▪️2. Afeksi Asing▪️
[Vote duu ⭐ sebelum lanjut baca, ya, readers yang budiman.]
🍃𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓡𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰🍃
.
.

"Bangun, Kai. Ganti baju dulu baru lanjut tidur," sergah sosok berkaus putih itu saat melihat Kairo mulai memejamkan mata dan meringkuk di sofa.
"Lima menit lagi, Bang."
Kairo menyahut tanpa berniat mengubah posisi. Matanya benar-benar terasa berat dan kantuk yang menyerang membuatnya tidak peduli dengan jaketnya yang basah akibat hujan yang tiba-tiba turun deras.
"Nggak ada lima menit lima menitan, bangun sekarang, Kai. Lo bisa sakit kalo tidur pakai baju basah gitu."
Tak lagi menunggu, pemuda itu menarik lengan Kairo hingga dia berubah posisi menjadi duduk. Tindakannya mengundang dengkus pelan dari si lawan bicara.
"Bang Jayden sebenernya ikhlas nggak, sih, suruh gue tidur di sini? Bawel banget," decak Kairo, tetapi dengan patuh menerima baju ganti yang dibawa oleh Jayden dan berjalan gontai menuju kamar mandi.
"Ikhlas, lah. Kalo enggak juga udah gue biarin lo tidur di halte sama Mbak Kun. Halte itu banyak penunggunya asal lo tahu."
Mendengar kalimat itu, Kairo mendelik. "Kayak lo berani lihat setan aja. Nyium bau melati juga udah ngibrit lu," sahutnya sebelum menghilang dari balik pintu kamar mandi. Ia mengganti pakaian.
Jayden adalah satu dari sekian orang yang berhasil masuk ke kehidupan Kairo. Dipertemukan oleh hobi, dan berakhir menjadi orang yang anak itu percaya, lebih dari keluarganya sendiri. Namun, sedekat apa pun mereka, nyatanya hingga kini Jayden masih belum bisa memahami Kairo. Topeng anak itu terlalu tebal, sampai-sampai tak ada yang bisa mengetahui bagaimana perasaannya yang sesungguhnya meski mereka sudah sedekat itu.
"Laper, tapi nggak mau makan. Pengen ngemil aja. Ada ciki nggak?" Kairo keluar dari kamar mandi, penampilannya jauh lebih baik dari sebelum Jayden menemukannya di halte.
"Ada, udah gue refill kemarin. Ambil aja di rak."
Kembali terputar di ingatan Jayden tatkala melihat Kairo yang ia temui di halte tak jauh dari kampus tempat pemuda itu menuntut ilmu. Dia tampak seperti orang linglung dan kosong, bahkan tak memberi respons ketika Jayden berseru memanggilnya dari mobil. Ketika berhasil mengajaknya berbicara, Kairo hanya menggeleng pelan dengan senyum yang terlihat begitu palsu di mata Jayden.
"Duduk sini, Kai." Jayden menepuk sisi kosong dari sofa di sampingnya, membuat Kairo yang akan duduk di seberang lantas berbalik dan menurut saja.
"Mau ngapain?" Bocah itu sedikit terkejut ketika tangan Jayden terulur dan menyentuh dagunya cukup pelan.
"Diem dulu, biar gue obatin," tegas pemuda itu ketika Kairo berusaha untuk menepis tangannya.
Namun, Kairo bersikeras, menggeser posisi duduk hingga sedikit menjauh dari Jayden.
"Apa, sih? Nggak usah. Cuma luka kek gini juga, nggak bikin gue mati."
"Tapi sakit, 'kan? Rasanya perih tiap lo buka itu mulut buat masukin keripik, dan bikin nggak nyaman pas makan. Nggak usah sok kuat. Ketimbang diem aja biar gue yang ngobatin apa susahnya?"
Kairo diam. Jika Jayden sudah berbicara seperti itu, tandanya dia benar-benar dalam mode serius. Tak ada yang lebih menakutkan daripada wajah serius dan ucapan dingin dari seorang Jayden, si pelawak yang selalu memiliki topik untuk menghidupkan suasana. Akhirnya, Kairo pasrah dan membiarkan Jayden merawat luka di bibirnya.
"Sekarang apa lagi alesan yang bikin bibir lo sobek kayak gini?"
Jayden mulai mengulik informasi di sela kegiatan membersihkan luka dan darah di sudut bibir anak itu. Namun, Kairo memilih bungkam, dan berpura-pura fokus pada gawai yang tengah menampilkan salah satu game favoritnya. Selalu seperti itu ketika pertanyaan tentang dari mana luka itu berasal dilontarkan.
"Berantem? Atau ulah orang rumah?"
Pemuda itu menebak. Melihat gerakan tangan Kairo yang sempat terhenti ketika mendengar pertanyaan kedua, Jayden seolah sudah mendapatkan jawaban tanpa harus menunggu Kairo bersuara.
Dulu, lebih tepatnya tiga tahun lalu saat pertama kali mereka mulai saling mengenal, Kairo adalah anak yang begitu menggemaskan. Selalu saja ada tingkah lucu yang membuat ia terhibur. Kegemaran yang sama dalam menari membuat Jayden dapat dengan mudah menempati ruang spesial di hati anak itu.
Setidaknya tiga kali dalam seminggu, Jayden akan bertemu dengan Kairo untuk latihan menari. Dari yang semula hanya menyewa ruangan untuk berlatih selama beberapa jam, hingga berakhir dengan orang tua Jayden yang membuatkan sebuah bangunan khusus untuk berlatih. Jayden benar-benar merasa sangat dekat dengan Kairo.
Namun, kepercayaan diri itu berubah ketika di suatu pagi, Kairo datang ke tempat latihan yang telah bertambah fungsi menjadi markas itu dengan wajah berhias lebam. Ketika ditanya siapa pelaku di balik luka itu, Kairo kecil dengan polos menjawab jika sang ayah adalah pelakunya.
Kekacauan hampir terjadi ketika Jayden yang tersulut emosi berkata hendak menuntut balas pada orang dewasa yang tega melukai darah dagingnya, tetapi urung ketika Kairo menangis dan memohon untuk berhenti. Katanya, dia yang salah, dan itu hukuman yang harus diterima. Jika dia ikut campur, Kairo akan membencinya. Gila memang.
Sejak saat itu, Jayden tak lagi memaksa untuk ikut campur dalam urusan Kairo, dan perlahan Kairo sendiri mulai lebih pintar dalam menyembunyikan lukanya. Meski begitu, seharusnya dia tidak lupa, jika Jayden bahkan bisa menebak suasana hati Kairo lewat sorot mata.
"Jangan kemaleman main game-nya, buruan tidur. Gue tahu lo lagi di skors, tapi bukan berarti bisa bergadang sampe lupa sama kesehatan," pungkas Jayden ketika selesai mengoleskan salep di bibir Kairo.
Ia meringkasi kotak obat, dan bangkit. Memilih untuk tidur karena tidak ada guna juga berbicara dengan Kairo ketika suasana hatinya sedang buruk. Seperti berbicara dengan tugu Monas kalau kata Sagara, salah satu makhluk penghuni markas itu.
°×°×°
Semburat jingga yang terpancar menjadi penanda pulangnya sang surya ke peraduan. Sementara itu, Kairo baru tiba di rumah setelah puas mengelilingi kota dengan motor sembari menikmati semilir angin sore dengan cuaca yang cerah. Berbeda dengan kemarin yang tiba-tiba saja dilanda hujan.
"Kai!"
Kairo baru saja menurunkan standar motor ketika suara melengking itu menghujam telinganya, diiringi dengan kemunculan sosok Jenggala yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap. Dia baru kembali dari les dan bersantai di ruang tengah ketika mendengar deru mesin motor Kairo memasuki halaman.
"Lo pergi ke mana aja semalem? Kenapa nggak angkat telepon gue?"
Mengabaikan pertanyaan dan kekhawatiran yang Jenggala utarakan untuknya, Kairo melenggang masuk ke dalam rumah. Membiarkan Jenggala mengekorinya dan terus mengoceh tanpa berniat untuk menjawab.
"Tolong, dong, Kai. Kalo lo nginep di luar, kasih kabar, kek. Gue sampe nggak bisa tidur semaleman mikirin lo. Mana handphone lo juga nggak aktif. Makin kepikiran gue." Lagi, Jenggala mengungkapkan kekhawatirannya.
Berhenti mendadak, Kairo berbalik dan membuat Jenggala yang memang berjalan tepat di belakangnya tak bisa mengerem hingga menabrak tubuh Kairo. Dia terpental dua langkah ke belakang, sementara Kairo bergeming, seolah ditabrak oleh Jenggala bukanlah apa-apa. Hal wajar mengingat perbandingan ukutan tubuh mereka memang cukup jauh.
"Bacot. Nggak usah sok perhatian, deh, Gal. Lo sebenernya seneng 'kan lihat gue tiap hari dimarahi Papa? Terus muncul tiba-tiba like a super hero, dan bikin Papa makin muji-muji lo. Beda sama gua yang selalu jadi contoh manusia sampah yang hina. Mana-"
"Nggak gitu, Kai!" Jenggala menyela ucapan Kairo. "Gue benar-benar khawatir sama lo."
Ia menatap lekat mata sipit Kairo, lantas berujar, "Kita kembar, rasa sakit lo itu sakit gue juga. Gue bisa ngerasain apa yang lo rasain."
Kairo tidak bisa menahan tawa mendengar kalimat Jenggala. "Eh, lo tahu nggak, sih? Setiap kali lo bahas soal rasa-rasa atau tai apalah itu, rasanya pengen gue jedotin kepala ini biar sadar. Seberapa halu lo sekarang."
Ia menunjuk-nunjuk kepala Jenggala dengan ujung telunjuknya. Sementara remaja itu hanya bisa terdiam sembari memejamkan mata dengan tindakan Kairo.
"Ikatan batin apaan? Bullshit! Jangan mentang-mentang kita lahir kembar, lo bertingkah seolah yang paling ngerti sama apa yang gue rasain. Stop being delulu," pungkasnya lantas berbalik dan melanjutkan langkah. Meninggalkan Jenggala yang masih mematung di tempat semula.
Begitu masuk dan mengunci pintu kamar rapat-rapat, Kairo menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Sepasang manik legam itu menatap langit-langit kamar, lantas menghela napas kasar.
Sial! Sial! Sial! Jenggala sialan!
Mengapa dia selalu bersikap sok baik padanya? Apakah di mata anak itu, dia terlihat begitu menyedihkan sampai-sampai harus mendapat tatapan kasihan? Atau dia hanya ingin menyaksikan bagaimana siksaan yang Kairo dapat, dan bisa tertawa di atas luka-lukanya?
"Bangsat!" Ia mengumpat, menyumpahi hidup nan melelahkan yang menimpa.
Tatapannya beralih pada sebuah bingkai tua yang masih terpajang rapi di atas bangku nakas. Di dalam sana, terdapat selembar foto yang merekam sebuah momen dari tahun di mana semua masih baik-baik saja. Foto yang diambil ketika canda tawa masih menjadi simfoni indah yang mewarnai setiap sudut rumah.
Sebuah keindahan yang kini bahkan terasa meragukan bagi Kairo. Sebab kehancuran setelahnya terasa lebih membekas di benak anak itu, menusuk jauh lebih dalam daripada palung lautan.
"Ma ... apa semua bakal jauh lebih baik kalo Mama ada di sini?"


Jayden Loka Chandra (19)
Update yaww 😆
Jangan lupa yang rame vote dan komennya, biar makin cepet update jugaa 🙃
Salam
Vha
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top