Part 11 - Once Upon a Fish
"Sejujurnya, aku cukup senang. Aku mendapatkan kepercayaanmu, bahkan, tanpa tahu kau adalah anak Pak Rio," ucap Mila dengan senyum lebarnya.
Dante ikut tersenyum. "Aku senang kita bisa bekerja bersama mulai sekarang," kata Dante.
"Kalian sudah selesai? Makan malamnya sudah siap." Baik Dante dan Mila sama-sama menoleh dan mendapati Sinta sedang berdiri di antara dinding pembatas ruang tamu dan ruang keluarga.
Mila menatap Dante, seakan meminta persetujuan pria itu terlebih dahulu.
"Ayo, makan dulu," kata Dante pada akhirnya.
Sinta terlihat senang, saat Dante dan Mila berdiri dan mengikutinya.
"Semoga kamu cocok sama menunya," kata Sinta, saat keempatnya sudah duduk di meja makan. Ada lebih dari enam macam lauk yang tertata di atas meja makan.
"Tante baru tahu kalau kamu anak Pak Andrew. Karena pembangunannya sudah dimulai, kamu pasti harus sering-sering ke sini," ucap Sinta, sembari mengambilkan nasi di piring Dante dan Mila bergantian.
"Iya, Tante. Sebenarnya, seminggu ini Mila tiap hari ke lokasi pembangunan. Mila selalu ditemani Dana buat lihat progress pembangunan. Maaf Mila nggak mampir karena Mila kenalnya sama Pak Rio dan Dante aja," ucap Mila dengan suara manisnya.
"Nggak apa-apa. Mulai sekarang, kamu harus sering-sering ke sini. Kamu bisa makan siang bersama kami di rumah ini," ucap Sinta.
"Terima kasih, Tante. Mila nggak mau merepotkan. Lagipula, Dana selalu ngajak Mila makan siang juga," imbuh Mila.
"Aduh, Tante minta maaf, ya, kalau anak itu ngajak kamu makan makanan yang seadanya," kata Sinta, membuat Mila tertawa pelan.
"Sebenarnya cukup menyenangkan, Tante. Kami beberapa kali makan sama orang-orang pekerja di perkebunan," kata Mila.
"Mulai sekarang, kamu harus makan siang sama kami, ya. Dante, kamu harus pastiin Mila makan siang bareng kita," kata Sinta yang mendadak tegas saat berbicara pada anaknya.
"Kamu pulang pergi Jogja Mila?" Kali ini Rio, yang duduk di bagian ujung meja yang menunjukkan posisinya sebagai kepala keluarga, bertanya pada Mila.
"Iya. Mila masih nginep di hotel, Om. Tapi, Dana tadi bilang nanti bakalan bantu Mila buat cari penginapan bagus daerah sini," kata Mila.
Sinta mendengus pelan. "Kenapa dia selalu sok yang paling tahu daerah sini. Nggak perlu tanya Dana. Nanti Tante bantu cari," kata Sinta. Perkataan Sinta barusan sontak membuat Rio dan Dante menatapnya.
"Eh, tunggu," kata Sinta, dengan mata melebar dan senyum terkembang. "Di rumah ini kan ada banyak kamar. Kenapa cari tempat kalau di rumah ini banyak kamar kosong?" usul Sinta, dengan mata berbinar.
"Buk," seru Dante, merasa usulan Ibunya sedikit kelewatan.
"Kenapa? Bagus, 'kan? Bagaimana, Pak?" Kali ini Sinta menoleh ke Rio.
"Kalau Mila tidak keberatan, kita juga nggak ada yang keberatan," kata Rio.
Mila tersenyum tersipu, saat bertanya, "Apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja kami akan dengan senang hati menerimamu di sini," imbuh Sinta.
Mila menatap Dante, tapi Dante hanya menunduk menatap makanannya.
"Coba Mila diskusikan dengan papi dulu," kata Mila.
Makan malam malam itu selanjutnya diisi dengan Sinta, yang sangat tertarik dengan pendidikan apa saja yang sudah ditempuh Mila. Mila, yang lulus dari Universitas ternama di Australia, membuat Sinta semakin menyukai gadis itu.
Setelah makan malam selesai, Mila pun pamit karena memang sudah cukup malam. Dante mengantarkan gadis itu sampai di depan halaman, di mana mobilnya terparkir.
"Terima kasih makan malamnya. Keluargamu sangat baik," kata Mila sambil tersenyum manis.
"Aku juga terima kasih kau sudah mampir. Sekali lagi, aku minta maaf soal sebelumnya," kata Dante. Keduanya berdiri di samping mobil putih Mila.
"Jangan mengungkit masalah itu. Aku sama sekali tidak marah," ucap Mila.
"Hati-hati di jalan," kata Dante.
"Baiklah, aku pulang dulu."
Mila pun masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya melalui jendela mobil.
Saat mobil Mila sudah melaju, Dante mengeluarkan ponselnya di saku celana. Dia tidak mengerti. Selama seminggu berada jauh dari perkebunan, dia tidak bisa berhenti merasa penasaran tentang apa yang sedang dilakukan Dana. Namun, di saat yang sama, dia tidak menghubungi Dana, setelah tahu Dana mengira dia marah padanya.
Dante mencari kontak Dana dan meneleponnya.
"Kau di luar?" tanya Dante sambil menyatukan alisnya.
"Aku dalam perjalanan pulang," jawab Dana di seberang sana.
"Pulang? Dari mana?" tanya Dante lagi masih dengan dahi berkerut.
"Apa?!" seru Dana dari ujung sana.
"Pulang dari mana?" ulang Dante
"Dari kafe sepupu Doni," jawab Dana dengan suara berisik jalanan.
"Kamu naik motor?" Dante kembali bertanya.
"Iya. Doni memboncengku. Dante, aku telepon lagi, ya, nanti. Suaramu pelan sekali," kata Dana, kemudian sambungan telepon mereka terputus.
*
Dante termenung saat sambungan teleponnya dengan Dana terputus. Dia melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir jam sepuluh malam. Dante menengadahkan kepala dan menghela napas besar. Dia pun masuk lagi ke dalam rumah.
*
Keesokan pagi, seperti biasa, Dana lari pagi di area perkebunan. Setelah berlari sekitar tiga kilometer, Dana, yang hendak berbelok, melihat Dante sedang berlari dari arah berlawanan. Mata mereka bertemu, dan Dana berbelok sesuai trek awal. Tapi, kini Dante ikut berlari di sampingnya.
Keduanya sudah dipenuhi keringat dan mereka masih berlari beriringan. Dana menoleh sebentar ke Dante, dan saat dia melakukan itu, Dante ternyata ikut menoleh ke arahnya. Hal yang sama terjadi sampai tiga kali. Dana terus berlari sampai dia keluar gerbang perkebunan, membuat Dante, yang sengaja mengikutinya, bingung.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Dante dengan terengah.
"Pasar. Beli ikan," kata Dana dengan langkah kaki yang berirama.
"Kamu ngapain?" tanya Dana heran.
"Aku ikut," balas Dante.
Hingga mendekati pasar, Dante dan Dana terus berlari. Pagi itu, menjelang jam enam, area sekitar pasar sudah lumayan dipadati orang-orang yang hendak berbelanja.
Dana pun menghentikan laju kakinya dan berjalan pelan. Dante pun mengikuti.
"Astaga, ramai sekali," kata Dante melihat kerumunan di depannya.
Dana hanya tersenyum dan tetap berjalan mantap. Sesampainya di pasar tradisional, Dana mulai membeli beberapa bahan masakan yang dia butuhkan.
"Dana!"
Dana, yang sedang menawar ikan gurame, langsung menoleh ke arah suara.
"Sebentar Pak Dirman!" seru Dana sambil melambaikan tangannya.
"Boleh, ya," kata Dana lagi, melanjutkan proses tawar menawarnya.
"Buat neng Dana, boleh, deh," kata si penjual ikan.
"Mbak Ratna memang yang terbaik," ucap Dana.
Ratna kemudian membungkus ikan, yang sudah dipilih Dana, dan menyerahkan ikan tersebut pada gadis itu, setelah memasukkannya ke dalam kantong plastik. Dana pun berjalan menghampiri Pak Dirman. Dante masih mengekor Dana dan memperhatikan interaksi keduanya.
"Hari ini nggak beli ayam dulu, ya, Pak," kata Dana, saat sudah berdiri di depan Pak Dirman.
"Siapa yang minta kamu beli ayam Bapak? Gimana? Sudah terima foto anak Bapak, yang sudah selesai kuliah di Bandung belum?" kata Pak Dirman sambil mengerlingkan mata.
"Sudah, Pak," senyum Dana.
"Gimana? Ganteng kan?" tanya Pak Dirman dengan antusias.
"Ganteng. Ganteng banget," tukas Dana, tanpa ragu-ragu. Dante, yang berdiri di samping Dana, langsung menarik bahu gadis itu ke belakang, sehingga tubuh Dana berputar sembilan puluh derajat.
"Apa?" tanya Dana pada Dante heran sambil mengusap bahunya.
"Apa-apaan?" desis Dante, yang terlihat paling menonjol di sana karena tingginya dan juga tentu karena wajah tampannya.
"Apa?" gumam Dana, tidak mengerti.
"Siapa, Dana?" tanya Pak Dirman, membuat Dana dan Dante menoleh bersamaan.
"Oh, iya. Pak Dirman, ini Dante, anaknya Pak Rio. Dante, ini Pak Dirman," kata Dana, memperkenalkan keduanya.
"Pak Rio Pramudana?" tanya Pak Dirman tidak percaya.
"Iya, Pak. Baru balik dari luar negeri," lanjut Dana.
"Wahhh, anak Pak Rio ganteng banget gini," ucap Pak Dirman, sembari mengulurkan tangannya.
Dante hendak mengulurkan tangannya, namun ragu-ragu karena tangan Pak Dirman yang terlihat kotor. Dante menoleh ke Dana sebentar, tapi gadis itu hanya tersenyum lebar. Pada akhirnya, Dante pun menerima uluran tangan Pak Dirman.
"Dante."
"Pak Dirman, Dana duluan, ya," kata Dana, setelah keduanya bersalaman.
"Lah, terus soal anak saya?" tanya Pak Dirman sambil melongo.
Dana, yang hendak membuka mulut, mengurungkan niatnya saat Dante menarik tangannya dan membawa gadis itu menjauh dari sana.
Dante tidak berhenti hingga mereka berjalan beberapa meter. "Dante, kamu ngapain?" tanya Dana yang tangannya ditarik Dante bingung.
Dante sontak melepas tangannya dari tangan Dana dan menatap Dana dengan kikuk.
"Ngapain kamu?" tanya Dana, merasa bingung dengan sikap Dante.
"Aku tadi menyelamatkanmu," seru Dante.
"Nyelamatin dari apa?" Dana kembali bertanya.
"Aku tahu kamu tadi nggak nyaman karena Pak Dirman terus-terusan nyodorin anaknya, kan?" tekan Dante.
Dahi gadis itu langsung mengernyit. "Aku bisa mengatasinya. Bukan pergi seperti tadi. Enggak sopan."
"Kamu kenapa kelihatan keberatan begini?! Jangan-jangan, kamu memang mau, ya, sama anaknya bapak tadi?!" sembur Dante, dengan nada suara tinggi.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Kenapa malah teriak-teriak? Urusannya apa sama kamu?!" balas Dana dengan suara yang tidak kalah tingginya.
Dana diam, merasa kaget dengan dirinya sendiri. Kenapa dia jadi kelepasan seperti ini. Dana bukan orang yang mudah emosi. Dia lebih memilih mengalah dibandingkan harus berdebat. Entah kenapa, bayangan Mila kemarin, yang mengatakan dia akan menanyakan kepada Dante dengan benar, terus saja mengusik pikirannya. Hal itu membuat Dana tidak tenang.
Dia berhenti dan melihat sekitarnya, merasa mereka berdua sudah cukup memalukan karena saling berteriak di pinggir jalan.
"Dante, aku tidak tahu apa masalahmu. Tapi, tolong, sebaiknya kita tidak seperti ini di pinggir jalan," kata Dana yang langsung berbalik dan berjalan menuju ke arah perkebunan. Dante pun masih mengikuti di belakang.
"Apa kau tidak malu dijodohkan dengan pria yang lebih muda? Kau dengar sendiri tadi, dia baru lulus kuliah," Dante, yang berjalan di belakang Dana, kali ini berbicara dengan lebih pelan.
"Anaknya tidak lebih muda. Usia anaknya sama dengan usiaku," jawab Dana sambil berjalan lurus tanpa melihat ke belakang.
"Tetap saja, bisa jadi dia beberapa bulan lebih muda darimu. Sebaiknya kamu mencari pria yang dua atau tiga tahun lebih tua darimu," oceh Dante.
Dana tidak langsung menjawab. Dia hanya berjalan dengan lebih cepat.
"Lagipula, kalau kau menerimanya, apa anak itu mau kau ajak tinggal di sini? Bukannya kau yang bilang sendiri, ingin tetap di perkebunan sampai tua?" lanjut Dante.
"Ternyata, kau tidak bisa dipercaya. Katanya cinta perkebunan ini. Tapi, begitu ada pria datang, langsung lupa," Dante masih mengoceh sambil terus berjalan di belakang Dana.
"Dengan sikapmu yang seperti ini, kau harus mencari orang yang lebih tua darimu, jadi dia bisa menjagamu. Dan lagi, kenapa sampai orang-orang di pasar mengenalmu? Jangan terlalu akrab dengan sembarang orang. Kau 'kan tidak tahu bagaimana mereka? Kau harus lebih hati-hati," Dante masih tidak bisa diam.
"Dana! Kau mendengarku kan??!!" teriak Dante dari belakang.
Kali ini Dana memilih mengabaikan Dante dengan segala ketidakjelasannya. Dana memang sama sekali tidak tertarik pada anak Pak Dirman, dan Dante anehnya ikut campur dalam masalah ini. Dana terus berjalan hingga dia sudah di depan rumah. Menyadari Dante masih mengekor di belakangnya, Dana berbalik.
"Aku sudah di rumah. Kamu nggak pulang?" Dana mengingatkan.
Dante diam sebentar, sebelum, "Boleh aku sarapan di sini?"
Dana menatap Dante dan bertanya-tanya sendiri maunya apa pria ini.
"Semalam Mila ke rumahku. Aku mau cerita soal itu," kata Dante.
"Baiklah. Tapi, ini yang terakhir kau melibatkan aku di urusan asmaramu dengan Mila. Kau harus berjanji. Setelah ini, aku tidak harus dan aku tidak mau mendengar soal hubungan kalian," kata Dana penuh penekanan. Dana sudah bisa menebak apa yang akan diceritakan Dante. Dia bisa mendengarnya untuk yang terakhir kali. Untuk meyakinkan dirinya sendiri juga.
"Masuklah," kata Dana.
*
Dante yang sudah masuk ke dalam rumah Dana, menatap ke sekeliling. Pria tinggi itu merasakan sekelebat kenangan masa lalu, di mana dirinya dan Dana sering menghabiskan waktu bersama. Mereka sering sekali bermain dengan anak seusia mereka di perkebunan. Namun, karena Dante anak pemilik perkebunan, semuanya sering kali memperlakukan Dante dengan hormat bukan sebagai teman. Bahkan untuk anak seusia mereka dulu.
Dante paham betul, orang tua merekalah yang memastikan anak-anak mereka memperlakukan Dante dengan sopan. Namun, berbeda dengan Dana. Hanya Dana yang berani menendang kakinya, mendorongnya ke sungai, dan memintanya untuk digendong.
"Budhe Sari nggak ada?" tanya Dante, masih melihat sekeliling sambil mengekor Dana.
"Ibuk, kan, di rumah kamu," jawab Dana, yang kemudian mengeluarkan belanjaannya dari kantong plastik.
"Kau yakin tidak mau pulang dulu? Aku perlu waktu untuk mempersiapkan sarapan. Aku bisa meneleponmu lagi nanti," Dana mengangkat kepalanya dan menatap Dante.
"Tidak masalah. Aku akan duduk di sini," sahut Dante yang kemudian duduk di kursi stainless yang ada di meja makan.
"Kenapa meja ini rasanya jadi kecil begini? Padahal dulu rasanya besar sekali," kata Dante sambil mengusap permukaan meja kayu besar di depannya.
Dana berbalik dan mengambil baskom, sambil menjawab, "Iya, meja itu juga mungkin kaget melihat bagaimana kau bisa tumbuh setinggi ini."
Setelah mengambil baskom, Dana kemudian duduk di kursi di seberang Dante. Gadis itu mulai memetik daun bayam dari batangnya.
"Kau sering di rumah sendirian, ya?" tanya Dante.
"Lumayan."
"Bagaimana denganmu? Saat kau sekolah di Inggris, apa kau memiliki banyak teman?" Dana bertanya balik.
"Ya, lumayan. Tanpa aku mau atau aku sengaja, aku selalu berakhir dengan circle pertemanan orang-orang kaya. Seakan kami memiliki bau berbeda dan kami selalu bisa menemukan satu sama lain," dengus Dante.
"Apa kau ... pernah berpacaran?" tanya Dana, sengaja tidak melihat pria itu.
***
Hola ... Semoga kalian suka part ini. Sekali lagi, plis plis pliss jangan lupa lupa vote dan komen ya. Makasihhh ❤️❤️❤️🍀🍀🍀
Published on Monday, July 11, 2022
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top