Chapter 3
Bis menampakkan pemandangan malam yang tanpa kusadari kini baru saja melewati Tugu Yogyakarta yang terkenal itu dan Malioboro hanya dalam waktu sepersekian menit. Keramaian ada di luar sana untuk disambut, mataku mengingat masa-masa aku duduk di trotoar dekat Tugu, pojok Malioboro dan di depan gedung BNI tepat di seberang pos polisi. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu dimana aku berkenalan dengan Kenzie orang yang dulu kuanggap kakak dan Vici mantanku yang ternyata memiliki tunangan dan kalian bisa tebak sendiri akhirnya. Kami toh memang tidak saling mencintai, tapi itu adalah salah satu tamparan yang cukup melukai egoku.
Terutama saat aku tahu tunangannya anak orang paling kaya di Indonesia dan jauh lebih kaya dari siapapun yang ia pernah kenal. Teman masa kecilku yang anak ketua DPRD tingkat satu dan sahabatku yang ayahnya salah satu petinggi kepolisian bahkan tibak bisa kubandingkan dengannya. Pernikahan mereka bahagia setelah Kai adik sepupu istri Vici-Dika, kemarin ternyata berpacaran dengan salah satu mantanku yang kubawa saat menghadiri pernikahan mereka. Semua berakhir bahagia sepertinya. Kecuali aku, selalu, kecuali aku.
Pemberhentian terakhirku sudah muncul dan aku bersiap-siap untuk berjalan ke pintu keluar. Dari sana aku cukup berjalan sedikit sebelum mencapai rumah teman mama yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai oleh mereka. Aku tinggal sendiri disini karena lebih suka hidup terpisah dengan ibuku dan adik-adikku yang kini sudah tambah besar.
Tak lama aku sudah menemukan rumahku yang kecil dan amat sangat sederhana dibandingkan dengan rumah teman-temanku. Motorku ada di depannya, Kawasaki KLX seri DS yang kuidam-idamkan sejak aku masih SMA. Hari ini aku lupa dimana meletakkan kuncinya sehingga akhirnya pergi dengan bis yang sebenarnya lebih sering kulakukan akhir-akhir ini. Motorku terlalu mudah dikenali oleh anak-anak motor dengan semua stiker yang menempel di badannya.
Aku membuka pintu rumahku dan melepas sepatuku di depan pintu, menendangnya ke pojokan tempat rak sepatuku berdiri tegap seperti keamanan yang menjaga rumahku. Ketika selesai aku menuju kamar yang letaknya dua pintu dari tempatku berdiri. Pintunya terbuka lebar dan isi kamar masih seperti terakhir aku meninggalkannya. Tanganku merayap di dinding untuk menemukan saklar lampu kemudian menyalakan lampu kamar.
Sekejap dan kamarku mulai terlihat jelas. Laptop dengan layar terbuka, pakaian dalam dan baju kotor berserakan di lantai, komik Skip Beat! yang beberapa hari lalu kubaca ulang dari awal hingga terkahir dan lanjutannya kubaca di laptop karena belum terbit di Indonesia. Sebuah bola basket mengintip di bawah tempat tidur dan berpuluh-pulu kertas terserak tanpa dosa disana. Aku menghela nafas lelah, ingin bertanya siapa sih yang membuatku kesurupan menghancurkan kamarku seperti ini.
Sepertinya saat dalam keadaan trance dan senang-atau sebenarnya sekadar tidak peduli-aku berubah menjadi Hulk dan menghancurkan kamarku dibantu oleh Thor. Kemudian lagu Sweet Dreams yang masih terdengar di telingaku mulai membuatku bergumam lagi, kali ini dengan lebih keras karena aku sudah di rumahku sendiri. Aku melepaskan headset dari ponselku sehingga suara itu terdengar ke sepenjuru kamar.
Om Marilyn kemudian bernyanyi bersamaku dalam nada rendah yang ia gunakan untuk menyanyikan kalimat i wanna abuse you setelah sebuah scream melintas. Kepalaku mengangguk dan menyanyikan penggalan lirik lainnya yang dinyanyikan dengan cara berubah-ubah dari suara yang begitu kecil seperti tercekik dengan lancar lalu lebih bertenaga kemudian berat dan ia melakukan screamo yang terkenal itu lagi.
Semua terasa normal dan aman. Kutanggalkan jaketku dan melepaskan jins yang memerangkap kakiku sampai sebuah suara bot yang khas menjejak lantai rumahku. Keamanan itu pecah pada detik pemiliknya memasuki rumahku.
"Shit!"
Aku segera memakai jinsku kembali dan menyisakan tank-top hitam polos untuk menutupi bra hijau toska yang dibawakan oleh pacar ayahku pada kunjungannya yang entah ke berapa untuk pakaian ganti saat kami menginap di sebuah hotel setelah selesai berenang dan mandi. Fokus Ann! omelku karena memikirkan hal lain dibanding dengan kemungkinan membiarkan seorang tamu tak dikenal melihatku setengah telanjang.
"What the fuck are you doing in my fuckin' house?!" suaraku bercampur kekagetan dan kekesalan serta rasa penasaran bagaimana seorang fotografer terkenal yang dulu beritanya sempat heboh karena mengalami deportasi dari Saudi Arabia bersama kedua temannya kini ada di rumahku.
"Who the hell is that guy?"
Aku hampir saja mengucapkan teman. Friend? Sejak kapan Dheo si cocky bastard itu jadi temenku? Hal yang lebih penting, sejak kapan itu jadi urusan pria brengsek di depanku ini?
Aku terhenyak saat dia berjalan mendekat dan aku tidak mundur sama sekali. Ini rumahku, dan aku tidak takut padanya. Kalau ada orang yang seharusnya mundur, itu adalah dia. "Uh, customer? Client? Somethin' like that." Aku memperlihatkan rasa bosan dan muak, menaikkan alis untuk menantangnya yang sama sekali bukan orang untuk kuhormati.
"Which customer?" Aaran brengsek itu memberiku gaya I'm the Badass here yang dipertegas dengan sepatu bot hitam dari kulit dan jaket cokelat berbahan sama serta jins biru abu-abu yang pudar dan sobek di bagian pinggirannya. Topi skinya sudah berganti warna menjadi hitam, dengan sebuah google duduk nyaman disana.
Wrong turn, bad moves, ini gak boleh lebih buruk lagi kan? Bukan gak bisa, tapi gak boleh. Aaran tahu soal bagian aku mengambil pelanggan, dan dia tidak suka itu. Dan sekali lagi, sejak kapan itu dari awal menjadi urusannya?
"No that kind of customer-for hell's sake, now move! Fuck off Aaran!"
Dan begitulah perang ini dimulai.
Aaran memperlihatkan sisi posesif itu lagi. Salah satu hal yang dulu membuatku menginginkan Aaran. Aku ingin dicintai, ingin dipeluk erat seperti besok adalah kiamat dan ingin diinginkan oleh seseorang yang membutuhkan eksistensiku dan bukan cuma rasa nyaman biasa atau hal muluk-muluk lainnya. Itu adalah hal yang diberikan Aaran padaku dan tak pernah berubah meski kami telah berpisah.
Ciumannya kasar, terlatih dan membuat pinggang serta kakiku lemas. Ia membawaku ke dinding, menendang pintu di belakangnya pelan kemudian membuatku mabuk dalam ciuman. Aaran meraup apa yang ingin dia lakukan sejak lama pada mulutku. Tak hanya menginvasi atau sekedar memenjarakanku dalam perasaan yang begitu kuat dan kental. Pria itu mengharapkan aku memberikan semuanya, menyerahkan kepalaku di atas nampan perak dan aku yang sadar hanya bisa melakukan apa?
Aku menggigit bibirnya, mendorongnya lalu menendangnya hingga jatuh dan menabrak meja pendek ruang tamu. Wajahku dingin dan dalam seperempat detik aku bisa berharap aku membunuhnya di awal pertemuan tadi. Hell, aku lupa ada jiwa buas yang tersembunyi rapi di balik topeng kesatria berkuda kesiangan disamping wajah pangeran tampannya itu.
"Halo, Anne. I Have died a whole day waiting for you." Kalimatnya dilagukan menggunakan lagu Christina Perry, a Thousand Years. Aaran tertawa saat mendengar geraman untuk mengancam lepas dari antara gigiku yang mengatup erat. Tawanya penuh ejekan yang membuatku tak sabar melemparkan sesuatu yang beratnya lebih dari tiga kilogram ke mulutnya guna menyumpal ide lain untuk menyiksaku.
"Wondering i could be killing myself infront of you. I hate you for a billion years,"balasku mengejeknya dengan nada yang sama.
"Selalu bisa membuatku terkesan, bukankah begitu Anneliese?"
Kenapa kau mengikutiku? Kenapa kau tidak enyah dari hidupku? Kenapa aku tidak memiliki rasa selain hampa dan terancam darimu? Kenapa kau masih hidup untuk menggangguku?
Aku ingin memuntahkan semuanya disini. Karena kali ini Aaran sudah melihat sisiku yang tidak menyukai keberadaannya dan buka sekedar berbasa-basi, aku pun memulai strategi cadangan yang sangat kukenal.
"Apa maumu?" kasar, keras dan dingin adalah langkah yang bagus untuk memulai serangan ketika berhadapan dengan mantanmu. Tidak mengendurkan sedikit pun penjagaan dan bersiap pada serangan verbal maupun non-verbal dari lawan. Satu hal lagi, jangan perlihatkan rasa kasihan bagi mereka yang bersalah dan ingin menebus dosa, disana terdapat perangkap berlapis yang sangat perlu dihindari. Para mantan tidak perlu tahu aku mencintai mereka atau peduli pada mereka. Hal yang perlu mereka tahu hanya satu:
Mereka tidak akan bisa melukaiku lagi kali ini.
"Aku ingin kau kembali padaku."
"Dan disini kita mengulang cerita lama dan meminum satu dua gelas wine dan mabuk dan melakukan seks gila-gilaan dan aku hamil dua minggu kemudian. Tidak terima kasih. Aku tidak suka hal klise hari ini."
"Ann-"
"Dan kalau kau lupa, kau yang pergi, dan kau yang kembali. Aku selalu disini dan tidak kemana-mana."
"But. I do Love you, more than anyone, Miss. Ignatia."
"Nah, I don't give a shit, Mr. Please-rot-in-hell, In case you don't know a thing about wooing a girl, let me teach one thing." Aku berjalan ke arahnya dengan santai setelah membalas menggunakan nada penuh ejekan yang kutahan sejak siang tadi lalu mensejajarkan mata kami. "Love me only, no one else and there's no such a thing more than anyone and might as well it means you had another thing to love. Am I fuckin' right?"
"Yeh. You are the only one i could love."
Dia menatap dengan gusar, menyeka darah yang muncul di bibir dengan punggung tangannya. Rasanya ia siap mencekikku detik itu juga karena gemas atau entahlah, mungkin ia egonya terluka?
Tanpa ragu dan bantahan. Ia memang terluka.
Anak malang.
Aku membalas keinginannya untuk membunuh dengan kalimat, "I dare you to tear your daughter apart. Into a shape of pieces that i'd love not to share how."
Mata Aaran terkejut dan ia tampak gusar seperti hewan buas yang terluka dan mempertahankan teritorinya mati-matian. "Don't wanna."
"Oh, shoot, bad decission. See? You can't love me Aaran. And your bastard is a fuckin' proof. Do you mind if I told you again like the last time about "I don't like sharing my damn stuff?" By the way, you are bleeding-Oops, I did it on purpose, didn't I?"
"Fuck you!" Aaran yang cemburu dan merajuk tidak pernah lebih tampan dari sekarang. Sensasi ia mengutukku mengirimkan gemetar menyenangkan di balik leher. Aku melarikan ujung ibu jariku malas di bibir bawahku hingga saat tiba di ujung sengatan rasa sakit muncul.
Omong-omong, Aaran mengigit balik dengan sangat baik tadi.
"Fuck yourself. I need a good sex instead, so fuck me, Aaran."
"Then bring it on. I need to feel you again."
Dan perang pun dimulai untuk kedua kalinya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top