The Fox

A/N : Nih ada yang special buat 4k reads~   ╮ (. ❛ ᴗ ❛.) ╭

Aku sedang membaca buku "Cara memasak kue ikan" di kasur asramaku saat aku mendapat pesan baru dari Otou-san. Aku membuka hp-ku dan mataku membelak melihat isi pesannya, membuatku yang sedang tiduran duduk tiba-tiba.

Selamat malam, Kashi. Maaf jika Otou-san menganggumu, tapi Otou-san punya hal penting yang harus kuberitau. Osora-shi mengabari Otou-san bahwa Mafu satu sekolah dengan Soraru-shi dan Luz-san. Sekarang, Otou-san ingin bertanya. Apa kau ingin menemui Mafu?

Butuh beberapa detik bagi otakku untuk menerima informasi tersebut. 

Ya, Otou-san. Tentu saja.

Aku mengetik balasan pada Otou-san tanpa keraguan. Kegembiraan menggembang di dadaku mengetahui bahwa Mafu satu sekolah dengan Soraru-san dan Luz-kun. Kami bisa berkumpul lagi seperti dulu!

Aku tak menyangka bahwa proses pindahan dari asrama serta mengurus surat-surat keluar semacam itu membutuhkan waktu 2 minggu. Sungguh, sekolah ini memang sangat ketat, tapi aku tak menyesal meninggalkannya jika bisa melihat Mafu lagi. Lagipula, aku menyayanginya seperti keluargaku sendiri.

Sesampainya di rumah, aku tak bisa berhenti berbicara tentang betapa bersemangat diriku untuk melihat Mafu lagi. Rib-san yang sedari tadi mendengarkan tertawa simpul dan mengelus-elus rambutku dengan sayang, namun kemudian senyumnya memudar, dan nadanya suram saat dia membuka mulutnya.

"Apakah Kashitarou-sama tidak tau bahwa Mafu-san kehilangan ingatannya oleh tembakan Soraru-shi kala itu?"

Ocehanku terhenti, dan aku menyunggingkan senyum pilu padanya.

"Tentu saja aku tau, Rib-san. Terlepas dari fakta pahit itu, aku masih senang bahwa aku bisa bertemu dengannya yang sudah seperti adikku sendiri"

"Begitu ya, Kashitarou-sama punya kepribadian yang kuat ya"

Dia memujiku dengan senyum lainnya yang lebih cerah.

Senyum piluku tetap bertahan saat aku membalas.

"Terima kasih atas pujianmu, Rib-san, tapi aku tak yakin aku sekuat itu"

Aku tak akan bilang diriku kuat jika aku tak bisa berhenti menangis saat Soraru-san terisak di bahuku, menceritakan apa yang dia lihat di gudang pelabuhan pada hari penuh rintik hujan itu.

.

"Kau ingin menggunakan ruang OSIS?"

"Ya, ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan Soraru-san dan Luz-kun. Bisakah kau mengosongkannya, Eve-kun?"

"Tentu saja, Kashitarou-san"

Setelah itu aku kembali memasuki kelasku, memanggil Soraru-san dan Luz-kun untuk datang ke ruang OSIS. Seperti perkiraanku, Soraru-san pasti mageran dan mengeluh, berkata dia ingin cepat-cepat tidur sebelum waktu istirahat habis. Luz-kun tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum kecil padaku.

"Aku ingin berbicara tentang Mafuyu-chan, Soraru-san"

Tepat sasaran. Mafu memanglah kelemahan seorang Soraru-san. Dia duduk di atas meja dan menyilangkan kakinya, sementara Luz duduk di kursi di sampingnya, memangku dagunya dengan telapak tangannya.

"Baik, lu dapet perhatian gue. Apa yang ingin kau bicarakan tentang Mafu?"

Dia berkata dingin, tapi aku tau dia peduli.

Aku menyenderkan punggungku ke tembok ruangan OSIS, sedikit memiringkan kepalaku saat aku tersenyum pada mereka.

"Kalian berdua tau kita tak boleh terlalu dekat dengan Mafu bukan?"

Senyum ala bisnis di wajah Luz-kun menghilang, dan tatapan mata Soraru-san membuatku merasa bahwa aku ada di puncak Gunung Fuji sekarang.

"Kau takut dia akan bereaksi jika ingatannya tiba-tiba muncul?"

Luz-kun angkat bicara, merubah posisi tangannya menjadi saling bertaut dan memangku dagunya dengan itu.

"Ya, kita tau dia bisa panik jika hal itu terjadi. Seluruh sarafnya akan bereaksi seketika, otot-ototnya menegang, dan pandangannya akan mengabur. Dia bisa pingsan saat itu juga"

Aku menjelaskan, dan Soraru-san masih mengarahkan tatapan itu padaku.

"Lu sebenernya ingin bilang kalo gue yang paling gak boleh deket-deket dia kan? Karena gue yang pernah nembak kepalanya dulu dan punya hubungan paling deket dengan dia?"

Soraru-san seakan-akan meludahkan kata-kata tersebut ke wajahku. Tajam dan tanpa emosi, seperti yang kuduga darinya.

"Ya, itu adalah maksud sebenarnya dari ucapanku sebelumnya"

Aku menegakkan tubuhku kembali dan menghampiri Soraru-san. Aku meraih pipinya dan mengusapnya lembut dengan jempolku, menyaksikannya menatapku bingung dengan pipi yang merona. Luz-kun menyeringai kecil dan sudah mengeluarkan hp-nya.

"Karena jika dia tiba-tiba pingsan di tempat, aku tau kau yang akan paling bereaksi oleh itu. Traumamu akan membuatmu hilang kendali. Kau tau aku tak pernah ingin melihatmu menderita lagi, Soraru-san"

Soraru menggigit bibir bawahnya, raut wajahnya berubah seketika. Hanya aku dan Luz-kun yang pernah melihatnya segugup dan setakut ini. Ekspresi itu menyakiti hatiku, dan aku tak bisa menahan diriku sendiri.

Aku pun menutup jarak di antara kami dengan sebuah ciuman lembut. 



















Di keningnya (✿◠‿◠)

Di dekatku, aku bisa mendengar Luz-kun menjerit-jerit sendiri saat dia memotret kami habis-habisan. Apa sebutannya? Oh ya, fanboying.

"Ayo, mari kita kembali ke kelas"

Aku menarik diriku mundur, tersenyum kecil melihat rona di pipi Soraru-san yang masih belum memudar. Dia menahan lengan bajuku, dan suaranya bergetar saat dia berbicara.

"Ka- Kashitarou-kun, lu bisa kan bantuin gue nyingkirin para fangirl itu?"

Aku mengangguk senang.

"Tentu. Apa yang kau ingin aku lakukan, Soraru-san?"

Soraru-san terdiam sejenak. Dia menurunkan tangannya dari lengan bajuku, dan menggerutu sendiri. Sifat aslinya sudah mulai muncul kembali.

"Ya masalahnya gue sendiri juga gak tau. Lu ada ide?"

"Akoeh ada"

"Gak ada yang nanya elu, jerapah"

"Biarkan Luz-kun bicara, Soraru-san"

Luz-kun berdiri dari bangkunya, tersenyum nista pada kami. Andaikata poninya tidak menutupi manik violetnya, aku yakin matanya pasti sedang berbinar-binar sekarang.

"Kalian pura-pura pacaran aja!"

Aku menarik Luz-kun ke samping sebelum dia kena bogem mentah Soraru-san.

"Luz-kun, elu beruntung elu tuh sahabat gue dari dulu. Ato gak elu pasti udah tamat di tangan gue dari dulu"

Soraru-san sudah berdiri di hadapan Luz-kun, kedua tinjunya mengepal dan giginya saling bergemeletuk kesal.

"Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Aku tidak masalah dibilang 'homo' atau semacam itu. Bagaimana denganmu, Soraru-san?"

Soraru-san mendengus dan membuang pandangan ke samping.

"Ciuman pertama gue udah direbut sama Mafu, Bakashitarou. Gue rasa gue memang gak lurus dari awal. Serah elu dah, tapi gue tetep gak ikhlas sama ide Luz-kun"

Luz-kun memberiku kami peace sign seraya menyeringai lebar.

"Kita balik ke kelas yuk! Waktu istirahat udah mau habis nich!"

"Ayo!"

"Iye, iye"

Dengan itu kami bertiga melangkah keluar dari ruang OSIS bersama. Aku melayangkan lenganku di bahu Soraru-san, dan dia segera menepisnya dengan kasar. Aku dan Luz-kun hanya tertawa oleh ke-tsundere-annya.

.

Siang itu aku pulang sendiri karena Soraru-san harus latihan karate dan Luz-kun ada pertemuan OSIS. Aku baru saja ingin melangkah keluar gedung saat melihat seorang lelaki bersurai salju berdiri di pintu luar gedung, tubuhnya basah kuyup dan membuat poninya turun menutupi manik merah darahnya yang indah.

Aku mendecakkan lidah. Para pembuli itu sudah kelewatan. Aku kemudian mengeluarkan handuk yang kayaknya nyampur sama baju olahragaku saat kumasukin ke tas tadi pagi dan menghampirinya, menyodorkan handuk itu padanya.

"Kau baik-baik saja?"

Mafu menerima handukku dan mengangkat kepalanya saat dia berterima kasih padaku.

"Arigatou, Kashitarou-senpai"

Mendengarnya mengucapkan namaku dengan nada manis itu membuat hatiku adem.

Aku mengangguk, dan menegur para kakak kelas yang ada di jendela lantai 2. Mereka sempat bertingkah sok, mengatai bahwa aku ada di bawah mereka. Harga diriku seperti kena pukulan telak. Kehormatanku sebagai putra seorang yakuza paling ditakuti di Jepang membuatku langsung menyemburkan kata-kata dingin yang kupelajari dari Soraru-san.

Mereka menggeram kesal, dan langsung meninggalkan jendela lantai 2.

Di saat Mafu bertanya padaku, aku menghilangkan raut wajah gelapku dan tersenyum lembut padanya. Kami mengobrol sebentar sebelum aku menawarkan mengantarkannya pulang. Jujur, aku senang pandangannya tentang "hubungan"ku dan Soraru-san tidak seburuk yang kukira. Tapi dalam hati aku tau dia kecewa, mengira bahwa aku dan Soraru-san beneran pacaran.

Gak apa-apa, Mafu. Aku juga kadang kecewa kok kalau mengingat bahwa itu hanya pura-pura.

Kami berjalan bersama ke rumah Amatsuki, dan aku sebenarnya kaget melihat putra Kakeru-shi dalam celemek pink di tubuhnya dan sendok kayu di tubuhnya. Dia terlihat lucu dengan poni coklatnya yang dijepit ke samping itu. Saat dia kembali ke dapur, entah kenapa aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari Amatsuki.

Sesuatu tentangnya menarik perhatianku.

Dia sangat keibuan ya... Cocok jadi ibunya Mafu.

Dengan wajahku yang bertumpu pada telapak tanganku, aku tersenyum kecil.

Aku yakin aku akan bisa menerima kenyataannya nanti.

Kashitarou's side : End.

~~~

A/N : Nikmati KashiSora yang author selipin disini :))))

Kashitarou : Aduh author-san, malu tau... >////<

Biarin. Fanservice itu emas :v

Kashitarou : Oh ya, omedatou, author-san! Udah nyampe 4k reads dan 50 chapter! Semoga cerita author yang ini makin laris dan tulisannya semakin berkembang!

Eh makasih ya say :v

See you next time!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top