Ditinggal

Pagi itu, Lia bersama Tora keluar rumah untuk sekolah seperti biasa. Membawa tongkat, memakai topi. Mereka hanya berpamitan pada rumah, ayam-ayam, dan kebun. Lia mengunci pintu rumah. Tora sudah memegang duplikatnya, seperti biasa. Lalu keduanya berjalan pelan menuruni bukit. Tapi tiba-tiba Lia menoleh.

"Kenapa Kak?" Tanya Tora. Tapi Lia terpaku. Ia melihat bayang-bayang. Pintu rumah terbuka lebar, Ayah sedang sibuk menyiapkan perkakas, Bunda sedang mondar-mandir membersihkan rumah. Keduanya melambai pada Lia dan Tora yang kini tertegun tengah jalan.

"Apa itu..." Gumam Tora.

"Ga tau..." Gumam Lia. Mereka berangsur sadar, dan bayang-bayang itu menghilang. Tora menatap kakaknya.

"Buat sekarang, kita cuma berdua, kak..."

****

Hari itu Lia lumayan bisa fokus belajar. Kali ini ia dikejar Radit dan Ivan. Juga Anton.

"Kita maju pertama lho! Belom jadi!" Seru Radit, memukul meja keras-keras. Lia menutup telinganya, iseng mencoba bersiul - yang malah gagal.

"Kok jadi males sih Lia? Ntar nilainya aku kalahin tau rasa," sahut Ivan.

"Niat sekolah ga sih?" Celetuk Anton. Lia memandangi mereka semua sambil nyengir.

"Kalahin aja. Nggak, aku nggak niat."

"Sana keluar aja!" Anton berapi-api.

"Oke fine! Besok dan seterusnya aku ga bakal masuk lagi! Biar kalian keteteran!" Lia memukul meja. "Jadi ga sih? Mending aku pulang aja!"

"Jadi!" Ketiga laki-laki itu serempak mengepung Lia yang langsung geleng-geleng kepala.

"Mumpung aku ga sibuk nih."

"Sok," seru Radit.

"Oke!" Lia menunjuk wajahnya. Ia sedang ingin ribut.

"Buruan dong," gerutu Manda. Mereka langsung diam. Lia membuka buku IPA. Semangatnya mendadak keluar.

"Kita dapet dari halaman ini sampe sini. Bisa dibagi enam. Nih aku bagiin. Ntar mau dikocok aja apa gimana? Apa milih masing-masing aja?"

Sore itu Lia baru keluar dari gerbang sekolah hampir pukul setengah lima. Ia sudah berpenampilan seperti pelancong dengan topi dan tongkatnya. Ia menunggu bus di halte saat melihat Radit melambai padanya dari seberang jalan. Lia tahu maksudnya. Ia ingin ikut. Lia langsung mengayunkan tongkatnya.

"Jangan...!"

"Kenapa?" Tanya Radit. Ia bersiap menyeberang jalan. Lia melotot padanya.

"Gak boleh!"

"Sekali-kali napa?"

Untunglah bus tiba tepat saat itu. Lia segera naik, tak peduli pada Radit. Ia sampai di rumahnya saat Tora sedang asyik di kebun. Lia segera berbenah lalu menyusul Tora sambil memerhatikan langit sore. Sudah biasa. Namun ada yang berbeda. Ayah tidak akan pulang malam ini. Mereka tak perlu menunggunya.

Dini hari itu keduanya terbangun. Mereka sholat tahajjud, sendiri-sendiri. Dan setelah itu mereka tidak pernah berjamaah. Alasan Lia, karena Tora belum dewasa.

"Kalau tau gini... Mending tinggal sementara di rumah hutan," gumam Lia. "Jadi kamu bisa dapet jamaah di masjid, Ra."

"Udahlah, gapapa," Tora mengambil bajunya dari tumpukan sambil menguap.

"Gapapa... Masa iya seminggu sholatnya sendiri terus?"

"Kakak aja jadi imam."

"Haha," Lia menatap Tora, agak jengkel. Tapi ia memutuskan pasrah.

Mungkin hasratnya untuk berpikiran baik, demi kepulangan ayahnya, Lia perlahan kembali menjadi sosok yang menyenangkan di sekolah. Bahkan ia mengajak Manda mengobrol meski Manda hanya menjawab sedikit. Tapi Lia tak peduli. Ia juga dengan semangat menuliskan contoh-contoh soal matematika, lalu menyuruh Radit - dengan memaksa - menyalin semuanya di laptopnya.

"Gimana caranya coba, masa bikin garis satu-satu gitu?" Sewot Radit.

"Ya gimana kek, aku ga ngerti," balas Lia.

"Ada teknologi namanya internet," sahut Bagas sambil tidur-tiduran di kursi.

"Nah," sahut Lia.

"Apaan nah-nah! Ilham, sini kamu!" Radit menarik tangan Ilham sampai nyaris terpelintir. Ilham mengaduh.

"Apa-apaan kau narik-narik orang sembarangan," gerutunya. Radit tak peduli, menyodok-nyodok Ilham, menyuruhnya mengetik. Sementara Lia dengan tenang duduk di meja samping Bagas.

"Hoi."

"Apa?" Lia menoleh pada Bagas.

"Ga."

Lia menatap Bagas yang meledeknya dengan jengkel. Apa-apaan itu.

"Jimat apa yang kamu pake sampe sekelompok sama Radit mulu?"

"Hah?" Lia melongo.

"Kamu mau kan sekelompok sama dia," Bagas bangkit, duduk sambil mengacak rambutnya.

"Yang ada dia kali yang mau sekelompok sama aku," balas Lia, menatap Bagas aneh.

"Bohong."

"Au ah, nasib." Lia berdiri dan membereskan buku serta alat tulisnya. Ilham sudah memegang kertasnya yang berisi contoh soal.

"Aku duluan ya."

"Eh, kok kabur!" seru Radit. Lia hanya melambai.

"Kita maju kapan sih?"

"Masih lama sebenernya," jawab Bagas. "Tapi Raditnya ambisius."

Radit malah menjitak Bagas. Ilham serius di depan laptop. Lia melangkah ke luar kelas, hendak pulang.

Sudah hampir seminggu Ray belum pulang juga. Minggu malam itu, Lia dan Tora sering memandangi pintu sambil meremas tangan masing-masing, gelisah.

"Firasatku bilang Ayah gak akan pulang minggu ini. Pasti lebih."

"Aku juga, tapi gak ada kabar," Tora merenungi ponsel Ray. Ia mengambilnya.

"Ada nomornya gak di sini?"

"Aku belom cek," Lia menyambarnya. Lalu ia segera mencari-cari nama di kontak, satu per satu. Ujung-ujung jarinya seolah membeku. Tak ada nomor baru Ray di sana. Tak ada kontak yang baru.

"Gak ada..."

"Tanya Paman?"

Lia segera menelepon pamannya. Eugeo mengangkatnya.

"Ada apa, Lia?" Ia tentu sudah tahu kalau nomor Ray yang lama kini dipegang anak-anaknya.

"Ah, enggak. Paman tahu nomor Ayah yang baru?"

Eugeo terdiam. Ray tidak pernah memberitahunya.

".... Nggak. Maaf, Lia. Aku juga khawatir."

"Ayah gimana..." Suara Lia mulai bergetar. Kecemasannya muncul. Tora berdiri di sampingnya, mendengarkan dengan serius.

"Masa iya sih Ayah gak mau kita kontakan sama sekali... Masa iya sih, Ayah bener-bener baru hubungin minggu depannya..." Lia menunduk. Ia sungguhan gamang.

"Maaf, Lia. Ayahmu begitu. Ia punya rencana yang sepertinya, kalau kita menghubunginya, semuanya berantakan. Kamu tahu masalah terakhir yang mengguncangnya itu, kan? Meski sudah lama lewat."

Lia mengangguk lemah.

"Jasad Bunda yang dicuri."

"...." Eugeo tak sanggup berkata-kata. Ia menatap ponselnya, terbelalak.

"Mereka berdua tabah sekali... Lebih tabah dari aku maupun Arin."

Sambungan diputus. Lia dan Tora bertatapan.

"Jadi?"

"Ya, mau gimana lagi, kita emang harus nunggu," Lia meletakkan ponsel itu kembali di meja dengan lemas. "Ra, aku males bikin makan."

"Biar aku bikinin!" Tora segera bangkit. Lia hanya terduduk di sofa. Sebagian semangatnya seolah tercabut. Mendadak keinginannya sekolah surut.

"Ra, ini gimana?"

"Apaan?" Sahut Tora dari dapur.

"Aku," jawab Lia. "Aku udah gak pengen sekolah."

"Jangan gitu ah kak," Tora masih sibuk entahlah di dapur. Lia meregangkan tubuhnya.

"Kayaknya nasibku emang di rumah ini... Rumah yang hampir jadi milikku ini..."

****

Ray belum pulang minggu itu. Lia dan Tora sangat gelisah. Begitu pula Eugeo. Ia menjemput Lia Senin itu, sudah bersama Tora. Lia terperangah melihat keduanya berdiri di depan gerbang.

"Jangan panik gitu," gumam Tora.

"Aku gak panik," sanggah Lia.

"Ayo pulang." Eugeo menariknya.

"Kenapa Paman jemput?" tanya Lia.

"Ada yang harus Paman bicarakan... Ayo. Paman gak bawa mobil. Kita naik bus."

Di rumah, setelah berbenah, Eugeo menyampaikan semua yang ia tahu.

"Ray sangat tertekan dengan pencurian jasad itu. Suatu hari ia dapat surat. Surat dari James, soal ia yang akan kembali meneror sesuai 'janji satu tahun'-nya dulu itu. Lalu ada pesan singkat, yang membuat Ray mencurigai James sebagai pelaku pencurian itu. Ia juga mengatakan... Ya, dia tau lokasi rumah ini. Ia juga tahu kalian berdua. Ray sudah menyampaikannya waktu itu. Dan dia bilang... Lia, kamu mirip Arin. Karena itu Ray sangat khawatir. Kamu... Kamu tahu kan apa yang terjadi pada Arin dulu? Dan kau, Tora... ingat apa yang terjadi padaku dulu? Kami, kami nggak mau itu terjadi pada kalian. Maka karena itulah, Ray langsung menyuruh kalian merutinkan latihan fisik lagi."

Lia dan Tora duduk berdempetan, sama-sama gemetar. Eugeo melanjutkan.

"Surat kedua datang... Dan aku yakin Ray tidak mengatakannya pada kalian. Ia sungguhan linglung. Ancaman James aneh. Dia bilang... Dia yang mencuri jasad Arin. James tahu bagaimana mempermainkan Ray. Ia memberi beberapa pilihan. Ray tetap di sini dengan tentram damai, dengan kalian, tak ada yang berubah, tapi jasad Arin akan... tidak akan... kembali... Atau ia akan mengembalikan jasad Arin, asal ia boleh berkunjung ke rumah ini tanpa dicurigai. Padahal pasti mencurigakan. Atau... Ray yang pergi ke tempatnya, dia tidak bilang untuk apa, dengan janji tidak akan mengganggu kalian. Ray memilih yang ketiga."

Pilihan-pilihan itu. Lia memeluk Tora erat-erat.

"Ray tidak mau kalian kenapa-napa... Dan ia sudah menyusun semuanya, tanpa memberitahu kalian. Ia membeli ponsel dan nomor baru, yang tidak bisa kita hubungi. Ia menyusun rencana seminggu, kalau tidak, akan mengabari dua minggu kemudian, lalu sampai sebulan, seorang diri. Aku hanya diberi tahu tanpa boleh ikut campur. Tatapan matanya saat bilang, laporkan perihal orang hilang, aku tahu ia tidak yakin bisa kembali secepat itu atau nggak..."

"Cukup," Lia memukul lantai. "Aku gak mau dengar lagi. Ayah pasti pulang."

"Aku tahu..." Eugeo menghela napas. "Ayah kalian pasti pulang."

Namun tak ada kepastian dari nada suara mereka. Esoknya Lia sekolah dengan biasa, tidak semangat, tidak pula lesu. Ia langsung pulang begitu bel berbunyi, begitu cepatnya sampai Radit tak bisa menghentikannya. Ia sampai di rumah, memerhatikan kebun sejenak, melihat tak ada yang perlu diurus, ia langsung mandi dan mengerjakan tugas-tugas sampai tidak ada tugas lagi tersisa. Kemudian ia mencoba membuat puisi, namun ia sedang tidak ingin. Lia membanting pensilnya.

"Tora!"

"Apa?" Tora yang sedang menatap pintu tersentak. Ditambah tiba-tiba sesuatu yang keras mengenai kepalanya.

"Duet yuk." Lia mengetuk-ngetuk ukulele Tora di kepalanya. Tora bangkit, mengambil ukulelenya.

"Yaudah, ayo."

Mereka duduk di bawah pohon kersen, dan malah memandangi langit sore.

"Senja di rumahku, ya, Kak," gumam Tora.

"Iya," sahut Lia. "Masih sama, kan? Gak ada yang berubah."

"Iya..."

Mereka memandangi burung-burung yang terbang tinggi di kejauhan. Danau yang beriak, memantulkan warna langit. Awan-awan oranye. Matahari. Hutan. Tak ada yang berubah.

"Enggak juga, sih..."

"Apa?" tanya Tora.

"Perasaan..." gumam Lia. "Perasaan kita berubah-ubah terus kan, meski liat pemandangan yang sama. Sekarang aku lagi ngerasa, menanti seseorang..."

Tora menatap kakaknya. Lalu memandang danau di kejauhan.

"Kita nantinya bakal ngerasain kesepian gak, ya..."

****

Sejak tadi Lia memandangi jendela kelas. Bahkan saat guru sedang menjelaskan di papan tulis, Lia tak bergeming. Dan entah mengapa Radit yang sewot.

"Guru di depan liatin napa!" bisiknya. Lia mengangguk, lalu menggeleng.

"Kenapa sih?"

"Mau pulang."

Radit tersentak.

"Woi, biasanya juga pulang sore ga napa-napa, ini malah mau pulang sekarang?"

"Kangen rumah."

"Ada apaan di rumah?"

"Kangen Ayah..." Lia menoleh pada Radit. "Diam kamu."

Radit diam. Tapi tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia ingin bertanya tapi tak tahu pada siapa. Maka alangkah terkejutnya ia saat melangkah ke gerbang, Agnes sudah berdiri di sana.

"Mama ngapain?" Radit melongo. Agnes menyuruhnya diam. Tapi ia bertanya juga.

"Mana Lia?"

"Udah balik. Cepet banget dia keluar kalo udah bel."

"Ah," desah Agnes. "Pulang sana, Dit."

"Mama ke mana?"

"Ke rumah Lia."

"IKUT!"

"Enggak, apaan kamu!" Agnes menjitaknya. "Sana pulang, Mama yang nyuruh kamu."

"Ikut, plis ikut..." Radit menarik-narik lengan mamanya. Agnes mendesah.

"Ga."

"Ya."

"Ga."

Agnes mengangkat ponselnya.

"Pa, Radit gak mau pulang. Jemput dia sekarang."

"Jangan!" Radit berseru-seru. Agnes tak peduli.

"Ya, aku tahu Lia gak akan suka kalo Radit ke rumahnya. Gimana aku akan membuat gadis kecil itu tambah tertekan dengan semua yang dilaluinya? Tolong ya, Pa. Sip. Aku tunggu."

"Apaan sih, Ma!" gerutu Radit. Agnes melotot padanya.

"Kamu gak tau apa? Lia lagi stress. Dia bisa bunuh diri kalo liat kamu di rumahnya, kali."

"Aku tahu dia dari tadi pengen pulang! Tapi gak akan kubiarkan ia bunuh diri!"

Agnes meliriknya.

"Stop, Dit. Mama juga kenal dia. Mama tahu sifatnya. Sama seperti keluarganya. Tidak suka kalau ada orang yang tidak mereka kehendaki datang ke rumah mereka. Mama juga tahu, kamu sering ingin membuntuti Lia, tapi gak berhasil, kan?"

Radit melongo.

"Mama tahu dari mana..."

Agnes menjentikkan jarinya. Tepat saat itu Randi datang dengan motornya. Agnes langsung menarik Radit.

"Bawa dia ke rumah, Pa. Jangan sampai loncat di tengah jalan."

Randi tertawa sementara Radit merengut. Agnes melambai dan segera berlalu.

Lia sedang membaca buku ketika ia merasakan cahaya dari pintu berkurang. Ia menoleh dengan cepat, harap-harap cemas, jantungnya berdebar keras. Ayahkah itu?

"... Bukan."

Lia menunduk, tapi tetap menghampiri Agnes.

"Ada apa, Tante?"

"Gimana kabarmu dan adikmu?" Agnes menatap Lia dengan khawatir.

"Baik-baik saja, Tante."

"Benarkah?" Agnes melangkah masuk setelah dipersilakan Lia. "Tante khawatir sama keadaan kalian berdua. Kalian sungguh gak apa-apa? Kekurangan makanan kah?"

Malam itu Lia membiarkan Agnes memasakkan makanan untuk mereka. Sepertinya kekhawatirannya bukan main-main.

"Aku dan Randi juga tahu kalau Ray pergi. Ia mengabari kami semua. Tapi nggak bilang berapa lama. Dia juga bilang, perginya itu gak sebentar. Dia... berpesan padaku, untuk sesekali mengecek keadaan kalian dan memastikan kalian nggak kekurangan apa-apa. Atas persetujuan Eugeo."

Sudah malam, baik Lia maupun Tora tidak ada yang membuka buku pelajaran mereka. Keduanya duduk tegak, menyimak Agnes.

"Lalu Tante pulangnya kapan?" tanya Lia. Namun ia gelagapan sendiri.

"A, aku gak maksud ngusir, cuma ya, cuma nanya, soalnya ini udah malem, hutan udah gelap..."

Agnes tertawa.

"Maaf mengganggu kalian. Malam ini Tante menginap saja. Tidur di mana saja ga papa."

Tora melongo sementara Lia langsung meloncat.

"Kasurku cukup buat berdua kok Tan. Sama aku aja."

Malam yang berbeda. Keduanya merasakan kehangatan yang hampir mirip seorang ibu kandung. Agnes, memang satu-satunya sahabat Arin. Lia mengucapkan selamat tidur pada Tora, lalu masuk ke kamarnya. Agnes juga sedang bersiap-siap tidur.

"Hm? Kenapa Lia?" Agnes melihat Lia menatapnya. Lia langsung berpaling, mukanya memerah. Agnes tertawa.

"Kenapa sih? Gak apa-apa kok, ga usah malu. Kamu sudah Tante anggap keluarga kok."

Lia meremas ujung baju tidurnya.

"Tante..."

"Ya?"

"Boleh... Minta?"

"Apa?" Agnes tersenyum, berdiri tegak. Lia menghampirinya sambil tetap menunduk dan meremas ujung bajunya.

"Tante..."

Agnes diam menunggu.

"Peluk... aku..."

Agnes langsung tertawa.

"Dengan senang hati. Kemari, Lia." Agnes langsung mendekap Lia yang menghampirinya.

"Kamu sudah tinggi ya. Inget waktu pertama kenalan langsung sama kamu, kamu masih sedikit lebih tinggi dari pinggangnya Tante. Sekarang kamu udah sampai mata Tante."

Lia diam saja, merasakan kehangatan seorang ibu yang sudah lama tak ia rasakan. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir.

"Maaf Tante..." gumamnya. Mendengar suara lirih Lia, hati Agnes bergetar. Ia menyentuh kepala Lia, lalu mengelus rambutnya yang panjang.

"Kenapa, Nak?" tanya Agnes lembut.

"Aku... kangen Bunda..." Lia sesenggukan. "Kasihan... Kasihan Bunda... Kasihan Ayah... Kasihan Tora..."

Agnes tahu Lia pasti menderita beban psikologis yang berat. Ia seorang kakak, ia harus bisa bersikap tegar di depan adiknya, tak peduli sehancur apa pun hatinya. Pastinya, keberadaan Tora salah satu penyebabnya masih mempunyai semangat. Agnes masih mendengarkan isakan Lia.

"Kenapa... Kenapa hidupku menderita sekali... Gak adil... ya Allah... Aku capek..."

Agnes tak tahu harus menjawab apa. Ia bersyukur mengenal Lia. Tanpa Lia, rumahnya akan dipenuhi teriakan-teriakan kemarahan akibat Radit. Kini anaknya telah berubah drastis. Semua karena Lia. Tapi keluarga Lia seolah sedang dipreteli satu-satu. Agnes sangat berharap, Ray segera kembali.

"Kamu tahu?" tanya Agnes lembut. "Hakikat dari keadilan adalah ikhlas menerima. Sekalinya kamu sudah memutuskan untuk ikhlas, kamu akan menerima semua yang terjadi... Otomatis, kamu nggak akan lagi merasa menderita..."

Lia tahu. Ayahnya selalu mengungkit soal itu. Mengingat sebuah keajaiban yang diakibatkan oleh hati yang ikhlas, pasca ledakan bom dulu. Tapi Lia merasa ia tak semudah itu untuk menerima.

"Lia, Tante ada di sini. Kalau kau ingin curhat, silakan. Tante akan senang hati menggantikan tugas Bunda untukmu. Ingat, kamu udah Tante anggap keluarga. Mau main ke rumah juga silakan. Jangan sungkan, ya."

"Eum, makasih..." Lia melepas pelukannya. Ia merasa malu. Di depannya ini Agnes, ibunya Radit.

Bagaimana kalau dengan anaknya?

Pikiran yang tiba-tiba itu membuat Lia terperanjat lalu memukul kepalanya sendiri. Agnes memandangnya bingung.

"Kenapa?"

"Enggak, makasih Tante," Lia menunduk. Entah mengapa tiba-tiba ia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya. Agnes menepuk bahunya.

"Gak usah malu. Tante sahabat ibumu. Ibumu pasti juga tidak apa-apa."

Lia berusaha tidur. Ia yakin wajahnya memerah, meski ia tak yakin alasannya apa.

Esok harinya, Agnes menyiapkan bekal seolah-olah memang itu tugasnya, dan mereka berangkat bertiga, pagi-pagi sekali. Tora turun dari bus, lalu Lia turun, setelah berpamitan pada Agnes. Di dalam bus, dalam perjalanan ke rumahnya, Agnes tak bisa menahan senyumnya.

"Ya Allah, dia tabah sekali, aku merasa kalah. Kalah jauh darinya."

Ia turun lalu berjalan kaki menuju rumahnya sambil tersenyum makin lebar.

"Beruntung juga, Radit dekat dengan anak seperti itu."

Sebenarnya, hati Agnes menangis. Ia berpapasan dengan anaknya yang sedang berangkat ke sekolah, sendiri.

"Gimana, Ma?"

"Gimana apanya?"

"Kabar Lia di rumah." Radit menatap Agnes. "Enggak depresi berat kan?"

Agnes membaca kekhawatiran dari nada bicara Radit.

"Enggak kok. Cuma kehadiran Mama semalam bikin dia teringat ibunya. Udah, itu aja."

Radit hendak berlalu, namun Agnes sempat menahannya.

"Kenapa, Ma?"

"Bisakah kamu?"

"Ngapain?"

"Lia sudah membantumu menjadi orang yang lebih baik," ujar Agnes. "Bisakah kamu membantunya... Supaya suasana hatinya kembali baik, dan semangatnya kembali?"

Mata Radit melebar. Wajahnya memerah.

"Insyaallah, Ma."

"Jangan pakai cara yang tidak disukainya," Agnes menatapnya tajam. "Dan jangan terlalu girang dengan permintaan Mama ini. Lia itu peka. Ia bisa tahu tujuanmu hanya dengan sekali berinteraksi dengannya. Jadi, atur sebaik mungkin, dan jadilah kawan Lia yang baik." Agnes mendesah. "Lia itu, sebenarnya hatinya sangat kosong. Udah ya, sana pergi. Jangan terlalu kepikiran, nanti gak fokus ngapa-ngapain."

Tapi bagaimana Radit tak memikirkannya? Ia bertekad akan menjadi kawan terbaik Lia, menjadi seseorang yang bisa mengisi kekosongan hati Lia, seperti kata ibunya. Ia berangkat sekolah dengan langkah ringan.

"Tenang aja, Ma... Tenang aja, Lia... Aku akan selalu ada!"

(Bersambung)

****

Halo

Tare here

Hope you enjoy this story.

BTW, gambar di media itu gambar tahun 2017. Style-nya beda jauh sama yang sekarang, ya? :D

Regards,
AL.TARE

***

Updated
11/6/24
zzztare

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top