12. Thread of Game - Kagome Kagome

=*Moscow, Russia, 1932*=

Aku sering melihat mereka bermain di depan halamanku. Tidak. Bukan halaman rumahku, itu adalah tempat lain. Pakaian mereka berbeda dengan yang biasa kukenakan.

Siapa mereka?

Mereka mengelilingi seorang gadis kecil berambut merah sembari menyanyikan sebuah lagu membuatku mendekat tanpa sadar.Seakan sadar dengan kedatangan yang tidak diundang, lingkaran itu terpecah dan gadis berambut merah itu menoleh ke arahku.

"Kau ingin bermain?"Ia tersenyum dan aku pun mengangguk. Kemudian, ia menarikku dengan kasar dan menyuruhku berjongkok di tengah sembari menutup mata. Setelah selesai menyanyikan lagu yang sama, aku mendengar suara si Gadis, "Sekarang, siapa yang ada di belakangmu?!"

=*Bukit Shimane, Hiroshima, tahun 1944*=

"Ushiro no shoumen daare?[1]"Lirik dalam bahasa Jepang yang sudah tak asing di telingaku itu membuatku menoleh ke arah sekelompok bocah yang sedang bermain.

Di tengah-tengah mereka, seorang bocah perempuan sedang merunduk dan membelakangi diriku. Berpikir kalau ia sedang kesakitan, aku langsung menghampirinya dan menyentuh pundaknya dari belakang.

"DIa yang selanjutnya!" Anak itu berteriak dan kemudian menoleh ke arahku dengan kecepatan yang luar biasa membuatku kaget sekaligus takut kalau kepalanya akan melewati batas perputaran sendi leher kurusnya.

Ekspresi bingung langsung merekah di wajahku, tapi aku mengabaikan ucapannya."Apa kau baik-baik—?"

Ucapanku berhenti dan tiba-tiba napasku tercekat.Tenggorokanku tersedak dan mataku terbelalak.Tatapan mata gadis itu terlihat begitu... jahat? Segelintir warna kemerahan yang hampir sama dengan warna rambutnya bisa kulihat berada di tengah-tengah kedua bola matanya yang memiliki warna yang berbeda. Yang sebelah kiri berwarna cokelat dan sebelah kanan berwarna biru.

"Dokter Masha!"

Mendengar seseorang memanggil nama keluargaku, aku langsung mengalihkan fokusku dan mencari pemilik suara tersebut. Tidak jauh dari tempatku sekarang berdiri, salah seorang prajurit lengkap dengan senjata yang bertengger di punggungnya sedang berlari ke arahku.

"Yaromir?" panggilku ketika mengenali perawakannya yang begitu familiar.

Yaromir adalah satu dari sekian banyak prajurit yang pernah melindungiku selama aku bertugas di medan perang. Menjadi seorang dokter di zaman ini begitu sulit, tapi tidak bisa dibandingkan dengan para prajurit.Bisa bertemu dengannya lagi di tempat ini merupakan hal pertama yang membuatku senang minggu ini.

Setelah tiba di hadapanku, Yaromir memberi hormat dan kemudian tersenyum."Profesor Roland telah menunggu kedatangan anda."

Dengan tulus, aku membalas senyumannya dan mengangguk.Tapi, kemudian aku teringat dengan bocah perempuan tadi.Aku menoleh hanya untuk mendapatkan para bocah itu sudah pergi menjauh dari kami, mungkin mereka takut kepada Yaromir yang membawa senjata di belakangnya.

Tiba-tiba, aku mendapati bocah perempuan itu sedang menatapku dari belakang pohon besar dengan kedua matanya yang besar.Tidak lama, kepala-kepala lain muncul dari balik pohon tersebut dan menatap ke arahku dengan intens.Menyadari kalau aku juga sedang memperhatikan mereka, sebuah senyuman yang melewati batas tulang pipi gadis itu membuatku memekik tinggi.

"Anda baik-baik saja?" tanya Yaromir kepadaku.

Di saat aku menoleh ke arahnya, aku baru sadar kalau jantungku berdetak dengan sangat cepat dan napasku terengah-engah.Dengan tangan gemetar aku menunjuk ke arah para bocah itu."S—siapa mereka?"

Yaromir menatapku dengan bingung dan pandangannya melewati tubuhku untuk melihat ke arah yang kutunjuk.Ia kemudian menghela napas panjang dan menggeleng. "Mereka adalah bocah-bocah Jepang yang diambil oleh Profesor Roland.Mereka memang aneh, bisa kutebak kalau mental mereka sedikit terguncang akibat perang."

Mendengar jawaban Yaromir, sebagian ketakutan di dalam hatiku langsung sirna.'Paling tidak, mereka benar-benar ada dan bukan... bagian dari imajinasiku saja,' pikirku dalam hati.

Tidak berapa lama menyusuri lorong-lorong yang hampir sama dengan labirin, aku yang diantar oleh Yaromir sampai di depan sebuah pintu yang kutebak adalah ruang kerja Profesor Roland. Suasana tempat ini begitu mencekam dan kelam dengan tembok-tembok tua yang memiliki retakan di sana-sini dengan hiasan berupa jaring laba-laba yang sudah berwarna gelap akibat debu yang menempel.

Tepat ketika Yaromir ingin mengetuk pintu kayu menuju ruangan kerja Profesor Roland, pintu itu terbuka diiringi dengan suara decitan nyaring yang memekakkan telinga dan membuat rambut di seluruh tubuhku berdiri kaget.

Dari balik pintu tersebut, seorang bocah lelaki keluar dengan tatapan kosong dan perban menutupi sebagian wajahnya.Warna kemerahan yang berbentuk seperti lingkaran yang melebar membekas pada perban tersebut.

Di saat anak itu melewati diriku, matanya langsung melirik ke arahku membuatku tersentak dan langsung mengikuti Yaromir yang ternyata sudah melangkah masuk ke dalam.Perlahan, aku menutup pintu kayu itu dan menyadari mata anak lelaki itu masih terus mengikuti diriku sampai akhirnya pintu tersebut tertutup dengan rapat.

"Tatiana Masha," panggil seorang lelaki tua yang tersenyum dengan begitu ramah kepadaku.

"Profesor Roland," ucapku membalas sapaannya sembari mengangguk.

Roland Roskarov, seorang profesor ternama yang berjasa karena telah menciptakan obat untuk penyakit mematikan yang tersebar dari para penduduk Jepang terhadap para prajurit Jerman yang bertugas di tempat tersebut. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tapi alih-alih melanjutkan keberhasilannya di Jerman, ia lebih memilih untuk menetap di Shimane dan hidup terisolasi seperti ini.

"Aku sungguh senang kau bersedia bergabung dengan kelompok kami, terima kasih."

Ucapan terima kasih yang dia ucapkan berhasil membuat diriku merasa bangga karena ia senang dengan keberadaanku. Dengan usaha untuk terlihat tenang, aku kembali mengangguk."Sebuah kehormatan untuk bisa bekerja sama denganmu, Profesor."

Profesor Roland memiliki perawakan yang hampir mirip dengan ayahku yang terdahulu.Rambut keabu-abuan yang diakibatkan oleh usianya yang bertambah dan garis-garis keriput halus yang terbentuk di dahi dan kedua sisi pipinya ketika tersenyum. Aura di sekelilingnya juga seakan meneriakkan kalau ia begitu ramah dan penyayang, tidak heran anak-anak tadi begitu senang.

Tiba-tiba, sebuah ingatan yang tidak nyaman muncul. "Profesor, sebelum aku datang kemari, aku melihat sekelompok anak sedang bermain di halaman depan."

Wajah sang Profesor langsung berubah menjadi begitu ceria. "Ah! Anak-anak Jepang itu?Mereka lucu sekali, bukan?" tanyanya membuatku tertawa tanpa sadar.

"Y—ya, tapi Profesor, ada apa dengan anak perempuan berambut merah itu?" tanyaku merujuk kepada anak perempuan yang sempat membuatku ketakutan tadi.

Mendengar ucapanku, eskpresi ceria di wajah Profesor Roland langsung berubah menjadi kebingungan dan sedikit... ketakutan?

"Merah? A-ah, anak itu..., abaikan dia Nona Masha, dia hanyalah satu dari sebagian anak yang mengalami kerusakan di bagian 'ini' akibat perang," jawab Profesor Roland selagi menuding ke sisi kepalanya. Seakan ingin mempercepat kepergianku dari ruangan kerjanya, sang Profesor berkata, "Antar Nona Masha ke kamarnya, Yoramir, ia pasti kelelahan setelah perjalanan panjang dari Moscow."

Dengan sopan, Yoramir mengangguk dan membukakan pintu untuk mempersilakanku jalan terlebih dahulu. Aku mengangguk kepada sang Profesor dan berkata, "Permisi." Dan setelah itu, aku pun pergi meninggalkan ruangan kerja yang baru kusadari berbau seperti tubuh yang membusuk.

=*Shimane, Hiroshima, 1944—malam kedua*=

Entah apa kesalahan yang pernah kulakukan sampai-sampai aku ditempatkan di situasi mengerikan seperti ini. Semua ini adalah kesalahan, aku tidak mendaftar untuk menjadi bagian dari penelitian gila seperti ini. Aku telah bersumpah untuk menggunakan keahlianku untuk menyelamatkan hidup seseorang, bukan untuk mengambilnya!

Di malam ketiga sejak kedatanganku di fasilitas penelitian sekaligus panti asuhan di Shimane, pintu kamarku diketuk sebanyak tiga kali oleh seseorang.Beruntung, aku belum tidur dan masih menuliskan catatan harianku pada jurnal yang selalu kubawa ke setiap tempat yang kukunjungi.

Dengan hati-hati, aku turun dari tempat tidur untuk membuka pintu dan mengetahui siapa pengunjungku di malam hari.Tanpa kuduga, sebuah mata berwarna cokelat terang akibat cahaya lilin yang kubawa sedang menatapku dengan tajam membuatku sedikit berteriak dan terlonjak.

"Apakah yang kau takutkan?" tanya bocah itu membuat jantungku berdetak tak karuan.

Setelah terdiam sesaat dan berusaha untuk menenangkan diriku, aku mengajak bocah itu masuk ke dalam ruanganku dan mengajaknya berkenalan untuk sesaat. Namanya adalah Kiyoshi, ia adalah salah satu dari sekian anak dalam panti asuhan ini.

"Kau adalah salah satu dari mereka yang diselamatkan Profesor Roland?" tanyaku dengan bahasa Jepang yang terbatas.

Selama sesaat, Kiyoshi terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku.Melihat hal ini, aku berpikir kalau ucapanku tidak dimengerti olehnya. Akan tetapi, ia kemudian berkata, "Ia akan membunuh kami semua, termasuk dirimu."

Mendengar ucapannya, senyuman ramah di wajahku langsung menghilang digantikan dengan sebuah tatapan tak percaya."Apa maksudmu?" tanyaku dengan usaha untuk terdengar tenang.

"Ia telah membunuh Kagome karena ia tidak ingindiselamatkan.Sekarang, ia akan membunuhmu yang akan memilih untuk menyelamatkan," jelasnya membuatku semakin tidak mengerti.

Melihat ketidakpercayaan dan kebingungan tertera jelas di wajahku, Kiyoshi berdiri dan menarik tanganku."Apa yang kau—?"

"Lihat, jangan mendengar, jangan bersuara," perintahnya membuatku langsung terdiam.

Kiyoshi membawaku menyusuri lorong-lorong gelap yang membuat seluruh tubuhku bergetar hebat akibat rasa takut yang menyelimutiku.Angin dingin yang berhembus membuatku menggigil akibat gaun malam yang tipis.

Seiring dengan suara langkah kaki kami, telingaku menangkap sebuah pergerakan lain di belakang kami. Suara kaki diseret yang memilukan bisa kudengar bersamaan dengan tetesan air yang terdengar begitu nyaring di telinga akibat suasana sepi dan sunyi.

"Jangan menoleh ke belakang," perintah Kiyoshi.

Akan tetapi, mendengar ucapan Kiyoshi membuat kepalaku semakin tergoda untuk menoleh ke belakang dan melihat siapa yang mengikuti kami... atau apa?

"Kau akan menyesalinya," lanjut bocah itu bersamaan dengan kepalaku yang memutuskan untuk berpaling untuk melihat pemandangan di belakang.

Tepat di belakang kami, bisa kulihat seorang gadis kecil yang kutebak berumur sembilan tahun berjalan mengikuti kami dengan lengan kimono bagian kanannya diikat kencang menunjukkan ketidakpunyaannya atas bagian tubuh itu.Darah yang menetes dari ikatan kimono itu membuatku sadar bahwa itulah suara tetesan air yang kudengar.

Di sebelah gadis itu, kulihat seorang bocah lelaki dengan bagian dahi yang cacat dengan luka membusuk.Sekumpulan belatung menggerogoti luka tersebut membuat perutku terasa mual dan mataku mulai berair karena ngeri.

Berada di barisan paling depan adalah bocah perempuan yang tadi pagi kutemui, gadis berambut merah dengan mata Heterochromia[2] itu. Yang berbeda dari gadis itu adalah kepalanya berada di dalam pelukan kedua tangannya, bukan di atas lehernya. Sebuah senyuman mengerikan ia tunjukkan ketika mata kami bertemu tanpa disengaja.

Tiba-tiba, dari kejauhan aku mendengar suara teriakan yang membuatku tersadar."Astaga!" teriakku yang dengan cepat memalingkan wajah.

"Sudah kukatakan kau akan menyesalinya," ucap Kiyoshi.

Mendengar suara teriakan yang memilukan itu kembali terdengar, aku merasa kewarasanku semakinmenjauh. "Apa yang terjadi di sini!? Ini... ini tidak masuk akal!"

"Tidak ada yang masuk akal di sini, Onee-san[3]." Kiyoshi menghentikan langkahnya dan akupun demikian, walau sebenarnya aku tidak ingin berhenti mengingat apa yang ada di belakang kami. "Lihatlah."

Kami berhenti di depan sebuah ruangan dimana pintu ruangan tersebut terbuka sedikit memberikan kami celah yang cukup besar untuk mengintip. Kiyoshi memperhatikan apa yang terjadi di dalam dengan ekspresi wajah sedih dan sedikit marah, hal ini membuatku bingung dan aku pun mengintip ke dalam.

Sebuah pemandangan mengerikan berada di depan mataku sekarang.

Profesor Roland dengan sebuah pisau operasi yang berlumuran darah di tangannya yang dibalut sarung tangan sedang membuat sayatan pada sisi kepala bocah lelaki yang dibaringkan di atas ranjang operasi dengan kaki-tangan serta badannya diikat dengan kencang.Tidak ada obat bius yang bekerja melihat anak itu berteriak sedemikian rupa membuat seluruh rambut di tubuhku berdiri.

Lolongan panjang dan nyaring yang berasal dari mulut bocah itu membuat telingaku sakit dan jantungku berdetak semakin cepat.Dadaku terasa sesak dan tenggorokanku merasa tercekat akibat akal sehatku yang meneriakkan perintah untuk segera pergi dari tempat itu.

Tapi, mataku tidak bisa berhenti memperhatikan kejadian di hadapanku dan kakiku pun tidak berniat untuk bergerak sedikitpun seakan ada sesuatu yang menahan diriku untuk pergi.Di saat itu, suara tertawa kegirangan milik gadis kecil di belakangku itu menyadarkanku, akal sehatku berhasil kembali mengambil alih tubuhku.

Kami harus pergi.

"Ayo, Kiyoshi! Kita harus pergi!" ucapku sembari menarik tangan Kiyoshi.Akan tetapi, tangan yang kugenggam itu berbalik meremas tanganku sampai aku meringis kesakitan. "Apa yang kau—?!"

Sebuah mimpi buruk.

Wajah Kiyoshi yang tadi terlihat tenang menatapku dengan sebuah senyuman mengerikan."Pergi?Siapa yang bilang kalau kau akan pergi, Onee-san?"

Perban yang menutupi setengah wajahnya terlepas menunjukkan sebagian kepalanya yang sudah tidak memiliki bentuk yang berarti, sebagian otaknya bisa terlihat akibat tulang tengkoraknya yang dihancurkan sebagian. Darah segar mengalir dari wajahnya menuju tangannya dan akhirnya menetes di tanganku yang masih menggenggam tangannya.

Kiyoshi mendekatkan wajahnya kepadaku."Kau akanikut bermain!"

Aku pun berteriak dengan kencang selagi berusaha untuk melepaskan tanganku daripadanya.Dengan usaha keras aku meronta untuk terlepas dari jeratan kegelapan anak-anak di panti asuhan ini.Di belakangku, tiga anak—bukan—makhluk itu mulai mendekat dengan mata membesar dan senyuman mengerikan.

Tiba-tiba, sepasang tangan menggenggam kedua tanganku membuatku berteriak semakin keras. "Dokter Masha! Tatiana Masha!" panggilnya membuatku membuka mata dan mendapati Yaromir sedang menatapku dengan wajah khawatir.

"Yaromir!" panggilku seraya memeluk dirinya dan memastikan kalau dia adalah manusia utuh yang hidup."Aku bersyukur telah bertemu denganmu."

"Dan kami bersyukur berhasil menangkapmu terlebih dahulu," balasnya membuatku terbelalak. Yaromir kemudian memborgol kedua tanganku di saat aku masih kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. "Dia berhasil diamankan Profesor Roland," lanjut Yaromir sembari menggiringku ke hadapan Profesor Roland yang keluar dengan tangannya masih berlumuran darah.

"Kerja bagus, Yaromir. Sepertinya, Dokter Masha telah melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat, ia perlu menerima hukuman," ucapnya dengan sebuah senyuman yang selalu ia gunakan untuk mengelabui orang lain dengan keramahannya.

"Lepaskan aku!LEPASKAN!!!"

=*Shimane, Hiroshima, 1945—setelah penyerahan German*=

Sekarang, aku telah berada di Hiroshima, di dalam hutan yang mengarah ke bukit Shimane. Akan tetapi, sudah setengah jam mengikuti peta dalam jurnal, aku tidak kunjung mencapai tempat yang kutuju.

'Tunggu, ada apa dengan tunggul-tunggul pohon ini?' pikirku setelah melihat sebaris tunggul pohon yang memiliki bentuk yang aneh.Suasana dingin mulai menyelimuti diriku.'Tubuh tanpa kepala?' tebakku merujuk kepada bentuk barisan tunggul pohon itu.

Dengan mencoba untuk mengusir pikiran buruk tersebut, aku terus melanjutkan perjalanan dan mulai merasa udara di sekitarku menjadi dingin. Seluruh rambut di tubuhku berdiri dan napasku menjadi sedikit lebih sesak daripada beberapa saat yang lalu.

'Ah..., aku mulai mendaki bukit Shimane!' pikirku secara positif ketika merasakan tubuhku mulai merasa miring dengan sendirinya.

Setelah sekian lama mendaki, akhirnya aku mencapai sebuah gerbang tua yang ditutupi oleh akar-akar tumbuhan menjalar akibat sudah lama tidak terurus.Tanpa berpikir dua kali, aku langsung mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam yang ternyata adalah tempat tujuanku selama ini.

Fasilitas penelitian 'Tombol Kematian Universal'.

'Bau busuk apa ini?!' pekikku dalam hati seraya menutup hidungku dengan tangan kananku.

Terbiasa dengan hal-hal seperti 'ini', acuh tak acuh aku masuk ke dalam gedung utama yang mana lorong utamanya sungguh gelap walaupun cahaya matahari bersinar sungguh terang di luar.Sepertinya, gedung ini menolak kedatangan apapun yang membawa cahaya.

Aku membawa langkahku ke dalam lorong dan mengambil belokan pertama ke kiri sesuai perintah yang tertera dalam jurnal.Tidak lama kemudian, aku melihat sebuah pintu kayu berwarna kemerahan berdiri tegak di depanku.

Tanpa ragu, aku membuka pintu tersebut.

Di luar dugaanku, ruangan itu tertata dengan sungguh rapi, tapi tidak dengan mereka yang berada di dalam.Dengan pakaian berupa kimono[4], sepuluh orang anak dengan penampilan dan kekurangan yang berbeda sedang menatap kedatanganku bersama dengan para penjaga mereka.

Kekurangan yang aku maksudkan adalah satu diantara mereka tidak memiliki tangan, di sebelahnya tidak memiliki dahi dengan otak yang bisa kulihat dengan jelas, dan yang terakhir—yang paling mengerikan—tidak memiliki tulang rahang bagian bawah dengan daging-daging yang bergelantung membuatku merasa mual.

Akan tetapi, semua anak itu memiliki beberapa bagian yang dibalut dengan perban.Hal ini menunjukkan kalau para dokter telah melakukan operasi pada mereka.

Salah satu penjaga mereka—sangat cantik dibandingkan semua wanita Jepang yang pernah kulihat—bertanya kepadaku, "Maukah kau bermain satu permainan dengan kami?" Suaranya sungguh lembut dan mampu membuatku terbuai kalau bukan karena kesadaran diriku yang tahu dengan apa aku sedang berhadapan.

Saat ini, akal sehatku berjalan, kalau aku berkata 'tidak', bisa kupastikan pintu dibelakangku akan tertutup dan aku akan terkurung di tempat ini selamanya atau mungkinsesuatu akan mencabik-cabik diriku dan menarik paksa nyawaku. Tapi, aku sungguh tidak ingin ikut dalam permainan mereka yang akan berakhir sama seperti bila aku berkata 'tidak'.

"Aku tidak mengerti," jawabku pada akhirnya.

Selama sesaat, suasana menjadi sunyi dan wajah anak-anak itu menjadi begitu mengerikan membuatku ingin langsung berlari dengan kencang dan meninggalkan kebodohan ini. Tapi, tiba-tiba si Penjaga Cantik berkata, "Baiklah, pergi ke sekolah dan perhatikan para anak kecil bermain, kau akan mengerti."

Mendengar jawaban ini aku menjadi sangat lega dan langsung membungkuk sesuai sopan santun orang Jepang, aku mengundurkan diri dan menutup pintu di belakangku.Sebelum aku pergi terlalu jauh dari pintu merah itu, aku mendengar suara tangisan dari balik pintu cokelat yang memiliki celah yang menggodaku untuk mengintip ke dalam.

Dalam ruangan itu, aku melihat seorang wanita dengan kaki penuh dengan luka akibat seorang gadis kecil yang menyayat kaki wanita itu secara perlahan."Hentikan!" teriakku tanpa berpikir.

Gadis kecil itu—dengan matanya yang sebelah kiri berwarna cokelat dan kanan berwarna hijau—menoleh ke arahku dengan sungguh cepat.Ia kemudian bertanya, "Kau ingin mengantikannya bermain?"

"Aku tidak mengerti," jawabku seperti yang kukatakan kepada si Penjaga Cantik tadi.

Wajah gadis kecil itu berubah menjadi kesal dan marah—mengerikan—sebelum akhirnya ia menghilang dan muncul kembali di samping wanita yang dirantai itu. Gadis itu melepaskan rantai pada kedua tangan si Wanita dan membuat wanita itu terjatuh ke depan.

Tanpa berpikir panjang, aku menghampiri wanita itu, "Kau baik-baik saja?" tanyaku ketika menyadari kalau wanita ini adalah manusia hidup yang utuh.Pada bajunya, terdapat sebuah emblem 'T.M' yang membuatku terbelalak, "Tatiana Masha?!K-kau masih hidup?!"

Wanita itu menatapku dari balik rambutnya yang panjang dan kusam."Kau tidak seharusnya berada di sini."

Mendengar ia mengucapkan kalimat itu dengan suaranya yang setengah berbisik membuatku mengencangkan otot-otot tubuhku agar tidak terjatuh. "Sebaiknya, kita pergi dari sini," ucapku padanya seraya terus berusaha membopongnya pergi dari ruangan itu.

"Tidak..., sebaiknya, kau lihat dulu siapa di belakangmu,"

Tanpa berpikir panjang, aku menoleh ke belakang dan mendapati gadis kecil itu melotot ke arahku dan sebuah senyuman jahat terlukis di wajahnya.Ia meloncat ke arahku dan mencekikku membuatku melepaskan Tatiana dan mencoba untuk menjauhkan gadis itu dari wajahku.

Tiba-tiba, beberapa pasang tangan mulai menjerat diriku dan membuatku tidak bisa bergerak.Aku memfokuskan pandanganku dan menyadari kalau ke sepuluh anak-anak tadi dengan para penjaganya telah menghampiri diriku.

"Lepaskan!Lepaskan aku!" teriakku sampai ujung tenggorokanku terasa sakit.

Gadis dengan mata Heterochromia itu mendekati tubuh Tatiana dan mengambil liontin di lehernya.Sebuah liontin dengan sebuah foto berada di dalamnya."Sudah kubilang, kau adalah yang selanjutnya."Mataku terbelalak ketika menyadari kalau foto itu adalah foto diriku, "Anastasia Masha!"


[1] Siapa yang ada di belakangmu?

[2] Mata dengan dua warna berbeda

[3] Panggilan untuk kakak perempuan

[4] Baju tradisional Jepang



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top