Chapter 3 : Akhir

"Lilin yang menyala, perlahan akan mati. Entah karena habis, atau tertiup oleh angin."

***

13 November 2018

Kai mengedipkan matanya. Dia merasa terlalu banyak cahaya masuk ke mata. Dia mengedip-kedipkan matanya lagi. Setelah beberapa kali berkedip, pandangannya mulai membaik dan dia mencoba untuk melihat ke sekeliling.

Menoleh ke kiri, dia melihat wajah tangis seorang anak dengan jaket kuning. Saat menangis matanya berkaca-kaca.

"Kak Kai ... akhirnya kau sadar ...!"

"Blize?"

Langkah kaki dari luar terdengar. "Kak Kai sudah sadar?!" pintu dibuka dan mereka satu per satu memasuki ruangan.

Ruangan ini terdiri dari dua kasur dan masing-masing ditutupi oleh tirai. Lily yang pertama kali membuka tirai itu dan melompat ke perutnya.

"Syukurlah!" dia menangis.

Tangan Kai menggapai kepalanya. "Lily ...."

"Lily sangat khawatir dengan keadaan kakak," ucap Alice tenang. Dia juga khawatir, tapi ini bukan saatnya untuk manja.

Seolah membaca isi hati Alice, Lily turun dari perut Kai dan seolah-olah membersihkan bajunya sambil membuang wajah dengan pipi kembung. Wajahnya terlihat seakan berkata, "aku tidak manja."

Kai tertawa. Dia melihat-lihat teman-temannya. Senyuman hangat diberikan. "Alicia dan Alya di mana?"

"Kami di sini," ucap Alya terdengar dari sisi lain ruangan.

Ujung tirai terbuka. Wajah Alya mengintip dari sana, "aku di sini."

"Begitu, ya? Syukurlah ... Alicia mana?"

"...."

"Hm?"

Kai memandangi teman-temannya. Mereka membuang wajah dengan ekspresi sedih.

"Kenapa kalian diam? Tolong jawab pertanyaanku."

"...."

"Alice?"

Alice terdiam di posisinya.

"Blize?"

Blize menundukkan kepala. Perasaan bersalah memenuhi pikirannya.

"Lily?"

Lily membuang wajah, tetapi dia tidak sanggup dan berlari keluar sambil menahan tangis. Wajahnya terlihat sangat sedih dan tersiksa.

Sekarang, yang terakhir. "Alya ...."

Alya tidak membuang wajah. Justru menatap Kai dengan penuh ketangguhan. Kai meneguk udara.

"Kai ... menurutmu sudah berapa lama kita berada di rumah sakit?"

"Eh ... sehari?"

Selain Alya mereka berdua tertegun. Alice melangkah pelan sementara Blize berdiri, lalu mereka berjalan keluar dari ruangan. Kepala mereka tertunduk.

"Menurutmu sudah berapa lama kita berada di rumah sakit ini?" tanya Alya sekali lagi.

"Em ... tiga hari?"

Tatapannya semakin dalam. "Berapa?"

Kai langsung berdiri dan berjalan cepat ke arah Alya. Alya menutup matanya dengan penuh keteguhan.

Memegangi tirai, Kai mendorongnya hingga terbuka. "Kosong ...."

Dia menatap Alya. "Tidak ada ...."

Alya tetap menutup matanya, meneguhkan diri sambil menahan pedih.

Kai langsung mendobrak pintu dan berlari keluar. Dia mengetahui rumah sakit ini dan pergi ke suatu tempat. Dalam perjalanan dia melihat di tempat duduk Alice sedang menenangkan Lily menangis dan Blize duduk memegangi lututnya menyamping sambil menggenggam sebuah foto.

Hati Kai membara. Dia memacu kecepatannya pergi ke sebuah ruangan.

"Hei, selain staf dilarang masuk!"

Penjaga itu terkejut ketika melihat tubuh Kai yang dipenuhi perban. "Kau ...."

Kai menerobos. Dia melepaskan pegangan dari sang penjaga.

Berlari membuka pintu, dia mengecek satu per satu rak yang berisi kain putih. Beberapa memiliki bercak merah.

Kai sampai pada bagian di mana sesuatu dibalut kain seperti sebuah kantong yang berisi sesuatu. Beberapa di antaranya juga memiliki bercak merah.

Seorang perawat yang berada di dalam terkejut. "Sedang apa anda di sini?!"

Kai terus berjalan. "Sebaiknya anda segera keluar!" seru perawat itu. Dia mencoba menahan Kai tetapi tenaganya tidak cukup untuk menghentikannya.

Dari pintu masuk banyak orang. Mereka menahan dan menangkap Kai. "Lepaskan aku! Lepaskan!"

"Tolong tenang!"

Kai memberontak. Tetapi itu berhenti ketika sesosok gadis di depan pintu berkata. "Percuma, Kai."

Kai terdiam.

"Dia sudah tidak berada di sini lagi."

Syok. Kai terduduk. Para penjaga memegangi tangan Kai agar tidak kabur dan membawanya keluar.

Saat hendak keluar, dia berpapasan dengan Alya. "Akan kuantar kau ke sana setelah dirimu tenang."

Kai hanya terdiam menunduk. Para penjaga membawanya kembali ke kamar dan diduga mengalami syok dan trauma sehingga dilepas dan biarkan begitu saja.

***

20 November 2018

Seminggu telah berlalu. Kai sudah menenangkan dirinya dan kini dia sudah boleh keluar dari rumah sakit, meski harus beristirahat agar dapat pulih total.

Karena tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar, terpaksa Kai menggadaikan rumahnya. Saat ini Kai tinggal bersama Alya.

"Hei, Alya ...."

"Hm?" Alya yang sedang memasak bergumam untuk menanggapi Kai.

"Tentang ucapanmu waktu itu ...."

Alya menutup mata dan menaruh telur dari wajan ke tangannya. "Aduh—duh!" dia melompat-lompat karena kepanasan.

"Hm?" Kai menunggu jawaban.

Mengusap-usap tangannya, "kita akan pergi setelah kamu benar-benar pulih total."

"... baiklah, terima kasih."

Alya tersenyum, "sama-sama."

***

31 Desember 2018

Hujan turun. Sore itu mereka melakukan perjalanan, ke makam.

Kai berlutut sambil tersenyum memandangi sebuah batu nisan.

"Alicia ... maaf, membuatmu lama menunggu."

Alya diam memandanginya.

"Aku tidak bisa menyelamatkanmu saat itu, maaf ...."

"Kai ...," Alya mencoba untuk memegang bahu Kai, tapi dia menghentikan langkahnya.

"Maaf tidak bisa bersamamu hingga akhir, maaf."

"Maaf, aku gagal, maaf."

Senyum, "maaf ... maaf ... maaf ...," air matanya mengalir. Dia terus mengatakan maaf hingga senyumannya luntur.

Tiba-tiba terasa sensasi belaian tangan di pipinya. Ketika sadar, Alya sudah memeluk Kai dari belakang.

Kai terdiam dengan mulut terbuka. "Jangan salahkan dirimu ... benar, tidak ada yang salah."

Kai tersenyum, benar, ya ...."

Hujan berhenti. Awan mendung menepi. Langit malam dipenuhi bintang terang di langit. Bulan bersinar terang.

Di suatu rumah, tiga anak sedang berkumpul di depan sebuah tv. "Lily, Alice, ayo! Sebentar lagi akan dimulai!"

"Eh, benarkah?" ucap seorang anak dengan piyama hitam dengan garis vertikal putus-putus di punggung.

"Aku sudah tidak sabar," sambung anak dengan piyama hitam bertudung.

Anak yang memanggil mereka tidak menggunakan piyama, melainkan sebuah jaket kuning yang memiliki bekas jahitan.

"Aku ingin melihat dari dekat!" seru anak berpiyama hitam dengan garis.

"Hei, jangan dorong-dorong, dong!" keluh anak berjaket kuning.

"Semoga tahun ini juga indah," ucap gadis piyama hitam bertudung.

Di tempat lain yang jauh, gang sempit tengah kota ...

"Bu, kita sudah menangkap pelakunya. Diduga mereka melakukan pembakaran atas dasar motif pencurian mendali, tetapi gagal."

"Bagus, bawa mereka ke hadapanku."

Sekerumunan polisi membuat tempat melingkar. Dari tempat gelap, dihempaskan dua orang pria ke hadapan seorang gadis.

Gadis itu menginjak kepala mereka. "Jadi kalian, ya? Orang yang melakukan pembakaran itu."

"Kalau iya, kenapa—"

Pak!

"Karena kalian ...," buk, buk, "temanku kehilangan nyawanya, TAHU!" BUK!

"B–Bu ... tenanglah ...."

Kasi mendengus, "jangan sampai wajah mereka berada di hadapanku lagi."

"B—Baik ...."

Wajah Kasi terlihat menakutkan. Namun, itu memudar ketika dia mendengar suara ledakan dan melihat kilatan cahaya.

Blize dan Lily saling mendorong sedangkan Alice duduk dengan tenang sambil tersenyum menyaksikan TV. Kilatan muncul dan mereka semua melihat ke arah jendela. Senyuman terpampang di wajah mereka.

Kilatan cahaya kembali muncul, kali ini berwarna biru. Kai berdiri sambil memegang bagian atas batu nisan dari samping. Alya berdiri di sampingnya. "Kembang apinya ... indah, ya?"

"Ya ...," Kai tersenyum.

01 Januari 2019

Mereka semua sedang menyaksikan kembang api di malam tahun baru.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top