Chapter 2

Kebohongan mengancam menyebarkan duri-duri beracun di seluruh sel dalam tubuhnya. Dusta itu begitu kuat menyudutkannya sampai ia heran karena apa yang ia rasakan saat ini bukanlah kebohongan.

Ada waktunya kebencian begitu kuat hingga warna yang menurutnya bisa mendeskripsikan hal itu hanyalah hitam. Sesuatu yang gelap dan bahkan mungkin lebih pekat daripada hitam. Hal yang hanya bisa digantikan dengan bumi tanpa matahari, bulan, bintang dan bahkan satu nyala api pun. Tanpa cahaya dan sangat kelam.

Tapi yang bisa ia rasakan saat ini adalah kehampaan dan keterasingan dari seseorang yang pernah memberikan sumpahnya, kemudian menghilang.
Dia perhatikan apa yang hari ini melekat dan membuat Aaran tampak sempurna seperti biasanya. Model papan atas itu memakai kemeja putih yang kainnya terlihat lembut dengan kerah berwarna biru tua serta jaket cokelat muda. Bahan yang akan terasa sangat hangat saat dipakai. Ia tidak terlihat seperti seorang ayah, malah bagai gambar sampul depan majalah apapun yang isinya hanya tentang laki-laki paling Hot di seluruh galaksi. Rambutnya mengintip di antara tepi topi rajut yang mengingatkanku saat mendaki gunung tahun lalu.

Aku menatap Aaran, wajahnya tampan dan seksi seperti biasanya, namun menyiratkan ketakutan dan keterkejutan. Siapa yang tidak? Melihat mantan pacar yang mereka tinggalkan berdiri di depan mata? Bahkan orang yang meninggalkan mantan pacarnya karena atau walau punya pacar baru pasti akan tetap terkejut. Dengan bumbu kesombongan biasanya.

Kemudian dia tersenyum aneh. Getir dan seperti ingin lenyap dari sana karena hal yang pertama kusebutkan.

Dia ketakutan.

Mungkin dia punya banyak alasan untuk kabur dan aku akan membiarkannya. Kalau dia akan berkata ingin melupakan apa yang terjadi dulu, tidak ada masalah sama sekali. Karena pada intinya, dia memang masa lalu. Masa lalu yang menyakitkan tentunya. Hanya orang masokis yang menyukai melihat masa lalu gelap mereka dan kembali terpuruk sesaat setelahnya. Bagusnya, dia tipe yang melupakan masa lalu, menguburnya dalam-dalam dan mensugestikan dirinya lupa. Hal itu jauh lebih berguna daripada berkubang dalam kesedihan hanya untuk membuat diri menjadi seperti cangkang kosong.

"Hai?"

Kuputar bola mataku dan mendengus pada Aaran yang ragu untuk mendekat. Kupaksakan diriku untuk memberi senyuman paling bersahabat yang bisa kubuat. Akting adalah salah satu bagian yang kuandalkan, dan kali ini tidak ada perbedaan. Satu-satunya yang kuharap Aaran tidak sadar, bahwa imajinasiku tentangnya sebagai orang asing mulai pecah. Sosoknya mulai tampak, hidup kembali dari serpihan debu ingatan.

Dia mantan kekasihku.

Dia berkata mencintaiku.

Dia mengucapkan sumpah untuk selalu bersamaku.

Dan dia menghilang, tanpa kabar, tanpa jejak, dan yang paling buruk mematahkan sumpahnya.

Siapa sih yang tidak? Namanya juga toh manusia dan seharusnya semua itu cukup untuk menjadi alasan membencinya. Dan aku tetap tidak bisa melakukannya dengan yakin tidak kehilangan diriku sekali lagi dalam lautan kemarahan serta api dendam. Dilema pun mengancamku dengan ujung pedang ke arah jurang yang ingin kuhindari.

"Hai. 'Pa kabar?"

Mode basa-basi mulai menyala. Hal selanjutnya yang akan terlintas adalah, udah lama ya? atau anakmu ya? Duh, udah gede banget ya? dan kalimat basa-basi ini akan berlanjut hingga kami akan berpisah, kemudian menyambungnya dengan kalimat Kapan-kapan ketemu lah! Masih kangen nih!--dan semacamnya. Aku ingin meringis membayangkan keseluruhan percakapan ini benar-benar akan seperti opera sabun. Ironis rasanya karena mengingat aku selalu mengejek cerita-cerita semacam itu.

"Aku baik. Kamu gimana?"

"Iya baik. Eh anakmu kok cantik banget sih? Pengen kubawa pulang tahu gak? Mamanya mana?"

Oke, kalimat terakhir itu benar-benar keluar karena ... Aku gak tahu itu penasaran atau masih basa-basi. Hal yang jelas terlihat saat ini adalah bagaimana Aaran terlihat ketakutan, dan teramat tegang hingga aku bisa melihat otot di pipinya mengencang. Ada sorot kesedihan disana yang bisa kuasumsikan istrinya sudah meninggal atau bercerai dengannya. Dan basa-basi tidak lagi menjadi datar juga membosankan saudaraku!

"Dia gak ada."

Aaran tidak menjawab pertanyaan lainnya, tidak berusaha mengelak menjawab pertanyaan tentang istrinya dan entahlah, dia seperti kehabisan kata-kata. Bahasa Indonesianya yang cukup fasih tidak membuatku tercengang atau memberi reaksi yang mungkin diinginkannya. Kalau ia tahu aku menyadari hal itu dan penasaran karenanya, kemungkinan yang terjadi nantinya akan melenceng dari yang kurencanakan. Tapi sebenarnya, fakta itu membuatku seperti diterjang roller coaster dari taman ria milik Ferarri yang kuimpikan dan terlempar ke kolam buaya; dimangsa hidup-hidup oleh ilusiku sendiri.

Sikapku yang datar, tidak benar-benar bersahabat, terasa asing dan hanya bersikap seperti profesional sedang menanggapi klien membuatnya berdiri tidak nyaman. Padahal dalam hati aku ingin tahu bagaimana ia bisa berbahasa sefasih itu dan apakah bertahun-tahun ini ia tinggal di Indonesia.

Aku ingin tahu kenapa ia meninggalkanku dan bagaimana itu menjadi keseharusan, tapi aku memutuskan tidak membahasnya. Aku juga ingin tahu apa yang ia rasakan, saat harus membuat sebuah luka lama menganga lagi dalam diriku. Merasa bersalah atau tidak peduli dan hanya peduli pada egonya seorang, seperti yang saat ini kulakukan. Kalau egoku mengijinkan, aku sudah menghilang dari tadi dan berusaha tidak terkejar dengan menggunakan anaknya sebagai salah satu keuntungan. Tidak mungkin Aaran lari membawa anaknya atau lari kemudian meninggalkan anaknya di sini.

Pertanyaan yang lebih sulit dan menurutku normal juga mulai muncul; apakah gadis kecil itu benar-benar anaknya?

Kepalaku hanya membiarkanku ada di posisi untuk menyerang dan aku akan terus memberondong pertanyaan untuknya meski tahu wanita itu sudah tiada. Pikiran jahatku sudah memikirkan kalimat demi kalimat untuk memanfaatkan rasa bersalah Aaran dengan melontarinya pertanyaan provokatif atau yang lebih parah membuatnya semakin kalut.

Dan sejak kapan aku sejahat itu?

Sejak lahir.

"Oh. Dia gak bareng kamu kesininya?" Wajah ragu Aaran tidak memberiku waktu untuk merasa bersalah dan justru merasa menang pada siksaan yang kuberikan. Dan rasa bersalah boleh menggerogotiku nanti saat aku sudah di rumah dan ada di kamar mandi. Aku tidak bisa membencinya dan dendam itu yang kini muncul dengan bisanya.

"Iya,"kata Aaran singkat dengan wajah seolah memelas untuk tidak melanjutkan percakapan itu. Aku menaikkan alis dengan penasaran tanpa sadar. Aaran tidak berusahan mengambil kesempatan apapun dariku, dan itu membuatku bingung.

Semua mantanku yang lain selalu ingin berusaha mengambil kesempatan yang tersisa dariku-kecuali dua orang yang aku tahu memang jauh di luar kota dan tidak pernah bertemu lagi denganku. Entah koneksi, pemuasan nafsu atau pemuasan ego. Sikap Aaran sedikit banyak membuatku merasa dia seperti bukan Aaran tolol, gentleman Inggris yang menyebalkan, sensitif-melankolis dan apapun yang bisa kuingat darinya. Aku sedikit lost di bagian ini.

"Oh ok. Aku duluan ya?" tawarku melihat pembicaraan ini tidak akan berlanjut lebih dari basa-basi dan saling menghilang. Kulihat dia kini merasakan dilema untuk ingin meneruskan pembicaraan denganku atau tidak. Ketika dia tidak menjawab, aku hanya mengangguk sopan lalu berbalik untuk pergi. Tapi tangannya mencekal lengan atasku hingga mau tak mau aku harus berhenti bergerak.

Menatap mantan kekasih yang meninggalkanku bukanlah apa-apa.

Berbicara dengan usaha keras agar percakapannya kaku tapi terdengar normal masih bisa kuciptakan. Aku bertahan disana.

Menggendong anaknya dengan seorang wanita asing yang dulu mungkin seharusnya menjadi posisiku dan aku masih bisa bertahan.

Tapi saat ia memegangku, kontak fisik itu membuatku sadar sebuah luka yang dulu rapat-rapat kujahit mulai membuka dengan paksa. Darah dan kebencian mulai keluar seperti lidah api. Jemariku terasa dingin seperti punggungku yang meremang. Tubuhku menegang bersama semua otot yang bisa kurasakan karena antisipasi untuk melakukan apapun yang harus dilakukan sesuai keadaan. Dan payungku jatuh secara dramatis karena keterkejutanku. Drama dan drama, mereka terus berlanjut.

Aku menatap payungku yang jatuh untuk mengalihkan perhatian dari suhu panas di lenganku. Nafasku tertahan dan kuhembuskan pelan seperti memaksanya keluar dengan cara yang tidak alami. Kumaki Aaran dalam hati karena membuatku memperlihatkan kelemahanku di depannya.

"Aku minta maaf Anneliese."

Bangsat.

Kutolehkan kepalaku ke arahnya, sudah terlambat untuk memasang senyum palsu yang selanjutnya kusesali. Suara yang bergetar dan datar keluar dari bibirku. "Apanya?"

Goblok. Gua manusia paling goblok. Nada suara itu sama saja aku mengakui ada yang salah denganku. Wajah yang harusnya kupasang adalah polos, tidak peduli dan fuck that! aku seharusnya tidak memberinya kesempatan untuk melihat luka itu. Anneliese yang tolol gak sadar kalau ternyata dia ketakutan dan marah sampai butuh pelatuk untuk membangunkannya dari bius lokal di kepalanya. Tolol, dan itu pakai banget. Seharusnya aku tidak menguji kemampuan pengendalian diriku cuma karena ego.

Bagiku yang paling penting adalah semua sudah berlalu. Kesalahan apapun dan luka masa lalu seharusnya tetap berada di pojok dinding ruang hatiku yang paling gelap dan dalam agar terlupakan dan tak tertemukan. Tak tersentuh sama sekali. Dan onggokan dendam yang seharusnya seperti jarum kutukan milik sleeping beauty itu merobek kemana-mana, menghantarkan rasa sakitnya ke jantung dan paru-paru.

Aku menekan suatu titik di dadaku dengan ujung ibu jari karena hal itu sudah menjadi kebiasaan. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan kenapa organ-organ tubuhku bereaksi terhadap stressku? Dokter? Aku tidak pernah bertanya dan berkonsultasi sekalipun karena jawaban terakhir yang ingin kudengar adalah aku akan bergantung pada obat anti-depresan. Itu menyedihkan.

Kutelusuri pelipisku dan mengabaikan Aaran yang melihatku terkejut. Dia tahu tentang hal ini dan aku mau tak mau membenci sekeping informasi tidak penting yang kini bisa digunakan untuk menyerangku. Dua orang pria pernah mencoba meminta maaf padaku. Demian si mantan pertama dan Gan si mantan kedua. Aku mencoba berteman kembali, mencoba melakukan rujuk tapi semua perasaan yang kurasakan pada mereka tidak pernah kembali. Kehampaan masih menggantung di kedua mataku saat melihat mereka.

Di dalam masa rujuk itu Demian mengaku dialah yang membuat seluruh anak di kelas melakukan bullying padaku. Reaksiku begitu tenang hingga dia merasa semakin bersalah dan itulah tujuanku. Bagaimanapun, dia salah satu dari sumber trauma terbesarku.

Gan, dia tidak berubah sama sekali. Sifat dan pola pikirnya tidak membuatku terkesan sama sekali. Dia terlihat seperti bayi jika kubandingkan dengan Lua yang mantan ketigaku dimana pria yang lebih tua tujuh belas tahun dariku itu mengajariku soal hubungan antar orang dewasa. Lalu apa yang membuat pria di depanku ini lebih baik dari mereka?

Kujelaskan bagaimana orang-orang menyakitiku dan dia tetap melakukannya. Dia jauh lebih buruk dari orang yang tidak tahu bagaimana untuk menyakitiku.

Dibasuhnya lukaku dengan madu dan desinfektan. Saat luka itu kering, tanpa peduli dia menyobeknya paksa dan menancapkan kukunya disana hingga luka itu bertambah dalam juga melebar. Menghabisiku dalam satu cabikan besar dan merendam lukaku dalam air garam.

Dia tidak lebih baik dari siapapun.

Pikiran itu menyentakku supaya bisa membuat keadaan normal yang tadi bisa kembali. Tapi aku terlambat jutaan tahun. Aaran bisa melihat luka yang ia buat ada di mataku. Luka yang mengatakan bahwa aku kalah dan mereka yang membuat luka itu menang.

Pernah mengerjai anak kecil hingga menangis? Kalau kau pernah atau melihat hal itu dilakukan, kau pasti tahu apa yang selanjutnya terjadi; mereka tertawa bagi yang benar-benar cukup naif untuk tidak menyadarinya sebagai bentuk penghinaan. Kebanggaan akan mewarnai tawa mereka bersama dengan kesenangan dan kepuasan. Mereka berkuasa atas sebuah kehancuran entah kecil atau besar dan aku tidak hidup untuk memberi kepuasan semacam itu. Pada siapapun.

Dunia tidak boleh melihatku mengemis rasa kasihan atau apapun yang mengindikasikan hal tersebut. Egoku tidak akan menginjinkannya sampai kapanpun.

Tapi seseorang muncul dari dalam gedung dimana kantor yang seharusnya kujaga kini kutinggalkan hanya dengan seorang resepsionis saja. Aku menatap Dheo yang berjalan ke arahku dan membawa bola basket di jarinya. Pemuda itu dengan gaya soknya yang seperti biasa melempar bola ke arahku dan mengenai tangan Aaran di lenganku. Aku tercengang karena pengalihan itu berhasil membuatku lepas dari pikiran-pikiran gloomy barusan dan siap mengucapkan kata WOW di dalam hati saat Aaran dengan pelan melepaskan tangannya dariku.

"Sorry dude, my bad. Vai!" Dheo dengan santai mengucapkan kata permintaan maafnya kemudian memanggil namaku dan berdiri di hadapanku.

"Itu bola yang tadi kupinjem. Kunci gudang penyimpanan gak ketemu kata Ai, kamu bawa kan? Cepet masuk terus bukain pintunya."

Apa baru saja dia menolongku?

Itu bola tuh yang punya elu! Dan gudang penyimpanan kan gak pernah ditutup oi. Damn. I owe you one, Dheo.

"Say Aaran. Let's talk later,"ucapku pada Aaran yang matanya melihatku dengan Dheo penuh spekulasi. Dia terlihat seperti tertangkap basah sedang meneliti ekspresi di wajah kami lalu kemudian menjawab dengan suara sedikit aneh. "Yeah. Sure."

Sure my ass. Dia aja keliatan ragu gituh? Oh yeah, terserah.

Kuberi sebuah senyum pada anak kecil cantik di tangannya dan melambaikan tangan kemudian mengikuti Dheo yang sudah berjalan mendahuluiku untuk menahan pintu. Kakiku melangkah masuk dan menutup pintu sebelum Aaran mengucapkan kata terakhir yang bisa kudengar.

"Namanya Anggun."

Saat sudah di dalam aku segera berjalan melewati Ai lalu melempar isyarat tangan untuk ke kamar mandi yang ditanggapinya dengan menatapku seolah wajahku berekspresi siap dipancung oleh penjagal. Dan memang begitulah perasaanku barusan. Aku seperti dipenggal dan bangkit dari petiku; siap memuntahkan dendam kesumat ratusan tahunku pada siapapun. Anggun? dengusku dalam hati. Arti namaku adalah 'penuh dengan keanggunan' tidak begitu jauh dari nama anak perempuannya.

Aaran benar-benar tahu cara dan kapan waktunya melemparkan lelucon kotor.

Dengan langkah cepat aku berjalan ke arah kamar mandi dan membuka pintunya cepat. Kupilih bilik paling ujung kemudian menguncinya sebelum menempelkan punggungku di pintu. Aku bernafas cepat melalui sela gigi yang tertutup dan membuangnya lewat hidung untuk meredakan stress. Ketika semua akal sehatku bisa kembali ke tempatnya dan tidak bercampur dengan perasaan lagi aku keluar dari bilik.

Kucuci mukaku dan mengabaikan riasan wajah yang menghilang dan menunjukkan wajahku yang sebenarnya. Bayanganku di cermin membuatku mengerutkan hidung jijik. Aku tampak menyedihkan. Ingin bersembunyi dan tidak pernah muncul lagi. Ingin kabur dan tidak kembali. Aaran boleh mencariku sampai dia mati kalau dia mau dan aku akan tetap tidak bisa memaafkannya. Rasa marah dan kekecewaan itu memang menjadi samar karena waktu, tapi lukanya akan tetap ada.

Tapi apa yang kubutuhkan sekarang adalah rencana. Sebuah rencana untuk tidak mendapat luka baru karena masuk permainan Aaran.

Kuputar bola mataku dan mengejek diriku sendiri dengan seringai di wajahku. Semua hal yang kupikirkan nantinya tidak akan sepenuhnya berguna. Insting alamiku yang akan bekerja menggantikannya dengan mendadak saat Aaran dan aku bertemu.

Bosan dan penasaran melalui hari menunggu waktu kerjaku berakhir. Aku ingin pulang dan tidur. Merasa aman di kasurku yang kecil dan berantakan dengan selimut yang sudah lama tidak dicuci serta Salmon kucing hitamku yang selalu rusuh bersama Mackarel saudaranya yang berwarna hitam putih. Perasaanku mengatakan Aaran tidak ingin aku menjadi sekedar mantan pacar garis miring teman garis miring sahabat. Dia seolah ingin kembali dan melalui hubungan pria wanita yang dulu kami lakukan. Bitch please, siapa yang mau kembali dengannya?

Semua cewek normal mau sama cowok kaya, ganteng, badan bagus dan keren kayak dia, Ann.

Dan aku bukan cewek normal yang mau jalan sama cowok yang udah ninggalin dan pulang-pulang dari binaria dia bawa anak. Emang gua sebego itu? tambahku kesal. Kuharap setelah apapun yang akan kami lalui nantinya dia akan menyerah seperti Gan.

Dheo menghilang entah kemana dan dua anggota kelab basketnya sedang menunggu di pinggir lapangan untuk menunggu teman mereka yang lain. Reservasi atas nama Dheo si point guard sialan itu seharusnya dijadwalkan pukul tujuh dan artinya tiga puluh menit yang lalu. Saat ini beberapa sudah berkumpul tapi mereka tidak juga bermain dan hanya duduk-duduk di pinggir lapangan dimana sofa empuk disediakan untuk mereka.

Aku pun berjala ke arah pemuda-pemuda berkulit gelap karena gen yang mereka bawa. Mereka sedang tertawa dan bercanda saat aku datang, Dheo tidak ada di antara mereka. Pembicaraan mereka berhenti saat melihat kedatanganku kemudian memusatkan perhatian padaku. Itu, jujur saja membuatku jengah. Aku tidak begitu suka bentuk perhatian semacam ini.

"Mana Dheo?"

"Gak tahu mbak." Salah satu dari mereka menjawab dari tempat duduknya.

Lalu tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, wajahnya datar dan alisnya memberi isyarat bertanya. Dheo berdiri di belakangku dan aku membalikkan badan untuk menghadapinya. Aku bersumpah bahwa aku tidak nyaris mengeluarkan suara seperti tercekik saat dia mengejutkanku barusan.

"Mulainya jam tujuh kan? Gapapa nanti diitungnya dari jam tujuh?"

"Iya. Gapapa kok."

Dia memakai jins biru dongker dan jaket biru muda dengan garis sewarna jinsnya di bagian lengan. Muka seriusnya mengintimidasiku dan itu sangat amat menyebalkan karena tinggi tubuhnya yang seperti Aaran membantu untuk mengirim rasa takut padaku. Tatapan matanya tajam dan sedang berusaha membaca reaksiku yang kututpi. No way in hell aku memberitahukan padanya dengan ekspresi bahwa dia membuatku takut.

Aku pun kembali ke mejaku dimana Ai teman kerjaku sudah pulang sejak tadi. Dan Dheo mengikutiku dari belakang. Apa ini? Mau minta balasan karena sudah menyelamatkanku dari Aaran? Aku tidak akan heran kalau dia meminta perpanjangan jam pemakaian lapangan dan kalau itu yang dia mau aku sama sekali tidak masalah. Hanya saja, itu benar-benar rendah, dan bukan urusanku selama dia tidak meminta nomor ponsel, pin, facebook, atau hal lainya karena biasanya itu yang diminta cowok lain. Tapi toh dia tidak pernah memperlihatkan memiliki rasa tertarik padaku.

"Vai, minggu depan ada jadwal yang kosong buat jam enam?"

Entah harus kecewa atau lega dia tidak ingin mengambil kesempatan dariku. Dan pikiranku berkhianat dengan menjanjikan hal itu akan terjadi sewaktu-waktu saat aku lengah.

Suaranya dalam dan nyaris-nyaris membuatku gentar karena takut juga penasaran. Kuberi isyarat supaya ia menunggu sementara jemariku sibuk menyentuh layar komputer di depanku untuk melihat jadwal minggu depan. Kuputar monitornya untuk memperlihatkan jadwal sebulan ke depan agar ia bisa menyimpulkan sendiri.

"Sorry, gak ada. Penuh semua gini. Senin dipakai anak Surabaya yang ikut NBL, Rabu-Kamis jam tujuhnya dipakai sampai jam sembilan. Sabtu lapangan atas-bawah dipake semua. Minggu dipake dari jam empat sampe jam enam. Kalau mau minggu sih gak apa-apa, tapi biasanya kalian kan makenya hari rabu."

"Selasa sama jumat dipakai sama S-pecial?"

"He'eh," aku memverivikasinya sambil menyandarkan punggung pada kursiku yang bisa diputar-putar. Selasa dan jumat selalu dikosongkan karena digunakan kelab utama tempat ini. Mataku beralih ke arah lapangan basket dan melihat samar teman-temannya yang sedang bermain bakset. Dheo membuat gerakan yang kutangkap dari ujung mataku sedang mengeluarkan seseuatu dari saku celana belakang jinsnya. Ia mengambil kartu kredit dari dompet yang ia keluarkan itu dan memberikannya padaku.

"Hari ini sampai jam delapan aja Vai-"

Kalimat terusannya adalah gumaman samar kenapa mereka ingin menghentikan latihan dengan kata 'hujan' dan 'anak-anak' yang terdengar jauh karena aku sedang mengetikkan instruksi untuk struk pembayaran padanya. Dheo lalu kembali ke habitatnya setelah melempat tatapan aneh yang selalu kuhindari karena matanya menatap ke mataku menggunakan cara yang membuat perutku melilit.

Kemudian beberapa orang datang dan menanyakan jadwal untuk jam enam seperti Dheo barusan. Aku tersenyum meminta pemakluman karena jadwal yang padat dan selalu penuh lalu memberi penawaran untuk hari minggu ketiga bulan ini serta memberikan nomor telepon kantor untuk dihubungi jika mereka setuju.

Ini sudah sepuluh menit lebih dari waktu yang dijanjikan oleh Dheo untuk berhenti bermain saat para penawar tadi pergi. Aku pun berjalan ke lapangan dan mencari Dheo yang sedang mendengarkan sesuatu dari headset di telinganya. Dia duduk di sofa paling ujung, terletak di pojok dan aku tidak ingin memanggilnya dengan teriakan.

"Panggilin si Dheo dong," kataku pada salah satu dari mereka.

Dheo yang melihatku duluan segera berjalan dengan langkah gontai yang membuatku kesal. "Kenapa Vai?"

Kenapa kepalamu ubanan! Lu udah telat sepuluh menit monyet. Udah nyewa lapangan cuma sejam aja udah ngelanggar peraturan dan gua bisa kena omel si bos, ini pake telat lagi.

"Gini, ini kan udah jam delapan lewat-"

"Iya?"

Ini dia, kataku sambil meringis di dalam hati. Intimidasi aja gua. Muka gua emang udah kayak budak belian minta di-bully kok. Aku mengejek diriku sendiri yang begitu mudah merasa terdominasi oleh pemuda yang umurnya mungkin sama denganku. Sikapnya tidak dibuat-buat, ia merasa terganggu oleh kedatanganku seolah ada kesepakatan antar galaksi yang sedang dia buat dengan dua kabel di telinganya. Aku ingin memberinya muka khawatir dan cemas pada nasibku yang sebenarnya sedang kualami tapi sesaat tersadar, itu akan memberinya kepuasan. Aku memberinya deadpanned sebagai balasan.

"Kalau lampunya dimatiin entar kita berenti kok, Ann." Nada yang ia berikan menantangku untuk melangkah lebih jauh tapi bagian ia menyebut namaku untuk penekanan, itu murni pengejekan.

"Oh. Oke."

Mataku menatap saklar dan segera berjalan ke sana untuk mematikan lampu lapangan dan seruan-seruan dari teman-temannya terdengar seiring langkahku saat kembali ke mejaku. Tidak seperti perkataan Dheo tadi, teman-temannya masih bertahan disana sampai aku hendak melakukan pembukuan dan mengirimkan laporan hasil kerjaku ke atasan. Pada pukul setengah sembilan mereka baru bergerak keluar dari pintu dan tatapan terakhir Dheo yang seperti memberiku peringatan membuatku bergidik.

Peringatan tentang apa?

Apa lagi ini?

Tak ambil pusing aku membereskan meja dan mematikan komputerku. Kemudian aku membereskan barang-barang dan mengunci etalase serta melakukan beberapa hal sebelum akhirnya aku pun absen di mesin sidik jari. Kupakai jaket parasut hitamku dan memasang headset yang tersambung dengan ponselku untuk jaga-jaga ada telepon masuk sekaligus penghibur jalanan di saat pulang. Kulemparkan senyum untuk menyalami para penjaga gedung yang kulewati saat menuju keluar gerbang kompleks bangunan tempatku kerja.

Lagu Monster milik Imagine Dragon mengalun di telingaku yang berjalan menuju perempatan dan berbelok ke kiri untuk mencapai tempat perhentian bis. Lagu ini membuatku terhenyak kadang karena liriknya yang terasa anehnya cocok denganku.

If I told what i was, would you turn your back on me?

And if I seem dangerous, would you be scared?

Beberapa orang tidak tahu, sebagian tidak sadar, dan ada yang tahu kemudian tidak peduli lalu ada juga mereka yang sepertiku. Hal yang selalu terjadi ketika mereka tahu atau muak, mereka akan pergi dariku karena aku seorang monster.

A monster, a monster I turn into a monster, and it keeps getting stronger.

Tanganku secara otomatis merogoh ke dalam saku jaketku dan mengeluarkan kartu bisku untuk dipindai oleh mesin. Semua berjalan dengan monoton, tubuhku sudah mengingat bagaimana aku harus masuk ke dalam bis tanpa ada perintah lengkap. Sementara itu, aku bisa mengembarakan pikiranku ke tempat lain.

Dari semua mantanku, aku tidak pernah mengira Aaran ada di tempat pertama untuk menghancurkan ketenanganku yang saat ini tidak berhubungan dengan siapapun. Yang hanya semalam memang banyak, sampai teman-temanku merasa takjub mendengar rekorku yang umurnya beda jauh dengan mereka. Kadang, aku merasa sangat kotor dengan jumlah kekasih semalamku itu.

Dan kuanggap begitu pun semua orang dengan jumlah partner di tempat tidur yang jumlahnya dalam dua tahun saja lebih dari seratus orang.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top