1. Kapitel
Yusveelis panik, nyaris napasnya membeku saat itu juga. Ia bersama rekan kerjanya, Morstan, serta jenderal perang tertinggi Alterium, Fe, tengah berbincang-bincang di atas balkon Istana Alterium ketika seorang penyihir berjubah hitam—magi lebih tepatnya—muncul di hadapan mereka.
Padahal, sebelumnya, mereka bahkan berada dalam ketenangan. Semenit lalu, mereka baru saja membicarakan sebuah berita buruk: Alterium diserang. Sebuah portal dimensi lain—mengikuti portal-portal lainnya yang menganak—telah muncul di dekat pesisir Laut Terra. Portal-portal tersebut menancapkan sulur-sulur energi arkana raksasa—memunculkan entitas-entitas baru dan makhluk-makhluk mistis yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Makhluk-makhluk bersayap seperti wyvern, naga, griffin, garuda, dengan segala keagresifannya, berhasil memporak-porandakan sebagian besar infrastruktur dan melumpuhkan jaringan leyline utama di beberapa distrik Alterium. Banyak orang—termasuk mata-mata kerajaan—yang berusaha menapakkan kaki ke dalam portal. Usaha mereka terbayar dengan nyawa mereka sendiri. Dua-tiga orang yang berhasil mendekati portal tersebut sedekat mungkin, mengabarkan mengenai sebuah pemandangan asing yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Beberapa detik lalu, seekor burung gagak hinggap di dekat birai balkon saat matahari hendak terbit dari cakrawala. Berbalutkan bulu obsidian dan netra emas, Fe tahu bahwa burung ini bukan burung biasa. Burung tersebut memancarkan aura manusia—yang berarti, hewan ini hanyalah sebuah wujud yang dimanipulasi oleh seseorang. Burung itu semakin dekat ... dekat ... dan hinggap di lantai istana. Tidak hanya Fe, Yusveelis—penyihir kerajaan—dan Morstan—prajurit dan penembak imperial—juga merasakan presensi seorang makhluk lain di dekatnya. Memberi isyarat pada kedua pemuda tersebut, Jenderal Perang Alterium itu mundur perlahan-lahan dan menyiapkan kuda-kuda magisnya. Morstan, siap dengan bidikan senapannya, begitu pula tongkat Yusveelis yang memancarkan cahaya kebiruan. Mereka bertiga dalam posisi siaga.
Baru saja, burung itu berputar-putar sejenak di dekat pusat lantai balkon istana, sebelum menguarkan asap kelabu yang terus-menerus menutupinya. Burung tersebut, perlahan tetapi pasti, bertransformasi dan kembali ke wujud aslinya—seorang manusia, tidak, seorang penyihir, berjubah hitam dengan tudung yang menutupi setengah bagian dari wujudnya, membuat identitasnya sukar dikenali. Cahaya arunika yang terbit dari kejauhan amat kontras dengan asap pekat yang menguar dari tubuh orang ini.
Mengeluarkan pedang, Fe bertanya dengan hati-hati, "Siapa kau, wahai orang asing?"
Penyihir tersebut, dengan tersenyum, mulai berbicara, "Saya adalah utusan sang Pembuka Gerbang, Tuan."
Morstan, pria kekar berambut pirang di samping kiri Fe menyipitkan kedua matanya—termasuk mata kirinya yang memiliki bekas goresan luka--sebelum sontak menyahut, "Pembuka Gerbang? Maksudmu, pembuka portal di Alterium—"
"Ya, Tuan-Tuan sekalian, Dialah sang pembuka gerbang di negeri kalian," potong sang penyihir.
Yusveelis, magi wanita yang ada di samping Fe, menggertakkan giginya mendengar pernyataan dari sang penyihir. Mata biru lautnya menatap tajam pada wajah sang penyihir yang tertutup tudung. Wanita berambut pirang panjang tersebut segera menitikberatkan seluruh energi tangannya pada ujung tongkat seraya bertanya, "Apa yang Tuanmu inginkan, sebenarnya? Apa dia ingin Alterium runtuh dan menobatkan dirinya sebagai penguasa baru?"
Fe menginterupsi, "Yus!—"
"Wohoo, tentu saja tidak, gadis yang manis. Tuanku punya alasan tersendiri untuk itu, dan dia sama sekali tidak berniat menguasai kerajaan kalian yang mahakecil," sahut sang penyihir spontan.
"Kecil, katamu?" bentak Morstan dengan nada marah sambil mengepalkan kedua tinjunya.
"Morstan, cukup," kata Fe pelan. "Jangan basi-basi. Tolong katakan saja apa yang tuanmu inginkan," ucap Fe kepada sang penyihir.
"Tidakkah kalian tahu, apa yang diinginkan tuanku, Azhi Dahaka? Untuk mengembalikan Alterium ke versi orisinalnya, tentu saja."
Ketiganya seketika terperanjat mendengar nama tersebut. Wajah Yusveelis dan Morstan pucat pasi, tangan mereka gemetaran, dan gigi mereka gemeretak. Fe, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, ketika sang penyihir kembali berkata, "Jika kalian tidak mau berkoordinasi, kalian tahu apa konsekuensinya."
Hah! Tentu saja, batin Morstan.
Fe, yang mengenakan baju perang berlapis perak, menatap tajam ke arah wajah sang penyihir yang tertutup tudung hitam, seraya bertanya, "Untuk apa Tuanmu menghancurkan tanah ini jika ia ingin menghidupkannya lagi?"
"Sebelum kalian eksis, tanah ini, Alterium, adalah kepunyaan Tuanku yang sah," ucap sang penyihir tegas, "maka sudah sepatutnya tanah ini kembali ke pemilik asalnya."
Yusveelis, masih menyiapkan kuda-kuda dalam balutan gaun asuranya. tiba-tiba angkat bicara, "Memangnya siapa suruh dia menelantarkannya begitu saja? "
Fe menambahkan, "Sejak awal, tanah ini sudah diwarisi berabad-abad oleh leluhur ras kami, maka semestinya kami juga punya hak untuk membela apa yang menjadi tanggung jawab kami!"
"Tanah yang kalian kotori dengan bisnis prostitusi dan kemunafikan, tentu saja," kata sang penyihir dingin.
Air muka Yusveelis dan Morstan seketika mengeruh, telinga mereka terasa panas, kepalan tinju mereka semakin kuat. Sebulir keringat mengalir dari pelipis Morstan yang berurat, selagi mata coklatnya menatap lekat sang penyihir. Pun dengan Yusveelis yang berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya agar tidak meluap.
"Pergilah dari sini, penyihir terkutuk. Kembalilah ke lubang tikusmu! Beri tahu Azhi, aku tidak takut akan ancamannya, kekuatannya, atau sikapnya yang arogan itu. Jika dia bersedia melakukan genosida, maka dia mesti melangkahi dulu mayatku. Demi Dewa, Alterium tidak akan runtuh selama aku hidup!"
"Anda melihat sebuah burung menukik ke bawah, dan berpura-pura tahu ke mana arah angin akan bertiup. Memang akan ada angin, Nyonya, yang akan menyapu kesombonganmu, hari ini," tutup sang penyihir sembari menunjukkan batang hidungnya pada Fe.
Dengan lagak mengejek, sang penyihir menyunggingkan senyumnya dan membungkukkan badannya sedikit, kemudian berubah wujud menjadi seekor burung berwarna hitam. Yusveelis dan Morstan hendak menghabisi penyihir ini, tetapi Fe sudah lebih dulu ada di barisan depan, siap melancarkan serangan terakhirnya. Ia muntab, kehilangan kesabaran.
Sebelum burung itu lepas landas dan bermanuver di udara, Fe sempat berterriak, "Saya, juga bisa mengendalikan angin, penyihir terkutuk! Saya punya dua badai dalam diri saya yang akan mencincang habis Azhi jika dia berani menginjakkan kakinya kemari!"
Tak mengacuhkan teriakan Fe, burung berbulu hita, itu tetap bermanuver ke atas dirgantara, lalu menghilang di sela-sela awan. Yusvee dan Morstan terperangah menengok reaksi Fe yang belum pernah tampil sebelumnya. Masih dibakar amarah, Fe menghela napasnya dalam-dalam, lalu berbalik dan menghantamkan wajahnya pada dua prajurit muda di tengah balkon. Wajahnya menyiratkan keseriusan sekaligus kekhawatiran yang mendalam.
"Yusve. Morstan," kata Fe tegas. "Bisakah kalian melakukan investigasi tentang siapa dalang yang berada di balik semua penyerangan ini? Sekalian juga, jika kalian menjumpai penduduk desa-desa di perbatasan yang sedang diserang, segera evakuasi mereka."
"Sekarang, Nyonya?" tanya Morstan ragu-ragu.
"Tentu—kalian berdua—pergilah ke Catena lewat teleportasi sekarang juga! Ayo! Kita tidak punya banyak waktu! Aku akan segera mengabarkannya ke para dewan istana, raja, dan seluruh rakyat. Sementara itu, akan kuperintahkan penjaga istana untuk mengurus semua keperluan kalian," sahut Fe sambil mengambil langkah-langkah cepat dan besar.
"Oh, ya, jika kalian melihat dua kakak-beradik pelintas semesta—Jddan dan Jexe Rofolt--waspadalah! Banyak rumor beredar bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan ini, mungkin juga mereka adalah kaki tangan Azhi Dahaka!" teriak Fe yang tengah tergesa-gesa menuruni balkon istana yang berlantaikan marmer, meninggalkan Yusveelis dan Morstan sendirian.
Yusveelis, mengingat perkataan Fe, melonggarkan genggamannya pada Sraum, tongkat magis miliknya. Pada bagian atas tongkat itu, dikelilingi sisi-sisi tajam yang mampu merobek kulitnya sendiri, dengan bertahtakan permata biru pada bagian tengahnya—pusat energi arkana yang terorganisir. Batang pegangannya memiliki ukiran yang mencakup hingga bagian bawah. Wanita berambut pirang itu menatap rekan kerja di sebelahnya dengan tatapan gelisah. Morstan, di sisi lain, juga sama gelisahnya. Membanting pandangannya ke sekeliling istana, Morstan melihat tidak ada satu pun staf dan pejabat Istana Alterium yang terlihat di dekat sini.
Mungkin mereka masih tertidur setelah perayaan, semalam, pikir Morstan.
Mengigit pangkal bibir merah ranumnya dalam kegugupan, Morstan menuruni balkon istana, memanggil Yusveelis dari kejauhan, "Mari! Kita mesti berangkat sebelum matahari mencapai sepenggalan! Kita tidak boleh diam saja!"
Tergesa-gesa, mereka berdua segera menyiapkan kuda terbaik dari istal istana dan memasukkan perbekalan di dalam ransel yang dikaitkan ke punggung kuda. Dengan dibantu oleh seorang penjaga istal istana yang baru terbangun, mereka berdua berkuda, merobek keheningan pagi, di jalan utama menuju Pulau Catena. Mereka bahkan belum sempat menyampaikan salam perpisahan pada teman, saudara, apalagi sanak keluarga. Di saat sebagian besar penduduk Alterium masih terlelap dalam tidurnya, mereka berdua memenuhi jalan utama kota dengan kepakan debu dan tepukan kaki kuda. Ibukota Veros menjulang tinggi, dengan rumah-rumah penduduk, akademi, patung, dan kuilnya yang megah—seakan melambaikan perpisahan untuk mereka.
Sebelum Yusveelis dan Morstan menapaki gerbang utama, mereka sempat mendengar jeritan terompet raksasa di kejauhan, pertanda agar seluruh rakyat berkumpul di balairung kota.
Yusveelis benar-benar tidak mengharapkan kejadian semacam ini akan terjadi sebelumnya. Ia sebenarnya enggan untuk meninggalkan keluarganya, terutama pada saat-saat genting semacam ini, 'tapi sebagai bagian dari rakyat Alterium, sudah menjadi kewajiban bagi wanita itu untuk melindungi rumahnya.
"Kekuatan teleportasiku ... akan cukup untuk menjangkau pesisir Catena ... jika kita mencapai pinggiran Veros, gerbangnya ...," ucap Yusveelis yang tergesa-gesa menyusul Morstan.
"Tidak bisakah teleportasimu membawa kita saat berkuda seperti ini? Kita mulai kehabisan waktu!" balas Morstan yang sedari tadi menunggu Yusveelis di depan.
"Bisakah kau memperlambatnya? Oke, oke, sabar ...," kata Yusveelis yang baru saja sampai di dekat Morstan. Ia terlihat sedikit megap-megap dan berkeringat."
Mengucapkan mantra pembuka gerbang, mata biru dan Sraum milik Yusveelis berpendar, memancarkan cahaya kebiruan, sementara garis-garis tipis berwarna asura mengelilingi mereka berdua. Dengung magis berdentingan di sekitar mereka, sementara Morstan memandang wanita di sampingnya dengan nanar. Yusveelis memusatkan seluruh energinya ke arah langit, dan dari ujung tongkatnya tercipta robekan ruang waktu yang semakin besar. Pikirannya berkonsentrasi hanya pada satu destinasi: Pulau Catena.
Tenggelam. Baik Yusveelis dan Morstan sesaat merasakan sensasi tenggelam ke dalam lautan yang besar, badan mereka seperti ditarik seluruhnya oleh sesuatu. Baik jantung Morstan maupun Yusveelis berdebar-debar menunggu hilangnya kegelapan yang tiba-tiba menyelimuti mereka berdua. Untuk beberapa saat, Yusveelis pikir mereka mendarat di tempat yang salah, tetapi tidak. Pada kejapan berikutnya, mata mereka sudah bisa menangkap bentangan pasir buram yang mereka injak. Hentakan gelombang pasang yang ada di belakang dan aroma khas laut yang menguar membuat mereka yakin, bahwa mereka benar-benar mendarat di pesisir Catena. Hanya saja, matahari kini telah berada di bawah cakrawala. Yusveelis tidak percaya jika hari benar-benar sore. Itu artinya, metode teleportasinya manjur.
Yusveelis melirik Morstan yang sedikit terperangah melihat lanskap baru yang ada, lalu berucap, "Kau tidak apa-apa?"
"Ya," kata Morstan sambil membuka tudung kepalanya, "aku baik-baik saja."
"Kalau begitu, mari, ke desa setempat, sambil mencari tempat untuk beristirahat juga," ujar Yusveelis.
Morstan, memanggul senapan ramping di bahunya, menjalankan kudanya menyusuri pesisir pantai, sebelum diekori oleh Yusveelis. Mata mereka menengadah ke arah barisan pepohonan lebat yang menjulang tinggi di dekat pantai. Kanopi-kanopi oak dan jati menciptakan bayangan besar yang teduh di antara vegetasi bunga, rumput liar, dan berbagai tanaman rambat yang mendominasi di dekat tepian tebing Catena. Yusveelis merasa beruntung sekali ia berhasil mendarat di tempat yang tepat. Salah-salah, mereka bakal tenggelam di dasar laut, dan itu sama sekali tidak lucu.
Morstan, di sisi lain, menangkap bayangan sebuah pulau lain, jauh di seberang sana. Mungkinkah mereka mendarat di pulau yang salah? Setahu Morstan, sihir milik penyihir kerajaan selalu tepat sasaran. Ditambah lagi, mereka tadi berhasil mendarat di tepi pantai.
"Apa kau yakin kita mendarat di Catena?" tanya Morstan skeptis.
Yusveelis menyeru balik pada partnernya, "Aku yakin, lagipula vegetasi seperti ini hanya ada di Pulau Catena, bahkan—"
Telinga Yusveelis menangkap sesuatu yang janggal. Ia dapat mendengar sesuatu yang bising ... dari arah barat daya. Kebisingan ... tidak, suara jeritan.
Jangan sekarang, kumohon, desis Yusveelis.
"Kau dengar itu?" kata Morstan terkejut sambil memacu kudanya mendekati sumber suara.
"Ya ... aku dengar, suara itu semakin dekat!" jawab Yusveelis yang penasaran.
Keduanya saling berpacu, tak menghiraukan jika mesti menembus rerumputan yang tingginya nyaris selutut, atau ranting-ranting oak yang merintangi pandangan mereka. Semakin mereka berpacu, suara tersebut semakin jernih, dan bercampur dengan suara-suara lain. Dari kejauhan, asap pekat membumbung tinggi.
Langkah kuda mereka kian melamban tatkala mereka disuguhi pemandangan yang mengerikan. Di bawah bukit tempat mereka berada, sebuah desa besar diserang oleh beberapa naga yang memporak-porandakkan rumah penduduk. Api menyebar, merambat ke nyaris seluruh bagian kanan desa—yang berhadapan langsung dengan Laut Terra. Seisi penduduknya kocar-kacir. Beberapa ada yang melawan, tetapi dengan cepat mereka dikalahkan oleh semburan api yang merajalela.
Dengan tatapan horror, Morstan menyeru pada partnernya, "Ayo!"
Derap-derai kuda mereka memburam, bersama pekikan orang-orang yang berlarian. Berusaha mengontrol kudanya, Yusveelis bersiap-siap menembakkan misil magis dari ujung tongkatnya ketika mereka mendekati gerbang desa. Morstan dengan sigap meraih senapan di bahunya dan membidikkannya ke arah naga terdekat.
"Tembak matanya!" pekik Yusveelis.
Dari batu safir yang ada di ujung tongkatnya, Yusveelis menembakkan bola-bola petir, langsung ke arah mata salah satu naga yang membakar rumah penduduk. Pun dengan Morstan yang merobek sklera naga lain dengan pelurunya. Kedua naga tersebut meraung kesakitan, darah mengalir segar dari pelupuk mata mereka. Atensi naga-naga itu seketika terpusat pada dua pemuda yang berada di ujung desa.
"Jangan beri mereka kesempatan, cepat tembak lagi!" kata Morstan.
Memusatkan seluruh energinya, Yusveelis menyemburkan tiga misil kristal dari tongkatnya. Tiga kristal tadi terpecah lagi menjadi dua bagian, mengoyak udara di sekitarnya, kemudian menghantam bagian bawah perut-perut naga yang bermanuver di atas. Sementara itu, Morstan kembali menembakkan rentetan peluru pada bagian-bagian vital makhluk itu, berharap bidikannya tidak meleset. Naga-naga tersebut kelihatan mundur ke Laut Terra.
"Kita mesti mengevakuasi penduduk, Tan! Cepatlah!" seru Yusveelis.
Tanpa bertanya dua kali, mereka langsung mengevakuasi para penduduk ke atas bukit, mengatakan bahwa mereka adalah utusan Raja Alteriya II yang ditugaskan untuk menginvenstigasi kejadian ini.
"Bagaimana mereka bisa menyerang kalian?" tanya Yusveelis saat berada di tengah kerumunan.
"Merekalah ...," kata salah satu penduduk yang menunjuk ke arah dua orang asing yang tengah berdiri di ujung kerumunan.
"... penyebabnya!" sambung penduduk yang lain.
"Artefak yang mereka bawa—dan mereka juga pelintas semesta! Tidakkah kalian rasa ada sesuatu yang janggal dari mereka—yang menyaru di sini?"
Morstan memincingkan matanya sembari melirik ke arah benda usang yang mereka bawa. Laki-laki itu membuka tudungnya, menghampiri mereka berdua. Orang yang ditunjuk oleh salah seorang penduduk tadi berambut cepak, memakai atasan gelap untuk ukuran tubuh yang proposional. Sedangkan orang di sebelahnya—yang terlihat lebih muda—bermata merah, berambut panjang, dan lebih kurus. Di tangannya melilit sebuah gelang yang berkilau.
Kakak-beradik. Pelintas semesta. Artefak ... mungkinkah? pikir Yusveelis.
"Di sini, kalian berdua rupanya," desis Morstan.
"Morstan!" desis Yusveelis balik.
Menatap mereka, Yusveelis berkata, "Maaf sudah menganggu kalian, tetapi maukah kalian katakan apa tujuan kalian datang kemari? Tidak setiap hari Alterium kedatangan pelintas semesta yang membawa artefak, eh? Aku Yusveelis, dan ini Morstan. Kami prajurit imperial Alterium. Apakah kalian Jddan dan Jexe? "
Posisi dua orang itu—atau lebih tepatnya, kakak-beradik, langsung siaga.
"Benar. 'Tapi sayang, itu bukan urusan kalian," jawab Jddan ketus.
"Apa artefak yang kalian bawa juga bukan urusan kami?" sindir Morstan.
"Tentu saja, artefak itu akan menjadi urusan kalian," jawab Jexe dingin, "begitu ada di tangan kalian."
"Lalu kapan kami bisa memilikinya?" tanya Yusveelis tidak sabar.
Jexe tersenyum dan berkata, "Setelah kalian melangkahi mayatku, tentu saja."
"Jadi, kami mesti merebutnya secara paksa?" ucap Morstan.
Yusveelis hendak menjitak Morstan, 'tapi Jexe sudah telanjur angkat bicara. "Tentu, negosiasi tidak selamanya jadi jawaban. Di semesta asalku, orang berjuang sampai mati untuk mendapatkan sesuatu."
"Kalau begitu, mari," ujar Morstan yang siap melayani mereka berdua, sementara Yusveelis terpaksa menyiapkan kuda-kudanya.
Tembakan demi tembakan meletus dari senapan Morstan yang diarahkan ke arah Jexe. Jexe dengan lihai, berhasil menghindarinya dan memperalat pohon-pohon di dekatnya sebagai tameng. Paralel dengan itu, Yusveelis berusaha menangkap Jddan dengan sulur-sulur arkana yang dimilikinya, tetapi gagal karena kecepatan Jddan yang sangat luar biasa.
"Gila," desis Yusveelis.
Merasa senapannya tidak efektif, Morstan beralih senjatake pedang yang dimilikinya. Jexe tersenyum, melihat laki-laki yang dianggapnyasebagai "bocah" telah melayaninya. Dikeluarkannya pedang tajam dari balikpunggung, dan kedua pedang mereka berbenturan, membentuk percikan yang luarbiasa.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top