Part 16 - Once Upon a Bill
Dalam perjalanan untuk makan malam, baik Dante dan Dana diam selama sisa perjalanan. Dante memilih restoran seafood yang berada tidak jauh dari outlet. Setelah mobil terparkir, mereka turun dari mobil. Saat keduanya masuk, seorang pelayan dengan ramah mengantarkan mereka, menuju dua kursi kosong di bagian tengah restoran. Restoran tersebut bernuasa alam. Atapnya dibuat mirip gubuk dan pencahayaan tempat itu dibuat sedikit remang.
"Silakan, ini menunya," kata pelayan tadi, kemudian meninggalkan Dante dan Dana.
Dana yang lebih dulu menulis menu yang dia pilih, kemudian menyerahkan kertas tadi pada Dana.
"Kau saja yang tulis," kata Dante menolak uluran kertas dari Dana.
"Kerang hijau saus tiram, cumi goreng mentega, udang cah kang .... ," kata Dante.
"Sudah cukup. Kerang dan cumi saja. Sama teh hangat," sela Dana.
"Tapi ..." kata Dante yang sudah mengangkat kepalanya menatap Dana tidak mengerti.
"Ini sudah banyak. Mubazir nanti kalau tidak habis. Kalau tidak cukup, kau bisa makan lagi di rumah," potong Dana dengan tatapan tajam pada Dante.
Dana kemudian berdiri. "kau mau ke mana?" tanya Dante cepat.
"Kasih ini," kata Dana santai sambil mengangkat kertas pesanan mereka tadi.
Tidak lama, Dana kembali ke meja mereka.
"Kau mau ke mana hari Jum'at besok?" tanya Dante yang sudah sangat penasaran, dari sesaat setelah dia menerima surat permintaan cuti milik Dana tadi pagi.
"Dari mana kau tahu?" tanya Dana bingung.
"Pengajuan cutimu?" Dante menjawab dengan nada bertanya.
"Oh, iya, aku lupa," jawab Dana.
"Jadi, kau mau ke mana Jum'at ini?" tanya Dante lagi.
"Hanya reuni kecil sama temen kuliah," ujar Dana.
"Di mana?" Dante masih tidak puas dengan jawaban Dana.
"Di Bogor. Banyak teman kuliahku rumahnya kalau nggak di Bogor, ya, di Jakarta."
Dante diam sebentar, kemudian kembali bertanya.
"Kau berencana menginap?" tanya Dante lagi.
"Iya. Rencananya hanya semalam. Jum'at itu kemungkinan besar kami akan pulang malam, jadi sebaiknya aku pulang hari Sabtu pagi. Atau, Minggu pagi," kata Dana cepat-cepat menambahkan kalimat yang terakhir. "Entahlah. Aku belum memutuskan. Maksudku, kalau aku sudah di sana, mungkin sekalian aku menghabiskan waktu bersama temanku."
"Aku belum tentu memberikan izin," jawab Dante cepat.
"Kalau kau tidak memberikan izin, aku akan maju ke Pak Rio. Kau mungkin tidak tahu, tapi sudah hampir setahun aku sama sekali belum pernah mengajukan cuti," ucap Dana lagi.
"Kalau kau tidak memberikan aku izin cuti, itu bisa dianggap sebagai pelanggaran ketentuan Undang-Undang Ketenagakerjaan," tambah Dana cepat.
Dante tidak bisa menjawab. Dia hanya menatap Dana dengan penuh amarah. Selama menikmati makan malam, Dante tidak lagi membahas tentang perlakuan Ibunya pada Dana. Pria itu jadi lebih berhati-hati dengan topik yang cukup sensitif tersebut.
Saat sudah selesai, Dante mengulurkan tangannya dan seorang pelayan dengan sigap menghampiri mereka.
"Mbak, minta bill, ya," kata Dante.
Si mbak pelayan kemudian menatap Dante dan Dana bergantian dengan bingung.
"Bill-nya sudah dibayar, tadi, Mas," kata si mbak pelayan.
Dante menegakkan punggungnya dan dia menatap Dana.
"Aku sudah membayarnya," kata Dana. "Ayo, pulang."
Dana kemudian berdiri dan berjalan lebih dulu, menuju mobil Dante yang terparkir di luar.
"Siapa yang memintamu untuk membayar?! Astaga, ini memalukan sekali. Aku tidak pernah dibayari makan oleh perempuan. Tidak pernah, kau dengar aku? Sekalipun, tidak pernah. Mana struk payment-nya tadi," omel Dante sambil berjalan cepat mengikuti Dana. Dana hanya berusaha menahan tawanya.
Dana, yang sudah berdiri di samping mobil Dante, berhenti dan menunggu pria itu membuka kunci mobilnya, namun Dante tidak melakukannya. Pria itu malah mengulurkan tangannya dan meminta bukti pembayaran tadi.
"Mana," desak Dante.
"Aku sudah membuangnya," kata Dana berusaha.
"Kalau begitu cari di tempat sampah. Aku tidak akan pulang sebelum membayarmu," kata Dante.
"Oke, aku akan menyebutkan angkanya, tapi berjanjilah satu hal," kata Dana.
"Apa?! Soal cutimu?! Iya ... iya ... pasti aku berikan," geram Dante.
"Bukan. Bukan itu. Kau harus berjanji hal yang lain," ucap Dana.
"Apa?" sahut Dante sambil berkacak pinggang.
Dana menatap Dante dengan serius. "Lain kali, jangan mengajakku makan berdua seperti ini," kata Dana.
Dante terdiam. Permintaan semacam itu sama sekali tidak terlintas di kepalanya. Kenapa Dana tidak mau makan berdua dengannya? Apakah karena kemarin? Atau karena Dana tidak suka bersamanya? Tidak mungkin yang terakhir. Dia yang biasanya menolak wanita, bukan sebaliknya.
Dante menatap Dana dan gadis itu masih menatapnya serius, terlihat menunggu jawaban 'oke' darinya.
"Terserah saja. Malam ini kau yang traktir. Aku tidak masalah," kata Dante yang kemudian berjalan memutar dan masuk ke dalam mobilnya.
*
Sudah hampir satu jam Dante yang sedang berbaring di atas ranjangnya terus men-scroll daftar kontak di ponselnya.
"Aku terlalu lama di luar negeri," keluhnya pada diri sendiri. Mana mungkin dia bisa menemukan teman yang tinggal di Bogor kalau dia sudah terbang ke Inggris sejak dirinya SMA. Dia berbalik ke kanan, kemudian ke kiri – hal sama yang sudah dia lakukan lima kali sejak dirinya merebahkan diri di atas ranjang – dan merasa frustasi.
"Atau, aku bilang saja buka outlet baru di sana?" gumamnya sendiri. "Tidak. Tidak mungkin. Belum bisa."
Merasa sedikit frustasi karena tidak menemukan jalan keluar, Dante pun mengirimkan pesan di beberapa grup Whatsapp-nya dan bertanya apakah ada dari mereka yang sedang berada di Bogor.
Beberapa temannya yang masih di London langsung merespon chat-nya, namun tentu saja dengan pesan-pesan yang tidak berguna untuknya.
Aku memiliki paman di sana.
Mantan pacarku dari Bogor. Aku cukup yakin dia masih di kota itu.
Dan chat-chat lain yang tidak berguna bagi Dante.
Kenapa kau bertanya?
Salah satu teman kuliahnya yang bernama Sophie mengirimkan pesan.
Dante pun dengan cepat mengetik pesan balasan.
Dante:
Aku menemani saudaraku ke Bogor dan kupikir aku bisa sekalian bertemu dengan temanku.
Sophie:
Aku baru pulang hari Rabu besok. Kapan ke Bogor?
Dante langsung duduk dan melihat ada secercah harapan untuknya.
Dante:
Hari Jum'at. Berikan alamatmu. Biar aku yang ke tempatmu.
Beberapa teman yang lain langsung riuh karena mereka menganggap Dante dan Sophie akan bersenang-senang sendiri. Setelah beberapa pesan masuk yang tidak lagi ditanggapi Dante maupun Sophie, yang lainnya semakin gencar menggoda mereka berdua.
*
Dante harus membiasakan diri dengan Mila duduk di meja makan bersama dirinya dan orang tuanya. Pagi itu juga, gadis itu kembali sarapan bersama mereka. Berbeda dengan yang dia kira dan Dana kira, keberadaan Mila di sini tidak begitu membuat Dante bersemangat atau girang. Bukannya dia membenci keberadaan Mila. Dia suka. Namun, hanya sebatas karena Dante tahu Mila adalah gadis yang baik.
"Mila, apa kau ada acara hari sabtu ini?" tanya Sinta saat mereka berempat sedang makan pagi.
"Sabtu ini?" tanya Mila terlihat berpikir. "Sepertinya, tidak ada. Papi juga lagi di Jakarta seminggu ini."
Sinta tersenyum lebar dan langsung menoleh ke Dante.
"Dante, kenapa tidak ajak Mila jalan-jalan. Di sini kan banyak tempat bagus yang bisa kalian kunjungi. Lagipula kau sudah lama di luar negeri, pasti kangen sama beberapa tempat yang dulu kita pernah kunjungi," usul Sinta.
Dante yang masih mengunyah, menatap Ibunya, kemudian Mila. Gadis itu hanya menunduk sambil menatap makanannya.
"Mungkin minggu depan. Jum'at ini Dante mau ke Bogor. Ada teman kuliah Dante ngajak ketemu," ucap Dante.
"Benarkah?" kali ini Rio yang bersuara.
"Mmm," gumam Dante sambil mengangguk.
"Kebetulan sekali. Dana juga mengajukan cuti hari Jum'at ini karena ada reuni dengan teman kuliahnya. Kemarin, dia kirim pesan ke Bapak. Mungkin kau bisa berangkat sama dia," kata Rio yang membuat Dante dan Sinta sama-sama melotot ke pria itu.
"Bapak ini ngomong apa. Dana biarin berangkat sendiri, kenapa anak kita harus nemenin dia?" ketus Sinta.
"Iya, Pak. Dante berangkat sendiri. Biarin Dana berangkat sendiri. Dia pasti sudah pesan tiket duluan," sergah Dante cepat-cepat.
Sinta masih melotot ke arah suaminya, merasa suaminya kembali bertindak konyol.
"Bapak hanya mikir, kan enak kalau berangkat ada temannya," imbuh Rio, tidak ingin membangunkan singa tidur. Sinta melirik dengan tajam.
Wanita itu kemudian menoleh ke Mila dan seketika raut wajahnya berubah sangat manis dan ramah. "Kalau gitu, gimana kalau besok, kita pergi berdua pergi sendiri?" usul Sinta pada Mila.
Dengan canggung, Mila menjawab, "Boleh, Tante."
"Dante jangan lupa, ya, minggu depan kamu sudah janji nemenin Mila jalan-jalan," sungut Sinta.
*
"Dante!"
Dante yang hendak keluar pintu, berhenti saat Mila memanggilnya.
"Ya?" tanya Dante yang sudah menghadap gadis itu.
"Hari ini, boleh temenin Mila lagi? Kontraktornya mau ngajak Mila ke beberapa vendor untuk konstruksi penginapannya nanti," kata gadis itu.
Dante berpikir sejenak. Pasti bisa seharian kalau harus ikut Mila.
"Sebenarnya, ini proyek pertama Mila yang dipercayakan papi. Jadi, Mila agak kurang pede kalau berangkat sendirian," imbuh gadis itu.
"Oke. Tapi, kita ke kantor dulu," kata Dante pada akhirnya dan Mila menghela napas panjang, kemudian mengangguk dengan penuh semangat.
Dante mengendarai motornya dengan Mila duduk di belakang. Masih jam delapan kurang. 'Semoga Dana masih di kantor,' pikir Dante. Dia harus memberitahu gadis itu tentang rencananya ke Bogor.
Sayangnya, sesampai di kantor, Maya kembali mengatakan padanya bahwa Dana sudah berkeliling di perkebunan.
"Mulai besok tidak boleh ada yang keliling perkebunan sebelum jam sepuluh!" sungut Dante yang kemudian berjalan menuju meja kerjanya dan berkutat dengan laptopnya.
Mila yang bingung harus melakukan apa, pada akhirnya duduk di kursi kosong milik Dana yang ada di depan Maya.
Setelah hampir tiga puluh lima menit mengecek email yang masuk dan memeriksa beberapa berkas dari para staff yang harus dia periksa, Dante pun meraih ponsel yang dia letakkan di meja. Dia langsung menelepon gadis itu. Dana mengangkat panggilannya dalam dua kali nada sambung.
"Dana, soal cutimu ke Bogor," ucap Dante langsung.
"Astaga. Apa kau benar-benar tidak akan memberikan aku izin?" serang Dana di seberang sana.
"Tidak. Aku tidak akan berani," ucap Dante. "Kemarin malam temanku menelepon. Dia mengajak bertemu. Kebetulan rumahnya juga di Bogor. Jadi, kita bisa berangkat sama-sama."
Dua detik. Lima detik. Tujuh detik. Dana masih tidak memberikan respon apapun.
"Dana ... Kau masih di sana?" ucap Dante.
"Ya," ucapnya pelan. "Kenapa kebetulan sekali?" tanya Dana di seberang sana.
"How do you expect me to answer that?" tukas Dante.
"Dante, sebaiknya kita tidak berangkat sama-sama. Toh, tujuan kita berbeda," kata Dana.
"Berbeda bagaimana? Tujuan kita sama-sama ke Bogor!" seru Dante. Walaupun dia sedikit kesal, dia berusaha menahan volume suaranya karena tidak ingin Mila tahu.
"Kita bicarakan nanti saja. Aku masih sibuk," kata Dana dan Dante memang mendengar banyak orang sedang ramai di sana.
"Apa ada masalah?" tanya Dante.
"Seharusnya bukan masalah besar. Beberapa daun pada tanaman tomat muncul bercak septoria. Jangan khawatir. Aku sedang memberitahu temen-teman di sini supaya bercaknya tidak lagi muncul," ucap Dana.
"Aku tutup dulu, ya. Nanti kita bicara lagi," lanjut Dana.
"TUNGGU! Ada satu lagi," kata Dante cepat, sebelum Dana mematikan sambungan teleponnya. "Mulai besok dilarang keliling perkebunan sebelum jam sepuluh pagi. Kau harus berada di kantor dulu. Apa kau mengerti?!" seru Dante.
"Tapi ...., ah, sudahlah. Nanti kita bicarakan soal itu sekalian. Aku tutup dulu."
Dan tutttt .... Dana mematikan sambungan teleponnya.
"Gadis itu, benar-benar. Memangnya siapa bosnya di sini!" seru Dante sambil menatap ponselnya.
Sebelum dia berangkat dengan Mila, Dante membuka komputer milik Rio.
"Pasti ada di sini," gumam Dante. Dengan teliti, Dante membuka setiap folder dan file yang mungkin menyimpan dokumen yang dia butuhkan. Matanya melebar saat dia melihat sebuah folder dengan nama Data Karyawan.
Setelah mengklik dua kali, dia pun berkata dengan puas, "Ketemu."
*
Seperti yang sudah dia duga, Dante dan Mila yang harus menemui beberapa vendor untuk gedung homestay nantinya, baru selesai jam enam sore. Setelah bersalaman dengan beberapa orang di sana, mereka pun berpamitan.
"Sekalian cari makan, yuk," ajak Mila yang berjalan di samping Dante, menuju mobilnya.
Dante terdiam dan tidak langsung menjawab. Dante pun mengeluarkan ponselnya. Ada banyak pesan baru masuk yang belum dia baca, tapi tidak ada satu pesan pun dari seseorang yang dia kira akan menunggunya.
"Oke," jawab Dante kemudian, sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dante pikir Dana akan menunggunya karena dia sendiri tadi yang bilang mereka akan bicara lagi nanti.
"Kau mau makan apa?" tanya Dante.
"Aku lagi pengen makan nasi goreng," ucap Mila dengan senyum semringah.
"Oke, kita cari nasi goreng kalau begitu," jawab Dante.
***
* * * Ini nih yang penuh tipu muslihat * * *
Happy weekend semuanya. Minta vote dan komennya boleh? Makasih 😍🤗.
Published on Saturday, July 16, 2022
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top