Chapter X
"Good morning." Ucap Doyoung begitu melihat Junghwan keluar dari mobil, dengan snelli yang tersampir di tangan kiri dan tas kerja di tangan kanan, ia mengulas senyum tipis saat yang lebih tinggi membukakan pintu penumpang untuknya.
"Good morning, my prince." Balas Junghwan dengan gestur bak pengawal kerajaan, dan berhasil membuat senyum Doyoung makin lebar.
"What a great way to start a day." Pikir Doyoung dalam hati.
Doyoung menyempatkan diri untuk mengecup sisi wajah Junghwan sebelum masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang dan menyaksikan kekasihnya yang sibuk berlari ke seat sebelah setelah menutup pintu di samping.
"Sarapan." Ujar Junghwan sambil menyerahkan roti lapis yang masih hangat, "Aku udah makan separuhnya, sekarang giliran kamu habisin jatahmu, pokoknya harus habis." Titahnya kemudian, dan Doyoung mengangguk lalu mulai mengunyah makanan yang Junghwan berikan.
"Jangan ngebut." Ucap Doyoung di sela kunyahan, "Aku sebenernya masih takut naik mobil pribadi gini." Lanjutnya lagi.
"Kenapa? Padahal kamu sering naik bus dan mereka juga sering ngebut, kan?"
"Beda, Junghwan. Angka kecelakaan mobil pribadi tuh jauh lebih tinggi dibanding transportasi umum."
"Yaudah, anggap aja kamu lagi naik transportasi umum. Pas turun nanti jangan lupa tap di sini ya." Junghwan menyentuh bibirnya sendiri dengan telunjuk setelah selesai bicara, "Sama aja kan?" Senyum nakal menghias wajahnya ketika melihat Doyoung tertawa.
"Kenapa sih kamu susah banget diajak serius?" Protes Doyoung setelah berhasil menelan makanan yang nyaris membuatnya tersedak akibat gurauan Junghwan.
"Loh? Gak kecepetan? Belum satu hari kita pacaran tapi kamu udah ngajak serius?"
Candaan demi candaan terus keluar dari mulut Junghwan, membuat perjalanan menuju tempat kerja tidak terasa panjang dan menyeramkan bagi Doyoung. Junghwan sengaja mengalihkan perhatian karena tidak ingin Doyoung ketakutan seperti tempo hari ia menumpang di mobilnya.
"Pokoknya jangan lari, pelan-pelan kalau jalan, obatmu dibawa kan?" Tanya Junghwan tepat sebelum Doyoung membuka pintu mobil.
"Iya sayang iya, udah dibawa juga obatnya di sini." Jawab yang lebih kecil sambil menunjukkan tas kerjanya. "Aku udah boleh turun belum?"
"Ini belum ditap. Dilarang hutang di mobilku." Protes Junghwan, ia kembali menunjuk bibirnya sendiri dengan telunjuk.
Doyoung tersenyum gemas lalu menuruti permintaan Junghwan, mengecup singkat bibir kekasihnya dan tawa kecil keluar dari mulutnya ketika Junghwan dengan sengaja meniru suara mesin pembayaran saat bibir mereka bertemu.
"I love you, nanti jam istirahat aku ke tempatmu." Ucap Junghwan sambil mengusap kepala Doyoung.
"I love you too. Semangat kerjanya hari ini, sayang." Balas Doyoung dengan nada tidak kalah ceria.
Mereka berpisah di lobby rumah sakit, Doyoung yang berjalan menuju ruang autopsi karena Haewon sudah menunggunya di sana, dan Junghwan yang kembali menginjak gas ke tempat parkir di depan kantor polisi.
Doyoung disambut dengan berbagai berkas hasil lab tempo hari, Haewon bersedia mengerjakan semuanya seorang diri karena masih merasa bersalah atas luka Doyoung yang ia sebabkan tanpa sengaja.
"Udah ketemu?" Tanya Doyoung sambil menatap layar komputer di depan.
"Imigran dari Vietnam, namanya udah masuk daftar orang hilang karena kata keluarganya, dia kena tipu pas baru sampai Korea."
Netra Doyoung masih membaca berbagai informasi yang tertera, dan matanya berhenti pada satu paragraf yang ada di tengah laporan.
"Korban gak bisa bahasa Korea?" Tanya Doyoung, dan Haewon mengangguk.
"Agen penipunya nawarin buat belajar bahasa pas udah sampai sini, dan dia dateng ke Korea tanpa bekal apa-apa, semua berkas juga dipegang sama penipu itu."
"Detektif udah tau soal ini?"
"Kemarin Detektif Yoo sempet ke sini, disuruh sama Detektif So katanya. Tapi hasilnya belum keluar, jadi belum ada yang tau selain saya."
"Jangan kasih tau siapapun soal ini, biar saya bahas sama Detektif So nanti." Perintah Doyoung sebelum menyimpan semua file ke dalam disket, ia juga menambahkan kata sandi pada berkas yang ada di komputer dan kata sandi itu hanya diketahui oleh para Dokter yang bertugas.
"Kenapa?" Tanya Haewon heran.
"Gapapa, karena hasilnya masih belum jelas jadi ada baiknya jangan disebar dulu."
Haewon setuju, korban dengan luka bakar nyaris delapan puluh persen memang sulit untuk diautopsi, hasil lab juga tidak cepat keluar dan belum tentu akurat.
***
Mood Junghwan yang biasanya buruk kini berbeda seratus delapan puluh derajat, pipinya bahkan mulai sakit karena terlalu lama menahan senyum. Ia tidak mungkin melepas wibawa dan berkeliaran bagai orang gila yang menampilkan wajah bahagia di tempat kerja.
"Yoo Jaewon mana?" Tanya Junghwan pada salah satu polisi yang berjaga di depan, biasanya bawahannya itu akan menyambutnya dengan segelas kopi panas dan memulai hari dengan berdiskusi soal mayat serta teori soal siapa pembunuhnya.
"Baru pulang, dari semalam dia sibuk di sini, katanya ada hal penting yang harus dikerjain."
Junghwan akhirnya masuk ke dalam ruangan, menyalakan komputer yang sudah satu hari tidak ia sentuh sama sekali. Namun perasaan aneh mulai hinggap ketika ia merasakan sensasi hangat dari monitor di depannya.
Apa ada orang lain yang baru saja memakai komputernya?
Tapi Jaewon tidak punya hak atas berkas yang menjadi tanggung jawab Junghwan.
Junghwan menghalau semua asumsi buruk karena ia berpikir bahwa Jaewon bukan tipe bawahan kurang ajar, hampir satu tahun mereka bekerja bersama dan Jaewon tidak pernah bertingkah aneh di depannya.
Kecuali tingkahnya tempo hari, Junghwan juga sedikit merasa bersalah karena sudah memarahinya di depan orang banyak.
Namun sikapnya juga tidak dapat ditoleransi, mengacaukan proses autopsi merupakan tindakan bodoh dan Jaewon harus tahu itu.
Suara ponsel yang berdering keras menyadarkan Junghwan dari lamunan sesaat, ia tersenyum saat melihat nama Doyoung di layar.
"Halo?" Ucap Junghwan dengan suara lembut, "Ada apa Dokter Kim?" Lanjutnya lagi.
"Nanti siang bisa ketemu aku di gudang?"
"Mau ngapain?" Tanya Junghwan heran.
"Ada sesuatu yang mau aku bahas, tapi aku cuma mau bahas ini sama kamu."
"Berdua aja?"
"Iya."
"Mau ngajak mesum ya?" Canda Junghwan, namun sepertinya topik yang akan Doyoung bicarakan benar-benar serius karena pria itu justru mengomel di ujung panggilan.
"Jangan bercanda dulu, saya mau bahas hal penting soal korban."
Panggilan yang mendadak berubah membuat Junghwan mulai berpikir keras, sebenarnya hal penting apa yang ingin Doyoung sampaikan? Karena biasanya ia lebih memilih mengadakan rapat dadakan dengan detektif serta polisi lain untuk membahas sesuatu mengenai korban dan pelaku kejahatan.
"Oke, maaf karena gak profesional tadi." Jawab Junghwan, "Tapi kamu gapapa kan?" Tanyanya kemudian.
"I'm fine, thank you for asking anyway, sampai ketemu nanti siang ya." Jawab Doyoung, Junghwan bernapas lega sebelum akhirnya memutus panggilan.
Dan tepat setelah Junghwan selesai bicara, pintu ruangannya diketuk berulang kali dari luar.
"Sunbae, ini saya."
Itu suara Jaewon.
***
"Aku punya teori soal korban." Ucap Doyoung begitu Junghwan masuk ke dalam gudang lalu berdiri di sebelahnya, menghadap meja berdebu yang sebelumnya sempat Doyoung bersihkan dengan peralatan seadanya.
Di atasnya, ada berbagai kertas yang sengaja Doyoung print sebelum ia datang ke tempat yang sudah dijanjikan bersama Junghwan.
"Sebenernya aku udah lama kepikiran soal ini tapi bukti yang ada masih belum kuat." Jelasnya sambil menjejerkan beberapa foto korban yang di perutnya terdapat luka goresan berbentuk angka.
"Goresannya berantakan tapi masih bisa kebaca sebagai angka, tapi goresannya gak ada satupun yang sama. Dan korban terakhir, satu-satunya korban yang bukan warga Korea tapi malah gak ada goresan berbentuk angka di perutnya. Tau kenapa?"
Junghwan menggeleng, masih belum paham dengan teori yang ingin Doyoung sampaikan.
"Korban disuruh tulis sendiri angkanya, tapi untuk korban kelima belas, dia gak punya goresan apa-apa karena gak ngerti sama perintah pembunuhnya. Dia cuma bisa teriak, That's why tenggorokannya yang lebih dulu dihancurin sebelum akhirnya tubuhnya dibakar hidup-hidup."
Junghwan kembali memerhatikan potret jasad korban yang berjejer di atas meja, dan menyadari bahwa teori Doyoung bisa jadi valid karena jika diperhatikan lagi, angka yang ada di perut korban menghadap ke atas, bukan ke bawah.
"Untuk motif pembunuh dan korban yang acak, kita masih belum tau. Tapi ini bisa jadi petunjuk yang bisa bawa kita buat lebih dekat sama pelakunya." Jelas Doyoung.
"Pelaku mungkin gak nyangka kalau korban terakhir gak bisa bahasa Korea, jadi dia panik dan mutusin buat bakar jasad korban supaya jejaknya gak ketahuan. Tapi dilihat dari luka di tenggorokan, pelaku pakai cairan yang sama kayak korban kedelapan. Dan cairan ini cuma bisa dibeli dalam skala besar." Lanjut Doyoung lagi, sedikit bangga dengan teori yang berhasil ia dapat setelah berjam-jam membaca ulang hasil autopsi para korban.
"Kenapa aku gak kepikiran soal ini ya?" Ucap Junghwan tanpa sadar.
"Karena kamu terlalu fokus sama tersangka! Dari awal kita ketemu kan kita selalu berdebat soal ini, dibanding fokus sama pelaku yang terlalu pintar buat gak ninggalin jejak, lebih baik kita gali dalam-dalam korbannya." Omel Doyoung sambil memukul lengan Junghwan.
"Jadi gimana teori aku? Masuk akal, kan?" Tanya Doyoung dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Junghwan tersenyum sebelum mengangguk, "Pinter banget? Gimana kalau mulai sekarang kamu juga ikut aku ke tkp?" Tawar Junghwan, karena sepertinya Doyoung jauh lebih berguna dibanding Jaewon.
Jaewon, sejak pertengkaran kecil mereka tempo hari, bawahannya itu nampak berbeda. Tidak lagi banyak mengoceh soal hal random dan lebih sering bertanya soal perkembangan kasus korban.
"No thank you, lebih baik aku nunggu mayat di ruang autopsi." Tolak Doyoung, bukan tanpa alasan karena ia benar-benar tidak ingin berpergian menggunakan mobil besar Junghwan dalam waktu lama.
"Junghwan..." Panggil Doyoung ketika Junghwan mulai membereskan berkas yang ada di atas meja.
"Mhm?" Tanggapnya tanpa menghilangkan fokus dari kertas di tangan.
"Semua teori yang kita bahas tadi, jangan kasih tau ke orang lain dulu, ya?"
Junghwan jelas heran dengan permintaan kekasihnya, "Kenapa? Bukannya lebih baik aku bahas ini sama detektif yang lain supaya pelakunya cepet ketemu?"
Doyoung menggeleng, "Rasanya aneh karena jejak pelaku sebenernya udah sebanyak ini tapi kamu dan partner kamu yang lain malah gak sadar. Aku takut ada yang sengaja nutupin semuanya."
Kalimat Doyoung ada benarnya, pikir Junghwan. Ia pun mengangguk lalu mengusap lembut sisi wajah kekasihnya. "I can handle this, with or without my partner. Asal ada kamu yang bantuin aku, mau kan?"
Kali ini giliran Doyoung yang mengangguk, "Aku deserve dikasih hadiah karena udah kasih hint besar buat kasusmu." Ucapnya dengan nada manja.
"Mau aku traktir daging sapi?" Tawar Junghwan, namun Doyoung malah menggeleng sebelum memeluk erat tubuh Junghwan.
"Aku lebih suka detektif yang mirip sapi, So Junghwan."
...
ayo keluarkan teori kaliannnnn, btw maaf kalo ceritanya ada kesamaan sama drama ini drama itu tapi jujurrr aku cuma nonton drama romance comedy sama angst :( jadi kalo sama gitu pure ketidaksengajaan ya temen-temen :(
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top