Bab 2

***

"Loh... Pak Wirya?" suara Ningsih langsung berubah begitu melihat sosok di depan rumah. Bukan terkejut—lebih ke tidak suka. "Bapak berani ke rumah ini cuma buat ngerecokin kehidupan menantu saya? Terus juga, ngapain Bapak bawa koper, hah?"

Raka peka terhadap sergahan mama mertuanya. Tetapi Raka masih terkejut, bagaimana bisa Wirya jauh-jauh ke rumahnya? Dan beliau juga dalam keadaan agak ringkih.

"Pa?" Raka memanggil pelan sembari memegang kedua lengan Wirya. "Papa kenapa bisa di sini? Terus? Bulek mana, pa? Bukannya papa sering bareng bulek?"

Wirya menatapnya lama, lalu mengernyit. "Bulek?"

Raka langsung merasa ada yang janggal.

"Bulek Widya, Pa. Adik papa ... yang selama ini sama papa."

Wirya menggeleng pelan. Sorot matanya kabur, seakan melawan kabut di dalam kepalanya.

Dada Raka terasa sesak.

Amnesianya ... makin parah?

Dulu Raka sempat dengar dari buleknya—setelah kecelakaan tabrak lari, ingatan Wirya memang terganggu. Tapi terakhir kabar yang dia terima, kondisinya sudah membaik.

Sekarang... justru seperti kembali seperti awal kecelakaan itu.

"Papa merasa ... semua yang ada dalam kepala papa hilang. Papa nggak ingat apa pun," ungkap Wirya setelah terdiam cukup lama. "Bahkan kejadian kemarin, dan sebelumnya. Semua seperti terhempas dari ingatan papa."

Raka membuang napas perlahan. Apa itu artinya sang bibi sudah lepas pengawasan, sampai Wirya jauh-jauh datang ke rumahnya untuk minta bantuan?

Dan dugaannya benar. Dia melihat papanya mengeluarkan secarik kertas kemudian langsung menyerahkannya.

Raka membaca lipatan kertas kecil itu.

(Kalau nak Raka baca ini, maafkan bulekmu ya. Bulek nggak bisa lagi jaga papa kamu. Bulek cari-cari informasi tentang tempat tinggal kamu, dan begitu bulek dapat alamatnya, bulek suruh papa kamu buat ke sana. Sekarang, giliran kamu, nak. Urus papa kamu. Buat papamu atau Mas-ku, untuk memulihkan ingatannya lagi. Daripada Mas Wirya makin sakit, bikin bulek kasihan juga lihatnya.)

Raka menurunkan tangan. Pandangannya kembali ke sosok di depannya.

Tubuh papanya tampak jauh lebih kurus. Bahunya tidak setegap dulu.

Dan semua itu ... terjadi saat Raka memilih pergi dan menutup diri.

"Heh, ngapain lama-lama di luar?" protes Ningsih. "Mau makan malah jadi nungguin orang nggak jelas."

Raka menoleh cepat. "Kirana, ajak papa masuk."

Kirana tanpa banyak tanya langsung menggandeng Wirya, membawanya masuk ke dalam rumah.

Setelah beberapa menit menyiapkan makanan, suasana justru kembali menegang. Alih-alih tenang seperti biasanya.

"Duh ngapain sih si tua bangka itu masuk ke rumah kamu?" Ningsih masih tidak menerima kedatangan Wirya–yang kini duduk manis di sofa ruang tamu. "Memang kamu nggak bisa suruh Wirya ke hotel atau bagaimana? Malah ke sini."

Raka yang sedang membuka bungkus sate berhenti sebentar.

"Ma. Mau gimanapun keadaannya, dia tetap papa saya."

"Papa yang kamu sendiri bilang nggak mau kamu anggap lagi?" sahut Bu Ningsih tajam. "Bukannya kamu benci sama papa kamu? Mama masih ingat loh, kamu bilang begitu ke mama."

Raka menarik napas dalam-dalam, mencoba tetap tenang menghadapi mertuanya yang tajam. Kata-kata itu memang pernah dia ucapkan—bahkan di depan mereka.

Dulu, Raka benar-benar menutup semua hubungan dengan Wirya. Tidak peduli, tidak mencari tahu, bahkan kabar kecelakaan itu pun dia abaikan.

Tapi melihat kondisi sekarang ...

Dia tidak bisa.

"Kalau saya usir sekarang, terus papa saya harus ke mana?" jawab Raka akhirnya. "Saya masih punya hati, ma."

Harun yang sempat menyisihkan lontong, ikut bicara dan menyela mereka berdua.

"Papa nggak nyangka. Omongan kamu benar-benar nggak dijaga, Raka." Harun mengarahkan telunjuknya, membiarkan dirinya memarahi sang menantu. "Kamu sendiri yang bilang untuk jangan berurusan dengan Wirya. Sekarang kamu mencoba ingin mengurus dia? Orang tidak berguna itu?"

Raka kini menunduk. Dia tak lagi membantu untuk menyiapkan makan malam. Dia justru menahan emosi yang bergejolak, lebih baik jangan gegabah dalam membalas sikap mertuanya.

"Saya salah waktu itu, Pa, Ma," ucapnya lebih pelan. "Tapi saya nggak bisa pura-pura nggak lihat kondisi papa saya sekarang. Saya nggak tega melihatnya"

Kirana yang sedari tadi diam, ikut angkat suara, berdiri di belakang Raka.

"Ma, Pa. Ini rumah Mas Raka. Mama sama papa nggak boleh seenaknya di sini. Toh mama sama papa cuma nginap di sini semingguan."

Mendengar Kirana yang lebih membela sang suami membuat Ningsih membuang napas kasar lalu spontan menatap tajam menantunya.

"Iya, mama tahu, ini rumah kalian. Tapi mama nggak bisa pura-pura nyaman dengan kehadiran Wirya di sini. Kalau kalian tetap kekeuh pengen dia tinggal, maka mama sama papa akan menjaga jarak. Jangan harap kami akrab lagi dengan besan seperti Pak Wirya."

Rasanya memang sakit. Namun Raka merasa kesempatan kedua datang padanya, dia tak mau menyia-nyiakan. Dia justru ingin memperbaiki salah paham di antara dirinya juga papanya.

Raka mulai menyela, meski terasa pengap dalam hati. "Oke, ma. Nggak apa-apa. Yang penting saya bisa jaga papa saya di sini."

***

Raka sengaja mendiamkan papanya di ruang tamu, tanpa mengajak makan malam. Lagi, ingin menjaga perasaan mertuanya.

Setelah makan malam dan kedua orang tua tersebut beristirahat di lantai atas—termasuk Kirana yang juga ikut istirahat di kamar lantai satu, Raka pun mendekat ke ruang tamu. Di mana sang papa saat ini duduk diam di sofa, tampak canggung di tempat yang jelas asing baginya.

Kemudian Raka berjalan menuju ruang tamu–menghampiri Wirya, dan menurunkan tubuhnya untuk memberitahu sesuatu.

"Pa," ucap Raka pelan. "Papa istirahat di kamar sebelah nanti, ya. Aku ganti baju dulu—"

Tiba-tiba tangan Wirya menahan pergelangannya.

"Jangan pergi... temani papa sebentar."

Genggamannya lemah, tapi terasa seperti menahan sesuatu yang lebih dari sekadar tangan.

Raka menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk dan duduk di sampingnya.

"Papa sebenarnya kenapa bisa sampai ke sini?" tanya Raka pelan.

Wirya tidak langsung menjawab. Ia justru mengelus tangan Raka, seperti memastikan sesuatu.

"Papa cuma... mau cari ingatan papa yang hilang," ucapnya pelan sambil menunduk. "Papa mau memastikan semuanya, termasuk hal-hal yang pernah membekas di benak papa."

Raka perlahan sadar bahwa tindakannya dulu membuat keterikatan terhadap Wirya jadi hancur berantakan. Mungkin itu semacam karma buatnya, sebab Raka berani membentak papanya dan menjelek-jelekkan papanya di depan mertua. Itu dulu sekali, saat dirinya baru merajut kekeluargaan dengan mertuanya.

Raka hanya bisa terdiam.

"Papa mengalami kecelakaan, banyak hal yang tidak papa ingat lagi. Termasuk kejelasan status kamu."

"Status ... apa, pa?" tanya Raka mulai menegang.

"Status anak. Papa merasa ... kamu adalah anak adopsi yang papa ambil dari kamu masih kecil."

Raka spontan terdiam, mendengar hal itu. Apa yang membuat papanya berucap seperti itu?

"Maksud papa apa?"

"Papa sadar pernah meninggalkan satu anak kecil dan mengambil kamu dari seseorang yang papa kenal."

Raka menggeleng pelan. Dadanya terasa berat.

Itu tidak masuk akal.

Sepanjang hidupnya, dia tumbuh sebagai anak Wirya. Dia tak merasa dirinya adalah anak adopsi, dia benar-benar anak kandung. Bahkan wajah antara dirinya juga sang papa juga cukup mirip.

Ini pasti efek ingatan yang kacau.

"Tapi siapa tahu saja itu hanya perasaan papa," tambah Wirya sedikit tersulut panik. "Makanya papa diminta ke sini. Papa mau tahu ... mana yang benar."

Raka menunduk. Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung membantah.

Bukan karena ragu.

Melainkan karena rasa bersalahnya yang lebih dulu menahan.

Selama ini, Raka yang lebih menjauh. Raka pula menutup semua kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka. Dan sekarang, saat papanya datang dalam kondisi seperti ini...

Raka merasa seperti diberi kesempatan kedua.

Setelah sempat merasa gelisah, dia pun mengangkat kepala, menatap Wirya.

"Baiklah kalau begitu pa." Raka mengangguk mantap. "Aku akan cari buktinya, dan mengungkap mana yang benar.  Pelan-pelan, kita cari lagi semuanya."

Termasuk mengembalikan ingatan itu.

Dan membuktikan kalau dirinya memang anak kandung yang dulu terlalu keras kepala untuk mengakui papanya sendiri.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top