Bab 5
***
Sore hari, hujan turun sangat deras. Raka melangkah keluar dari ruang guru sambil menghela napas panjang. Dua kelas tambahan berturut-turut bikin pundaknya terasa berat. Begitu sampai di depan pagar sekolah, aroma tanah basah bercampur dedaunan yang diterpa angin langsung menyergap inderanya.
Genggaman tangannya mengerat pada payung hitam yang sudah mulai kewalahan menahan derasnya hujan. Beberapa bagian kemeja mulai lembap, menempel dingin di kulit. Pandangannya menyapu area parkiran—mobilnya tak ada. Pagi tadi, dia memang sengaja menitipkan kendaraan di bengkel setelah mesin mengeluarkan bunyi aneh. Mau tak mau, dia harus mengandalkan ponsel untuk memesan taksi daring.
Alih-alih mendapatkan transportasi untuk pulang, rasa kesal Raka mencuat ketika tahu notifikasi muncul yang menandakan bahwa tidak ada pengemudi yang tersedia di sekitar. Entah karena hujan yang terlalu deras, atau memang tak ada yang mau melintas di sekitar SMA Sentosa sore itu. Raka mendesah. Kakinya mulai pegal karena terlalu lama berdiri.
Para murid sudah lama pulang. Satu per satu dijemput orang tua atau pergi dengan kendaraan yang berhasil mereka pesan.
"Dasar ... masa harus nunggu sampai hujan berhenti sih?" gumamnya pelan, menatap ke jalan raya yang tergenang.
Saat hendak mencoba kembali memesan, matanya menangkap sebuah motor yang melaju pelan menembus hujan. Pengendaranya mengenakan jas hujan gelap. Di belakangnya, seorang penumpang dengan jas hujan biru muda tampak menoleh ke kanan-kiri, seolah mencari seseorang.
Raka mengerjap. Dadanya mendadak berdebar.
Motor itu berhenti tepat di depan pagar sekolah. Saat penumpangnya turun dan membuka helm sedikit, Raka terpaku.
Kirana.
"Loh ... kok kamu—"
Kirana mendekat setelah membayar ojek daring. Ujung jas hujannya sudah basah. Ia membuka payung kecil berwarna biru muda, lalu tersenyum ke arah Raka.
"Kirana?" suara Raka terdengar kaget. "Kamu ngapain ke sini? Mana naik ojek lagi?"
"Iya, Mas." Kirana tersenyum tipis. "Aku sengaja jemput kamu. Aku tahu mobil kamu lagi di bengkel. Jadi aku ada ide kalau ... pulang bareng kamu lebih enak."
Raka mengerjapkan mata setelah mendengarnya. "Tapi kan ... hujan sederas ini ..."
"Iya tahu kok Mas," sela Kirana lembut, "karena hujan, kamu pasti kesusahan pesan mobil. Aku nggak tega bayangin kamu basah-basahan di sini sendirian."
Kirana menambahkan. "Aku juga kesusahan kok pesan mobil, terus ngide pesan ojek motor ke sekolah kamu, eh malah cepat dapatnya."
Raka menutup aplikasi di ponselnya. Perasaan hangat perlahan merayap di dadanya.
Kirana berdiri di sampingnya, menyesuaikan langkah. "Mas, gimana kalau kita jalan ke halte depan? Kita naik bus aja. Ada jalur langsung ke rumah."
"Naik bus?" Raka sempat mengulang, sedikit ragu.
"Iya. Aku udah nyari rute dan halte yang tepat. Malah baru tahu juga. Dekat, kok. Kebetulan kita sama-sama bawa payung."
Untuk sesaat, Raka hanya memandang wajah istrinya yang masih basah oleh percikan hujan, lalu perlahan mengulum senyum kecil.
"Jadi nggak kepikiran kalau ada bus. Kamu ada kartu e-money kan?"
Kirana terkekeh, suaranya kalah oleh gemuruh hujan. "Ada dong, Mas. Aku udah nyiapin buat jaga-jaga aja."
Sambil menunjukkannya dengan percaya diri, Kirana melihat Raka spontan tertawa pelan dengan sumringah.
"Banyak siap juga ya kamu," gumamnya sambil mengangguk kecil. "Ya udah. Ayo."
Mereka pun mulai berjalan berdampingan, dua payung terbuka di bawah hujan deras. Suara air dari talang dan genangan yang terinjak sepatu menciptakan irama pelan di sekitar mereka.
Bus kota bercat biru kusam datang tak lama kemudian. Raka mempersilakan Kirana naik lebih dulu, memastikan istrinya duduk nyaman di dekat jendela. Dia duduk di sampingnya dan membayar dua kali dengan kartu Kirana. Bus lalu melaju perlahan, meninggalkan halte.
"Mas," panggil Kirana pelan, membuat Raka cepat menoleh, merespon panggilan tersebut.
"Hmm? Kenapa, sayang?"
"Nanti sampai rumah ... gimana kalau kita masak sesuatu buat papa Wirya? Mama sama papa kan ... lagi keluar, Mas."
Raka menatap jalanan basah di luar jendela, sambil mendeham pelan. "Boleh. Sop hangat bagus tuh, apalagi ditambah ayam bagian dada. Atau boleh hidangan lain. Intinya kita buat bareng-bareng untuk papa. Gimana?"
Kirana menganggukkan kepala dengan kedua mata yang berbinar. "Yah biar papa kamu juga ngerasa diperhatikan."
Ucapan itu membuat dada Raka menghangat. Ia menoleh, menatap wajah Kirana yang terlihat teduh dalam cahaya lampu bus.
"Saran-saran kamu itu, selalu bikin aku merasa kuat."
Kirana hanya tersenyum mendengarnya, ditambah lagi dengan aksi Kirana yang mencolek pipi Raka sebentar, membuat suasana mereka menjadi hangat.
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di halte dekat kompleks rumah. Hujan masih turun rapi. Udara dingin menyelimuti langkah mereka saat berjalan pulang.
Mereka berjalan perlahan, masing-masing memegang payung. Namun, langkah keduanya terasa lebih dekat dari biasanya, seolah payung itu hanya sekadar alasan agar tetap berdampingan.
Begitu keduanya berada di jalan setapak menuju rumah, Kirana tanpa sengaja menoleh ke suaminya. Pandangannya bertemu dengan Raka, yang berada di sebelah kiri. Tatapan itu bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
Sadar bahwa sang istri memandangnya, Raka menghentikan langkah. Tubuhnya yang agak basah kuyup karena bajunya tersentuh cipratan hujan tak lagi dia hiraukan. Dia hanya ingin menatap Kirana dalam-dalam, lalu perlahan mendekati Kirana pelan-pelan.
Kirana sempat tertegun, jantungnya berdegup kencang di tengah suara deras hujan.
Raka yang ada di sisi kiri Kirana, terus menatap lekat wajah istrinya. Tatapan itu begitu dalam, seakan ada kata-kata yang tidak terucap, hanya bisa tersampaikan lewat mata.
Tanpa banyak pikir, Raka perlahan mulai mencondongkan tubuh, menyibakkan jarak di antara payung, lalu tak ragu mengecup bibir Kirana. Ciuman itu berlangsung lama—bukan tergesa, bukan main-main. Hujan, dingin, dan dunia sekitar seakan lenyap.
Kirana sempat kaku, terkejut. Matanya spontan membesar, agak melotot karena tak menyangka Raka berani melakukan hal itu begitu intens di tengah derasnya hujan. Namun perlahan, dia merasakan kesungguhan Raka. Ada perasaan yang tak terucap, disampaikan lewat keheningan dan sentuhan itu.
Helaan napas Raka, kehangatan bibirnya yang melawan dingin hujan, dan caranya tak peduli meski sedikit kuyup, membuat Kirana merasa ada sesuatu yang ingin suaminya sampaikan lewat ciuman panjang itu.
Saat akhirnya ciuman itu terhenti, Kirana masih dengan sorot mata terbelalak kecil, menatap Raka dengan pipi yang sudah memerah, entah karena dingin atau karena degupan hatinya yang kacau.
Keduanya saling menatap, diam, seakan kata-kata tak lagi mampu mewakili apa yang baru saja terjadi. Tatapan itu menggantung, menahan perasaan yang begitu sulit ditebak—antara ragu, harap, dan kerinduan yang mulai menuntut ruangnya kembali.
Dan di tengah derasnya hujan, semuanya seakan terhenti di situ.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top