Chapter V
Setelah sempat bertengkar di lorong penghubung rumah sakit dan kantor polisi, mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan di ruang autopsi.
Selain karena sepi, ruang ini juga memiliki cctv yang tidak dapat menangkap suara. Doyoung masih tidak ingin rahasia kecilnya diketahui orang selain Junghwan.
"So?" Tanya Junghwan yang kini duduk berhadapan dengan Doyoung.
Doyoung diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Junghwan, membongkar hal yang ia tutup rapat-rapat bukan perkara mudah dan dirinya takut hal ini akan memengaruhi pekerjaannya.
"Apa yang mau kamu tau?" Tanya Doyoung lagi.
"Your illness. Is it deadly?"
Kali ini Doyoung tersenyum samar, ia tidak menyangka bahwa itu adalah hal pertama yang Junghwan tanyakan. Biasanya orang lebih penasaran dengan apa penyebabnya dan meminta Doyoung untuk hidup sehat.
"No. Kecuali saya pendarahan di tempat krusial such as kepala atau organ dalam yang lain. Atau nadi saya diputus kayak kasus pembunuhan terakhir. Jelasnya.
Junghwan mengangguk paham, walau dalam hati belum puas dengan jawaban Doyoung yang terdengar rancu. Sejujurnya ia masih sangat awam dengan penyakit yang Doyoung derita, walau berulang kali dirinya mencari tentang hal itu di internet, ia masih belum merasa cukup tahu.
"Kalau suatu saat kamu gak sengaja luka terus berdarah, apa yang harus saya lakuin?"
"Kenapa kamu mau tau? Saya juga gak akan kenapa-kenapa karena kita cuma ketemu di rumah sakit. Just take me to the nearest ER." Jawab Doyoung diiringi tawa. "Kamu liat sekeliling kamu, semua sudut tajam di sini udah dipasang proteksi, kamu sendiri yang bantu saya waktu itu."
"No one can predict the future, Doyoung. Siapa tau nanti kamu kepeleset di jalan dan lokasi kita lumayan jauh dari rumah sakit?"
"Kita? Maksudnya saya lagi jalan sama kamu gitu?" Tanya Doyoung heran, ia tidak pernah bertemu Junghwan selain di rumah sakit, dan apartemennya semalam.
"Once again, no one can predict the future." Tekan Junghwan, sekaligus memaksa Doyoung untuk memberinya jawaban.
"Okay okay. Kamu cuma perlu tutup luka saya pakai kain atau apapun yang bisa nekan pendarahannya terus langsung bawa saya ke rumah sakit."
Doyoung dapat melihat jelas raut khawatir di wajah Junghwan, tapi ia enggan bertanya. Karena dirinya tahu dari mana rasa khawatir itu berasal.
Sebab Doyoung juga memiliki perasaan yang sama.
Namun untuk saat ini, ia masih tidak ingin membahasnya.
"Please don't get hurt." Ucap Junghwan tiba-tiba. "Tolong, jaga diri kamu." Lanjutnya lagi dengan nada lirih. Fakta bahwa Doyoung memiliki penyakit yang sama dengan korban pembunuhan membuat rasa khawatir Junghwan makin besar, begitu pula dengan keinginannya untuk terus menjaga Doyoung agar tetap aman.
"Okay..." Jawab Doyoung dengan nada heran.
"Saya cuma gak tau harus ngapain kalau suatu saat liat kamu dengan kondisi nyaris sama kayak korban terakhir."
"Gak akan, Junghwan. Saya bisa jaga diri baik-baik. Sebagian besar waktu juga saya habisin di rumah sakit buat bedah mayat. Saya gak pernah pakai pisau dan cuma bergantung sama gunting tumpul di rumah."
"Haewon tau soal ini?"
"Of course not. Cuma kamu yang terlalu pinter dan bisa nebak dengan gampangnya."
Dapat Doyoung lihat senyum tipis di wajah Junghwan, laki-laki itu senang karena kalimat pujian yang baru keluar dari mulutnya.
"Detective So." Panggil Doyoung tiba-tiba setelah hening cukup lama di antara mereka.
"Ya?"
"Tolong, jangan kasih tau soal ini ke orang lain, ya?"
Junghwan mengangguk, ia memang tidak berniat memberi tahu soal penyakit Doyoung kepada siapapun termasuk koleganya sendiri. Tidak semua orang berpikir bahwa Doyoung akan terus bekerja dengan baik walau mengidap penyakit aneh seperti ini.
Dan ia jelas tidak termasuk ke salah satunya.
Tadinya Junghwan masih ingin bertanya, masih banyak hal yang ingin ia ketahui dari penyakit laki-laki manis yang duduk gelisah di hadapannya, tapi kalimatnya belum sempat keluar karena dikagetkan dengan suara ketukan pintu yang cukup keras di belakang.
"Jaewon." Bisik Doyoung pelan sambil berdiri dari tempatnya, Junghwan menoleh dan menemukan personelnya yang mulai berjalan ke arahnya.
"Ada korban baru."
"Lagi?" Ucap Junghwan dan Doyoung dalam waktu bersamaan.
Jaewon mengangguk, "Dan lokasinya lumayan dekat dari sini."
***
Junghwan bergegas ke tempat kejadian setelah menitipkan Doyoung pada Haewon yang membalasnya dengan anggukan canggung, ini memang pertama kalinya ia bicara serius pada perempuan itu.
Junghwan selalu berurusan dengan Doyoung, bukan rekannya.
Lokasi pembunuhan ternyata berada tepat di belakang gedung apartemen yang Doyoung huni, tidak jauh dari taman tempat ia dan Doyoung berbincang tadi malam.
Ia keluar dari mobil besarnya, disusul Jaewon yang juga keluar dari mobil polisi, berjalan ke bangunan kecil tidak terpakai yang temboknya dipenuhi dengan jejak api. Kali ini korbannya laki-laki, dan tidak ditemukan identitasnya sama sekali.
Tim penyelidik yang datang juga nampak kesulitan mencari sidik jari korban sebab jemarinya sudah hancur karena luka yang mirip dengan luka bakar. Dan bukan hanya di jari tangan, luka itu juga ada di kesepuluh jari kaki korban.
"Orang gila." Umpat Junghwan tanpa sadar. Dan ia tidak dapat membayangkan bagaimana Doyoung akan membedah tubuh korban yang kondisinya sudah sehancur ini.
"Bawa ke rumah sakit, Dokter Kim udah siap sama asistennya." Perintah Junghwan pada rekan yang lain, semua mengangguk lalu membawa tubuh korban ke ambulans yang sudah siap di depan.
Yang pertama kali Doyoung lakukan pada jasad yang terbaring di hadapannya adalah melihat perut korban, dan ia terkejut ketika tidak menemukan angka di sana.
"You sure it's from the same murder? Polanya beda." Ucap Doyoung pada Junghwan yang entah kenapa berdiri terlalu dekat dengannya, Haewon yang ada di seberang mereka juga ikut heran.
Tetapi ia memilih untuk diam, karena mau bagaimanapun, Junghwan dan Doyoung memiliki kedudukan yang lebih tinggi darinya.
Junghwan menunduk setelah Doyoung selesai bicara, ikut mencari angka yang biasanya ada di perut korban, tapi hasilnya nihil karena yang mereka temukan justru luka bakar yang cukup besar.
"Kamu udah dapet DNA nya?" Junghwan balik bertanya, karena polisi dan detektif lain tidak dapat menemukan jejak identitas korban di tempat kejadian.
Doyoung mengangguk, "Tapi butuh beberapa hari buat tau hasilnya." Jelasnya singkat. "Kamu tunggu di sana, saya sama Haewon gak bisa fokus kalau kamu deket-deket gini." Lanjutnya sembari mendorong tubuh Junghwan agar menjauh. "Lagian ngapain juga kamu di sini? Padahal Jaewon udah berulang kali nyuruh kamu pergi ke kantor polisi."
Suara omelan Doyoung terdengar samar karena masker tebal yang menutupi separuh wajahnya, "Hati-hati, biar Haewon yang bedah mayatnya, kamu gak perlu pegang pisau." Ucap Junghwan, seakan tidak peduli dengan kalimat Doyoung tadi.
"It's my job." Protes Doyoung, ia sangat ingin memarahi Junghwan karena sikap menyebalkannya malam ini. Tapi di hadapannya masih ada jasad yang harus ia urus, dan Doyoung memiliki prinsip untuk tidak bersikap aneh di depan mayat.
Karena meskipun sudah meninggal, jasadnya masih harus dihormati karena brankar ini adalah tempat terakhir yang dapat mengungkap rahasia di balik kematian mereka.
Junghwan pun mengalah, ia berjalan ke arah kursi yang ada di ujung ruangan lalu membuka ponsel yang terus bergetar sejak tadi.
Jaewon tidak berhenti mengiriminya pesan, bertanya soal kelanjutan dari mayat yang ia antar beberapa jam lalu. Junghwan membalas seadanya, berkata bahwa proses autopsi baru saja dimulai dan belum membuahkan hasil, ia juga meminta dibawakan berkas laporan ke rumah sakit karena akan mengerjakannya di sini, sekaligus menunggu dan menemani Doyoung melakukan tugasnya.
Proses autopsi berjalan lambat karena tubuh korban yang dipenuhi luka bakar, membuat Doyoung dan Haewon kesulitan bahkan hanya untuk membedah kulit dan lapisan setelahnya dengan pisau.
Kedua orang itu masih fokus dengan pisau di tangan, membelah lapisan demi lapisan untuk mencari jejak penyebab kematian korban.
Namun fokus keduanya teralihkan karena suara keras dari belakang mereka, bukannya mengetuk pintu seperti biasa, Jaewon justru mendorong paksa pintu itu dari luar, menimbulkan suara hantaman yang mengagetkan Haewon dan tidak sengaja membuat pisau yang ia pegang justru mengenai kulit Doyoung yang tidak tertutup sarung tangan.
Junghwan yang tadinya ingin memarahi Jaewon, justru berlari dengan cepat ke arah Doyoung karena melihat darah segar yang mulai menetes dari tangannya.
"Shit." Umpat Junghwan, rasa khawatirnya meningkat saat melihat wajah Doyoung yang memucat.
Laki-laki itu meraih beberapa kain kasa dari lemari penyimpanan, membebat luka Doyoung berulang kali meskipun rasanya percuma karena darah yang terus keluar dan membasahi seluruh bagiannya.
"Haewon, kamu bisa urus sisanya?" Tanya Junghwan dengan tangan yang menekan kuat tangan Doyoung, membuat yang lebih kecil meringis kesakitan karena lukanya memang cukup dalam.
Bukannya Haewon, justru Doyoung yang menjawab pertanyaan Junghwan. "Kita bahkan belum mulai apa-apa." Protes Doyoung. "Kamu tunggu di sini sebentar, saya mau obatin luka ini dulu di IGD." Perintahnya pada Haewon, dan perempuan itu mengangguk.
"Maaf, sunbae." Cicitnya pelan, Doyoung hanya membalasnya dengan senyuman tipis sebelum tubuhnya dituntun oleh Junghwan untuk berjalan keluar ruangan.
"Bodoh. Nanti saya tunggu di ruangan." Ucap Junghwan tegas pada Jaewon yang kini berdiri di depan pintu, Jaewon terkejut karena ini adalah kali pertama Junghwan memarahinya di depan banyak orang.
...
maaf ya aku loyo... tapi sebisa mungkin aku bakal lanjutin ini sama buku sebelah sampai tamat kok, kalian masih mau baca kan?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top