13. Zon 99 - Kagome Kagome
Ini adalah Zon 99, daerah dimana hanya orang-orang yang mendapat izin dari pemerintah yang dapat masuk ke kawasan ini. Ini adalah zona terlarang untuk penduduk sipil dan militer yang tak berkepentingan, karena siapa pun yang berani masuk, tak segan-segan untuk ditembak mati saat itu juga.
Kau, Alio, salah satu yang beruntung dapat berada disini tanpa dipersulit oleh penjaga. Kau pergi dengan orang yang tepat. Prof. Garett Hirano. Kau disini sebagai identitas baru, bukan sebagai pembunuh yang siap memangsa pejabat-pejabat rakus, melainkan sebagai bagian dari tim penyelidik Prof. Garett Hirano. Jadi, jangan pernah membuatnya kecewa dengan melakukan hal bodoh.
Orang dihadapanmu ini menatap arlojinya yang menunjukkan waktu 9:45 PM. Ia tersenyum lalu melihat sekitarnya yang mulai sepi oleh manusia, hanya terlihat beberapa cahaya lampu gantung yang berada di depan setiap tenda yang masih menunjukkan tanda kehidupan didalamnya. Ia menutup matamu dengan kain putih yang ada di saku celananya, dan ia juga menutup matanya dengan kain putih lainnya.
"Dengarkan dengan baik, karena ini hanya terdengar beberapa jam sekali."
Kau mengangguk dan memasang telingamu baik-baik. Berharap kalau indera pendengaranmu tidak bermasalah kali ini.
Kagome kagome kago no naka no tori wa
Itsu itsu deyaru yoake no ban ni
Terdengar samar ditelingamu, namun otakmu dapat menangkap dengan jelas, kalau suara yang terdengar adalah sebuah lagu yang biasa dinyanyikan saat memainkan salah satu permainan anak-anak. Lagu ini dan permainannya masih menimbulkan tanda tanya yang besar, karena permainan ini sering menghilangkan anak-anak yang memainkannya. Itulah sepenggal keterangan yang kau dengar sejak remaja.
"Igo, kenapa lagu ini menggantung?" tanyamu beberapa saat ketika lirik yang terdengar tak dilanjutkan. Keningmu berkerut berpikir.
"Karen meminta kalau seseorang yang melanjutkannya." Jawab Igo. Ia belum juga membuka penutup matanya dan juga matamu.
"Seseorang?"
"Iya, seseorang yang menjadi pilihannya." Terdengar helaan napas ditelingamu. Igo mengangkat kepalanya menatap langit malam, tersenyum seakan ia bisa melihat betapa indahnya langit malam saat itu.
"Apa ini sudah berakhir?" kau melontarkan sebuah kode agar penutup mata segera menghilang. Terdengar sebuah tawa yang menyebalkan bagimu.
"Ini belum berakhir, tapi kau boleh melepas penutup matamu." Kau langsung membuka ikatan kain putih, mengejapkan mata beberapa kali untuk memfokuskan kembali pengelihatanmu yang kabur. "siapkan senjata, karena setelah ini kita khususnya kau akan mendapatkan sebuah kejutan besar."
Kau mengeluarkan senjata api dari celana combatyang seragam dengan seluruh anggota tim penyelidik Prof. Garett Hirano. Tingkat kewaspadaanmu semangkin meningkat, berwaspada jikalau ada penyelundup ke Zon 99 untuk mencuri berita.
"Aaaa!"
Kau dan Igo berlari menuju api unggun, bersembunyi di salah satu tenda yang berhadapan langsung dengan api unggun. Menyaksikan apa yang terjadi sehingga terdengar jeritan kesakitan. Kau membungkam mulutmu, kau belum sanggup melihat apa yang terjadi. Seorang pria dengan wajah memar melompat kearah api unggun dan setelah itu berguling-guling di rerumputan untuk memadamkan kobaran api yang melahapnya. Sebuah pisau besar terbang kearah pria malang itu, menghujamnya beberapa kali di area perut dan setelah pria itu tak bergerak, pisau itu bergerak ke leher seakan tengah menyembelih kewan kurban. Bagian kepala dan badannya hampir terlepas, pisau itu bergerak lagi siap untuk menguliti tubuh pria yang sudah tak berpakaian. Dari dada, tangan, sampai kaki dikuliti dengan sempurna. Pergelangan tangan dan kaki dipenggal dari badannya untuk dikuliti lebih mudah, dan terlihat seperti ceker ayam versi lebih besar.
"Apakah ini sering terjadi?" tanyamu yang mulai tak kuasa menyaksikan adegan sadis yang selalu dihindarinya.
"Untuk pembunuhan sesadis ini, ini adalah yang pertama kalinya." Igo menatapmu sebentar sebelum mengalihkan pandangannya kepada pria malang yang sudah tak utuh lagi tubuhnya. "tapi biasanya kami menyaksikan beberapa orang melompat dan menjatuhkan diri ke sungai buaya, melompat ke jurang, membakar dirinya, atau menjatuhkan diri ke menara seperti sate."
"Ini sungguh mengerikan."
"Untuk pembunuh bayaran seperti kau, adegan tadi mengerikan?" tanya Igo yang diakhiri dengan kekehan yang membuatmu menggembungkan pipi kesal.
"Pembunuh bayaran sepertiku juga punya hati." Kau membela diri. Tak mau kalah dari pria yang gila dengan penelitian seperti Igo.
Igo mengembangkan senyum, memutar kepala 90 dan memberi intruksi kepada tentara-tentara yang masih berjaga untuk mengumpulkan bagian-bagian tubuh pria malang itu dan dijadikan satu di plastik mayat yang dibawa salah satu tentara yang berlari dari bilik gudang di pintu perbatasan.
**
"Apa yang harus kulakukan supaya kau melihatku?" kau membuka matamu. Matamu melirik ke kanan dan ke kiri, seperti mencari sesuatu.
"Senior Io, awas!" teriak seseorang yang membuatmu keluar dari tendamu. Memperhatikan sekelilingmu yang tampak sangat kacau balau.
Diarah belakang tendamu tampak sebuah buldoser berjalan cepat menuju kau berada. Matamu menyipit untuk melihat siapa orang yang mengendalikannya, namun tak terlihat siapa pun diatas sana. Lampu sorot yang begitu terang dan semakin dekat membuat orang-orang yang berhenti disekitarmu langsung berlarian untuk menyelamatkan diri. Kau masuk ke tenda untuk mengambil semua persenjataan milikmu dan segera berlari menuju Laboratorium dimana Prof. Garett Hirano dan yang lain berada untuk melakukan sebuah penelitian.
"Prof, apa yang terjadi?" kau sudah berada di dalam Laboratorium. Kau menyandarkan tubuhmu pada pintu besi yang menghubungkan dunia mencekam diluar sana dengan Laboratorium yang penuh dengan alat-alat canggih penelitian.
Semua mata tertuju kepadamu. Prof. Garett Hirano tersenyum melihatmu telah tiba. Ia memerintahkan Igo untuk mengajakmu duduk melingkar bersama dengan empat manusia lainnya yang memakai pakaian pasien dalam.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Cukup duduk dan ikuti apa yang lain nyanyikan, dan tebak siapa yang berdiri dibelakangmu." Intruksi dari Prof. Garett Hirano. Ia menghisap cerutu yang ia bakar beberapa detik yang lalu sebelum datang menghampiri dirimu dan kelima manusia lainnya, terhitung Igo juga.
"Apa pun yang terjadi, jangan pernah melepas penutup matamu dan keluar dari lingkaran." Pesan Prof. Garett Hirano. Tangannya menyentuh bahumu.
Igo menutup matamu lalu berjalan mundur meninggalkan empat manusia yang membentuk lingkaran. Terdengar sebuah mesin menyala dan memunculkan cahaya disetiap atap sudut Laboratorium yang menyorot ketempat dirimu dan lingkaran manusia.
Kagome kagome kago no naka no tori wa
Itsu itsu deyaru yoake no ban ni
Sejauh ini semua masih berjalan sesuai rencana, dan itu cukup melegakan semuanya yang ikut ambil bagian.
Tsuru to kame to subetta
Ushiro no shomen daare
10 detik
Semua masih tenang dan terkendali.
20 detik
Jantung berdegup cepat menanti sepuluh detik berikutnya. Karena ini jarang berhasil.
30 detik
Senyum menghiasi semua ilmuwan yang ada. Eksperimen yang melelahkan telah berakhir tanpa halangan.
50 detik
Terjadi guncangan hebat, barang-barang berjatuhan siap menimpa siapa saja dibawahnya. Kaca-kaca yang sulit ditembus telah memunculkan retak-retak halus. Hujan pecahan kaca sebentar lagi akan terjadi jika guncangan tak berakhir.
"Aaaa!!" teriakkan itu cukup melengking dan menyakitkan telinga. Semua manusia yang ada di Laboratorium menutup telinga mereka, mencegah gendang telinga pecah.
"Apa pun yang terjadi, kalian harus selesaikan eksperimen ini." Prof. Garett Hirano berteriak dan membuat keempat manusia yang mengelilingi kembali berputar dan menyanyikan lagu kagome kagome.
Teriakkan itu semakin keras beriringan dengan semakin semangatnya Prof. Garett Hirano melontarkan kata-kata penyemangat untuk menyelesaikan eksperimen yang terbengkalai beberapa waktu.
"Io!!" bibirmu berhenti menggumamkan lagu. Entah kenapa kau merasakan bahwa kau terkoneksi dengan dirimu sendiri. Ini belum pernah terjadi.
"Ini harus segera berakhir," Ucapmu pada dirimu sendiri untuk kembali fokus dengan permainan yang sedang kau mainkan. "aku harus mengembalikan semua orang yang hilang, termasuk Ayah dan Diff."
"Io, apa yang harus kulakukan supaya kau melihatku?" suara itu terdengar lagi dan lagi-lagi membuatmu terdiam.
"Alio, tetaplah fokus dengan tugasmu."
"Diam kau kakek berengsek!" Kau hanya mendengar sesuatu saling berbenturan, "jangan pernah gunakan adikku sebagai bahan eksperimen gilamu!"
"Alio, cepat lepaskan penutup matamu." Pinta seseorang yang berada tepat disamping kirimu. "kami semua membutuhkan bantuanmu."
"Alio, cepat buka penutup matamu." Suara permintaan diikuti jeritan yang lama-kelamaan mengecil. Seakan semua orang disekitarmu pergi menjauh.
"ALIO! BUKA!!" dan saat itu juga terdengar bunyi kaca pecah dan menghujam orang-orang dibawahnya termasuk dirimu.
"Aku muak dengan semuanya." Kau menarik kain penutup matamu. Wajahmu memerah, dan napasnya mulai tidak teratur. Kau tak bisa lagi menahan emosimu.
Kau berlari menuju lemari terbuka dimana senjatamu berada. Kau sebisa mungkin menghindar dari peluru-peluru yang mengarah kepadamu. Serangan dengan target yang lama telah ditentukan.
"Aku akan mengirimmu ke tempat seharusnya kau berada." Kau melepaskan anak panahmu yang mengarah kepada Prof. Garett Hirano. Sesuatu yang mendorongmu untuk melakukan itu.
"Tak semudah itu." Igo menghentikan serangan anak panahmu. Ia telah siap untuk menyerangmu.
Igo menebaskan pedangnya ketubuhmu, dan untungnya kau cepat menghindar. Lengan kirimu hanya terluka akibat sayatan pedang Igo. Tubuhmu terdorong kebelakang, kau mengumpat kesal terhadap sikap Igo terhadapmu. Kau mengambil ancang-ancang siap membalas serangan Igo.
Kau melempar bom napalm kearah teknologi-teknologi ciptaan Prof. Garett Hirano dan kawan-kawan. Berlari zig zag menghindari serangan Igo dan penjaga lainnya yang tadi masuk untuk melihat apa yang terjadi sehingga terdengar suara mengerikan.
"Aku akan membunuhmu!" Igo berlari mendekat, seperti dua banteng yang siap beradu.
"Jangan pernah menyentuh adikku!!" ratusan benda tajam terbang menuju Igo. Kemana pun Igo melangkah, benda-benda itu terus mengikutinya dan itu dimanfaatkan oleh Igo.
"Kau adalah sup terlezat yang pernah kubuat." Kau mengarahkan busur panahmu, dan melepaskan anak panahmu.
"Iblis keparat!" Karen berpindah dengan cepat dan berada tepat disampingmu. Ia merasuki ragamu, dan itu membuatmu terlihat sangatlah mengerikan.
Kau berlari dengan kecepatan yang luar. Mengangkat busurmu dan menyiapkan anak panah terbaikmu, dan mengarahkannya kepada Prof. Garett Hirano yang sudah terbaring tak berdaya. Matamu melirik Igo dengan tubuh tertancap anak panahmu, ia terlihat marah akan sesuatu. Kau tersenyum kemenangan, karena berhasil menyingkirkan Igo untuk membunuh Prof. Garett Hirano.
"Selamat jalan Tua Bangka." Kau melepaskan anak panahmu dan berhenti berlari saat itu juga.
Matamu dapat melihat dengan jelas tubuh Prof. Garett Hirano berubah menjadi serbuk dan terbang terbawa angin. Kau terduduk dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhmu, napasmu terengah-engah, tenagamu terkuras habis, tubuhmu rasanya sakit semua. Beberapa detik kemudian kau merasakan tubuhmu kembali, mampu menggerakkan semua tubuh anggota gerak.
"Kau telah membunuh Ayahmu sendiri, gadis bodoh." Teriakkan Igo membuatmu tertegun atas tindakanmu tadi. Ia –Igo– bangkit dan berjalan kearahmu dengan tertatih-tatih.
"Terima kasih telah membantuku membalaskan dendam Ibuku dan aku." Ucapannya mampu kau dengar walaupun tubuhnya berubah transparan akan menghilang.
Kau merebahkan tubuhmu di lantai Laboratorium yang berantakan. Dengan posisi seperti itu kau mampu melihat betapa indahnya langit malam yang bertaburan bintang. Disampingmu terbaring tubuh Igo yang penuh dengan luka seranganmu. Melihat apa yang sedang kau saksikan sehingga memunculkan senyum diwajahmu.
Kau melihatnya, melihat wanita yang menganggapmu sebagai adik. Ia tersenyum dan mengucapkan sesuatu. Yang kau dengar yaitu, "."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top