggrid nanya ke Boss, ada penyesuaian untuk skema transfer ke rekening atau ada tambahan rekening baru nggak. Boss bilang, nggak ada semuanya seperti biasa."
"Maksudnya apaan tuh, Mbak?" tanya Yoshua.
"Kalau Nyai beneran istirnya pasti dia yang ke tempat Bu Inggris bikin aturan ini itu, transfer ke rekening belanja berapa, ke rekening perawatan berapa, ke rekening anak berapa... dih!"
"Oh iya, kan plus one." timpal Fanya.
Masayu pernah melihat Natasha bersama anaknya, "She's sweet mother, aku pernah lihat Nat sama anaknya di mall, makan pancake, baju mahalnya itu kena coklat tapi dia easy... kita semua tahu dia peduli banget sama penampilan."
"Sweet mother kok jual anak demi rumah." komentar Lulu.
Masayu angkat bahu soal itu, ia juga tak tahu. Berikutnya Masayu hanya menyimak dalam diam, ia pusing dan persoalan Natasha berangkat ke Singapore terasa memperburuk pikirannya. Sebelum masuk bioskop, Masayu menelepon Pascal dan ponsel pria itu berada dalam panggilan lain. Entah kenapa rasanya Masayu amat gugup sekarang.
"Mas... ayo." ajak Lulu.
Masayu mengangguk, ia menghela napas panjang, mencoba menelepon sekali lagi dan kali ini langsung diangkat.
"Nat, kau dapatkan tiketnya?" sahutan itu terdengar, mematahkan hati Masayu.
"Wrong number, Mr. Pasque." jawab Masayu, menutup ponselnya lalu segalanya begitu gelap.
[ to be continued ]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top