2. Siapa Yang Berdiri di Belakang? - Kagome Kagome
Akhir-akhir ini, kota tempatku tinggal selalu diselubungi oleh kabut yang sangat tebal. Kabut itu bukan berasal dari asap kebakaran maupun dari uap air yang berkondensasi. Suatu hari kabut ini muncul dengan tiba-tiba dan hingga sekarang, tak ada seorang peneliti pun yang dapat menjelaskan asal kabut aneh ini.
Serantaian kasus orang hilang mulai muncul mengiringi fenomena kabut ini. Sampai saat ini, delapan orang telah menghilang secara misterius. Anehnya, setiap saksi mata yang diwawancarai memiliki kesaksian yang senada, yaitu para korban terakhir kali terlihat tengah berjalan menembus lautan kabut yang sangat pekat.
Hal ini membuat warga kota menjadi tak tenang, resah dan gelisah. Banyak warga yang mendadak menjadi hikikomori--pertapa, dan mengurung diri di rumah. Pada awalnya, aku juga termasuk para pertapa dadakan itu. Tapi ujian tengah semester mengharuskanku untuk meninggalkan rumah dan menghadiri sekolah.
Peduli setan dengan ujian, sebenarnya. Hanya saja, orang tuaku terus memaksaku untuk pergi ke sekolah atau hukuman yang sangat berat akan dijatuhkan padaku. Jadi dengan bersungut kesal dan menekuk muka, aku terpaksa menuruti permintaan tidak logis mereka.
Kini aku telah berdiri di depan pintu rumah sembari memperhatikan lingkungan sekitar. Pemandangan sebuah jalan kecil dengar rumah-rumah tetangga sekitar tak lagi menyambutku, melainkan hanya sehamparan kabut tebal berwarna putih keabu-abuan yang seolah tak memiliki batas.
Dengan hanya mengandalkan ingatanku yang rada lumayan, aku mulai berjalan menyusuri tembok pagar perumahan agar tak tersesat menuju ke sekolah. Yah, sekolahku memang tak begitu jauh dari rumah. Cukup berjalan selama lima belas menit untuk sampai di sekolahku, atau begitulah yang biasanya terjadi.
Aku berjalan secara perlahan, takut jika secara tak sengaja menabrak seseorang di depan karena jarak pandang yang begitu butuk. Tetapi, aku tak bisa menepis perasaan ganjil yang terus hinggap di hatiku. Sejak tadi, aku seolah terus berkutat di lokasi yang sama dan tidak mengalami kemajuan sedikit pun. Aku berharap itu hanyalah bayanganku saja karena jujur, aku tak mau jadi salah satu korban menghilang itu.
Baiklah, kutarik kata-kataku barusan. Sepertinya aku memang tidak sedang berhalusinasi. Aku ingat sudah beberapa kali melewati tiang listrik dengan kotak sampah berwarna biru di sampingnya. Hal ini sangat aneh, karena hanya ada satu tempat yang sama persis seperti itu di sepanjang jalan menuju sekolahku. Itu artinya, walau sekarang aku terus berjalan lurus, sebenarnya aku hanya berputar-putar di tempat, entah bagaimana caranya hal itu bisa terjadi.
Aku berhenti ketika sekali lagi melihat tiang listrik dan kotak sampah biru yang sama. Keanehan ini mulai membuatku dicekam rasa ketakutan. Pikiran buruk mulai memenuhi benakku. Apakah aku akan terjebak di dalam kabut ini selamanya?
Tidak, jangan berpikir hal yang negatif seperti itu. Aku menggelengkan kepala cepat lalu menepuk kedua pipiku keras-keras hingga telapak tanganku memerah, sebuah mantra yang diajarkan oleh ayahku untuk menenangkan pikiran jika sedang gelisah. Memang pipiku sekarang terasa sangat sakit, tapi cara ini ternyata cukup mujarab untuk menenangkan diriku.
Setelah merasa kondisiku cukup stabil, aku mulai mencoba untuk memanggil kembali ingatanku tentang sebuah artikel yang kubaca di sebuah website beberapa hari yang lalu. Bagaimanapun, aku tidak menghabiskan waktu dengan berdiam diri saja di rumah tanpa melakukan hal yang produktif. Aku menghabiskan waktuku dengan browsingberita atau artikel di internet tentang fenomena kabut ini. Salah satu artikel itu menyarankan untuk menanyikan lagu Kagome Kagome ketika terjebak di dalam kabut agar dapat menyelamatkan diri dari cengkraman kabut tersebut. Hal ini diketahui dari kesaksian seseorang yang mengaku telah terjebak di dalam kabut dan berhasil selamat ketika menyanyikan lagu tradisional yang menurutku terdengar cukup mengerikan itu. Memang tidak ada hal yang bisa membuktikan kebenaran ucapannya, tapi apa salahnya mencoba, bukan?
Aku mulai menyanyikan lagu Kagome Kagome di mulai dari bait pertama.
"Kagome, Kagome, burung dalam sangkar."
Pada saat melantunkannya, aku jadi teringat pada diriku sendiri yang terus bersembunyi di dalam rumah selama berhari-hari lamanya. Bukankah keadaanku itu sangat mirip dengan bait ini? Seperti seekor burung yang terjebak di dalam sangkarnya akibat genggaman kabut yang membungkus dan mengurungku.
"Kapan kapan kau keluar? Saat malam dini hari."
Bait kedua ini juga kembali mengingatkan aku pada diriku yang terpaksa harus keluar meninggalkan rumahku, yang bisa juga dianggap sebagai sebuah kerangkeng yang aman, dan harus menelusuri kabut sialan ini hanya untuk mengikuti ujian tengah semester di sekolah.
"Bangau dan kura-kura tergelincir."
Sepengetahuanku, bangau dan kura-kura adalah lambang keberuntungan. Itu berarti, tergelincirnya mereka melambangkan hal yang sebaliknya. Bukankah bait ketiga ini sangat tepat untuk menggambarkan kesialan yang tengah menimpaku sekarang? Terjebak di di dalam kabut tanpa tahu di mana posisiku berada sebenarnya.
"Siapa yang berdiri di belakang?"
Setelah melantunkan bait terakhir ini, kabut perlahan mulai menipis dan mengungkapkan lokasiku berada sekarang. Tapi, seiring dengan menipisnya kabut tersebut, bulu kudukku menjadi meremang membuat jantungku jadi berdetak tak keruan. Aku yakin seyakin-yakinnya kalau seseorang atau sesuatu tengah berdiri tepat di belakangku sekarang. Rasa penasaranku mulai menggoda untuk menoleh ke belakang. Namun, instingku berkata lain dan memberi peringatan untuk tidak menoleh ke belakang sedikitpun karena hal buruk akan menimpaku jika kulakukan hal tersebut.
Tap Tap Tap
Aku mulai berjalan maju karena jalan menuju sekolah mulai nampak jelas kembali. Tapi aku tak bisa menghentikan keringat dingin yang terus menetes dari pelipisku dan rasa ketakutan hebat yang melanda membuat langkahku jadi terburu-buru. Kenapa aku bisa jadi setakut ini? Karena alih-alih hanya mendengar suara satu langkah kaki saja--langkah kakiku, hal yang kudengar sekarang adalah suara langkah kaki yang bergema, seperti suara langkah dari dua orang yang berbeda dan dipaksa untuk menciptakan satu bunyi derapan langkah yang selaras.
Aku berjalan semakin cepat, dan suara langkah kaki di belakangku turut semakin cepat pula. Kulakukan rima yang tidak teratur. Berlari lalu berjalan perlahan lalu berlari dan berjalan perlahan lagi. Derap langkah di belakangku dapat meniru semua gerakanku dengan sempurna tanpa melakukan kesalahan sedikitpun dan hal ini membuatku semakin merinding. Ya Tuhan, siapa dia sebenarnya? Kuharap dia tidak memiliki niatan yang jahat terhadapku.
Akhirnya sebuah bangunan yang bentuknya tak begitu asing mulai tertangkap indra penglihatanku. Itu dia. Itu sekolahku! Entah kenapa, melihat bangunan sekolah jelek dengan cat yang telah memudar di mana biasanya selalu kuperhatikan dengan tatapan malas dan jenuh, kini malah terlihat seperti surga firdaus di mataku. Aku yakin makhluk ini akan berhenti mengejarku ketika aku telah sampai di dalam kelas. Pasti.
*****
Kubuka pintu geser kelas dengan paksa. Sebenarnya aku mulai merasakan keganjilan lagi ketika tak menjumpai satu orangpun di areal gedung sekolah. Tapi tak kusangka kalau di dalam kelasku sekarang juga kosong melompong.
Kakiku gemetaran hebat dan mulai terasa kelu seolah sudah tak mampu menumpu berat badanku lagi. Kini aku benar-benar tersudut di depan pintu kelas seperti tikus yang telah masuk dalam perangkap dan sudah tak bisa berkutik.
Aku mencoba melihat ke belakang melalui ekor mataku tapi tak berhasil. Apa yang harus kulakukan sekarang? Jika aku membalikkan badan untuk pergi, maka aku akan menatap makhluk di belakangku dan entah apa yang akan ia lakukan padaku jika hal itu terjadi. Tapi masuk ke dalam kelas juga lebih tidak mungkin lagi, karena itu berarti aku akan terperangkap di dalam kelas tanpa bisa keluar kecuali dengan membalikkan badan.... Tidak, tunggu dulu. Benar juga. Masih ada cara itu!
Aku berjalan lurus dengan ragu-ragu hingga berhenti tepat di depan jendela. Ruang kelasku berada di lantai tiga. Aku kembali memikirkan ulang ideku ketika menunduk melihat dari jendela ke areal pekarangan sekolah. Hal yang bodoh sebenarnya jika berpikir untuk melompat turun dari sini. Tapi, apa ada jalan lain yang lebih baik dari itu?
Aku kembali bergidik, karena merasakan sebuah hembusan nafas yang sangat dekat dan berat ke bagian tengkuk leherku. Refleks kupegangi bagian belakang leherku itu. Ternyata jaraknya denganku sekarang cuma beda beberapa senti lagi karena aku dapat dengan jelas merasakan hembusan nafasnya lagi dengan punggung tangan yang tengah meraba tengkukku. Brengsek. Kalau dia sudah tak segan-segan seperti ini, mau tak mau aku harus nekat melompat.
CRASH
Aku terjatuh di antara semak-semak rimbun yang mendekorasi sekolah. Rasa panas menjalari kakiku ketika aku mencoba berdiri. Ugh. Sepertinya kaki kiriku terkilir. Tapi tak apa, yang penting aku selamat.
Aku berjalan perlahan dengan tertatih sembari menyeret kakiku yang sakit. Tapi aneh sekali... Aku tidak mendengar bunyi suara terjatuh seperti yang telah kulakukan barusan. Aku menoleh ke belakang--sebuah hal terbodoh yang seharusnya tak kulakukan, dan sempat bernafas lega karena tak melihat ada siapapun di belakangku. Namun begitu aku mendongakkan kepala, aku menyaksikan sesosok makhluk yang tengah menyeringai lebar, seolah menyerukan kalimat 'kena kau!' padaku.
Dari sini, dapat kulihat sesosok makhluk yang tinggi besar dan menyerupai manusia, namun seluruh tubuhnya tertutupi bulu tebal berwarna coklat seperti anjing. Matanya tertutup dengan bulu-bulu kepalanya yang lebih menyerupai rambut bagiku. Ia menyunggingkan sebuah seringai jahat sehingga menunjukkan giginya yang berwarna kuning dan tajam serta lidahnya menjulur dengan liur yang terus menetes. Ia lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi menunjukkan cakarnya yang panjang, seolah mengutarakan kalau dia sudah siap untuk mencabik-cabik dan mengoyak tubuhku dengan cakar dan giginya itu.
Apa... Sebenarnya makhluk apa itu?!! Buru-buru aku berbalik dan menyeret paksa kaki kiriku sembari berusaha menghapus ingatan tentang sosok makhluk mengerikan tadi dari benakku.
DRAP
Bunyi lompatannya terdengar berbeda. Ia tidak melompat ke semak-semak untuk mengurangi dampak loncatan sepertiku, tetapi langsung ke tanah lapangan sekolah untuk memperkecil jarak di antara kami. Ia juga tidak lagi berusaha untuk menyeragamkan bunyi langkah kakinya, karena kini langkah kakinya terdengar begitu cepat.
Aku memukul kakiku yang tak mau di ajak kompromi dalam situasi genting seperti ini. Dasar kaki bodoh! Kenapa kau tak bergerak sesuai perintah? Kalau tak segera berlari, ia akan menerkamku sebentar lagi. Cepatlah bergerak. Kumohon, cepat bantu aku untuk berlari!
Lalu keajaiban seolah terjadi. Mungkin rasa takut yang begitu besar memaksa kelenjar tubuhku untuk memproduksi hormon adrenalin dalam jumlah banyak. Sakit di kaki kiriku mulai menghilang sehingga kini aku bisa berlari kabur darinya.
Aku menoleh ke belakang. Makhluk itu sudah sangat dekat dan berusaha menerkamku, namun aku berhasil menunduk tepat waktu untuk menghindari serangannya. Kurasakan beberapa helai rambutku putus, tapi aku mencoba untuk tak mempedulikannya. Masih untung leherku bisa selamat! Setelah itu, dengan segera kulakukan sprint untuk kembali memperbesar jarak di antara kami.
Setelah berhasil berlari selama beberapa menit, aku merasa kakiku mulai kebas dan kembali didera oleh rasa sakit yang kini menjalar ke seluruh tubuh. Tapi aku masih pantang menyerah. Aku tak mengurangi kecepatan lariku karena aku masih ingin hidup. Aku masih sangat muda, masih banyak hal yang ingin kulakukan, dan menjadi korban dari makhluk berparas seperti manusia anjing mengerikan ini? Tentu saja itu sama sekali tak masuk dalam daftar keinginanku.
Aku kembali mengingat isi artikel yang kubaca. Setelah bernyanyi, kita tak boleh menoleh ke belakang karena hal yang menyambutmu di belakang adalah ketakutan terbesarmu. Kurasa itulah penyebab mengapa makhluk yang mengejarku sekarang wujudnya menyerupai anjing, karena phobia akutku pada anjing akibat pernah digigit hingga berdarah sangat banyak ketika aku kecil. Luka pada saat itupun masih meninggalkan bekas di kaki maupun di hatiku. Makhluk di belakangku ini juga mencoba untuk menggigitku, karena seperti yang kubilang tadi, digigit oleh anjing adalah ketakutan terbesarku.
Hosh... Hosh...
Di dalam lariku, aku masih mencoba mengingat kelanjutan isi artikel itu. Aku begitu bodoh karena hanya membaca secara sekilas isi artikel itu, jadi butuh waktu untuk mengingat kembali hal yang tertulis di dalamnya. Pasti di sana terdapat sebuah cara yang bisa kulakukan jika telah terlanjur menoleh ke belakang. Tapi apa?
"Kagome, Kagome, burung dalam sangkar."
Aku kembali menyanyikan lagu Kagome Kagome. Mungkin dengan mengulang lagu itu, makhluk ini akan menghilang.
"Kapan kapan kau keluar? Saat malam dini hari."
"Bangau dan kura-kura tergelincir."
"Siapa yang berdiri di belakang?"
Aku menoleh ke belakang setelah melantunkan bait terakhir. Sialan, bukannya menghilang, makhluk itu sudah berada tepat di belakangku lagi!
GROAAAR!
Geramnya sembari berusaha menggigitku. Untung saja aku dapat kembali menunduk dan menghindar. Argh.... Aku harus segera sampai di rumah secepatnya karena tak mungkin aku bisa menghindari serangan makhluk ini selamanya.
Ah, rumahku. Akhirnya aku dapat melihat rumahku yang letaknya berada di ujung jalan ini. Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi dan aku akan selamat!
BRAK!!!
Kubanting daun pintu dengan kasar dan segera memutar anak kunci termasuk ketiga grendel dan palang pintunya juga. Aku menahan pintu itu dengan tubuhku sembari menempelkan bola mataku di kaca pengintip pintu untuk melihat keadaan makhluk itu di luar sana.
Aku terkaget bukan kepalang. Hal yang menyambutku ternyata juga sebuah tatapan dari iris mata hitam legam yang memenuhi seluruh bola matanya seolah sedang mencoba menghisapku ke dasar jurang gelap yang terdalam. Aku jatuh terduduk dengan keringat bercucuran. Jantung dan nafasku juga ikut memburu. Huft... Tenanglah. Ia sudah tak bisa mengejarku lagi. Aku telah selamat.
Makhluk itu mencoba mendobrak pintu dengan paksa, berulang-ulang kali dan dengan tenaganya yang sangat kuat, membuatku jadi merasa tegang kalau-kalau ia berhasil menerobos pintu itu. Untung hasilnya nihil. Kami yang pernah mengalami perampokan membuat ayahku menjadi paranoid dan memasang beberapa lapis pengaman di pintu. Makhluk itu jadi tak bisa menembusnya dengan mudah.
Akhirnya ia menyerah dan beranjak pergi, ditandai dengan daun pintu yang kini diam bergeming. Aku mengelus dada dengan perasaan lega. Akhirnya, akhirnya aku selamat dari makhluk jahanam itu!
"Kagome, Kagome, burung dalam sangkar."
DEG
Aku mendengar lagu Kagome Kagome yang dilantunkan dengan gembira dari suara yang sudah tak asing lagi di telingaku. Lagu itu berasal dari belakangku dan dinyanyikan oleh tiga sumber suara yang berbeda. Aku tahu benar siapa pemilik ketiga suara itu; Ayah, ibu, dan kakak perempuanku.
"Kapan kapan kau keluar? Saat malam dini hari."
Mereka masih terus melantunkan lagu itu sementara aku masih terdiam menghadap pintu membelakangi mereka. Tapi apa maksud mereka tiba-tiba menyanyikan lagu ini? Dengan suara yang terdengar sangat senang pula, seperti tengah dirasuki sesuatu.
"Bangau dan kura-kura tergelincir."
Aku mulai menyadari sesuatu yang cukup mengganjal. Selama beberapa hari terakhir, tak sekalipun aku beranjak keluar dari kamar. Ibulah yang terus mengantarkan makananan ke kamarku. Tetapi sejak kemarin, ia berhenti melakukannya membuatku jadi cukup kelaparan dan pada akhirnya, memutuskan untuk keluar dari kamar.
Rumahku ternyata kosong. Aku lalu menunggu selama beberapa jam hingga ketika hari mulai menjelang malam, mereka bertiga pulang bersama entah dari mana dengan wajah murung dan terlihat sangat letih. Aku sempat menanyakan keadaan mereka, tapi mereka bilang kalau mereka baik-baik saja. Lalu pagi ini, tiba-tiba saja ibu memaksaku untuk pergi ke sekolah bagaimanapun caranya, seperti dengan mengancamku.
"Siapa yang berdiri di belakang?"
Keanehan pada keluargaku, jalanan kota yang sepi, sekolah kosong tanpa dihadiri oleh siapapun... Walau terlambat, kini aku sudah menyadari apa yang telah terjadi di kota ini.
*****
Negara Jepang di hebohkan dengan salah satu distrik di Tokyo yang tiba-tiba saja diselimuti oleh kabut tebal tanpa sebab yang jelas. Tak ada yang bisa melakukan komunikasi dengan para penduduk yang berada di kota kecil itu sehingga, dikirimlah tim penyelamat untuk menyelidiki sekaligus mengevakuasi warga kota itu. Tapi, komunikasi dengan setiap regu yang dikirim pasti selalu saja terputus tak berapa lama setelah mereka mulai menginjakkan kaki di kota tersebut.
Akhirnya pemerintah Jepang menyerah dan hanya bisa menunggu sembari berharap kabut itu dapat menghilang dengan sendirinya. Setelah beberapa minggu berlalu, kabut perlahan mulai mereda dan akhirnya menghilang dengan seutuhnya. Tetapi yang menyambut mereka sekarang adalah sebuah kota mati dengan warganya yang telah menghilang entah kemana. Tak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan di setiap sudut kota itu, seolah mereka hanya--poof, menghilang begitu saja. Sebenarnya bencana apa yang telah menimpa para warga selama kabut menyelimuti kota itu? Sampai saat ini tak ada seorang pun yang tahu jawabannya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top