15. Diane - Fur Elise



27 Juli 2007

Kehampaan terus menjalari sisa-sisa jiwa Lit yang masih rapuh, walau lembar-lembar angka tanggalan telah melepuh. Purnama juga telah merubah diri menjadi sepucuk sabit, yang kemudian bertengger di atas gundukan tanah berujung nisan. Sudah dua minggu lamanya Diane meninggalkan dunia ini, dan selama itu pula jiwa pria itu telah tercabik-cabik.

Ditemani setangkai mawar yang mengering, Lit merampungkan kombinasi nada yang disusunnya. Katarsis yang dibuatnya untuk mengenang Diane kini telah sempurna, terbingkai dalam keantikan sebuah jam saku yang berdenting sendu. Jari-jarinya kembali memutar kenop di balik jam tersebut, hingga piringan logam yang merangkai nada-nada itu menyayat telinganya. Ia membiarkan nada-nada itu mencumbu perasaannya, yang kemudian membuat hatinya bergolak untuk kesekian kalinya.

Ia menyusupkan jam tersebut di balik saku bajunya. Ia hanya ingin lagu itu berada dekat dengan jantungnya.

Seketika itu, ia tersenyum walau hatinya menggigil.

##

28 Juli 2007

Helai-helai kelopak mawar itu muncul bergantian di dalam air yang hendak mendidih.

Akhir-akhir ini, Lit terbiasa meminum teh mawar seteko penuh. Diane adalah pencinta mawar. Lit ingin Diane tetap menjadi bagian hidupnya, walaupun itu hanya dengan menggeramus dan merebus mawar-mawar yang biasanya dirawat oleh Diane, kemudian meminum air seduhannya.

Di tengah waktu-waktu santainya, bel pelanggan di tokonya tiba-tiba berdenting.

Dengan sedikit rutukan, Lit mematikan kompor di depannya dan bergegas menuju bagian depan rumahnya. Seorang pemuda dengan perawakan tegap dan potongan rambut cepak sedang melihat-lihat beberapa lukisan yang dipajang di antara bunga-bunga yang sedang dijualnya. Dengan tangan yang dilipat di depan dada, pemuda itu mengedarkan pandangannya dan berhenti di depan sebuah lukisan bergaya surealis.

"Ini menarik. Berapa harganya?" Pemuda itu mengawali pembicaraan. Pandangannya tak lepas dari tubuh seseorang yang tak berwajah dengan mawar dan baris-baris awan yang menyelimutinya.

"Aku tidak berniat menjual lukisan ini lagi, Tuan." Lit menjelaskan.

"Saya akan membayar berapapun yang Anda mau." Pemuda itu tersenyum mantap.

Lit menghela napas. "Aku tidak menjualnya, Tuan. Anda datang di waktu yang salah. Sejak dua minggu yang lalu, aku tidak menjual lukisan-lukisan ini lagi. Ini adalah lukisan-lukisan terakhir istriku sebelum kami berpisah. Aku tidak ingin lukisan-lukisan ini dijual."

Pemuda itu mendesah kecewa. "Anda bisa memberi saya masukan? Saya ingin memberikan kado terbaik untuk kekasih saya. Ia sangat suka pada lukisan, walau ia sendiri tidak bisa melukis. Ia akan berulang tahun akhir bulan ini, tetapi pada saat itu juga, saya harus bertugas ke luar negeri. Saya tidak ingin mengecewakannya."

"Sebuah perpisahan, ya?" tanya Lit.

Pemuda itu mengangguk, kemudian seolah mendapat pencerahan, ia menoleh pada Lit dengan antusias. "Anda tadi berkata... Anda berpisah dengan istri Anda? Lalu apa yang Anda lakukan untuk menunjukkan perasaan Anda padanya?"

Lit terdiam sejenak, sebelum ia berani berkata, "Aku membuatkannya sebuah lagu." Tangannya merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah jam saku.

"Sebuah lagu?" Pemuda itu hampir memekik tidak percaya, sebelum Lit membuka jam saku miliknya dan memutar sesuatu yang bisa menggerakkan piringan-piringan logam itu.

Sendu dan dingin. Lagu itu mengalun di tengah keheningan pagi itu. Pemuda di depannya mendengarkan dengan seksama dan membiarkan telinganya dihipnotis oleh serangkaian nada yang disusun Lit.

Ia terkesima. "Saya ingin membeli jam itu! Ia pasti akan suka dengan lagu di dalamnya. Saya akan membelinya dengan harga berapapun yang Anda inginkan."

Lit tersenyum. "Ambillah. Ini bukan barang yang kujual. Aku hanya ingin lagu yang kubuat bisa didengar oleh orang lain."

Pemuda itu mengucapkan 'terima kasih' berkali-kali. Wajahnya sumringah; membayangkan bagaimana reaksi gadis yang meminang hatinya.

##

30 Juli 2007

Ketukan keras terdengar di depan rumah Lit. Bersama dengan gemuruh langit dan secawan hujan yang ditumpahkannya, ketukan itu nyaris tidak terdengar.

Malam telah menghampiri dan Lit sudah menutup tokonya. Tetapi entah seseorang di luar sana memaksa untuk bertandang ke tokonya. Siapa lagi itu?

Ketukan tidak sabar itu perlahan-lahan berubah menjadi gedoran. Lit yang tengah memainkan pianonya terdiam. Dengan diiringi keluhan, ia berdiri dan berjalan pelan menuju tokonya.

Lit membuka pintu.

"Tuan! Benarkah Alerio sempat ke sini sebelum ia berangkat?! IA YANG MEMBELI JAM SAKU INI?!"

Lit tercengang menemui gadis di depannya. Wajahnya kalut dan kacau. Pakaian dan rambutnya basah dilebas hujan. Dengan dada yang naik turun karena menahan tangis, ia mengacungkan jam saku itu di depan wajah Lit.

"Tuan, tolong jawab aku! Ia ke sini, bukan?! Ia membeli jam saku ini untukku?!" Gadis itu menangis. "Kau mendengar apa yang terakhir kali dikatakannya? Apa yang ia katakan sebelum membeli jam ini? Apa yang ia katakan sebelum ia meninggalkanku dengan sebuah jam saku sebagai penggantinya?"

Lidahnya kelu untuk menjawab semua pertanyaan dari gadis itu.

Gadis itu tersungkur dengan isak tangis yang begitu menyiksanya. "Apa yang terakhir di katakannya? Kenapa ia begitu tega meninggalkanku? Nyawanya... apakah hanya diganti dengan jam ini?" Tangannya mencengkram jam itu kuat-kuat.

"Ia meninggal, Tuan. Mobil yang dinaikinya untuk menuju bandara mengalami kecelakaan..." Gadis itu mengusap air matanya. "Ia sudah meninggal, Tuan... Apa Anda yakin kematiannya tidak berhubungan dengan sesuatu dalam jam ini?"

Lit masih terbelalak mendapati wajah serupa bulan purnama di depannya ini. Lengannya segera memeluk gadis itu dengan perasaan yang berbunga-bunga. Ia tak menyangka mereka akan bertemu lagi. Sorot mata itu... sorot mata yang selalu meluluhkannya.

"Diane, aku tahu kau akan kembali..."

##

3 September 2007

Lit memandang kelopak-kelopak mawar yang bermunculan dalam air yang mendidih.

Memang, di sana, sebuah mawar telah mengering, tapi setidaknya; kini seuntai lagu telah merekahkannya. Sejak kejadian bulan Juli lalu, luka-luka batinnya sedikit terobati. Ia menemukan anugerah yang ada dalam lagu yang dibuatnya. Ah, sudut bibirnya tertarik saat mengingatnya.

Akhir-akhir ini, Diane selalu menghubunginya melalui para gadis dari pasangan-pasangan yang mendengar lagunya. Walaupun hanya sesaat, ia benar-benar keranjingan untuk bertemu Diane.

Aku tahu Diane akan kembali. Jika saja aku menemukan gadis yang tepat, aku bisa membawa Diane kembali seutuhnya. Aku berjanji akan membawa jiwamu kembali. Aku tidak akan mengecewakanmu, Diane.

##

15 Juni 2009

Sudah dua tahun lamanya ia menjual kotak musik, dan selama itu pula ia belum bisa menemukan gadis yang tepat untuk membawa kembali jiwa Diane secara utuh.

Ia berniat untuk menutup tokonya hari ini. Beratus orang telah mengunjunginya tetapi tak ada satupun gadis yang benar-benar tepat. Mungkin ini saatnya ia yang harus mengunjungi mereka, ke tempat-tempat yang mereka sukai.

Taman di tengah kota tidak terletak terlalu jauh dari rumahnya, sehingga membawa beberapa kotak musik tidak lah mustahil untuk dilakukannya.

Pagi itu, taman kota benar-benar ramai melebihi perkiraannya. Banyak orang-orang bersepeda, berlari mengelilingi taman, berpiknik bersama keluarga, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Ia duduk di salah satu bangku taman yang tersedia, tepat di sebelah tanaman bambu jepang di sudut taman itu, yang memungkinkannya untuk melihat keseluruhan area taman.

Matanya mulai beredar untuk mendeteksi pasangan-pasangan yang sedang menghabiskan waktu pagi di taman ini. Kemudian di depan seseorang yang menjual gulali, ia menemukan berpasang-pasang gadis dan pemuda yang sedang bercanda ria. Ia beranjak dan mendekati mereka.

Ia tak ingin banyak bicara. Tangannya segera mengeluarkan sebuah kotak musik yang sedari tadi disimpannya di dalam tas. Setelah meletakkan kotak musik itu di atas pangkuannya, ia bersiap untuk memutar lagu itu di hadapan mereka. Lima pasangan sekaligus.

Lagu itu mulai mengalun. Suara jernihnya siap untuk menjerat siapa saja yang mendengarnya. Laki-laki atau perempuan, mereka akan punya naluri untuk mengajak pasangan mereka mendengarkan lagu itu bersama.

Di saat ia merasa perhatian telah tertuju padanya, ia mulai berkata, "Tuan-Tuan dan Nona-Nona, percaya atau tidak, kotak musik ini memiliki banyak keajaiban. Sekali Anda, para laki-laki, mendengar lagu ini bersama pasangan Anda, maka keabadian cinta telah berada dalam genggaman Anda."

Ia membiarkan mereka untuk menyerap kata-katanya. Ia hanya ingin melihat Diane di antara gadis-gadis itu.

"Rasa cinta Anda terhadap pasangan Anda akan bertambah, semakin menguatkan keterikatan batin di antara kalian. Jangan ragu untuk mencobanya, aku telah menjual kotak musik ini selama bertahun-tahun, dan keajaiban itu benar-benar ada."

Ia menunggu tatapan-tatapan mereka berubah menjadi aksi yang menunjukkan keberadaan Diane.

Kemudian, salah satu gadis yang sedang duduk di pinggir taman tiba-tiba berdiri. Ia berdiri dengan sorot mata yang benar-benar penuh dendam. Rambutnya terurai menyentuh darah yang mengalir di wajahnya. Ia adalah Diane; Diane yang terluka seperti saat kematian menjemputnya.

"Lit..." Ia berjalan dengan kaki yang pincang, seolah-olah hanya ada satu kaki yang digunakannya untuk berjalan. "Lit, aku takut... Kemarin pria itu mencekikku..."

Ia terjerembab karena tak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Terakhir, ia menengadah menatap Lit. "Lit, tolong aku... Hari ini ia akan memotong leherku... Kumohon, lepaskan aku dari dunia yang tidak kukenal ini..."

Lit tercengang. Diane berbicara padanya? Mengirim sebuah pesan untuknya?

"Tuan?" Seorang pemuda menyadarkannya dari peristiwa sesaat tersebut.

"Apakah Anda tadi berkata... bahwa aku mampu meningkatkan rasa cintaku pada seseorang?" Pemuda itu langsung bertanya pada Lit. Dadanya naik turun menandakan ia baru saja selesai berlari.

Lit mengangguk dengan wajah yang masih kebingungan. "Te-tentu saja. Anda punya foto seseorang yang Anda cintai?"

Pemuda itu segera menarik sesuatu dalam saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah dompet dan membukanya untuk mengambil sebuah foto dari seorang gadis. "Ini."

Hati Lit berdesir. Ia tidak tahu apa yang membuatnya begitu yakin. Kedua manik gadis itu, kejernihan wajahnya, senyum tulusnya yang seolah tanpa beban. Semuanya, begitu mirip dengan aura milik Diane.

Senyum terulas di bibir Lit. Akhirnya, waktu telah memutuskan untuk mempertemukannya dengan gadis yang benar-benar diincarnya.

**

Pemuda dengan rambut coklat itu membungkus sebuah kotak musik yang baru saja dibelinya dari seorang penjual jalanan. Tangannya segera mengatur letak barang-barang dalam tas olahraganya agar kotak musik itu bisa ia letakkan di dalamnya.

Akhirnya, aku akan menemukan jalan untuk melupakanmu, Isabel.

Tekadnya berkata. Dengan bergegas, ia beranjak dari keramaian di taman itu

**

"Teresa, aku di sini."

Ia duduk di atas sofa ruang tamu rumah itu dan melepaskan ikatan tali sepatunya. Peluh bercucuran di pelipisnya setelah berlari di sekeliling taman selama satu jam.

"Aiden!" Dari bagian dalam rumah, seorang gadis dengan kulit putih dan rambut hitam berhambur ke hadapannya. "Kau mau sarapan apa pagi ini?" tanyanya dengan bersemangat.

Aiden tersenyum. "Tidak perlu repot-repot, Terry. Aku akan sarapan di kantor."

Teresa mengerucutkan bibirnya manja. "Selalu saja begitu. Aku ini juga bisa memasak, tahu!"

Aiden tertawa melihat ekspresi gadis di sebelahnya ini.

Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu lekat dalam pikiranku, Isabel. Bahkan di saat aku telah mendapatkan seorang gadis sesempurna Teresa, setiap memori yang kau ciptakan masih terasa basah dalam benakku.

"Ah, ya, Teresa, lihat, aku punya hadiah untukmu." Ia membuka tasnya dan segera mengambil kotak musik yang tadi dibelinya. Ia menyodorkan kotak musik itu pada Teresa yang sudah berbinar-binar melihat anggunnya kotak musik itu.

"Wah, indah sekali, Aiden. Terima kasih. Bisakah kau meluangkan waktumu sejenak untuk menikmati lagu yang ada di dalamnya bersamaku?"

"Tentu saja. Itulah alasanku untuk pulang terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor." Aiden memutar piringan-piringan logam yang menyusun kotak musik tersebut.

Nada-nada itu terasa menyayat hati. Teresa mendengarkannya dengan seksama sembari mengamati pergerakan piringan logam di dalamnya. Kebiasaan masa kecilnya telah membawanya menjadi seseorang yang disukai di mana pun ia berada.

Ia bisa merasakan kepiluan yang sedang dikatakan oleh lagu ini. Melodi-melodi instrumen ini begitu romantis, hingga ia hampir saja meneteskan air mata untuk itu.

"Aiden..." Ia menoleh ke arah pria yang dicintainya.

Kemudian, ia hanya merasakan tangan Aiden memeluk punggungnya.

**

Teresa, kau punya waktu luang? Aku ingin mengajakmu makan malam.

Hari telah beranjak malam dan sebuah pesan muncul di layar ponselnya. Karena heran, ia hampir menghentikan langkahnya.

"Teresa?" Bibi Ellie menoleh padanya ketika ia merasakan trolinya sedikit terguncang. "Kau tidak apa-apa?"

"Eh? Tidak apa-apa, Bi." Ia tersenyum riang, sebelum akhirnya ia kembali membaca pesan yang dikirimkan Aiden. Ia mengeja kata demi kata yang tertera di sana. Dan maksudnya memang hanya satu. Tetapi... Aiden mengajaknya makan malam?

Ini adalah kali pertama sejak ia bertunangan dengan Aiden atas nama perusahaan. Kesenggangan di antara mereka masih terasa, walau Aiden telah berusaha menutup-nutupinya. Ia heran karena hari ini. Pertama, Aiden tiba-tiba memberinya sebuah benda yang amat disukainya. Kemudian, sebuah makan malam?

"Ya ampun, aku lupa, Terry. Sarden ada di sana. Tunggu sebentar, ya."

Walaupun ia sangat mencintai Aiden, ia masih belum siap melihat Aiden dalam temaram lampu-lampu restoran secara personal. Ia tidak bisa melihat dirinya salah tingkah.

Maka dengan berat hati, jari-jarinya membalas pesan itu.

Maaf, Aiden, aku harus membantu Bibi Ellie nanti malam. Ada banyak pesanan kue di tokonya. Ia baru saja memintaku untuk menemaninya.

**

Aiden hampir saja membanting ponselnya setelah menerima balasan dari Teresa. Gadis dengan wajah seelok bulan itu serta merta menolak ajakannya.

Entah kenapa, hari itu wajah Teresa membayanginya. Memang, ia masih rindu pada Isabel–kekasihnya yang meninggal karena kekurangan kalium. Tapi hari itu, ia juga rindu pada Teresa. Sejak hari beranjak siang, ia sudah ingin pulang; ingin segera mengajak Teresa untuk makan malam bersama.

Ia geram. Tangannya mengepal.

Bibi Ellie, kau menghalangi keinginanku.

**

"Kau langsung pulang, Terry?" Bibi Ellie bertanya ketika ia sedang memegang kendali mobil.

Teresa mengangguk dan tersenyum manis. "Terima kasih untuk hari ini, Bi. Aku hampir mati bosan karena menunggu Rachel pulang."

"Eh? Anak itu belum pulang? Yang benar saja, ini hampir jam enam, Terry." Bibi Ellie memekik.

"Rachel sudah besar, Bi. Ia juga butuh waktu bersama teman-temannya." Teresa tertawa kecil menanggapi pekikan Bibi Ellie mengenai adiknya.

"Kau benar-benar mirip Elena, Terry."

Tubuh Teresa membeku. Jarang sekali Bibi Ellie mengungkit-ungkit kembali masalah ibunya.

"Aku rindu Elena, Terry."

**

Di dalam mobilnya, Aiden menggeram. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, waktu seharusnya ia dan Teresa akan makan malam bersama. Baiklah, ia bisa menerima jika gadis itu benar-benar sedang membantu bibinya. Tetapi setelah ia menyalakan pelacak letak Teresa, gadis itu rupanya tidak sedang berada di rumah Bibi Ellie.

Ia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Bibi Ellie. Ia memastikan bahwa sebuah pisau telah tersemat secara sempurna pada pinggangnya, sebelum ia turun dan mengambil aki dari mesin mobilnya. Tangannya menuang air itu ke dalam sebuah botol bir bekas yang ia dapatkan dari kantornya.

Ia menyeringai. Silakan menikmatinya, Ellie.

Ia berjalan menuju rumah itu dan menekan bel. Ia tahu seluk beluk keluarga ini. Ia tahu bahwa Bibi Ellie sedang sendiri.

"Aiden!" pekik wanita tua itu ketika melihatnya. "Ada apa, Nak? Jarang-jarang kau mengunjungi rumahku." Wanita itu tertawa riang. "Ayo masuk!"

Aiden tersenyum tipis dan mengikuti langkah Bibi Ellie yang menyambutnya.

"Ada perlu apa, Nak? Ah, kau pasti belum makan malam, ya? Kebetulan, aku sedang memasak untuk Albert dan Owen." Bibi Ellie menyebutkan nama suami dan anaknya. "Kau mau menungguku sebentar, kan?"

"Err... Aku juga tidak keberatan untuk membantumu memasak," sahut Aiden.

Bibi Ellie tertawa lagi. "Kau seperti pengganti Terry malam ini, Aiden. Ia tidak bisa membantuku menyiapkan kue untuk besok pagi. Ah, tapi tidak apa-apa, pesanan untuk besok juga tidak terlalu banyak. Aku bisa mengerjakannya sendiri. Bagaimana jika sekarang kau membantuku memasak untuk makan malam?"

Aiden mengangguk. "Dengan senang hati."

Aroma sup yang lezat segera saja tercium saat mereka menginjakkan kaki di dapur rumah itu.

"Aiden, bisakah kau mengaduk sup itu? Aku akan menyiapkan piring."

Aiden mendekati panci sup itu. Rencananya benar-benar berjalan lancar. Bahkan lebih mudah daripada yang ia bayangkan. Ia segera menuangkan isi botol yang sedari tadi dibawanya, kemudian mengaduknya hingga rata. "Bi, apa sup ini tidak terlalu hambar? Rasanya seperti minum air."

"Eh? Benarkah?" Bibi Ellie menoleh dan meninggalkan setumpukan piring di atas meja dapur. Ia menghampiri panci sup tersebut. Ia menciduk kuah sup tersebut dan mengecapnya.

"AAARGH!" Ia mengerang. Tenggorokannya terasa panas. Ia tidak bisa bicara. Ia memegang lehernya. Rasa sakit itu terus menjalari kerongkongannya, berlanjut pada organ lambungnya.

Ia terus mengerang. Tubuhnya terasa terbakar. Ia tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia menggeliat di lantai dapur. "Air..."

"Bibi? Kau tersedak?" Aiden berjongkok di sebelah Bibi Ellie yang kesakitan. "Melihatmu seperti ini ternyata menyedihkan juga."

Jari-jari Bibi Ellie mencengkram pergelangan tangan Aiden. "Tolong aku..."

"Rupanya aku tidak tahan melihatmu begini, Ellie tua." Aiden mengeluarkan pisau yang ia sematkan di pinggangnya. Dengan seringai kemenangannya, ia mengiris leher Bibi Ellie.

"Sekarang kau tidak kesakitan lagi, kan?" Aiden terkekeh. Tangannya membawa kepala Bibi Ellie yang masih terbelalak kaget. Darah memenuhi lantai dapur rumah itu.

Ia segera membuka lemari pendingin, dan memajang kepala itu di sana.

"Kejutan untuk Owen!" Ia menata kepala tersebut hingga mendapatkan sudut yang pas. "Makanan penutup yang menyenangkan, kan, Albert?"

**

16 Juni 2009

"Aiden! Bibi Ellie, Aiden!" teriak Teresa memecah hening pada pagi itu. Ia mengguncang tubuh Aiden yang hanya diam membeku ketika kakinya menginjak lantai rumah Teresa. Pagi itu Aiden tidak pergi ke taman seperti biasanya. Ia langsung mengunjungi rumah Teresa itu. Ia tidak tahan lagi untuk tidak menemui gadis itu barang semalam.

"Aiden! Kau mendengarku, kan?! Owen meneleponku barusan!" Teresa menangis keras-keras. Tangannya menangkup wajahnya yang terus dibasahi air mata. Bibi Ellie adalah satu-satunya keluarga yang benar-benar peduli padanya dan Rachel–adiknya. Ia berlutut mengingat bagaimana Bibi Ellie masih tertawa kemarin; bagaimana mereka masih melakukan keseharian dengan normal.

Aku rindu Elena, Terry.

Ia tidak pernah menyadari bahwa bibinya benar-benar rindu pada mendiang ibunya.

"Aiden..." Ia menengadahkan wajahnya ke atas untuk menatap Aiden.

Pemuda itu... kini menatapnya kosong. Sekian detik Teresa menyelami matanya, ia menutup mulutnya yang memekik tidak percaya. "Kau... kau pelakunya, Aiden. KAU BENAR-BENAR PELAKUNYA, AIDEN!" Ia bangkit untuk menghadapi pemuda itu.

Tapi rupanya, walau keberanian telah memihaknya, keberuntungan tidak pernah merestuinya.

"Aku kecewa pada reaksimu, Teresa. Aku telah mencintaimu lebih dari siapapun dan bukan ini yang kuinginkan."

Ia mendorong Teresa hingga gadis itu terjerembab. Ia mengunci kaki Teresa yang menendang-nendang ke segala arah. Gadis itu meronta dan berteriak minta tolong. Sebelum ada orang lain yang mendengarnya, ia mencekik leher gadis itu, hingga tak ada asupan oksigen yang mengalir dalam darahnya.

Gadis itu tergeletak tak sadarkan diri. Aiden tersenyum dan memeluknya, sebelum menarik kaki gadis itu ke ruang makan.

Ia menaiki meja makan dan berdiri di atasnya. Tangannya mengikat kaki gadis itu di dekat lampu ruangan dengan tali yang ia siapkan di sakunya.

Ia meraba pergelangan kaki Teresa yang sehalus porselen. Kemudian ia melompat turun dan memandang wajah gadis itu. Bekas linangan air mata masih tercetak di wajahnya.

Aiden menangkupkan tangannya di wajah Teresa dan mencium bibir gadis itu dalam-dalam.

Rasa cintaku telah bertambah, Teresa. Kau milikku seutuhnya.

**

Lit benar-benar kecewa saat melihat tubuh itu kini telah terbujur kaku di dalam sebuah peti. Ia begitu dekat dengan kemenangan. Ia begitu dekat dengan tujuannya. Diane sedang kesakitan, tetapi usahanya selalu saja berakhir sia-sia.

Ah, tapi tak apa. Ia telah berjanji akan terus mencari jiwa yang tepat; yang bisa membawa istrinya kembali sepenuhnya.

Semua ini butuh pengorbanan yang besar.

Walau itu artinya, ia harus menemui seribu orang lagi.


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top