Bab 7

***

Dua hari sebelum Bu Ningsih dan Pak Harun menempati apartemen, suasana pagi di rumah Raka masih terasa tenang. Sang pemilik rumah yang beberapa menit lalu keluar dari kamar mandi, tahu-tahu sudah berseragam. Kemeja putih lengan panjang serta celana jins melekat rapi di tubuhnya. Raka sendiri berdiri di depan cermin besar yang menempel di dinding, memastikan bahwa dirinya benar-benar siap untuk ke sekolah, lalu di tahap penutup, dia menyemprotkan parfum di bagian leher dan pergelangan tangan.

Sementara itu, Wirya memperhatikan sang putra dalam diam. Dia menyoroti tiap gerakan Raka, dan tentu ada rasa bangga yang terselip di dalamnya. Walaupun, Wirya tetap belum ingat betul terkait status anaknya.

"Dari caramu berpakaian seperti itu, begitu rapi," ujar Wirya dengan suara serak.

Raka menoleh sebentar, lalu tersenyum.

"Terima kasih, Pa." Setelah itu dia langsung mendekat, menaruh botol parfum di meja, lalu duduk sambil merapikan sepatu. "Oh iya, papa udah sarapan?"

Wirya menggeleng pelan. "Belum. Nanti aja, nak."

Raka menghela napas kecil, kemudian mengingat sesuatu. "Pa. Di kulkas ada nasi kuning yang nggak kemakan pas kubeli semalam. Papa tinggal panasin aja di microwave. Tapi hati-hati pakenya ya, pa. Jangan dibuat lama di dalam, nanti malah gosong."

Wirya terkekeh tipis, mengangguk tanda paham. "Iya, iya. Papa ngerti."

Raka kembali berdiri setelah sempat duduk buat menaruh banyak perintilan dandanannya. Dia berniat merapikan seragamnya. Namun, Raka merasa sadar bahwa papanya terus saja menatapnya, bahkan seolah tiap gerak-geriknya dicatat melalui mata sang papa. Raka pun sempat terdiam, merasa canggung dengan perhatian yang diberikan papanya.

"Pa ..." panggilnya ragu, menatap balik. "Kenapa papa tatap aku kayak gitu terus?"

Wirya tak langsung menjawab saat itu juga. Senyum samar terbentuk di wajahnya. Wirya ingin mengucap sesuatu, tetapi dia tahan karena merasa ragu. Sekejap sorot matanya memancarkan rasa hangat bercampur haru, seakan-akan baru menyadari sesuatu yang besar tentang anaknya.

"Papa merasa kamu itu ... mirip dengan anak kandung papa yang sudah papa abaikan sejak kecil."

Raka tertegun, ucapan ambigu tersebut bikin dia tercekat. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya—apakah mungkin, meski samar, ingatan papanya mulai kembali?

"Mi–mirip? Maksudcnya, pa?" tanyanya hati-hati.

Wirya melenggut perlahan. Pandangannya menerawang sesaat, lalu mulai menyebutkan satu per satu dengan suara pelan tapi jelas. "Walau kurang jelas ciri-ciri dari kamu kecil, tapi papa membayangkan anak kandung papa sendiri bila sudah dewasa. Perawakannya yang tinggi, pipinya tirus, matanya hitam ... dan rahangnya tegas."

Raka terdiam, merasakan darahnya berdesir cepat, sebab deskripsi itu tak lain adalah dirinya sendiri. Semua ciri yang papanya sebutkan—itu persis seperti dirinya.

Tetapi segera, rasa bingung itu mulai menyeruak. Jika memang merasa terkait dengan anak kandung, kenapa papanya masih menganggapnya sebagai anak adopsi? Padahal yang terus-menerus dia sebut sebagai anak kandung itu jelas-jelas berdiri di hadapannya saat ini.

Wirya, di sisi lain, tak menyadari kegelisahan Raka. Wajahnya tetap tenang, hanya menyimpan sedikit raut sesal. "Papa nggak nyangka, anak yang sempat papa adopsi bisa sebegitu mirip dengan anak kandung papa sendiri. Anak kandung yang ... sudah papa abaikan sejak masih kecil."

Raka pun menghela napas kecil, berusaha menutupi debaran aneh di dadanya. "Yah iya, pa ... lagipula banyak orang di dunia ini yang mirip. Bahkan ada yang kembar, tapi tidak sedarah. Hanya saja, jarang ditemukan."

Keheningan menggantung cukup lama setelah ucapan Raka barusan. Wirya sendiri masih duduk di kursinya, menatap anak itu dengan sorot mata yang sulit ditebak. Lalu, tanpa diduga, dia kembali bicara dengan nada lirih, seakan berbicara pada dirinya sendiri.

"Sejak kecil ..." Wirya melanjutkan sembari menarik napas. "Anak kandung papa punya kebiasaan, kalau lagi gugup, dia suka mainkan kedua ibu jarinya. Papa sendiri lihat pas benar-benar masih kecil, sebelum kamu hadir di keluarga papa sebagai anak adopsi."

Raka mendengar lalu jantungnya berdetak lebih cepat, dan tanpa sadar tangannya yang sedang beristirahat di pangkuan mulai bergerak—kedua ibu jarinya saling menekan dan diputar pelan, sebuah kebiasaan lama yang bahkan ia sendiri jarang menyadarinya.

Begitu sadar apa yang tengah dia lakukan, Raka buru-buru menyembunyikan kedua tangan di balik punggung. Dadanya terasa sesak, seolah setiap kata yang diucapkan papanya adalah kunci yang membuka pintu masa lalu.

Papa ... tahu kebiasaanku, batin Raka. Tapi kenapa papa masih belum sadar? Kenapa masih menganggapku anak adopsi, padahal anak yang papa ceritakan itu ada di depan mata papa sekarang ...

Raka meneguk ludah, mencoba menahan gejolak dalam dirinya. Dia enggan memperlihatkan emosi yang bisa membuat papanya curiga atau justru semakin bingung. Baginya, apa yang paling penting sekarang adalah menjaga ketenangan Wirya.

"Mirip sekali ..." Wirya bergumam, hampir tak terdengar. "Bahkan sampai kebiasaan kecil itu pun ada."

Raka hanya bisa tersenyum kaku, lalu pura-pura meraih tas kerjanya yang tergeletak di atas meja untuk mengalihkan perhatian. Dalam hatinya dia bersumpah, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, dia akan terus berada di sisi papanya.

Suasana kamar sempat hening lagi. Raka masih berdiri dengan tas kerja di tangan, sementara Wirya duduk diam menatapnya. Keduanya terperdaya oleh pikiran masing-masing—Raka dengan tekadnya, Wirya dengan bayangan masa lalu yang samar-samar mulai terlihat jelas.

Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar di pintu. Setelah itu, suara lembut Kirana masuk menyusul.

"Mas, ayo. Kita berangkat bareng yuk," ucapnya antusias.

Raka menoleh, lega mendengar suara istrinya yang menyeimbangkan suasana. "Iya, sayang. Aku bentar lagi siap."

Kirana pun membuka pintu perlahan. Dia melangkah masuk dengan senyum ramah yang selalu dia sematkan, bahkan saat berhadapan dengan Wirya.

"Pagi, pa," sapa Kirana sopan.

Wirya mengangkat wajahnya lalu merespon panggilan menantunya. "Pagi."

Kirana langsung berdiri di samping Raka, menjelaskan di depan mertua tentang keberangkatannya ke sekolah.

"Oh iya, pa. Kalau papa ada sesuatu, papa bisa langsung hubungi Mas Raka, atau bisa ke saya juga," kata Kirana mengingatkan lembut.

Wirya sempat terdiam sejenak, seolah mencerna setiap kata. Lalu mengangguk pelan, gerakannya mantap walau tak disertai banyak kata. "Iya, nak. Papa ngerti."

Kirana tersenyum kecil, lega mendengar respon dari mertuanya. Dia sempat melirik Raka sekilas, lalu kembali menatap Wirya. "Baiklah kalau begitu, Pa. Kami pamit dulu."

Raka hanya menambahkan dengan nada tegas namun lembut, "Jangan lupa sarapan, pa. Ada nasi kuning di kulkas. Tinggal papa panasi."

Wirya mengangguk sekali lagi, kali ini lebih cepat, memberi kesan bahwa dia betul-betul mendengarkan.

Raka dan Kirana langsung mencium tangan Wirya kemudian keluar dari kamar untuk segera berangkat ke sekolah masing-masing.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top