Setitik cahaya bulan

Aku membuka mulutku, membiarkan lidahnya masuk ke dalam dan mengambil alih kontrol tubuhku. Tangannya dengan lembut mengelus belakang kepalaku, memainkan beberapa helai saljuku saat dia memperdalam ciuman kami, sementara tangannya yang satu lagi mengelus pinggangku. Aku hampir saja kehabisan nafas, tapi dia memutusnya tepat waktu.

Itu terlalu singkat untukku. Aku mau lebih.

Tapi Soraru-senpai menghentikanku.

.

Su- Sudut pandangnya pindah ke aku lagi ya, minna... Aku gak yakin Mafu lagi ada di kondisi yang cocok untuk menarasi cerita ini.

Keluar-keluar dari kamar Soraru-senpai, Mafu udah kayak orang keilangan semangat idup. Wajahnya kosong, tatapannya hampa, gerakannya lunglai, tapi air mata mengalir menuruni pipinya. Luz-senpai langsung menghampirinya dan bertanya dengan khawatir, sementara Kashitarou-senpai segera masuk kembali ke kamar Soraru-senpai.

Naruse-senpai dan Kain-senpai hanya saling memandang tak mengerti, dan aku ikut menenangkan Mafu. Dia menarikku ke sebuah pelukan penghancur tulang dan menangis tersedu-sedu di bahuku. Aku menghela nafas berat dan menepuk-nepuk punggungnya, membisikkan kata-kata lembut padanya.

Aku ingat Luz-senpai terlihat marah sekali waktu itu. Tepat setelah Kashitarou-senpai keluar dari kamar Soraru-senpai, dia bergegas melewatinya dan memasuki ruangan, membanting pintu di belakangnya dengan keras. Kami yang menyaksikannya hanya bisa membeku di tempat.

"Kashitarou-senpai... Apa kata Soraru-senpai...?" tanyaku lirih.

Dia memandangku dengan manik hazel berhiaskan kesedihan, dan menggelengkan kepalanya, "Untuk itu, Senpai tidak punya hak untuk membicarakannya. Hanya Soraru-san yang bisa memberi Senpai izin itu. Tapi Senpai sarankan untuk tidak membicarakan topik ini lagi"

Mafu menangis sampai dia kelelahan di pelukanku, dan Kain-senpai menawarkan dirinya untuk menggotong sahabatku itu ke mobil. Sungguh, aku merasa gak enak hati, namun apa daya aku hanya kouhai-nya dan hanya bisa menurut.

.

Sejak hari itu, tak pernah kulihat lagi senyum Mafu. Dirinya yang selalu menikmati makanan yang kubuat sekarang memakannya tanpa ekspresi. Nyanyiannya pun tak se-bersemangat seperti dulu. Di sekolah biasanya dia akan memasang wajah kesal setiap kali dia dibuli, tapi sekarang wajahnya kosong. Pandangannya ikut hampa, dan aku harus selalu berjalan di sisinya supaya dia tak menabrak seseorang.

Sesekali Naruse-senpai, Luz-senpai, Kain-senpai, dan bahkan Kradness-senpai datang ke atap sekolah saat waktu istirahat, menemani kami memakan bekal. Aku bahkan udah jarang banget ngeliat Kashitarou-senpai, padahal biasanya dia, Soraru-senpai, dan Luz-senpai suka nempel bareng kemana-mana, tapi dia juga menghilang.

Aku benar-benar penasaran apa yang dilakukan Soraru-senpai hingga Mafu jadi seperti ini.

Pulang sekolah, aku meminta Kain-senpai untuk menemani Mafu pulang secara rumah kami searah. Dia mengangguk dan mulai berjalan seraya mengandeng tangan Mafu, menjaganya untuk tidak nyasar kemana-mana. Aku berterima kasih padanya sebelum mencengkram tangan Luz-senpai, "Senpai, bolehkan aku berbicara denganmu?"

Angin bertiup di sekitar kami, menggeser poni abu-abunya yang tebal itu. Aku dapat melihat manik violetnya membulat, sebelum tertutupi lagi saat anginnya berhenti. Dia mengangguk pelan, dan setelah pamit dengan Naruse-senpai dan Kradness-senpai, kami kembali memasuki gudang belakang sekolah.

Luz-senpai menyalakan rokoknya lagi, dan menghimpitnya dengan mulutnya yang merengut, "Kuharap kau menyiapkan uang, karena aku tak mau lagi memberikan informasi secara cuma-cuma" ujarnya tegas.

Nah gini nih. Kalo gaya bicara alaynya ilang, jadinya serem.

"Aku mengerti, senpai" aku merogoh kantungku, dan melemparkan isinya ke hadapannya, mendarat di meja kayu tua yang memisahkan kami.

Dia tersentak, sebelum mengangkat benda itu sejajar dengan matanya, seakan-akan ingin memastikan bahwa itu asli, "I- Ini kan..."

"Ya, itu permata termahal di dunia, Pandora" aku menyilangkan lenganku di depan dada, "Jangan tanya bagaimana aku mendapatkannya. Seluruh darah yang kutumpahkan untuk ini akan sebanding dengan informasi tentang Mafu-kun. Kuberikan permata itu padamu karena aku tau senpai tau akan mitosnya dan akan menghancurkannya"

(yang nyadar reference, selamat ;v)

Dia tertawa hambar, "Kau benar-benar serius, Amatsuki-kun. Memberiku sebuah Pandora demi Mafu-kun, kau memang ibu yang penyayang" ujarnya sembari menyimpan permata itu di sakunya, "Tenang, aku tak sebodoh itu untuk menyimpanya. Jadi apa yang ingin kau tau?"

"Alasan kenapa Mafu menjadi murung sejak dia berbicara empat mata dengan Soraru-senpai. Aku ingin tau apa yang mereka bicarakan dan lakukan" ujarku sama tegasnya, "Jika hal itu menyangkut masa lalu Mafu-kun, maka ceritakan juga padaku"

Luz-senpai menatapku dengan raut wajah datar. Dia menahan rokoknya di antara kedua jarinya saat dia meraih poninya dan menyibakkannya ke belakang, menampakkan dua amethyst bersinar yang dipenuhi keraguan.

"Amatsuki-kun, ketahuilah bahwa aku telah berusaha untuk menyembunyikan informasi ini dari tangan polisi sejak umurku 5 tahun. Aku percaya padamu, kau tau? Bisakah kau menyembunyikan rahasia ini? Demi Mafu-kun?"

Penyembunyian informasi dari kepolisian? Senpai ini memang di luar perkiraanku.

Heh, aku rasa dia tak terlalu buruk, tampaknya aku cukup menyukainya.

"Demi anakku? Tentu saja" aku mengangguk mantap.

Luz-senpai menyeringai padaku, menunjukkan sederet gigi putihnya. Dia kembali menghisap rokoknya dan membuang asapnya ke arah lain sebelum dia mulai bercerita.

.

Di rumah, Mafu masih bergulung dalam selimutnya, isakan menyedihkan tak berhenti terselip dari bibirnya sejak pulang sekolah. Dirinya terus memikirkan apa salahnya pada senpai tersayangnya itu. Apakah dia menyesal telah berciuman dengan Mafu? Yang baru saja membunuh pria yang menyerangnya dengan sadis dan memakan dua organ tubuhnya?

Dia merangkak keluar dari selimutnya, meraih seragam sekolahnya yang kemarin, mendekatkannya ke wajahnya. Bau khas rumah sakit dapat tercium, namun yang Mafu inginkan adalah bau Soraru, yang selalu berbau seperti mesiu, obat-obatan, dan udara dingin. Bau itu membuat tubuhnya rileks, menenangkan emosinya yang sedang berkecamuk.

Tangan bergetar Mafu mencengkram seragamnya sampai buku-buku jarinya memutih, namun cengkramannya melongar saat merasakan sesuatu di balik sakunya. Remaja albino itu terduduk perlahan di kasurnya, senderan ke tembok di belakangnya saat dia mengeluarkan benda yang ada di sakunya itu.

"Sa- Sampel darah...?" Mafu menggumam seraya mengelap cairan bening yang mengalir dari hidungnya, mengangkat sebuah tabung kecil berisi cairan merah gelap yang kental ke arah lampu di kamarnya. Dia membuka tutupnya dan mencolek sedikit isinya dengan jarinya, sebelum lidahnya menyapu cairan itu.

Ini... Darah Soraru-senpai...

Lezat sekali..., remaja albino itu tak bisa menghentikan dirinya dari berpikir demikian. Rasa itu membawa lidahnya ke sebuah tingkat baru yang memabukkan, selalu membuatnya untuk menginginkan lebih. Tak pernah ada darah orang yang dapat membuatnya seperti ini. Seakan-akan darah Soraru memiliki alkohol yang hanya akan dinikmati oleh Mafu.

Lagi... Aku mau lagi... Darah lezat Soraru-senpai... Sangatlah lezat...

Satu bagian dalam pikirannya tau dia seharusnya tidak melakukan ini, tapi itu satu bagian kecil. Mayoritas bagian pikirannya menginginkan lebih. Dia akan selalu meminta lebih.

Maka dia meneguk darahnya senpai-nya.

Cairan dingin itu memenuhi rongga mulutnya, merangsang indra pengecapnya ke level baru yang sudah lama tak dia rasakan. Tenggorokannya bergetar nikmat oleh betapa dia menyukai rasa darah senpai-nya. Beberapa tetes lolos dari bibirnya, dan dia meraihnya dengan kasar menggunakan tangannya, tak mau melewatkan setetes pun.

Tabung itu terjatuh dari tangannya, sedikit bercak merah melukis bagian selimutnya yang menjadi tempat mendaratnya tabung tersebut. Remaja albino tersebut duduk sila di kasurnya, dengan nafas yang terengah-engah dan wajah merona yang terhias oleh darah.

Mafu melirik keluar jendela, dimana dia bisa melihat sang bulan di langit, mendelik tajam padanya, menyuruhnya untuk tidak melakukan apa yang ada di pikirannya sekarang.

"Gomen ne, Ama-chan" Mafu bangkit dari kasur, menjilat sisa darah yang ada di mulutnya, dan menyambar jaketnya, "Aku harus tau tentang kebenarannya juga..."

Sang bulan hanya bisa menatap. Tak berdaya menghentikan albino bernafsu tersebut.

~~~

A/N : Author gabut banget, parah sih. Tugas author yang setumpuk itu sudah selesai semua (ada satu lagi sih yang belum, tapi itu mah bisa nanti). Udah gitu liburan diperpanjang pula, rasanya author gemes pengen langsung publish semua draft yang sudah author bikin selama liburan, tapi jangan lah... Nggak seru nantinya.

Masa author denger dari temen nanti US-nya online. What.

See you next time!




Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top