1. E, D#, E, D#, E - Für Elise


Subgenre: Light Psychological Horror



E. D sharp. E. D sharp. E. B. D natural. C. A.

Seikat semiquaver dengan ujung satu quaver. Dimainkan dalam suara lembut pianissimo dan tempo lambat ala fase latihan. Membentuk slur yang perfek, dengan kresendo dan diminuendo yang diperhatikan baik-baik―atau, bisa jadi sekadar kesempurnaan dari ketidaksengajaan.

Kesalahan yang ditangkap telingaku hanya satu: bentakan tanpa sadar di not terakhir kalimat. Kesalahan umum para pemula. Mengabaikannya, aku terus mencuri dengar ruang musik. Mengobservasi suara-suara yang dikeluarkan grand piano dan gerakan-gerakan yang dibuat pemainnya.

Well, bisa dibilang, "menilai" merupakan kata yang lebih tepat dibanding "mengobservasi." Aku memang menilainya.

Di akhir pola A, aku mendengar ia mulai tersendat. Ah, buru-buru. Salah besar. Jika masih belajar, akan lebih baik jika ia menyamakan tempo di pola A dengan B. Lihatlah, macetnya jadi banyak sekali. Berantakan.

Aku hanya dapat menghela napas dalam diam sampai pola B selesai dan lagu kembali menempuh pola A. Aku menunggu itu. Momen tergelap dan ter-grand lagu ini.

Dan terindah, bagiku.

Mau dilihat dari sisi mana pun juga, lagu ini mengilustrasi tragedi. Jadi, itulah poin terindahnya.

Lalu, sesuai dugaanku, permainannya masih macet di bagian ini. Lebih parahnya, dia berhenti di tengah jalan dan berkemas. Aku pun menyingkir dari pintu, menunggu mukanya menyembul dan terkejut.

Pemuda pemain piano macet-macet―Sam Braun namanya―tersentak melihat kehadiranku. Ia mengembangkan senyum. "Oscar! Kau masih di sini?"

"Begitulah," kataku, "memantaumu."

"Oh, begitu," celetuknya dengan nada mengeluh yang tak luput dari daun telingaku. "Er, kau tahu kan, aku enggak nyaman banget memainkan lagu itu. Dari dulu aku enggak pernah suka Für Elise."

"Well, bagiku, itu karya yang indah," ucapku, "walau...."

Mendadak sakit menginvasi tengkorakku. Kepalaku yang sakit membuat impuls alat gerakku tersinggung. Tanganku segera menyasar kepala. Sakitnya mereda sendiri sebelum tanganku menyentuh kepala, tapi denyut di tempurung kepalaku tidak mereda.

"Kamu kenapa, Oscar?"

Aku mendengarnya. E, D sharp, E, D sharp, E. Intro Für Elise, satu kalimat pertama yang terputus dan membentukstaccato-bentakan-yang tidak perlu di not kelima.

Aku mengangkat kepalaku, menatap Sam. Seketika itu juga, dingin menusuk sumsum tulangku.

Sam berdiri di sana, dengan cipratan darah menitik di wajahnya. Menurunkan pandangan, aku melihat seragamnya dilumuri warna merah dan menguar aroma anyir dan karat besi. Di satu tangannya, ada sebilah pisau dapur. Matanya pun begitu gelap, seolah mengutuk diriku yang sedang memandangnya.

Dan semua itu berlangsung hanya dalam satu kedipan. Dadaku berdebam terlambat: ketika melihat Sam telah kembali seperti semula.

"Oscar?"

Pertanyaan Sam menyentakkanku, membuatku kembali ke realitas. "Ya?" Aku menjawab kikuk dengan suara serak, nyaris seperti tercekik. Lupa mengambil napas.

Sam menatapku bingung, lalu tersenyum hangat. "Omong-omong, kamu pasti sudah menguasai Für Elise sejak lama, ya? Grade-mu kan jauh di atasku. Für Elise tingkatnya cumaGrade Tiga."

"Für Elise...." Aku terdiam. "Er ... aku tidak ingat pernah mempelajarinya."

"Masa, sih?"

Aku menggaruk tengkukku yang mendadak gatal. "Entahlah. Aku juga tidak tahu bagaimana aku mengenal lagu itu."

Sahabat redhead-ku tertawa ringan. "Mungkin dari nada dering telepon seluler kuno."

.

Pulang ke rumah, aku melamun di depan televisi setelah mandi. Piring bekas santap malam yang sudah habis bergeming di pangkuan. Anjingku meringkuk di ujung jemari kakiku, terlelap. Pikiranku melayang ke insiden di sekolah.

Aku paham benar bahwa itu hanya imajinasiku. Yang tak kupahami adalah mengapa aku bisa berimajinasi seperti itu, dan apa kaitannya dengan lagu Für Elise yang kudengar. Kutarik napas dalam-dalam. Berpikir positif, berpikir positif. Aku hanya perlu banyak berdoa. Bisa jadi suatu keadaan di sekolah memungkinkanku untuk mengalami halusinasi.

Mendadak tanganku bergetar kecil. Aku tidak tahu kenapa.

Anjingku bangun ketika aku berdiri dan mencuci piring di dapur. Ia mengikutiku, menatap dengan anteng.

Ketika hendak kembali ke kamar, mataku jatuh pada grand piano di samping tangga menuju lantai dua. Teringat pekerjaan rumah dari kursusku, aku mengambil bukuUrtext kumpulan Sonata Mozart dan buku SonataBeethoven sebagai buku tambahan.

Mendadak merasa malas melatih lagu PR, aku mengembalikan buku Sonata Mozart ke rak. Meletakkan buku Sonata Beethoven di penyangga dan membuka halaman sekian, aku mulai memainkan Third Movementdari Moonlight Sonata. Sampai badanku bersimbah peluh dan badan terlem ke baju.

Di kala usai menyanyikan piano, entah bagaimana aku teringat kisah cinta Beethoven dan asal mula Moonlight Sonata.

Dan Elise.

Für Elise. Judulnya menggunakan bahasa tanah kelahiran komposernya yang secara harfiah berarti "untuk Elise." Perempuan yang sampai sekarang tak diketahui asal-usulnya, siapakah gerangan, maupun di mana rimbanya. Lagu yang bernada begitu manis, tragis, dan romantis. Yang entah bagaimana dianggap menyeramkan oleh sebagian orang.

Iseng, aku menekan serentet kalimat pertama Für Elise. E yang intervalnya major tenth dengan middle C. D sharpyang letaknya satu semitone di bawah E. Kembali ke E. Kumainkan serangkai kalimat itu dengan lambat; satusemiquaver senilai sedetik.

Di akhir kalimat, anjingku mendadak menggeram tertahan, menggonggong agresif, lalu menancapkan gigi di daging kakiku yang bersiaga di atas pedal kanan. Refleks aku menjerit, melemparnya. Terjatuh dan terantuk, anjingku mulai merembah.

Syok, aku hanya bisa mengusap-usap kepalanya, memastikan ia tidak terluka. Ketika kubawa ke kandang, ia langsung tiarap di sudut sambil gemetaran. Tak bisa berbuat apa-apa, aku bergegas ke kamar dan mengerjakan tugas setelah membereskan piano.

Ketika sampai di kamar, aku melihat jejak-jejak cairan merah kecil di lantai. Melihat kakiku, barulah kusadari gigitan anjingku berbuah pendarahan kecil. Aku hendak mengobatinya, tapi gagal menemukan kotak P3K di rumah.

Menggeleng-gelengkan kepala, aku berpikir, apes sekali diriku hari ini. Mungkin ada baiknya kalau aku tidur. Siapa tahu besok nasibku membaik. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi sembari mendendangkan melodi Ode to Joy, hanya untuk menghibur diri. Menyikat gigi tanpa memutus melodi lagu klasik. Melanjutkan mengumandang lirik ketika selesai membasuh mulut yang berbusa oleh pasta gigi.

"Deine Zauber binden wieder, was die Mode streng ge...."

Bunyi bulat berwibawa selembut pianissimo khas piano mahal menggema. Melantunkan pembukaan lagu yang didedikasikan untuk seorang wanita bernama Elise. E, Dsharp, E, D sharp, E. Satu kalimat terputus yang lagi-lagi dibubuhi staccato di akhir, membuat atmosfer menggantung sangat kentara dan menggelitik area dada.

Melebihi menggelitik, isi dadaku meninju tulang rusuk dengan satu pukulan kuat.

Air yang membercak di wastafel dan dinding-lantai kamar mandi dinodai warna yang lebih pekat dari kulit apel. Cermin yang tergantung di atas wastafel mendadak dipadati retakan. Di cermin setengah jadi itu, aku melihat wajah seorang gadis. Darah menyiprat di muka cantiknya yang tampak familier. Matanya membelalak. Lehernya penuh darah.

Aku berteriak, mundur, lalu menabrak dinding. Sendi-sendi kakiku mendadak kaku. Aku terjatuh. Dan tak mampu merasakan sakit yang seharusnya ada pada tulang ekorku.

Gadis di dalam cermin menggeserkan kepalanya. Dari pelupuk matanya, air mengalir turun.

Ia mengangkat tangannya yang terpotong-potong dan penuh darah.

"... Ka...."

Suaranya lembut, berbisik, bergaung menyeramkan dengan reverberation alami dari kamar mandi.

"Kekh ... hakh...."

Dan serak. Seolah tak pernah minum selama separuh hidupnya.

Tangannya mendekat padaku, entah bagaimana caranya. Kedua kakiku menendang-nendang percuma. Aku memejamkan mata erat-erat dan membungkam kedua telingaku dengan lengan. Mulutku berusaha mengusirnya.

"Pergi! Pergi kau! Jangan dekati aku!" Suaraku membesar dan makin habis. "Enyah! Pergilah!"

"Oscar!"

Aku merasakan tubuhku diguncang-guncang. Mendadak sensitif, aku membeliakkan mata, menepis tangan dan mendorong siapa pun yang telah mengguncang tubuhku. Aku semakin terdorong ke belakang karena itu. Di saat itulah, aku menyadari bahwa celana tidurku lembab oleh lantai basah.

Kamar mandi sudah kembali normal. Mamaku berdiri di mulut pintu toilet, tampak menunjukkan kekhawatiran dan syok.

"Astaga." Aku berucap tidak percaya, mengusap wajahku dari kening sampai dagu.

Mama menghampiriku dan membantuku berdiri. Mengelus-elus punggungku, ia bertanya lembut, "Kenapa bisa ketiduran di kamar mandi, Nak?"

"K-Ketiduran?" tanyaku, mengulang.

"Iya. Waktu pulang, Mama panggil-panggil, kamu enggak jawab. Waktu dicari, tahu-tahu kamu tidur di kamar mandi."

Tidur? Yang tadi itu nyata sekali kalau mau dijadikan mimpi. Seabsurd apa pun tadi itu, rasanya benar-benar nyata. Aroma darah. Suara serak itu. Gaung itu. Gadis itu. Dan nada intro Für Elise yang menjadi pintu gerbangnya.

"Aku butuh tidur," kataku akhirnya setelah tak mengindahkan pertanyaan Mama selama beberapa saat. Mamaku bersikap pengertian, membiarkanku masuk kamar tanpa sepatah kata pun.

.

Denting piano mengalun lembut memasuki telingaku. Menarik fokus dan konsentrasiku. Mendengarkannya beberapa saat, aku mengidentifikasi piano itu. Suara piano indah nan mewah yang selalu kudengar di CD album para musisi dan performer top. Memiliki suara khas yang tak terdeskripsikan di beberapa not, yang membedakannya dengan suara Essex ataupun Boston. Aku tahu suara ini. Suara piano sejati, Steinway.

Kuintip ruangan itu. Ruangan kecil yang tak sebanding dengan hall bermutu di situs-situs konser klasik, yang sebenarnya lazim-lazim saja karena ini sekadar untuk latihan di rumah.

Rumah?

Seingatku, grand piano yang ada di rumahku itu Petrof. Sejak kapan ada Steinway? Apa Papa membelikannya?

Melupakan masalah itu sejenak, aku terus menonton si gadis yang tengah memainkan grand piano Steinway di ruangan itu. Ia memainkan lagu yang, perkiraanku, sekitar untuk Grade Tiga.

Usai dengan lagu yang tadi (yang tidak kukenal), gadis kecil itu membolak-balikkan buku pianonya, dan berhenti di sebuah halaman. Aku tak dapat melihat dengan jelas apa yang terpapar di sana.

Ketika mendengarnya, barulah aku tahu.

Dan seketika itu juga, semuanya kacau.

Aku mendengarnya untuk ketiga kalinya hari ini. Pembukaan Für Elise yang terpotong sampai lima notsemiquaver pertama. Bentakan menggantung di akhir.

Hal baru yang kudapatkan kali ini adalah pemandangan pembunuhan.

Seorang anak lelaki bersurai oranye kemerahan telah menikam si gadis cilik. Aku tak tahu apa yang telah terjadi. Yang kulihat adalah banyak darah. Tuts piano terbelah dan tercemari darah. Jemari si gadis terpotong-potong, beberapa putus. Badannya penuh luka tusukan. Sangat mengenaskan. Dan mengerikan.

Aku melihat wajahnya. Dan di kala itu, aku tersadar. Dialah gadis yang ada di cermin retak.

Penasaran membawaku meneliti siapa lelaki sadis pembunuh gadis itu.

Hasilnya? Aku mengenal siapa dia.

Aku merasa benar-benar ingin menutup mata dari semua yang telah kusaksikan.

.

Dengan berani dan tanpa sedikit pun celah keraguan, aku menyatakan bahwa itu merupakan mimpi terburuk seumur hidupku.

Mimpi atau bukan mimpi? Aku tidak tahu. Semua yang kualami terkoneksi satu sama lain. Bagaimana bisa aku tidak menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang telah terjadi di masa laluku?

Dan mengapa teman dekatku, Sam, membunuh seorang gadis yang tampak tak berdosa?

Aku mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak membanting meja kelas. Kuawasi pintu kelas, menanti Sam masuk. Ketika berpikir hendak bertanya pada Sam, nyaliku mendadak menciut. Pikiranku mengingat Sam yang berbalur darah, dan memikirkannya membuatku berkeringat dingin.

Mendadak kepalaku terasa sakit.

Suara piano, not E, kembali terdengar. Berlanjut ke not satu semitone di bawahnya, naik lagi, turun lagi, naik lagi,staccato.

Detik ketika not E terakhir dibunyikan adalah detik ketika aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Mencium besi dari darah. Mendengar suara teriak Sam.

Ketika hendak diterkam ancaman nyawa, manusia akan membela dirinya secara penuh. Ancaman itu nyata terasa bagiku, mengalir di pembuluh darahku. Akibatnya, aku menghindar tusukan pisaunya dengan baik. Setelahnya, aku menatap Sam yang bermata dingin. Merasakan jantungku mulai berdebar cepat nan keras. Merasakan ketakutan dan ancaman menjadi satu, menghantuiku tanpa ujung.

Sam terlihat kerasukan. Aku tidak tahu harus bagaimana.

Aku lengah. Dia mencekikku dari belakang. Sangat kuat dan begitu tiba-tiba, sampai aku tak berkesempatan merespons. Hal terbaik yang bisa kulakukan hanyalah mencakar jemarinya yang mencekikku, sementara kepala dan dadaku terasa semakin sesak. Beberapa menit penuh penyiksaan raga, sampai kurasakan kesadaran menjauh dari fisikku.

.

Kirana surya menyambut diriku-yang masih bernapas-ketika kembali ke kesadaran. Di sampingku, Sam duduk. Tubuhku refleks tersentak penuh kewaspadaan melihat keberadaannya.

"Ah, Oscar! Kamu sudah bangun," sapa Sam.

Suaranya terdengar lesu, aku tidak tahu mengapa. Aku hanya diam.

"Makanlah ini," suruh Sam, menyodorkanku roti. "Kamu ingat apa yang terjadi tadi pagi?"

Aku tidak sudi menerimanya. "Kau mencekikku."

Sam seketika membelalak. "Hah?" Ia terdengar sangat terkejut. "Tidak, Oscar. Tadi pagi, waktu aku datang ke sekolah, teman-teman sekelas pada ribut karena kamu mencekik dirimu sendiri. Lalu, kamu pingsan sampai sekarang. Sekarang sekolah sudah usai."

Mendadak darahku memanas. "Mencekik diriku sendiri?" Aku mengepalkan tangan. "Jelas tadi kau yang mencekikku pagi tadi. Di kelas."

Aku tahu aku hanya akan dianggap orang gila. Aku tak peduli lagi apa yang akan dikatakan Sam. Aku hanya butuh ketenangan sekarang. Melihat tas sekolahku di ranjang sebelahku, aku mengambilnya, berjalan ke luar UKS Putra. Sam memanggil-manggilku, mengekoriku keluar.

"Oscar! Tunggu dulu!"

Aku terus berjalan. Sampai ke luar gerbang sekolah. Menuju rumah. Aku hanya butuh ketenangan diri.

Ketenangan diri.

Ketakutan menyergap hatiku. Di mana aku bisa menemukan ketenangan diri? Lagu Für Elise mengekoriku tak peduli di mana aku berada. Apa yang bisa aku lakukan untuk menyelesaikan ini? Aku tidak tahu.

Sam masih gigih mengejar dan memanggil-manggilku. Pada akhirnya, ia menarik tanganku.

"Apa?" tanyaku kesal.

Sam menatapku intens, tapi ragu. "Aku ... mencurigai sesuatu tentang dirimu."

Aku berucap sarkastis, "Apa yang kaucurigai itu? Tenang saja. Aku masih normal."

"Oscar, apa kau melihat hal-hal aneh akhir-akhir ini? Mengalami halusinasi?"

Aku membelalak, menatap lurus Sam.

"Kalau memang yang kulihat semua itu benar," kataku, "tolong jelaskan padaku."

"Tentu," kata Sam dengan nada berhati-hati. "Akan kujelaskan. Tolong jaga ... kepalamu tetap dingin. Dan ... biarkan aku memproses dari man aku harus memulai."

Aku membalas dengan anggukan.

"Begini...," mulai Sam, "sebenarnya, Oscar, kamu punya seorang adik. Perempuan. Dia ... meninggal di usia sepuluh tahun."

Sam berhenti. Aku berkata, "Teruskan."

"Oke. Jadi..., aku akan jujur. Aku punya penyakit jiwa, yang baru disembuhkan lima tahun lalu. Dan dulu aku adalah temanmu sejak kecil. Aku pindah ke luar kota ... karena insiden."

Aku mengangkat alis.

"Aku punya pengalaman yang buruk ... tentang Für Elise. Mendengarnya membuatku lepas kontrol. Saat itu, adikmu mempelajari lagu Für Elise. Dia tidak mau berhenti memainkannya walau kuminta. Dan akhirnya, aku lepas kontrol, dan ... mengambil pisau. Lalu membunuhnya."

Kedua alisku bertaut, keningku berkerut. Cerita absurd macam apa i-

Tolong..., Kakak!

Kepalaku kembali sakit, dan aku menjambak rambutku sendiri. Teriakan perempuan memenuhi kepalaku. Suara yang familier. Wajah yang tidak asing. Adikku.

Aku ingat sekarang. Aku trauma, terluka juga oleh Sam, dan lupa ingatan. Melupakan semua pahit-pahit ini. Selalu aku bertanya-tanya tentang bekas luka yang tertoreh di tubuhku. Sekarang aku mendapat jawabannya.

Wajahku memanas. Air mata berkumpul di pelupuk mataku.

"Oscar...." Sam menatapku prihatin. "Aku ingin kamu dengar sekarang, perihal kenapa aku di sini. Aku memang sempat pergi menjauh darimu, tapi aku-"

"Tidak usah teruskan."

Nadaku penuh emosi tertahan. Aku tak mendengar kata-kata apa pun lagi dari Sam. Aku mengangkat kepalaku, menatapnya penuh dendam.

"Kalau niatmu adalah meminta maaf, tidak usah." Aku mengepalkan tangan. "Seharusnya kau tahu kalau kau tidak bisa kumaafkan. Iya, kan? Merenggut nyawa saudaraku!" Aku mendorong bahunya. "Kaupikir nyawa seharga permintaan maaf?"

Tindakanku, yang berdasar emosi sesaat, berakibat fatal.

Sebuah bus melaju cepat dalam jarak yang dekat di jalan raya. Dan aku telah mendorong Sam ke sana.

Raut Sam yang syok, entah bagaimana membawaku ke salah satu momen di masa lalu. Yang cukup untuk membuatku mengingat bahwa kami adalah teman yang melampaui dekat.

Maka, kutarik tangan Sam, kudorong dia ke belakang kuat-kuat.

Dan aku pun terdorong ke depan. Ke depan bus yang tak sempat lagi direm.

.

"... dia baik-baik saja?"

"... tenang saja."

Sayup-sayup percakapan merasuk telingaku.

"Dia hanya...."

Aku membuka mataku yang berat.

"... amnesia."

Orang-orang yang tak kukenal mengelilingiku. Seorang bapak-bapak berkumis, ibu-ibu pirang, lalu seorang anak sebayaku yang berambut oranye kemerahan.

"O-Oscar!" Pemuda berambut oranye kemerahan itu menangis melihatku. "Kau masih hidup!"

Entah bagaimana-

Aku menatapnya kosong.

-caranya melihatku-

"Kamu siapa?"

-membuatku mengira, bahwa aku telah melupakan sesuatu yang penting.



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top