Berteman (Rev)

Lia sejak tadi merangkul Tora. Sejak baru bangun tidur, sarapan, bahkan menuruni bukit. Tak peduli adiknya protes.

"Kak, lepas dong! Aku enggak selemah itu! Aku kan bisa bela diri!"

"Enggak. Mumpung masih bareng," sahut Lia. "Nah, itu busnya dateng. Ayo!"

Lia menarik Tora masuk. Mengajaknya duduk bersisian. Kembali merangkulnya. Tora akhirnya memutuskan tidak peduli.

"Kamu enggak sedih apa?"

"Eh?" Tora menoleh ke kakaknya yang menunduk. "Sedih?"

"Aku ingat kata Paman," ujar Lia. "Berpisah dengan orang yang kita sayang itu enggak enak, apalagi kalau dengan cara yang menyakitkan."

"Enggak sedih kok," jawab Tora. "Malah aku bangga. Kakak lulus SD dengan nilai terbaik. Apa yang menyakitkan? Udah SMP pula. Aku bangga sama Kakak."

Wajah Lia agak memerah. Ia baru tahu, adiknya bisa begitu membesarkan hatinya. "Makasih, Dik. Oke, aku percaya kamu bisa jaga diri. Jangan sampai bertengkar, ingat!"

"SD sudah di depan, Kak." Tora bangkit, menepuk-nepuk celananya. Agak tegang juga tidak satu sekolah lagi dengan kakaknya.

Lia tersenyum. "Jaga diri, ya."

Tora balas tersenyum, lalu melambai. Turun dari bus, dan Lia masih bisa melihat lambaiannya saat bus sudah kembali berjalan. Lalu Lia merenung.

Sudah setahun lebih sejak kematian bundanya. Saat itu ia masih akhir kelas lima. Sekarang ia sudah lulus SD, dan ini hari pertama SMP. Ia berangkat tanpa orang tua. Ray hanya menemaninya selama seleksi masuk dan daftar ulang, lalu meminta Lia agar berangkat sekolah sendiri. Lia mengiakan saja, tapi ia iseng menanyakan alasannya. Jawaban Ray membuat Lia tercengang-cengang.

"Itu tempat Ayah ketemu Bunda pertama kali. Nanti Ayah nangis lagi."

Mungkin predikat kalau Ray itu laki-laki tercengeng, sampai saat ini, masih benar. Meski sebenarnya, saat kematian Arin, itu kali pertama Lia melihat Ray menangis. Dan Lia maklum. Entahlah, ia memang anak yang cepat menangkap situasi. Maka guru-guru SD menjulukinya, cerdas.

Lia turun di halte depan SMP. Menunduk. Memasuki kompleks bangunan yang cukup luas. Kata Ray, masing-masing angkatan di sini terdiri dari tiga kelas. Lalu mengapa ruangannya tampak begitu banyak? Lia sedikit penasaran. Sambil berjalan berkeliling, ia menyapa satu-dua teman SD-nya. Kemudian ia kembali menyendiri.

"Kakek udah bikinin aku surat peminjaman ruang musik," gumam Lia antusias. "Ruang musik di mana ya? Kenapa Kakek bisa bikinin aku surat? Apa Kakek termasuk pendiri sekolah ini?"

Kakek seorang komposer kenamaan. Rumah Kakek, yang juga rumah Eugeo, biasa disebut Rumah Kota, sangat besar. Di belakangnya terdapat gedung konser. Menurut Kakek, beliau dekat dengan guru musik di SMP. Mungkin rekan? Lia pusing sendiri memikirkan semuanya. Ia berjalan pelan ke tengah lapangan yang cukup sepi, menengadah.

"Ini sekolah Ayah dan Bunda dulu," gumamnya lagi. Nyengir sedikit. "Ayah ketemu Bunda di sini. Apa aku juga akan bertemu .... Eh?!"

Gumamannya terputus. Sejak tadi ia menengadah, tanpa sadar telah menabrak sesuatu. Seseorang, lebih tepatnya. Dan orang itu, laki-laki, langsung bergaya dramatis. Tersungkur begitu saja, lalu berguling-guling sambil memegangi lututnya. "Ah ... ah! Sakit! Aku luka! Pasti aku luka!"

Lia terperangah menonton drama di hadapannya. "Maaf ... enggak sengaja," gumamnya pelan.

Laki-laki itu tiba-tiba diam. Berdiri, lalu menatapnya tajam. Anehnya, mengulurkan tangan. "Siapa kamu? Aku Radit."

Lia makin tercengang. Ia memang jarang berkenalan dengan orang, tapi masa berkenalan seperti ini caranya? Ia tergagap. "Lia ...."

"Lia?"

Tangan yang menjulur itu mundur, lalu mengacak rambutnya. Radit tampak frustrasi. "Lia yang aku tahu memang anak baik. Katanya, selalu membuat orang tuanya bangga. Dan Lia di depanku ini memang anak baik. Hei, kamu cewek pertama yang pernah minta maaf ke aku."

"E-emang aku yang nabrak kamu kan?" Lia makin gelisah.

Radit kembali menatapnya. Pandangan matanya sukar diartikan. "Ya, tapi kalau cewek lain biasanya malah marahin balik. Kalau aku kayak tadi, aku diteriakin, lebay amat sih! Gitu doang. Kalau aku diam saja, aku diomelin, kalo jalan liat-liat napa! Punya mata enggak sih?"

Lia berpikir sejenak. Benar kata Radit. Memang begitu kenyataannya. Ia sudah sering melihatnya selama SD. Tanpa sadar ia tertawa kecil.

"Hei, kamu tertawa?"

Lia melihat wajah Radit tampak senang. Lia agak heran, tapi memilih mengangguk. "Yang kamu bilang bener. Tapi aku enggak suka nyalahin orang lain."

"Ah!" Radit berlari menuju aula. Sekali menoleh ke belakang, lalu melambai. "Kamu sungguhan anak baik! Aku enggak tahu mesti kesal atau enggak."

Lia kembali tercengang, tepat saat bel berbunyi. Berusaha menepis bayangan laki-laki aneh tadi, Lia beranjak ke aula.

****

Saat pulang, Lia justru bertemu seseorang yang membuatnya terpaku. Tidak menyangka. Itu Agnes, sahabat Arin, yang entah mengapa senang memeluk Lia.

"Lia!"

"Tante Agnes ... ya?"

Dan layaknya tante-tante sekaligus seorang emak, Agnes sudah memeluk Lia sambil bicara macam-macam. Lia sampai heran. Dirinya masih kecil, baru masuk SMP. Apakah bisa disebut lawan bicara yang sepadan dengan Agnes?

"Kamu lihat Radit?"

"Hah? Radit?"

Seketika Lia teringat anak laki-laki yang mengenalkan dirinya sebagai Radit tadi. "Aku terakhir lihat tadi pagi."

"Oh, kamu tahu yang mana orangnya?" Mata Agnes bersinar-sinar.

Lia menelan ludah. "Enggak sengaja tahu." Benar, kan?

"Tolong awasi dia, ya. Jadi temennya, minimal."

"Kenapa?" Lia benar-benar keheranan. Ia baru tahu kalau ada orang yang diminta untuk menjadi teman bagi orang lain. Dirinya barusan.

"Dia anak Tante, dan dia susah diatur." Agnes membungkuk, menyamakan tinggi dengan Lia. "Tante enggak tahu bagaimana menyebutnya, tapi ... bisakah kamu menjaganya? Seperti kamu menjaga Tora. Anggap saja ia keluargamu."

"Menjaga Tora? Keluargaku?" Lia mendadak tersulut. "Siapa dia? Aku enggak bisa menganggap dia keluargaku, kalau dia memang bukan keluargaku. Aku susah peduli."

"Lia ...." Agnes menggenggam tangan kanan Lia. "Tolong, ya? Dia anak Tante. Tante, sahabat ibumu. Anggap kami saudara. Anggap Radit sepupumu."

"Bunda ...."

Lia tiba-tiba teringat Arin. Mengingat ia sekarang SMP, tanpa ada Arin, mendadak ia terisak. Membalas genggaman tangan Agnes.

"Mungkin bisa ... demi Bunda ...."

Agnes kembali memeluknya. "Tante tahu, kamu pasti bisa, Lia. Kamu kan galak. Galakin saja dia."

Lia tertawa meringis.

"Kamu itu seperti malaikat kecil yang galak. Ah, pulang sama siapa?"

"Sendiri, Tante."

"Oh, mau bareng?"

Agnes dan suaminya adalah dua dari sedikit orang yang tahu jalan menuju Rumah Bukit.

"Enggak usah. Lagian aku mau jemput Tora dulu."

Lia pamit setelah itu. Tidak menyadari Agnes yang tersenyum lebar menatapnya.

"Tenang, Arin," bisiknya. "Semoga rencana ini berhasil."

Pandangan Agnes menyapu sekitar. Didapatinya Radit di salah satu sudut, sedang mengintip. Agnes memberi isyarat agar mendekat, namun Radit malah kabur. Agnes menyemburkan napas kuat-kuat, jengkel. "Sampai nanti malam kabur lagi, tidak ada kesempatan lagi untukmu, Radithya!"

(Bersambung)

****

Jkt, 25/5/24
zzztare

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top