17. Rumah Tua dan Kagome-kagome - Kagome Kagome

 

[Hime PoV]

Aku mengelilingi gedung tua malam ini bersama temanku, Hana. Kami penasaran dengan misteri rumah tua di sebelah sekolah kami. Katanya, setiap malam terdengar suara anak yang masih berusia lima tahun sedang menangis, piring pecah dan suara-suara aneh lainnya serta, jika ada seseorang memasuki rumah itu, mereka takkan keluar.

Sebelumnya, perkenalkan namaku Himenia Lucifer. Aku sekolah di High school Fortune one. Sedangkan di sebelahku ini bernama Hana Hanami, dia adalah sahabat terbaikku. Sudah banyak kejadian yang kami alami. Ah, perkenalan ini membuatku mengingat pertamakali kami bertemu. Sungguh, itu pertemuan yang sangat aneh dan juga sangat unik.

Ceritanya, aku sedang berjalan menuju ke aula, tapi tiba-tiba dia langsung jatuh tepat di atasku dan itu sakit. Pandanganku kian lama kian memudar dan aku tak tau apa yang terjadi setelah itu. Aku terbangung dan mencium aroma berbagai obat. Kulihat sekelilingiku dan meligat dia sedang tertidur memegang tanganku.

Dia terbangung dan meminta maaf karena salah mendarat. Sebenarnya parasutnya rusak saat hampir berada di tanah, kemudian, dia berkenalan ditempat itu, UKS. Hahahaha! Tempat yang terlalu mainstream untuk berkenalan dengan teman baru.

Ah, ya. Kembali kecerita.

Saat kami yang sepertinya tiba di ruang makan, tiba-tiba saja bulu kuduk ku berdiri.

"Hime, yuk kita pulang saja. Aku mendapatkan perasaan buruk tentang ini," ucap Hana dengan gemetar.

Sebenarnya, aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, karena rasa penasaranku lebih besar dibanding perasaan takut, aku menolak ajakannya.

'PRANG' 'PRANG' 'PRANG'

Benda kaca tiba-tiba saja terjatuh sendirinya, kami terkejut melihat benda itu terjatuh sendirinya. Hana menarik tanganku dan berlari untuk keluar dari dapur ini. Sayangnya, sebelum kami keluar pintu tertutup dan terkunci dengan sendirinya.

Suara tangis anak umur lima tahun terdengar ditelinga kami, membuat kaki kami refleks bergetar. Detak jantungku berdenyut dengan cepat, kuarahkan mataku diseluruh ruang ini, mencari sumber dari suara tangisan itu. Tapi, nihil aku tidak sumber suara itu.

"Hiks... semuanya tidak ingin bermain denganku hiks... Kak... Yuk kita main. Aku kesepian," Suara yang entah siapa terdengar dipenjuru dapur ini. Dengan cepat, kami membalikkan pandangan kami kearah suara itu--yang berasal dari belakang kami.

Kini, sungguh aku sangat ketakutan. Aku kira, cerita itu hanyalah mitos belakang. Kami melihat sosok gadis berumur lima tahun dengan rambut hitam pekat yang panjangnya menyapu lantai. Bola mata kirinya tidak ada dan dibagian itu darahnya terus mengalir. Bajunya yang berwarna putih yang dihiasi bercak merah--darah. Badannya yang sangat pucat serta tak lupa luka-luka memar yang luman besar menjadi hiasan diseluruh badannya. Memegang boneka rusak ditangan kiri dan pisau dapur yang memiliki sedikit noda darah ditangan kanannya.

Dia terus mendekati kami yang terus mundur. Hingga, langkahan kami berhenti yang disebabkan adanya dinding yang menghalangi.

"Hiks... Kak~~ Yuk main, aku kesepian. Hiks... Hiks..." ucapnya lagi.

Aku terdiam membisu. Karena rasa takut kali ini yang menguasai diriku, aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengalirkan air bening dimata.

"Tidak. Aku ingin pulang, Enyalah kau!" Bentak Hana. Aku meliririk Hana srbentar, terpancar rasa ketakutan diwajahnya.

"Kakak membosankan~~,"ucap hantu itu yang tiba-tiba melempar pisaunya telat dijantung Hana.

"Hana!" Seruku.

'BRUK'

Hana terbaring dilantai dengan darah yang masih keluar tepat di bagian jantungnya.

"Hana, bertahanlah," ucapku yang masih menangis.

"H-Hime, Ja-ja-ngan ting-tinggali aku, te-tetap lah di si--" hembusan napas terakhir Hana akhirnya terjadi. Tangisanku mulai lebih deras.

"Hana...Hana! Jangan mati Hana! Kau teman baikku. Hanaaaaaa! Ban--"

"Tak ada gunanya kakak meneriaki teman kakak itu, dia sudah mati," ucapnya tiba-tiba dengan seringai diwajahnya. Aku menatapnya tajam bagaikan pisau, dendam kian lama merasukiku. Ingin sekali rasanya dia lenyap di dunia ini dan kembali ke alamnya. Karena dia, aku membunuh Hana.

Yah, menurutku, akulah yang membunuh Hana. Seandainya aku mengikuti sarannya, pasti dia masih hidup. Masih bisa mengobrol dengan teman di sekolah, tak lupa bersenang dengan keluarganya.

"Kak~ Jangan tatap begitu dong. Lebih baik kita bermain, aku bosan~~" ucapnya memecahkan keheningan. Tch, apa-apaan dia.

"Kalau tidak, kakak akan tahu akibatnya," ucapnya menyeringai.

Aku mengangguk. Eh? Ke-kenapa ini? Kenapa aku berjalan kearahnya? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku? Oh Tuhan, apa yang terjadi denganku?

"Kak, Yuk kita main kagome-kagome~!" ucapnya girang. Aku hanya terdiam dalam tangis.

"Nah, kakak harus tahu siapa nama yang ada di belakang kakak. Namaku Kira! Kakak jangan berani bermain curang," ucapnya kegirangan tidak seperti pertamakali aku bertemu dengannya.

T-tunggu dulu, Kagome-kagome? Bukannya itu dimainkan lima atau enam orang? Tapi... Jika sedikit, aku bisa menang dan bisa keluar dari sini.

"Oke kak! Tutup mata sekarang," ucap hantu itu--Kira.

Aku kemudian duduk dilantai dan menutup mata dengan kedua tanganku. Dia mulai menyanyikan lagu permainannya.

"Kagome, kagome, burung dalam sangkar," Aku tetap fokus, walaupun hanya satu orang yang mengeliliku saat ini.

"Kapan-kapan kau keluar? Saat malam dini hari,"

"Burung jenjang dan penyu tergelincir," Eh? Kenapa suaranya bermacam-macam bukannya hanya Kira yang mengelilingiku?

"Siapa yang ada tepat di belakangmu?" Nyanyian berhenti, menandakan aku harus menjawab siapakah yang dibelakangku.

"Kira. Yang ada dibelakangku adalah kira," jawabku yang masih menutup mata.

"Sayangnya salah," ucap seseorang di belakangku. Wait, sepertinya aku mengetahui suara ini.

Aku cepat melihat siapakah gerangan yang berada di belakangku.

.

.

.

Ini... tidak muggkinkan? Maksudku, kenapa itu benar-benar dia? Kenapa Hana yang berada di belakangku? Dan kenapa dia tampilannya sangat mwngerikan?

"H..Hana..." Gumamku. Dia menangis darah, menatapku dengan tatapan benci.

"Kau bukan temanku lagi, Hime..." ucapnya kemudian tertawa mengerikan. Mendengar ucapannya, itu membuat hatiku sakit. Masih shok dengan ucapannya. Oh Tuhan, kali ini kenapa Engkau memperla

"Teman-teman~~ kakak ini sudah kalah. Yuk kita beri hukuman~~" ucap Kira yang membuyarkan seluruh kekejutanku.

Eh? Aku tidak salah dengarkan? Dia berkata Teman-teman?

Segera kulihat sekelilingiku.

"!"

Oh ayolah, siapa yang tidak terkejut melihat pandangan ini. Perasaanku hanya Kiralah yang mengelilingiku, tapi ini. Apa maksudnya? Aku dikelilingi lima hantu mengerikan--termasuk Hana? Mereka semua menatapku senang. Oke, aku menduga pasti akan terjadi hal buruk padaku sekarang.

"Nah, siapa yang ingin memberi hukuman untuk kakak ini~!" Tanya Kira dengan polos palsunya.

"Aku." ucap Hana. Aku tersentak, shok bahwa ia ingin menghukumku.

Dia mendekat dengan pisau yang kapan saja dapat memberikanku hadia yang sangatlah spesial. Ia menyirgai kemudian mendorongku yang membuat kepalaku terbentur kelantai dengan cukup keras. Pisau tajam itu menusuk dan memasuki perutku. Tak lama kemudian, dia menggerakkan pisau itu ke seluruh arah membuat memar di perutku kian membesar. Darah terus mengalir dari luka tersebut membuat ruangan itu beraroma khas darah.

Entah sudah berapa kali aku berteriak membutuhkan bantuan, jeritan karena sakit, dan meneriaki nama Hana. Apa karena aku ingin keluar dia marah besar denganku? Atau ada alasan lain? Sebenarnya yang salah siapa? Aku atau Hana?

Tak lama kemudian, pandanganku mulai memudar, tak terhitung berapa banyaknya luka yang besar ditubuhku ini. Kian lama, pandanganku mulai memudar, detak jantungku melemah dan terakhir--

--Aku mati.

Dan aku tidak tahu apa selanjutnya yang ia lakukan terhadapku.

[Hime PoV End]

[Author]

Hana memandang tubuh Hime yang tak bernyawa itu. Ia masih merasakan kekecewaan terhadap temannya satu ini. Tak butuh waktu lama untuk membelah perut temannya itu. Organ-organ yang rusak akibat ulahnya keluar dari tempatnya. Darahnya yang mulanya akan kering kembali mengalir. Dia memasukkan kedua tangannya ke robekan yang ada di bawah dadanya kmmudian, mencari barang yang menurutnya penting. Ah, dia sudah mendapatkannya. Dengan wajah yang menyeramkan, dia menarik barang tersebut. Nadi-nadi dan hambatan lainnya tidak mempengaruh keinginannya untuk mengambil barang yang ia incar itu. Ah, ahkirnya keluar juga. Sebuah organ yang sangat familiar di telinga maupin di mata kita. Sebuah Jantung.

Awalnya, hanya meraba-raba jantung itu dengan perlahan, tapi entah apa yang dirasukinya, ia langsung memakan jantung itu. Mulutnya dipenuhi oleh cairan darah yang menurutnya lezat. Karena serasa masih lapar, ia kemudian mencari organ yang masih utuh. Tangannya menyentuh benda kenyal. Karena tak sabar yang ia temukan, dengan tarikan kuat ia dapat mengeluarkan organ itu sengan cepat. Sebuah setengah dari paru-paru.

Rasa kekecewaan terasa pada dirinya, menurutnya organ itu kurang lezat karena hanya separuhnya saja. Jadi, dengan terpaksanya dia memakannya. Tangannya kini dipenuhi oleh darah yang sangat menyengat di indra.

Karena tidak puas dengan hasilnya, ia mengalihkan pandangannya di bagian kepala. Seringai dengan jelas dapat terlihat diwajahnya.

Ia membuka kelopak mata Hime kemudian, menancapkan pisau tipis nan tajam itu kebola mata. Dengan gerakan cepat, ia menarik bola itu dengan paksa hingga bola itu keluar dari tempatnya. Matanya terus melihat bola mata itu kemudian dijilatnya dan dimakan bola mata itu.

Satu ide gila kemudian muncul dikepanya. Ia ingin merasakan rasa sesuatu yang ada di dalam kepalanya yang bukan lain adalah otaknya. Perlahan namun kuat, ia membelah kepala Hime mejadi dua bagian. Ini memakan waktu yang lama yang dikarenakan tulangnya sangar keras.

Kelihatanlah bagian dalam kepalanya. Hana yang melihatnya langsung menariknya karena ketidak sabarannya ingin mencobanya. Ia kemudian mengambil pisau dan memotongnya menjadi lima bagian, empat untuk temannya dan satu untuk dia. Sensasi baru memasuki mulut Hana saat mengunyah otak itu. Samahalnya dengan teman-temannya, mereka juga menikmati rasa otak itu.

Mereka tertawa menyeramkan, tapi lain halnya dengan Kira yang sedang menuju ke luar untuk dengan seringai yang lumayan lebar.

Kira sedang mencari sesuatu yang sangat penting menurutnya. Tak lama, ada beberapa orang yang menuju ke rumah tua tersebut. Seringainya bertambah lebar, akhirnya ada teman baru yang ingin bermain kagome-kagome bersama Kira dan teman-temannya.

Dengan cepat, Kira menuju ke teman-temannya untuk memberitahukan informasi yang gembira vagi mereka.

"Sekarang, siapa yang menjadi oni?"

→End←

Ket:

Kagome-kagome: Permainan anak-anak dijepang yang lima sampai enam orang. Dimana satu orang menjadi Oni dan yang lainnya mengelilinginya.

Oni: orang yang berada ditengah lingkaran/yang dikelilingi.


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top